Sustainability – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Fri, 17 Nov 2023 09:10:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Sustainability – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Open Innovation jadi Kunci Keberhasilan Perusahaan Capai Tujuan Keberlanjutan https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/ https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/#respond Tue, 07 Nov 2023 07:18:46 +0000 https://designthinking.id/?p=2268 Walau inovasi terbuka atau open innovation bukanlah konsep yang baru, pendekatan inovasi satu ini dinilai kian relevan dalam menghadapi lanskap bisnis yang semakin kompleks. Seiring meningkatnya urgensi iklim, open innovation diyakini banyak perusahaan sebagai pendekatan yang tepat dalam menjawab tantangan keberlanjutan atau sustainability yang dicita-citakan banyak perusahaan di dunia.

Dalam survei terhadap 1.000 perusahaan yang dilangsungkan pada Februari hingga Maret 2023, Capgemini Research Institute mencatat, 75% perusahaan memandang open innovation sebagai hal yang krusial untuk mengatasi permasalahan kompleks dalam bisnis mereka.

Open innovation bahkan dinilai jauh lebih penting dari sebelumnya mengingat besarnya tuntutan bagi perusahaan untuk menerapkan model bisnis yang lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Bahkan, 83% perusahaan yang disurvei mengakui open innovation sebagai faktor penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan keberlanjutan.

Seperti namanya, open innovation merupakan upaya mendapatkan pengetahuan atau bahkan solusi atas suatu permasalahan dengan melibatkan pihak internal dan eksternal perusahaan. Open innovation dinilai kian penting untuk mengatasi kesenjangan dan keterbatasan sumber daya internal perusahaan, seraya mempersingkat waktu dalam menjawab tantangan eksternal secepat mungkin.

Dengan begitu perusahaan bisa mendapatkan solusi yang lebih beragam, out-of-the-box, dalam waktu singkat dan tentunya dengan biaya yang lebih sedikit. Tak heran jika 55% perusahaan mengakui bahwa inovasi terbuka mampu meningkatkan percepatan inovasi, sementara 62% perusahaan mengatakan inovasi dapat meningkatkan ketangkasan dan kemampuan beradaptasi karyawan. Lebih dari 60% perusahaan pun telah merealisasikan manfaat finansial seperti peningkatan pendapatan dan efisiensi operasional. 

Dalam konteks keberlanjutan atau sustainability, kebutuhan untuk mempercepat transisi menuju net zero emission mendorong organisasi untuk memanfaatkan sumber inovasi eksternal dan kehadiran open innovation telah membuka jalan bagi perusahaan untuk melakukan kolaborasi. Open innovation memungkinkan setiap perusahaan untuk berkolaborasi dengan pemasok, pelanggan, startup, pemerintah, organisasi nirlaba atau bahkan pesaing untuk menjawab tantangan keberlanjutan yang bersifat sistemik. 

Bahkan, 68% perusahaan mengaku telah berinvestasi pada open innovation sebagai metode untuk menjawab tantangan keberlanjutan. Unilever misalnya, perusahaan FMCG multinasional yang telah melibatkan banyak pihak eksternal dalam open innovation sebagai upaya untuk mewujudkan bisnis berkelanjutan.

Mencapai Tujuan Keberlanjutan Melalui Open Innovation Bersama Startup

Pada tahun 2021, Unilever bekerja sama dengan LanzaTech –startup bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat (AS)– dan India Glycols –produsen bahan kimia yang berbasis di India– berhasil menciptakan cairan pencuci piring pertama di dunia yang terbuat dari emisi karbon industri yang didaur ulang. Tak hanya itu, Unilever juga berpartisipasi dalam proyek Flue2Chem, sebuah inisiatif open innovation yang melibatkan 15 organisasi di Inggris dengan tujuan mengubah gas limbah industri menjadi gas berkelanjutan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam berbagai produk FMCG.

Pada tahun yang sama, perusahaan utilitas listrik asal Spanyol, Iberdrola, melangsungkan Global Smart Grids Innovation Hub yang melibatkan 91 mitra di sektor teknologi termasuk startup untuk menggandakan jumlah proyek inovasi smart grid di seluruh dunia. Melalui open innovation, Iberdrola mencoba menciptakan solusi digitalisasi jaringan listrik, integrasi energi terbarukan, hingga optimalisasi sistem penyimpanan energi.

Berkat teknologi dan ketangkasan yang dimiliki startup, banyak perusahaan besar melihat startup sebagai mitra paling ideal dalam mencapai upaya keberlanjutan mereka. Bahkan, tujuh dari sepuluh perusahaan yang disurvei Capgemini Research Institute meyakini pentingnya berkolaborasi dengan startup dalam open innovation untuk mengatasi tantangan keberlanjutan. 

Sebanyak 55% perusahaan mengatakan bahwa mereka sudah mulai terlibat dalam open innovation bersama startup teknologi dalam dua tahun terakhir. Mereka meyakini, teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), blockchain, biologi sintetis, dan teknologi kuantum yang dibawa startup merupakan kunci untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan penipisan sumber daya alam.

Senada, Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, menyatakan bahwa startup mampu menghasilkan solusi digital dalam menghadapi tuntutan emisi nol bersih berkat perspektif segar yang mereka bawa, juga sistem kerja yang berbeda dari perusahaan besar pada umumnya.

