Unilever – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Wed, 18 Oct 2023 01:36:55 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Unilever – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/otomotif/5-perusahaan-ciptakan-masa-depan-berkelanjutan-melalui-open-innovation/ https://designthinking.id/otomotif/5-perusahaan-ciptakan-masa-depan-berkelanjutan-melalui-open-innovation/#respond Mon, 31 Jul 2023 06:13:26 +0000 https://designthinking.id/?p=1375 Pemanasan global dan krisis iklim telah menjadi tantangan serius yang dihadapi dunia saat ini. Kekeringan, gelombang panas, dan banjir telah lebih sering terjadi dengan intensitas yang semakin parah dari sebelumnya. Di hadapan perubahan iklim, dekarbonisasi menjadi salah satu prioritas utama untuk mencapai masa depan yang berkelanjutan.

Melalui Paris Agreement 2015, pemerintah lintas negara bersama-sama berkomitmen membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri. Kesepakatan itu turut mendorong perusahaan dari berbagai industri berlomba menetapkan target dan membuat komitmen untuk mengurangi emisi karbon atau dekarbonisasi.

Secara definisi, dekarbonisasi mengacu pada proses pengurangan emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari aktivitas manusia di atmosfer. Tujuan dekarbonisasi tidak lain adalah menghilangkan emisi karbon dioksida. Adapun untuk mencapai dekarbonisasi, perusahaan dituntut mengadopsi pendekatan inovatif untuk mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan dan sumber energi rendah karbon.

Sadar tak bisa melakukannya seorang diri, banyak perusahaan berkolaborasi melalui open innovation untuk mempercepat langkah mereka mencapai net zero emission atau emisi nol bersih. Melalui open innovation, perusahaan lintas industri sekalipun dapat berbagi pengetahuan untuk mencapai solusi yang lebih baik dan lebih efektif.

Artikel ini akan mengeksplorasi lima perusahaan yang telah melangkah maju, memerangi perubahan iklim melalui pendekatan open innovation. Dengan membuka pintu untuk ide-ide out of the box dari mitra eksternal, kelima perusahaan ini telah memimpin jalan dalam menciptakan solusi dekarbonisasi yang berdampak nyata dan memberikan contoh inspiratif bagi sektor industri lainnya.

Berikut lima perusahaan inovatif yang bertekad mencapai dekarbonisasi melalui open innovation sebagai upaya menyelamatkan bumi dari dampak perubahan iklim yang semakin serius:

1. Shell

Shell (Sumber: Ina Fassbender/Afp/Getty Images)

Sebagai perusahaan energi dan petrokimia terkemuka di dunia, Shell turut andil dalam dekarbonisasi. Perusahaan asal Inggris itu bahkan menargetkan untuk menjadi perusahaan energi dengan emisi nol bersih atau net-zero emission (NZE) pada tahun 2050 mendatang. Untuk mencapai itu semua, Shell bermitra dengan beberapa perusahaan teknologi terkemuka dunia untuk mengembangkan dan menerapkan solusi digital dalam skala besar di seluruh rantai bisnis mereka.

Menurut Shell, dekarbonisasi memerlukan upaya yang signifikan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Karenanya Shell memilih strategi open innovation secara global untuk berkolaborasi dengan mitra bisnis, universitas dan lembaga penelitian, pemasok, dan bahkan konsumen Shell itu sendiri. 

Startup dan pengusaha membawa pola pikir yang berbeda dan perspektif baru dalamke tantangan net-zero emission. Mereka dapat bergerak lebih cepat daripada organisasi besar dan lebih mudah melakukan hal-hal baru. Hal ini membuat mereka sangat cocok untuk perusahaan seperti Shell, yang kurang gesit, tetapi dapat menawarkan dukungan finansial yang kuat, kapasitas teknis yang luas, dan akses mudah ke mitra dan pasar global,” ujar Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, seperti dilansir dari laman resmi Shell.

2. Unilever

Logo Unilever (Sumber: Unilever)

Sebagai perusahaan manufaktur, pemasaran dan distribusi barang konsumsi, Unilever sadar akan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari tingkat konsumsi produk saat ini. Alasan inilah yang mendorong Unilever untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk membantu konsumen mengurangi dampak iklim. Unilever berkomitmen mengganti formula setiap produk pembersih yang berasal dari bahan bakar fosil dengan bahan terbarukan pada 2030. 

Pasalnya, sebagian besar produk detergen yang beredar di pasar saat ini mengandung bahan kimia, yang terbuat dari bahan baku bahan bakar fosil. Bahan kimia inilah yang menjadi penyumbang emisi karbon terbesar dari seluruh siklus hidup produk detergen. Atas dasar itu, Unilever menilai beralih dari bahan kimia yang berasal dari bahan bakar fosil dalam formulasi produk akan menjadi peluang besar untuk mengurangi jejak karbon.

Pada 2021 misalnya, Unilever bersama LanzaTech dan India Glycols  berhasil memproduksi surfaktan dari bahan terbarukan untuk merek detergen OMO. Surfaktan yang umumnya terbuat dari bahan bakar fosil adalah bahan penting untuk menciptakan busa dalam produk detergen, mulai dari sabun cuci piring hingga detergen.

3. L’Oréal

L’Oréal (Sumber: lbeaute.mx)

Pemanasan global dan krisis iklim yang tak terelakan juga membuat jenama kecantikan ternama L’Oréal mempercepat upaya mencapai target keberlanjutan atau sustainability. Melalui program bertajuk “L’Oréal for the Future”, L’Oréal merangkul pendekatan open innovation sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan dalam mewujudkan operasional bisnis yang lebih ramah lingkungan.

boutique

Ada tiga komitmen dalam program L’Oreal for The Future. Pertama, L’Oreal bertransformasi untuk memastikan aktivitas perusahaan menjalankan batasan-batasan lingkungan (planet) dalam upaya pengendalian dampak terhadap iklim, air, keanekaragaman hayati, dan sumber daya alam.

