Bersama Innovesia, Shell Mobility Ciptakan Peluang Bisnis Baru Melalui Inovasi

Menjadi peritel di sektor mobilitas terbesar di dunia tak lantas membuat Shell Mobility berpuas diri. Tersebar di lebih dari 46.000 lokasi dengan 32 juta pelanggan secara global, Shell Mobility terus berupaya menjadi pemain utama di sektor mobilitas yang tak hanya menawarkan pembelian bahan bakar minyak (BBM), tapi juga penggantian pelumas dan pencucian mobil. Bahkan kebutuhan yang dibutuhkan oleh para pengendara seperti makanan dan minuman.

Dengan semangat itulah, Shell Mobility memutuskan perlunya berinovasi untuk tetap relevan di lanskap bisnis yang terus berubah. Namun, perjalanan inovasi Shell Mobility tidaklah mulus. Dihadapkan pada banyak ide inovasi justru membuat Michael Tumengkol yang sempat menduduki posisi Head of Organizational Development and Learning di Shell Mobility Indonesia mengalami kesulitan.

you can try this out

“Sebelum berinovasi kita berdiskusi bersama banyak pihak di Shell Mobility. Tapi kesimpulannya sederhana, bahwa kita perlu berinovasi mengenai bagaimana kita mengkonstruksi ide, karena idenya banyak tapi cenderung serabutan. Kita kesulitan menerjemahkan ide jadi action,” ujar Michael Tumengkol, yang kini menjabat sebagai Global Learning and Development Advisor di Shell.

Kesulitan menerjemahkan banyaknya ide inovasi yang terkumpul, lantas membuat Michael berpikir perlunya mempelajari pendekatan atau pola pikir yang akan membantu Shell Mobility berinovasi secara terstruktur. Saat itulah Michael memutuskan untuk bekerja sama dengan Innovesia dalam tujuan menanamkan pendekatan inovasi yang tepat.

“Jadi pertimbangan awal kita untuk berinovasi maksudnya adalah membuat pendekatan yang terstruktur dalam menerjemahkan berbagai ide baru menjadi rencana dan action,” lanjut Michael.

Innovesia dipercaya Shell menanamkan pola pikir design thinking kepada pegawai Shell Mobility melalui lokakarya “Innovation by Design for Shell Mobility Indonesia”. Diselenggarakan secara daring serta luring untuk observasi dan wawancara pada Februari 2021, workshop design thinking ditujukan melatih manajerial Shell Mobility dan retailer agar mampu menghasilkan solusi inovatif untuk mempertahankan dan meningkatkan profitabilitas. 

Lebih dari 30 peserta yang terdiri dari sejumlah departemen di Shell Mobility ikut serta mempelajari pendekatan design thinking dari Innovesia yang mencakup tiga tahapan besar, yakni inspiration yang menuntut mereka memahami masalah dengan mempelajari kebutuhan pelanggan melalui imersi, ideation yang membantu Shell Mobility membingkai wawasan dari masalah yang ditemui dan menghasilkan ragam solusi inovatif, juga implementation di mana para peserta lokakarya harus mewujudkan solusi mereka dalam bentuk prototype.

Dari banyaknya pendekatan pemecahan masalah, design thinking dipilih Michael karena pendekatan satu ini mudah dipelajari dan bisa menuntun Shell Mobility memahami masalah utama yang mereka hadapi, menentukan ide inovasi mana yang paling dibutuhkan dan mewujudkan ide itu dari sekedar konsep menjadi solusi nyata.

“Kalau design thinking karena itu adalah hal sederhana untuk menerjemahkan ide jadi rencana, kita bisa melihat bahwa design thinking adalah sesuatu yang bisa dipelajari secara cepat dan orang bisa menangkap konsepnya dengan mudah serta menerjemahkan idenya menjadi action,” jelas Michael.

Dengan bimbingan dari sejumlah fasilitator Innovesia, para peserta yang dibagi ke dalam enam kelompok tak hanya dibimbing untuk memahami akar masalah dari sudut pandang konsumen, tapi juga menghadirkan solusi dan bagaimana mengeksekusi ide tersebut ke dalam situasi bisnis sebenarnya melalui business model canvas.

Pada tahap inilah para peserta dari Shell Mobility diajarkan memetakan solusi pada sejumlah faktor eksternal, seperti seberapa besar ide inovasi itu diinginkan atau mampu menciptakan nilai bagi pelanggan. Para peserta juga dituntut untuk mengkritisi kelayakan ide inovasi serta memetakan konsekuensi implementasi ide inovasi tersebut terhadap keuangan perusahaan. Dengan begitu, ide inovasi yang nantinya diimplementasikan sudah pasti tepat sasaran.

Terlebih, metode design thinking mewajibkan prototype untuk diujikan kepada para calon pelanggan sehingga Shell Mobility sebagai inovator mampu melihat apakah ide inovasi atau solusi yang mereka kembangkan diterima baik atau tidak. Umpan balik dari pelanggan inilah yang digunakan untuk meningkatkan atau memperbaiki ide inovasi tersebut.

Terciptanya Dua Peluang Bisnis Baru

Adapun selama dua bulan menjalankan lokakarya Innovation by Design for Shell Mobility Indonesia bersama Innovesia, para peserta tak hanya berhasil mengembangkan satu tapi enam buah ide inovasi yang kemudian diwujudkan dalam bentuk prototype. Dua diantaranya bahkan diimplementasikan sebagai bentuk layanan baru di Shell Mobility.

