4 Kunci Keberhasilan dalam Crowdsourcing

Crowdsourcing memang memungkinkan perusahaan atau organisasi lainnya untuk menghimpun ide atau sumber daya lainnya secara masif dari banyak orang dengan berbagai latar belakang. Namun, crowdsourcing tak hanya soal menghimpun ide dengan lebih cepat dan biaya yang lebih murah, tapi memastikan bahwa ide yang dihimpun mampu menjawab permasalahan dan kebutuhan perusahaan.

Digital Transformation Expert, Daniel Oscar Baskoro, menerangkan banyak perusahaan terjebak pada tahap kompetisi dalam praktik crowdsourcing, tanpa melanjutkan menuju tahap implementasi yang seharusnya.

“Dewasa ini crowdsourcing banyak digunakan perusahaan-perusahaan untuk menghimpun ide, gagasan atau masalah, tapi yang paling krusial ada miskonsepsi di sini, di mana perusahaan sering kali menyamakan crowdsourcing dengan kompetisi,” ujar pria lulusan Columbia University tersebut kerap luput dalam pelaksanaan crowdsourcing.

Pria yang telah membantu banyak perusahaan dan pemerintah mencapai tujuan organisasi melalui crowdsourcing selama lebih dari tujuh tahun itu menekankan bahwa esensi sejati dari crowdsourcing justru terletak pada bagaimana perusahaan memastikan dapat menghimpun ide-ide yang mampu diimplementasikan guna menjawab tantangan yang dihadapi perusahaan dan bukan hanya sekadar pada tahap persaingan semata.

“Tak sedikit perusahaan yang melakukan crowdsourcing justru semua berhenti di competition dan itu bukan crowdsourcing. Karena crowdsourcing itu harus sampai pada implementasi dari ide atau solusi tersebut,” jelas Oscar menekankan.

Langkah lanjutan inilah yang dinilai Oscar kerap luput dalam pelaksanaan crowdsourcing. Padahal tanpa langkah-langkah konkret untuk mengimplementasikan solusi, potensi inovasi dari crowdsourcing tidak akan sepenuhnya dimanfaatkan.

Berikut empat langkah krusial untuk memastikan crowdsourcing lebih dari sekedar pengumpulan ide-ide, tetapi juga menjadi alat yang kuat untuk menghasilkan solusi nyata dan mendukung perkembangan perusahaan yang berkelanjutan.

1. Menetapkan Strategi dan Tujuan Crowdsourcing

Oscar menekankan dibutuhkan strategi atau metodologi secara end-to-end sebagai guide atau pedoman yang menuntun perusahaan mulai dari mengidentifikasi masalah utama mereka, menentukan target, menghimpun dan menyeleksi solusi, hingga membawa ide tersebut sebagai solusi untuk menyelesaikan tantangan atau masalah perusahaan.

“Kalau crowdsourcing mikirnya harus secara end-to-end, apa yang hendak kita solve, siapa target yang akan dihimpun masalahnya, bagaimana kita bisa mengkurasi masalah, kemudian tahapan crowdsourcing ide atau solusi, setelah itu pastikan solusi tadi bisa di-deliver menjadi sebuah program,” jelas Oscar.

Pola pikir inilah yang menurut Oscar kerap luput dilakukan oleh banyak perusahaan ketika berhadapan dengan crowdsourcing. Menurutnya, banyak langkah lain yang sudah harus ditetapkan sejak awal merencanakan crowdsourcing sehingga prosesnya tak berhenti usai mengumpulkan ide.

End-to-end ini yang terkadang suka lepas di perusahaan-perusahaan, jadi saya kira perlu memang ada satu framework untuk memastikan crowdsourcing ini ga cuma collecting the information, collecting the idea, tapi juga memikirkan langkah lanjutan setelah mendapatkan solusi tadi,” ujar sosok dibalik berbagai inovasi teknologi digital kemanusiaan.

2. Mengidentifikasi Masalah Secara Cermat

Mengidentifikasi masalah juga kerap disepelekan perusahaan ketika hendak melakukan crowdsourcing. Padahal, menentukan masalah yang tepat merupakan inti dari crowdsourcing. Menurut Oscar, tak sedikit perusahaan yang menentukan masalah berdasarkan asumsi yang belum tentu benar.

“Kadang-kadang orang melakukan crowdsourcing itu mikirin ngumpulin ide-ide saja, padahal yang tak kalah penting adalah mengumpulkan masalah, yang seharusnya juga dilakukan melalui crowdsourcing. Crowdsourcing masalahnya dulu baru solusinya,” tutur Oscar.

Dengan crowdsourcing, perusahaan akan mendapatkan wawasan tentang masalah nyata yang sebenarnya mereka hadapi karena masalah itu disampaikan langsung oleh banyak pengguna atau user mereka yang menjadi target crowdsourcing.