Kedua, L’Oreal berkomitmen memberdayakan pihak-pihak dalam ekosistem bisnis dengan membantu mereka bertransisi ke dunia yang lebih berkelanjutan. Ketiga, membantu mengatasi tantangan dunia, dengan mendukung kebutuhan sosial dan lingkungan yang mendesak. 

“Dengan program L’Oréal for the Future, kami telah menetapkan target keberlanjutan yang ambisius untuk dicapai pada tahun 2030, termasuk bahwa 95% bahannya akan berasal dari sumber hayati, berasal dari mineral yang melimpah atau dari proses sirkuler. Karenanya kita perlu memikirkan kembali cara mencari dan memproduksi bahan-bahan yang diperlukan. Untuk mencapai hal ini, kami berkolaborasi dengan berbagai mitra eksternal, termasuk perusahaan rintisan, demi memperoleh keahlian baru dan mempercepat inovasi. Misalnya, kami mengeksplorasi penggunaan biologi sintetik dan fermentasi,” ujar Laurent Chantalat, manajer senior untuk inovasi terbuka R&I dan kemitraan startup teknologi mendalam di L’Oréal, seperti dilansir dari laporan Capgemini.

4. Daher

Daher dan Ascendance Flight Technologies mengumumkan kolaborasi strategis. (Sumber: Daher)

Daher, perusahaan kedirgantaraan ternama Prancis, juga mengumumkan kolaborasi strategis bersama Ascendance Flight Technologies, perusahaan rintisan Prancis dan perintis di pasar penerbangan rendah karbon. 

Kolaborasi antara Daher dan Ascendance Flight Technologies semakin menggarisbawahi ambisi Daher Group untuk meningkatkan inovasi dan mempercepat dekarbonisasi aktivitas perusahaan, dengan penekanan khusus pada divisi pesawatnya. Keduanya akan meneliti cara-cara baru hibridisasi sistem propulsi pesawat Daher berdasarkan teknologi yang dikembangkan Ascendance Flight Technologies.

“Kami senang bisa bermitra dengan Ascendance Flight Technologies. Sebagai pemain utama dalam penerbangan umum, Daher Group berkomitmen penuh untuk mencapai tujuan dekarbonisasi penerbangan pada tahun 2050, dan mengambil langkah maju yang signifikan menuju tujuan tersebut pada dekade ini,” ujar Didier Kayat, CEO Daher Group, seperti dilansir dari .

5. MIND ID

BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID atau Mining Industry Indonesia, menggelar kompetisi Boosting Innovator and Greenovator in the Mining Industry atau BIGMIND Innovation Award 2022.

Menggandeng Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, MIND ID melalui BIGMIND Innovation Award 2022 berupaya meningkatkan pertumbuhan industri pertambangan yang berkelanjutan dengan mengundang kontribusi riset dan inovasi anak bangsa melalui perkembangan teknologi digital demi memperkuat tata kelola operasional industri. Adapun dekarbonisasi menjadi salah satu dari tujuh topik utama yang dapat dieksplorasi para inovator.

Kompetisi inovasi ini berhasil melahirkan ragam inovasi berkelanjutan, seperti pemanfaatan limbah cangkang kelapa sawit sebagai fuel dan reductant pada proses peleburan timah, inovasi green technology pemanfaatan red mud (produk samping pemurnian alumina) sebagai sumber besi (fe) dengan metode bioflokulasi selektif. Juga pengembangan alat Electrolysis Management System (EMS) multi Anoda-Katoda berbasis Internet of Things sebagai upaya peningkatan unjuk kerja sel electrorefining di industri pemurnian logam.

]]>
https://designthinking.id/otomotif/5-perusahaan-ciptakan-masa-depan-berkelanjutan-melalui-open-innovation/feed/ 0
Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/gaya-hidup/unilever-ciptakan-merek-skincare-baru-usai-pahami-kebutuhan-konsumen-yang-terabaikan/ https://designthinking.id/gaya-hidup/unilever-ciptakan-merek-skincare-baru-usai-pahami-kebutuhan-konsumen-yang-terabaikan/#respond Fri, 21 Jul 2023 06:18:48 +0000 https://designthinking.id/?p=1352 Menggabungkan wawasan dari puluhan dokter kulit dan konsumen, Unilever melalui pusat inovasi Polycultural Centre of Excellence (PCOE) berupaya mengembangkan produk kecantikan yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna yang belum terlayani yakni mereka yang memiliki kulit gelap atau kaya melanin.

Di Amerika Serikat, meskipun jumlah warga berkulit hitam, Hispanik dan Asia mewakili 37,3% dari keseluruhan populasi, sebuah laporan dari Food and Drug Association (FDA) menunjukkan bahwa kelompok-kelompok ini hanya memiliki sedikit keterwakilan dalam uji klinis berbagai produk kecantikan dan perawatan tubuh.

Menurut laporan FDA, individu Asia, orang berkulit hitam atau Afrika-Amerika, dan Hispanik masing-masing hanya mencapai 6%, 8%, dan 11% dari populasi uji klinis. Jumlah ini sangat kontras jika dibandingkan dengan keterlibatan orang kulit putih dalam uji klinis yang mencapai 75% dari total responden.

Atas dasar inilah Unilever menyadari bahwa ada pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa setiap uji klinis benar-benar mampu mewakili beragam demografi pengguna atau dalam hal ini konsumen mereka. Maka, Unilever mendirikan Polycultural Centre of Excellence (PCOE) agar dapat membantu mengatasi kesenjangan pengetahuan ini.