Kedua inovasi itu adalah pojok kuliner dan Shell Smart Club Apps atau yang kini dikenal sebagai Shell Go+. Pojok kuliner sendiri merupakan penambahan komoditas makanan lokal khususnya produk usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) di Shell Select. Dengan pojok kuliner, diharapkan akan mampu meningkatkan kunjungan pengendara roda dua ke SPBU Shell.

Pojok kuliner di Shell Select.

Berkat pendekatan design thinking yang ditanamkan Innovesia melalui lokakarya, Shell Mobility paham betul pentingnya mengidentifikasi kebutuhan target pelanggan setiap lokasi SPBU Shell, yang tentunya berbeda-beda. Wawasan inilah yang menuntun Shell Mobility untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai target pelanggan mereka dan kebutuhannya guna menyediakan produk yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

“Yang pertama, dikembangkan adalah yang pojok kuliner di Shell Indonesia. Jadi memang sedikit dikembangkan karena kita mengidentifikasi lebih jelas setiap toko [Shell Select] itu bisa punya pojok kuliner yang berbeda-beda dan itukan tergantung siapa supplier-nya siapa konsumen yang biasa kesitu dan apa yang mereka mau. Nah itu yang kita terapkan terus mulai dari produk apa yang harus ditaruh di mana, dan berapa banyak,” jelas Michael.

Sementara itu, Shell SmartClub hadir dalam bentuk aplikasi di ponsel yang lebih mudah dan praktis, yang menawarkan kemudahan bagi konsumen Shell untuk menemukan lokasi SPBU Shell terdekat, bertransaksi secara digital hingga mendapatkan berbagai keuntungan lainnya di Shell.

Tampilan aplikasi Shell Go+ (Sumber: Shell Indonesia)

Menurut Michael, ide membuat aplikasi sudah lama terpikirkan oleh Shell Mobility. Namun, lagi-lagi kesulitan mewujudkan ide menjadi produk nyata membuat Shell Mobility belum bisa mengeksekusi ide itu hingga mengikuti lokakarya design thinking bersama Innovesia.

“Shell Smart Club Apps ini yang kita kembangkan menjadi aplikasi mobile Shell untuk memudahkan transaksi di SPBU Shell. Itu dari workshop bersama Innovesia. Memang idenya sudah ada dari sebelum workshop ya, tapi ketika mengikuti workshop ini diakselerasi menggunakan design thinking itu tadi,” ujar Michael.

Menanamkan Pola Pikir yang Berharga

Meski lokakarya design thinking bersama Innovesia mendorong Shell Mobility menciptakan peluang bisnis baru, Michael menekankan bahwa keuntungan utama lokakarya tersebut adalah perubahan pola pikir pegawai Shell Mobility.

Menurut Michael, mengenal design thinking memungkinkan pegawai untuk meninggalkan ketakutan yang dulu mereka rasakan ketika berinovasi. Rasa takut ini juga yang telah menghambat upaya Shell Mobility untuk mewujudkan ide inovasi mereka. Poin inilah yang masih melekat di Shell, meski lokakarya telah berakhir pada 2020 silam.

“Setelah workshop, saya lihat ya cara orang menerjemahkan ide jadi action itu memang bergeser [menjadi lebih baik]. Ada beberapa hal yang mereka implementasikan. Mereka jadi lebih berani. Misalnya, kita coba saja terlebih dahulu, ide tidak harus perfect, minimal MVP [minimum viable product],” tutur Michael.

Bahkan Michael menuturkan bahwa pola pikir seperti ini tak hanya tertanam pada mereka yang mengikuti lokakarya design thinking bersama Innovesia, tapi juga ditularkan kepada mereka yang tidak mengikuti lokakarya tersebut. Kini, pendekatan design thinking menjadi salah satu cara berpikir yang masih digunakan Shell Mobility dalam pekerjaan sehari-hari.

“Cara berpikir seperti itu digunakan terlepas ini sudah di luar workshop. Bahkan di level lain, pembicaraan seperti itu masih berlangsung. TIdak perlu perfect, minimum MVP kita coba saja, kita trial nanti kita evaluasi lagi itu jadi pendekatan yang sering kita lakukan,” lanjut Michael.

Ketika ditanya mengenai pengalamannya berinovasi bersama Innovesia, Michael mengaku lokakarya yang diselenggarakan pada 2020 lalu menjadi pengalaman yang berharga bagi Shell Mobility.

“Berharga, maksudnya memang pengalaman belajarnya singkat tapi yang berharga itu kita belajar mengenai cara berpikirnya, framework-nya, langkah-langkahnya dan dari waktu belajar yang singkat, cara berpikir itu tetap bisa dipakai sampai kapanpun,” tutup Michael.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • All Post
  • Design Thinking
  • Edukasi
  • Eksklusif
  • Gaya Hidup
  • Innovation
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Open Innovation
  • Otomotif
  • Pemerintahan
  • Pertambangan
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Workshop

Investing in Innovation

Everyone can innovate, including you. We help people and organizations to innovate in the era of Industrial Revolution 4.0

building

Design Thinking

Newsletter

About Us

PT Investasi Inovasi Indonesia

innovesia.co.id

designthinking.id

Business Address:

Equity Tower, 35th Floor, SCBD Lot 9

Jl. Jendral Sudirman, Kav 52-53, Jakarta 12910

P: +62 21 2939 8903