“Satu hal mendasar dalam crowdsourcing adalah menghilangkan asumsi. Karena ketika kita menghimpun masalah melalui crowdsourcing, we got all the problem from the real user. Sebaliknya, ketika masalahnya ditentukan berdasarkan asumsi, solusi yang dibuat sudah pasti tidak sesuai karena cara mereka mendapatkan masalahnya saja berdasarkan asumsi,” jelas Oscar.

Sosok Daniel Oscar Baskoro (Dok. Istimewa)

Selain itu, menghimpun masalah langsung dari user melalui crowdsourcing juga memungkinkan perusahaan menilai kedalaman masalah mereka berdasarkan fakta yang ada di lapangan.

“Yang paling penting juga dari crowdsourcing kita bisa melihat kedalaman masalah yang dihadapi. Misalnya ketika ada ratusan orang menyebutkan masalah yang sama, maka masalah itu kemungkinan menjadi masalah utama yang benar-benar dihadapi masyarakat,” tutur Oscar menjelaskan.

3. Mempersiapkan Insentif Bagi Peserta

Mengingat inti dari crowdsourcing adalah ‘crowd’ atau keramaian, keberhasilan proyek crowdsourcing sangat bergantung pada memotivasi orang banyak untuk berkontribusi.

“Inti dari crowdsourcing adalah crowd-nya, bukan sekedar sourcing kalau tidak ada crowd maka bagaimana sourcing bisa dilakukan. Ketika berbicara terkait crowdsourcing kita harus memposisikan diri sebagai peserta dan berpikir apa yang membuat mereka mau turut berkontribusi atau urun daya,” ujar Oscar.

Menurut Oscar, perusahaan harus mampu mendorong publik atau target mereka untuk menyumbangkan pengetahuan atau keterampilannya. Dan salah satu metode yang sangat efektif untuk memberi insentif kepada target peserta adalah dengan mengadakan kompetisi di mana mereka bersaing satu sama lain untuk mendapatkan hadiah.

“Misalnya dulu ketika saya diminta mengumpulkan data-data pedagang kaki lima di suatu provinsi, saya berikan insentif berupa voucher pulsa kepada lima peserta yang memberikan data terbanyak. Jadi insentif itu penting untuk disiapkan di setiap proyek crowdsourcing,” jelasnya.

Meski, dorongan berupa insentif kian penting, Oscar menekankan insentif tak harus melulu berupa materi tapi juga bisa dalam bentuk penghargaan lain yang mampu mendorong partisipasi banyak orang.

“Insentif tidak melulu soal materi ya, jadi jangan sampai salah pemahaman. Insentif itu bisa berupa sertifikat, atau sistem penghargaan lain, misalnya penghargaan yang menyatakan bahwa yang mengirimkan ide berkontribusi terhadap Indonesia. Hal seperti itu bisa menjadi insentif juga,” tutur Oscar.

4. Melindungi Informasi Rahasia Perusahaan dan HaKI

Meski crowdsourcing memberikan akses terhadap ide-ide dari publik, sifat keterbukaan ini juga bisa menjadi masalah tersendiri khususnya terkait hal-hal yang mungkin menguntungkan kompetitor. Ketika suatu perusahaan memutuskan menggelar crowdsourcing, mereka turut mengumumkan masalah yang dimiliki perusahaan. Ada juga potensi risiko terhadap reputasi perusahaan, di mana bisnis mereka misalnya dianggap kehabisan ide.

Menghadapi masalah ini, Oscar menegaskan perusahaan diharuskan untuk membingkai masalah mereka khususnya jika menyentuh hal yang kian sensitif. Begitu juga dengan solusi yang diterima. Penting untuk memastikan isu sensitif dan solusi yang didapat dari crowdsourcing tetap menjadi kerahasiaan perusahaan.

“Masalah perusahaan mungkin harus kita buka ke publik tapi harus kita framing sebaik mungkin agar tidak ada rahasia yang keluar. Begitu juga dengan solusi. Perusahaan harus jaga solusi jangan sampai kemana-mana dan masalah perusahaan juga jangan sampai keluar kemana-mana itu harus jadi rahasia perusahaan,” jelas Oscar.

Perusahaan juga harus merumuskan syarat dan ketentuan yang mengatur pelaksanaan proyek crowdsourcing dapat membantu mendefinisikan hubungan antara peserta serta hak dan kewajiban mereka terkait dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual atas informasi atau ide apapun yang peserta berikan ke perusahaan melalui crowdsourcing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • All Post
  • Design Thinking
  • Edukasi
  • Eksklusif
  • Gaya Hidup
  • Innovation
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Open Innovation
  • Otomotif
  • Pemerintahan
  • Pertambangan
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Workshop

Investing in Innovation

Everyone can innovate, including you. We help people and organizations to innovate in the era of Industrial Revolution 4.0

building

Design Thinking

Newsletter

About Us

PT Investasi Inovasi Indonesia

innovesia.co.id

designthinking.id

Business Address:

Equity Tower, 35th Floor, SCBD Lot 9

Jl. Jendral Sudirman, Kav 52-53, Jakarta 12910

P: +62 21 2939 8903