Logo Unilever (Sumber: Unilever)

Melansir laman resmi Unilever, Polycultural Centre of Excellence (PCOE) menyatukan tim dari berbagai fungsi R&D termasuk formulasi, riset konsumen, serta sains dan teknologi untuk bekerja sama dalam program ‘Melanin Science Movement”, sebuah program yang dirancang oleh Unilever untuk lebih mengembangkan pemahaman tentang melanin dan bagaimana pengaruhnya terhadap kulit.

“Meskipun kami tahu ada lebih dari 1,5 miliar konsumen dengan kulit kaya melanin dan/atau rambut bertekstur di seluruh dunia, kami juga memahami bahwa mereka memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi di bidang kecantikan, perawatan, dan kesehatan,” jelas Peter Schrooyen, Head of Beauty & Wellbeing R&D North America di Unilever, seperti dilansir dari laman resmi

Melibatkan Konsumen

Alih-alih hanya melibatkan pakar kecantikan, Unilever turut melibatkan konsumen mereka, salah satunya dalam menciptakan produk tabir surya atau sunscreen yang cocok bagi konsumen dengan kulit yang berwarna lebih gelap.

Selama penelitian, tim peneliti menemukan banyak konsumen yang masih enggan menggunakan tabir surya. Tidak sedikit dari mereka yang belum menyadari bahwa paparan sinar matahari atau sinar UV dapat menyebabkan kerusakan pada kulit kaya melanin. Melihat minimnya pengetahuan konsumen akan bahaya sinar matahari bagi kulit, Unilever merasa perlu untuk menyebarkan pesan mengenai pentingnya penggunaan Sun Protection Factor (SPF). 

Untuk mendapatkan pesan yang tepat, Unilever lantas bekerja dengan pakar kulit berwarna demi membuat penjelasan singkat mengenai pentingnya SPF untuk meminimalkan potensi kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari. Pada gilirannya, komunitas dokter kulit berbagi wawasan mereka bahwa banyak klien mereka yang enggan menggunakan tabir surya karena dapat meninggalkan lapisan putih pada kulit yang lebih gelap.

Menggabungkan sains dengan wawasan gaya hidup ini membantu Unilever menciptakan merek perawatan kulit bernama MELÉ dengan SPF bawaan, yang tak hanya mampu memberikan perlindungan bagi kulit tapi juga kecantikan. Melansir laman resmi perusahaan, MELÉ lahir dari keyakinan unik bahwa kulit yang kaya melanin harus selalu menjadi prioritas. Didukung oleh sains dan dibuat dengan bahan-bahan yang menutrisi, MELÉ dipercaya mampu meningkatkan, dan melindungi kecantikan kulit yang kaya melanin.

Rangkaian produk MELÉ (Sumber: MELÉ)

“Wanita kulit hitam dan cokelat adalah konsumen utama dan penggemar semua aspek kecantikan, namun ada kekurangan pengetahuan berbasis sains dan perawatan kulit di pasar yang dirancang khusus untuknya. Memanfaatkan kekuatan ilmu pengetahuan Unilever, bergandengan tangan dengan sekelompok dokter kulit dan konsumen dengan kulit berwarna, kami telah bersama-sama mengembangkan merek yang mengedepankan kecantikan, kekhawatiran, dan solusi untuk kulit kaya melanin. Kami harap Anda menikmatinya,” jelas Sarah Irby Brand Director di Unilever untuk wilayah North America, seperti dilansir dari laman resmi .

Satu Pengetahuan untuk Semua Merek Kecantikan

check this site out

Selain kemampuannya memenuhi kebutuhan konsumen yang sebelumnya diabaikan, kolaborasi antar pakar di Polycultural Centre of Excellence (PCOE) juga menghasilkan pengetahuan yang mampu diadopsi oleh sejumlah merek produk kecantikan dan perawatan tubuh di Unilever.

Dengan kata lain, pusat inovasi Polycultural Centre of Excellence (PCOE) tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengalaman produk konsumen yang lebih beragam dan inklusif, tetapi juga mengembangkan produk dan membawanya ke pasar dengan cepat. Salah satu contohnya adalah penemuan bahwa kulit yang kaya melanin memiliki susunan ceramide yang berbeda, yang berpotensi lebih besar untuk kehilangan kelembapan dan membuatnya cenderung lebih kering daripada jenis kulit lainnya. 

Temuan itu mendorong merek Vaseline, yang juga dimiliki Unilever untuk menambahkan produk “Ultra Hydrating Lipids” ke rangkaian produk perawatan intensif Vaseline. Bersamaan dengan ini, mereka mengembangkan formula pelembab yang ditingkatkan untuk memberikan kelembapan hingga 90% lebih baik dari sebelumnya.

Selain Vaseline dan MELÉ, merek perawatan kulit bayi, Baby Dove turut menggunakan temuan ini untuk menciptakan serangkaian produk, yang dirancang khusus untuk merawat kulit bayi yang kaya melanin dengan lembut, termasuk sabun cuci hipoalergenik, krim, dan minyak yang menenangkan.

Sebagai pusat inovasi, Polycultural Centre of Excellence (PCOE) telah menjadi rumah bagi hampir 400 ilmuwan yang berspesialisasi dalam perawatan kulit, pembersihan kulit, dan perawatan rambut. Ratusan ilmuwan itu berkolaborasi, melakukan penelitian dan pengembangan secara global untuk menciptakan produk perawatan kulit dan perawatan rambut untuk berbagai merek kecantikan di bawah Unilever, termasuk SheaMoisture, Vaseline, Dove, dan MELÉ.

“Kemitraan dengan berbagai pakar dan pemasok untuk memahami bagaimana preferensi budaya, kebiasaan, dan praktik saling terkait untuk menciptakan pengalaman kecantikan konsumen,” kata Peter Schrooyen.

Bagaimana Pemahaman Pengguna Membantu Bisnis Tetap Unggul

Memahami kebutuhan pengguna memang krusial bagi bisnis. Semakin baik perusahaan memahami penggunanya, maka semakin besar kemungkinan mereka dapat merancang produk atau membangun layanan yang bekerja dengan baik dan paling dibutuhkan oleh konsumen. Pasalnya, wawasan akan kebutuhan pengguna membantu kita mengetahui lebih dekat mengenai konsumen dan keadaan atau faktor yang mengarahkan mereka untuk menggunakan produk atau layanan.

Dalam hal ini, kebutuhan pengguna yang hendak Unilever penuhi termasuk dalam jenis kebutuhan fungsional. Menurut laman , kebutuhan fungsional berfokus pada produk atau layanan yang membantu konsumen dalam mencapai tugas atau fungsi tertentu.

Tak heran jika MELÉ, merek kecantikan Unilever yang dikembangkan melalui kolaborasi banyak pakar kecantikan termasuk dalam hal mengumpulkan wawasan pengguna, mampu meraih banyak penghargaan. Dalam kurun waktu setahun setelah diluncurkan, MELÉ menjadi salah satu merek perawatan wajah pendatang baru yang mendapatkan banyak penghargaan.

Sejak Agustus 2020 sampai Juli 2021, MELÉ mendapatkan 13 penghargaan dari berbagai media top Amerika Serikat, seperti Elle, Bazaar, Allure, Cosmopolitan dan masih banyak lagi.

Adapun, cara terbaik untuk memahami kebutuhan pengguna adalah dengan menempatkan diri kita pada posisi mereka atau berempati. Menurut perusahaan konsultasi inovasi di Indonesia, , empati sangat penting untuk pemecahan masalah karena memungkinkan perusahaan untuk mengesampingkan asumsi dan mendapatkan wawasan nyata tentang pengguna dan kebutuhan mereka.

Untuk membantu bisnis memahami kebutuhan pengguna mereka, Innovesia telah merumuskan kerangka kerja design thinking sebagai salah satu pola pikir atau metode pemecahan masalah berfokus pengguna. Dengan metode design thinking 9i, Innovesia telah membantu lebih dari 100 perusahaan, pemerintah hingga institusi pendidikan untuk berinovasi dengan memusatkan pengguna sebagai inti atau pusat dari segala tahapan inovasi.

Mulai dari merangkum wawasan dari permasalahan yang dihadapi, membangun banyak ide atau solusi untuk permasalahan, hingga mewujudkan solusi tersebut dalam bentuk prototype untuk dievaluasi hingga diterjunkan ke pasar, Innovesia membantu bisnis untuk memposisikan pengguna atau target konsumen sebagai pusat dari inovasi mereka.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/unilever-ciptakan-merek-skincare-baru-usai-pahami-kebutuhan-konsumen-yang-terabaikan/feed/ 0
Mengurangi Emisi Karbon Melalui Kolaborasi Antar Perusahaan Terkemuka di Inggris https://designthinking.id/teknologi/mengurangi-emisi-karbon-melalui-kolaborasi-antar-perusahaan-terkemuka-di-inggris/ https://designthinking.id/teknologi/mengurangi-emisi-karbon-melalui-kolaborasi-antar-perusahaan-terkemuka-di-inggris/#respond Fri, 14 Jul 2023 08:14:41 +0000 https://designthinking.id/?p=1341 Sebanyak 15 organisasi, yang terdiri dari pemain utama dalam industri kimia dan consumer goods terkemuka serta institusi pendidikan di Inggris, berkolaborasi dalam Flue2Chem, sebuah proyek inovasi terbuka atau open innovation yang bertujuan mengurangi emisi karbon atau dekarbonisasi dengan mengubah gas limbah industri menjadi bahan baku yang berkelanjutan.

Sebagai negara besar dengan kemajuan industrinya, Inggris masih mengimpor sejumlah besar bahan baku yang mengandung karbon setiap tahunnya untuk industri barang konsumsi atau consumer goods. Parahnya, sebagian karbon yang digunakan masih bersumber dari bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas.

Ketika berbicara mengenai karbon, pikiran kita kemungkinan besar hanya tertuju pada transportasi, pembangkit listrik dan sebagainya. Padahal, sebagian besar karbon dan senyawa kimia lain yang digunakan industri untuk membuat produk kecantikan seperti kosmetik, pembersih pakaian, tekstil juga berasal dari bahan bakar fosil yang tentunya tidak ramah lingkungan.

Atas dasar itu, penting bagi Inggris untuk berinovasi menciptakan sumber karbon alternatif yang ramah lingkungan untuk mencapai target emisi nol bersih atau net zero emission pada 2050. Apalagi, sebuah laporan yang diterbitkan oleh lalu memperkirakan, permintaan bahan kimia yang berasal dari fosil akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2050.

Akibatnya, produksi karbon terbarukan perlu ditingkatkan jika ingin menghapus emisi dari penggunaan karbon fosil dalam consumer goods atau barang habis pakai yang diproduksi oleh perusahaan yang akan digunakan oleh konsumen.

Sadar akan urgensi ini, 15 organisasi yang didukung langsung oleh pemerintah Inggris meluncurkan Flue2Chem, sebuah program kolaboratif untuk mewujudkan industri consumer goods yang berkelanjutan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Adapun 15 organisasi itu mencakup raksasa Unilever, Society of Chemical Industry (SCI), perusahaan kimia BASF, Tata Steel, Croda, Johnson Matthey, UPM-Kymmene, Holmen, University of Sheffield, University of Surrey, Carbon Clean, Proctor & Gamble, Center for Process Innovation, Konfederasi Industri Kertas, dan produsen consumer goods multinasional Reckitt.

Melalui open innovation, mereka bersama-sama berupaya mengambil limbah gas dari industri dasar seperti logam, kaca, kertas dan bahan kimia, untuk kemudian mengubahnya menjadi sumber karbon alternatif yang akan digunakan dalam produksi consumer goods di Inggris. 

David Bott, Kepala Inovasi di SCI berpendapat Flue2Chem merupakan contoh yang sangat baik dari kekuatan kerja kolaboratif. Lebih dari itu, Flue2Chem menjadi langkah penting bagi Inggris dan visi SCI untuk memajukan penerapan ilmu kimia ke dalam industri untuk kepentingan publik.

my company

“Model bisnis baru ini bertujuan untuk mengurangi kebutuhan impor bahan bakar fosil. Sebaliknya, konsorsium akan membangun rantai pasokan baru yang lebih berkelanjutan sambil juga mengurangi emisi limbah. Grup tersebut akan mengembangkan metode untuk menggunakan karbon yang ditangkap dari aliran limbah industri lain dan mengubahnya menjadi bahan mentah yang terjangkau untuk produk konsumen,” ujar David Bott seperti dilansir dari media Inggris, .

Hingga Februari tahun ini, proyek Flue2Chem telah mengantongi pendanaan sebesar 5,4 juta poundsterling (Rp103 miliar), di mana 2,68 juta poundsterling (Rp53 miliar) di antaranya berasal dari lembaga inovasi nasional Inggris, Innovate UK, melalui UK Research and Innovation (UKRI) Transforming Foundation Industries Challenge yang didirikan untuk mendorong Inggris mencapai target nol bersih.

“Hal hebat tentang Flue2Chem bukan hanya inovasinya, yang menangani dekarbonisasi, efisiensi sumber daya, dan menciptakan model ekonomi sirkular, tetapi fakta bahwa ini adalah contoh hebat tentang bagaimana Anda dapat menyatukan seluruh rantai pasokan untuk menghasilkan inovasi yang dibutuhkan. Tidak lagi masuk akal untuk bekerja secara individu,” ujar Bruce Adderley, Direktur Transforming Foundation Industries Challenge di Innovate UK, seperti dilansir dari .

Sementara itu, pemimpin Flue2Chem sekaligus Direktur R&D Sains dan Teknologi Perawatan Rumah di Unilever, Ian Howell optimis bahwa kolaborasi Flue2Chem akan mampu mengubah industri dengan mempercepat tindakan dan memperbaiki rantai nilai bahan kimia agar tidak terlalu bergantung pada bahan bakar fosil.

“Ini adalah ambisi yang berani dan, di Unilever, kami telah secara terbuka menyerukan tindakan selama dua tahun terakhir. Tidak ada satu perusahaan pun yang dapat melakukan ini sendirian, jadi memiliki kekuatan dari 15 pabrikan dan akademisi menandai langkah maju yang signifikan tidak hanya untuk Inggris tetapi juga secara global,” ujar Ian Howell seperti dilansir dari

Unilever sendiri memang telah merintis produk pembersih menggunakan emisi karbon industri dan bukan dari bahan bakar fosil untuk memproduksi deterjen OMO di China, pencuci piring tangan Sunlight di Afrika Selatan dan deterjen Coral+ di Jerman.

Lebih lanjut, 15 organisasi yang bergabung dalam Flue2Chem optimis kolaborasi ini membantu Inggris memangkas 15 sampai 20 juta ton emisi karbon dioksida setiap tahunnya.

Bagaimana Open Innovation Mampu Mempercepat Dekarbonisasi

Di tengah krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan, sudah saatnya bagi bisnis tak terkecuali bagi industri manufaktur untuk meninggalkan mentalitas dalam operasional mereka untuk mempercepat dekarbonisasi dengan merangkul kolaborasi. Pasalnya, mencatat antara 70% sampai 90% emisi karbon suatu produk terjadi di sepanjang rantai nilai atau value chain. Karenanya, perusahaan dewasa ini perlu bekerja sama dengan seluruh pihak untuk melacak emisi di sepanjang rantai ini demi mengurangi jejak karbon atau carbon footprint. 

“Dekarbonisasi mengharuskan perusahaan penyedia teknologi dan lembaga penyedia regulasi untuk bekerja sama, bahu membahu mempercepat transisi ke ekonomi yang berkelanjutan,” tutur Fiter Bagus Cahyono, Direktur , sebuah perusahaan konsultasi yang berpengalaman luas dalam membantu klien berinovasi.

Open innovation dalam hal ini dapat mempercepat dekarbonisasi karena melibatkan kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antara berbagai pihak, termasuk perusahaan, pemerintah, lembaga akademik, hingga ke lapisan individu masyarakat sekalipun. Dengan berkolaborasi, kita memiliki peluang yang lebih besar untuk mengatasi tantangan paling mendesak di dunia, yakni membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius sesuai tujuan Paris Agreement.

“Kolaborasi melalui open innovation memungkinkan siapa saja baik perusahaan, institusi pendidikan, pemerintah hingga individu untuk menciptakan solusi bersama. Dengan makin banyak pihak yang bergabung dan didorong oleh perkembangan teknologi, open innovation mampu menciptakan hingga memasarkan produk dan layanan baru dengan lebih cepat, mempercepat perubahan, menciptakan aliran pendapatan baru, hingga menciptakan model bisnis baru yang berkelanjutan. Singkatnya, open innovation adalah alat yang ampuh untuk mengatasi masalah yang kompleks,” jelas Fiter Bagus.

Walau begitu, Fiter Bagus menekankan, open innovation membutuhkan komitmen tulus dari setiap mitra inovasi yang berkolaborasi. Dengan kata lain, perusahaan atau siapapun yang terjun dalam kolaborasi ini harus mampu menciptakan fondasi kepercayaan dan keamanan data. Pada satu sisi, perusahaan harus mampu berbagi data dengan mitra inovasi selagi melindungi privasi mereka agar tidak membahayakan daya saing mereka sendiri.

Kabar baiknya, sebagai penyedia layanan open innovation, Innovesia mampu membantu organisasi, baik perusahaan, pemerintah, lembaga pendidikan hingga organisasi nirlaba untuk memecahkan masalah kompleks tak terkecuali pada sektor lingkungan melalui open innovation. Sejak berdiri pada 2015, Innovesia telah dipercaya banyak organisasi untuk menciptakan solusi yang mendukung prinsip-prinsip keberlanjutan di berbagai sektor seperti energi, pertambangan hingga organisasi non-pemerintah dan masih banyak lagi.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/mengurangi-emisi-karbon-melalui-kolaborasi-antar-perusahaan-terkemuka-di-inggris/feed/ 0
Inspirasi Juni: Tiga Perusahaan Menggebrak Industri Melalui Open Innovation https://designthinking.id/teknologi/inspirasi-juni-tiga-perusahaan-menggebrak-industri-melalui-open-innovation/ https://designthinking.id/teknologi/inspirasi-juni-tiga-perusahaan-menggebrak-industri-melalui-open-innovation/#respond Wed, 05 Jul 2023 10:12:52 +0000 https://designthinking.id/?p=1261 Pada Juni 2023, perusahaan-perusahaan kembali mencuri perhatian berkat keberanian mereka dalam berkolaborasi lintas industri untuk memastikan pertumbuhan perusahaan sambil menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan.

Dalam artikel ini, kita akan mempelajari kisah inspiratif tiga perusahaan dalam menerapkan strategi open innovation untuk mengatasi tantangan bisnis dan mencapai keunggulan kompetitif. Berikut tiga perusahaan yang membuka pintu bagi kolaborasi dan merubah paradigma bisnis:

open innovation

1. Unilever

1. Unilever
sustainable
open innovation.

Intelligent Protein Design Technology™ di Laboratorium Arzeda. (Sumber: Dok. Arzeda)

Intelligent Protein Design Technology™ di Laboratorium Arzeda. (Sumber: Dok. Arzeda)

Berkolaborasi bersama  Arzeda, sebuah perusahaan biologi sintetik yang memproduksi jenis protein dan enzim baru dengan prinsip-prinsip keberlanjutan, Unilever menggabungkan ilmu fisika dan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat jenis enzim rendah karbon yang mampu menggantikan penggunaan bahan kimia apapun yang diperoleh dari bahan bakar fosil dalam produksi detergen.

Peter ter Kulve, yang menjabat sebagai Unilever Home Care President, menuturkan kolaborasinya dengan Arzeda telah mendukung strategi Clean Future di Unilever, yang mencakup komitmen untuk mengubah produk detergen mereka menjadi lebih ramah lingkungan sambil tetap mempertahankan kinerja pada tingkat yang sama atau bahkan lebih baik.

Clean Future

“Sebagai bagian dari strategi Clean Future Unilever, kami berinvestasi dalam teknologi mutakhir untuk mengembangkan produk pembersih generasi berikutnya, yang berkelanjutan dan berkinerja tinggi. Kemajuan yang dibuat hanya dalam 18 bulan dengan teknologi Arzeda menunjukkan bagaimana konvergensi AI dan biologi adalah gamechanger untuk industri seperti perawatan di rumah,” kata Peter ter Kulve.

Clean Future
gamechanger
you could check here

2. Hyundai Motor Group

2. Hyundai Motor Group
startup
startup

Hwang Yunseong, Wakil presiden dan Kepala Departemen Investasi Open Innovation di Hyundai Motor Group, berbicara di acara “HMG Open Innovation Tech Day” yang diadakan di Seoul, Korea Selatan pada 15 Juni. (Sumber: Hyundai Motor Group)

Hwang Yunseong, Wakil presiden dan Kepala Departemen Investasi Open Innovation di Hyundai Motor Group, berbicara di acara “HMG Open Innovation Tech Day” yang diadakan di Seoul, Korea Selatan pada 15 Juni. (Sumber: Hyundai Motor Group)

Sejak 2017, Hyundai Motor Group memang aktif melihat potensi open innovation sebagai sarana perusahaan mengamankan mesin pertumbuhan bisnis mereka melalui kolaborasi bersama ratusan startup di seluruh dunia. Bahkan, perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Seoul itu telah menginvestasikan KRW 1,3 triliun (Rp15 triliun) dalam open innovation bersama startup di berbagai area bisnis, termasuk elektrifikasi, konektivitas, kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, robotika, layanan mobilitas dan lainnya.

open innovation
startup
open innovation
startup

Hingga saat ini, Hyundai Motor Group mengoperasikan pusat inovasi bernama ‘CRADLE’ di Amerika Serikat, Jerman, Israel, China, dan Singapura. Di Korea sendiri, Hyundai Motor Group juga telah mendirikan program akselerator bertajuk ‘ZER01NE’, yang merupakan pusat open innovation untuk memfasilitasi kolaborasi antara startup dan berbagai departemen di bawah Hyundai.

open innovation
startup

“Kami akan membangun ekosistem koeksistensi dengan berinvestasi secara aktif dalam startup yang memberikan wawasan penting dalam penciptaan solusi mobilitas cerdas dan berkelanjutan di masa depan serta meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup umat manusia,” kata Hwang Yunseong, Wakil Presiden dan Kepala Departemen Eksekusi Open Innovation di Hyundai Motor Group.

3. L’Oréal 

3. L’Oréal 
open innovation
beauty experience

Pemotongan pita pada acara peluncuran “North Asia Big Bang Beauty Tech & Innovation Challenge” di Viva Technology, Paris, Prancis pada 15 Juni 2023. (Sumber: Dok. L’Oréal)

Pemotongan pita pada acara peluncuran “North Asia Big Bang Beauty Tech & Innovation Challenge” di Viva Technology, Paris, Prancis pada 15 Juni 2023. (Sumber: Dok. L’Oréal)

Di Korea Selatan, L’Oréal akan bermitra dengan kementerian terkait untuk mendukung pertumbuhan startup di bidang perangkat kecantikan, teknologi kecantikan, juga diagnosis kulit. L’Oréal juga bermitra dengan J-Startup dan startup asal Jepang Hello Tomorrow untuk memanfaatkan kemajuan bioteknologi dalam produk kecantikan. Sementara di China, L’Oréal telah merintis program Big Bang selama tiga tahun, berkolaborasi dengan 1.500 startup asal China dan menginkubasi lebih dari 50 proyek.

startup
startup
startup

“Di L’Oréal, kami merangkul dan memelihara inovasi, dan percaya pada open innovation melalui kemitraan. Oleh karena itu, kami bekerja dengan startup inovatif, usaha kecil dan menengah, institusi serta pemerintah untuk menginspirasi dan terinspirasi. Kami sangat antusias untuk berkolaborasi dengan startup dari China, Korea, dan Jepang melalui program Big Bang, dan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi,” ujar Barbara Lavernos, Deputy CEO L’Oréal Group, yang bertanggung jawab atas Riset, Inovasi, dan Teknologi.

open innovation
startup
startup

]]>
https://designthinking.id/teknologi/inspirasi-juni-tiga-perusahaan-menggebrak-industri-melalui-open-innovation/feed/ 0
Kunci Sukses Unilever Kembangkan Formula Detergen Ramah Lingkungan Melalui Open Innovation https://designthinking.id/gaya-hidup/kunci-sukses-unilever-kembangkan-formula-detergen-ramah-lingkungan-melalui-open-innovation/ https://designthinking.id/gaya-hidup/kunci-sukses-unilever-kembangkan-formula-detergen-ramah-lingkungan-melalui-open-innovation/#respond Tue, 04 Jul 2023 06:45:02 +0000 https://designthinking.id/?p=1253 sustainability.
open innovation,
sustainable.

Bersama Arzeda, Unilever menggabungkan ilmu fisika dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membuat jenis enzim baru yang ramah lingkungan karena menggunakan lebih sedikit air dan energi. Dalam rilis perusahaan, Unilever menuturkan enzim baru ini memiliki kemampuan luar biasa untuk memecah berbagai jenis noda, serta mengurangi separuh jumlah bahan yang diperlukan untuk memformulasikan produk pembersih pakaian atau detergen.

artificial intelligence

Tak hanya itu, jenis enzim baru ini juga didapuk mampu menggantikan penggunaan bahan kimia apapun yang diperoleh dari bahan bakar fosil atau petrokimia dalam produksi produk pembersih pakaian. Selain dari sisi teknologi, kolaborasi melalui open innovation telah memungkinkan Unilever dan Arzeda untuk mengembangkan enzim baru hanya dalam waktu 18 bulan atau lima kali lebih cepat dari waktu produksi enzim yang dibutuhkan sebelumnya.


open innovation

Peter ter Kulve, yang menjabat sebagai Unilever Home Care President, menuturkan kemitraannya dengan Arzeda telah mendukung strategi Clean Future di Unilever, yang mencakup komitmen untuk mengubah beberapa produk detergen menjadi lebih rendah karbon dan limbah seraya mempertahankan kinerja yang sama atau bahkan lebih baik.

Clean Future
Clean Future
gamechanger

Kemajuan teknologi Arzeda menunjukkan bagaimana konvergensi AI dan biologi mampu mengubah permainan, termasuk bagi Unilever perusahaan besar yang berdiri sejak 1929. Kemitraan bersama Arzeda sekaligus mempercepat komitmen Unilever untuk mencapai emisi nol bersih atau net zero emission dari semua produk Unilever pada tahun 2039.

net zero emission

“Kemajuan yang telah kami buat hanya dalam 18 bulan merupakan bukti bahwa tidak hanya hubungan kolaboratif dengan Unilever tetapi juga dampak yang dapat dibuat oleh Intelligent Protein Design Technology™ kami. Kini, kami terus meningkatkan produksi dan sangat bersemangat serta optimis tentang potensi luar biasa yang dimiliki kemitraan ini bagi konsumen dan bumi,” kata Alexandre Zanghellini, CEO Arzeda. 

Mengapa Keberlanjutan Penting Bagi Unilever?

Mengapa Keberlanjutan Penting Bagi Unilever?

Sebagai perusahaan manufaktur, pemasaran dan distribusi barang konsumsi, Unilever sadar akan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari tingkat konsumsi produk saat ini. Alasan ini ditambah kekhawatiran konsumen akan dampak perubahan iklim, telah mendorong Unilever untuk mengelola dan menjalankan bisnis mereka dengan lebih bertanggung jawab.

Unilever juga menanggapi kekhawatiran konsumen dengan mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk membantu konsumen mengurangi dampak iklim. Dalam hal ini, Unilever berkomitmen mengganti formula setiap produk pembersih yang berasal dari bahan bakar fosil dengan bahan terbarukan pada 2030. Ambisi ini termasuk dalam komponen inti program Clean Future, yang ditujukan untuk mengubah cara produk pembersih diproduksi dalam rangka mengurangi jejak karbon produk tersebut.

Clean Future,

Pasalnya, sebagian besar produk detergen yang beredar di pasar saat ini mengandung bahan kimia, yang terbuat dari bahan baku bahan bakar fosil. Bahan kimia inilah yang menjadi penyumbang emisi karbon terbesar dari seluruh siklus hidup produk detergen. Atas dasar itu, Unilever menilai beralih dari bahan kimia yang berasal dari bahan bakar fosil dalam formulasi produk akan menjadi peluang besar untuk mengurangi jejak karbon.

Namun, sadar ketidakmampuannya untuk mencapai target keberlanjutannya sendirian, Unilever memilih berkolaborasi dalam open innovation bersama sejumlah mitra seperti akademisi, pemasok dan perusahaan-perusahaan berbagai latar belakang untuk mengeksplorasi, mengembangkan, dan menskalakan teknologi yang memungkinkan Unilever menjadi lebih baik.

open innovation
boutiques

LanzaTech sendiri merupakan perusahaan daur ulang karbon, yang berpengalaman membuat bahan bakar dan bahan kimia berkelanjutan melalui konversi biologis emisi karbon limbah, termasuk limbah industri. Sementara India Glycols adalah perusahaan terkemuka yang memproduksi green technology.

green technology

Melalui open innovation ketiganya mampu memproduksi surfaktan yang dibuat dari emisi karbon industri dan bukan dari bahan bakar fosil. Inovasi ini memanfaatkan bioteknologi dan rantai pasokan yang baru dikonfigurasi antara ketiga mitra. Kemitraan ketiganya menandai pertama kalinya surfaktan dibuat menggunakan emisi karbon untuk kemudian digunakan dalam formula detergen.

open innovation
open innovation
,
sustainable.
Open innovation
sustainability
innovation
sustainability,

Seperti yang dirasakan Unilever, open innovation telah membantu perusahaan sebesar Unilever dalam mengadopsi teknologi baru untuk membuat formula detergen yang ramah lingkungan. Dalam hal ini, Unilever memanfaatkan kemajuan teknologi yang dimiliki perusahaan lain untuk membantunya meminimalkan dampak lingkungan. Tanpa open innovation, Unilever mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga kerja yang lebih handal untuk mencapai kemajuan saat ini.

open innovation
open innovation,
open innovation

Open innovation memang kian penting untuk mengatasi kesenjangan kompetensi internal perusahaan serta mempercepat perusahaan dalam merespon tantangan eksternal. Lebih dari sebelumnya, perusahaan kini perlu menerapkan praktik open innovation tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan R&D perusahaan, tapi juga untuk memenuhi tuntutan tujuan keberlanjutan.

Open innovation
open innovation

Atas semangat itu, Innovesia selaku pionir ekosistem open innovation di Indonesia membuka kesempatan seluas-luasnya bagi bisnis dari industri manapun untuk berinovasi melalui kolaborasi dan menemukan mitra yang tepat dalam mendukung tujuan keberlanjutan mereka.

open innovation

Berinovasi untuk Keanekaragaman Hayati Bersama Innovesia

Berinovasi untuk Keanekaragaman Hayati Bersama Innovesia

Pada 2019, Innovesia dipercaya United Nations Development Program Biodiversity Finance (UNDP BIOFIN) untuk menjalankan hackathon guna menciptakan solusi bagi masalah keanekaragaman hayati dan pengelolaan lahan dan laut yang berkelanjutan. Dalam kolaborasi kali ini, Innovesia bersama Makedonia mempertemukan UNDP dengan puluhan peserta dari wilayah Jakarta, Bandung dan Yogyakarta yang amat antusias mendukung pengelolaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.

hackathon

Peserta lantas diminta menciptakan solusi inovatif dalam tiga kategori yakni pengelolaan data keanekaragaman hayati, meningkatkan kesadaran terhadap masalah keanekaragaman hayati, dan pengelolaan lahan dan laut yang berkelanjutan. Para peserta juga dibekali wawasan berharga dari sejumlah pembicara, mulai dari perwakilan Kementerian PUPR yang berbicara mengenai pengelolaan sampah dari sudut pandang pemerintah, hingga Daniel Oscar Baskoro, seorang Peneliti ICT for Development di Columbia University, New York.

Didampingi oleh sejumlah mentor dan fasilitator dari Innovesia, para peserta berhasil menciptakan ragam solusi atas masalah keanekaragaman hayati, seperti pengelolaan sampah, pameran keanekaragaman hayati untuk edukasi, sistem internet of things (IoT) untuk membantu petani mengelola lahan dan tanaman mereka, hingga pengelolaan kebakaran hutan. 

internet of things

Dari banyaknya ide terkumpul dipilih tiga pemenang dengan solusi yang paling relevan. Mereka adalah Alam Kita berkat inovasi “BioMaze”, yang menggabungkan pengalaman langsung, augmented reality (AR), virtual reality (VR), dan aplikasi permainan untuk metode pembelajaran interaktif, sederhana, dan mudah yang akan meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat Indonesia tentang keanekaragaman hayati.

augmented reality
virtual reality

Pada posisi kedua, ada Wastebender yang menciptakan prosesor limbah otomatis guna membantu aktivis lingkungan dan para orang tua yang sibuk dalam mengurangi limbah organik mereka dengan mudah, lebih cepat, dan efisien. Sementara tempat ketiga di isi oleh oleh Bio NL yang mengembangkan “WESTI”, sebuah platform pengelolaan limbah makanan restoran yang memanfaatkan teknologi pengenalan gambar untuk mendeteksi jenis sayuran dan buah-buahan yang dibuang.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/kunci-sukses-unilever-kembangkan-formula-detergen-ramah-lingkungan-melalui-open-innovation/feed/ 0