Startup dan pengusaha membawa pola pikir yang berbeda dan perspektif baru dalam tantangan net-zero emission. Mereka dapat bergerak lebih cepat daripada organisasi besar dan lebih mudah melakukan hal-hal baru. Hal ini membuat mereka sangat cocok untuk perusahaan seperti Shell, yang kurang gesit, tetapi dapat menawarkan dukungan finansial yang kuat, kapasitas teknis yang luas, dan akses mudah ke mitra dan pasar global,” ujar Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, seperti dilansir dari laman resmi Shell.

Kolaborasi lintas industri yang dimungkinkan open innovation inilah yang secara luas diakui mampu membantu perusahaan mencapai tujuan keberlanjutan mereka. Dalam laporan bertajuk The Power of Minds: How Open Innovation Over Benefits for All, mayoritas atau 63% perusahaan yang disurvei mengaku bahwa inisiatif open innovation yang mereka lakukan mampu meningkatkan indikator keberlanjutan lingkungan perusahaan dan 55% melaporkan peningkatan dalam indikator keberlanjutan sosial mereka.

Dengan segenap keuntungan yang ditawarkan, tak heran jika 71% dari 1.000 perusahaan yang disurvei berencana untuk meningkatkan investasi dalam open innovation selama dua tahun ke depan. Tak hanya itu, mereka juga meyakini bahwa 70% inovasi perusahaan di masa depan akan lahir dari kolaborasi, mengingat besarnya tantangan global, termasuk perubahan iklim.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/feed/ 0
Hadirkan Solusi Inovatif, 5 Startup Ubah Tantangan Berkelanjutan jadi Peluang Bisnis https://designthinking.id/teknologi/hadirkan-solusi-inovatif-5-startup-ubah-tantangan-berkelanjutan-jadi-peluang-bisnis/ https://designthinking.id/teknologi/hadirkan-solusi-inovatif-5-startup-ubah-tantangan-berkelanjutan-jadi-peluang-bisnis/#respond Wed, 11 Oct 2023 09:27:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1627 Dimeriahkan oleh lebih dari 2,100 perusahaan, Indonesia Energy & Engineering 2023 Series sukses memperkenalkan ragam inovasi teknologi baru di sektor industri energi dan konstruksi yang menerapkan prinsip sustainability. Diselenggarakan selama empat hari pada 13–16 September lalu, Indonesia Energy & Engineering 2023 turut menghadirkan ragam panel diskusi yang membahas target-target pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yang terkait dengan sektor industri energi dan konstruksi.

Dengan memanfaatkan teknologi digital, kelima startup ini dipilih berkat ide inovasi bisnis mereka dalam energi terbarukan yang diyakini mampu mempercepat transisi energi bersih di Indonesia. Berikut lima startup yang mampu menghadirkan solusi inovatif dengan penerapan prinsip sustainability:

1. Biojel

Biojel Presentasikan inovasi hijau terbarukan ubah limbah biomassa jadi biogas (Sumber: Tangkapan Layar)

Startup yang bergerak di sektor energi terbarukan itu menghadirkan inovasi teknologi yang menguntungkan dengan mengubah limbah biomassa menjadi biogas, yang dapat digunakan untuk keperluan memasak bagi rumah tangga di Indonesia. Dengan teknologi biodigester portabel yang lebih mudah dalam proses pemeliharaan, Biojel meyakini inovasi yang mereka hadirkan lebih murah dari penggunaan LPG.

Selain mengurangi emisi karbon hingga 6.204,424 ton CO2/bulan dari penggunaan LPG, inovasi oleh Biojel ini juga diyakini mampu mengurangi besaran subsidi LPG yang dikeluarkan pemerintah yang pada 2023 mencapai Rp117,85 triliun.

2. Econella

Econella Presentasikan inovasi hijau terbarukan ubah limbah biomassa jadi biogas (Sumber: Tangkapan Layar)

Faktor inilah yang mendorong Econella menghadirkan alternatif efisiensi energi untuk membantu mengatasi krisis BBM di Indonesia yang memiliki dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hanya dengan menambahkan tiga tetes pada satu liter BBM, petani mampu menghemat penggunaan BBM mereka hingga 25%. Dengan efisiensi BBM, tentu Econella mampu mengurangi emisi karbon di sektor pertanian.

Minyak atsiri sendiri dipilih Econella karena sifatnya yang mudah menguap, memiliki bobot jenis dan viskositas rendah, tersusun dari senyawa hidrokarbon dan oksigen, juga karena mampu larut sempurna di dalam bahan bakar, tidak mengandung logam berat dan terakhir dapat diperbarui. Produk inovasi di ranah bioenergi ini turut memberikan nilai tambah dengan memanfaatkan bahan hasil pertanian yang reject dan limbah pertanian sebagai bahan bakunya.

3. Auto Digda

Auto Digda pamerkan inovasi dalam otomatisasi pergudangan (Sumber: Tangkapan Layar).

Membawa inovasi automatic guided vehicle (AGV), startup yang anggotanya terdiri dari mahasiswa Politeknik Astra itu berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas perpindahan barang di gudang atau warehouse sekaligus mengurangi tingginya biaya rantai pasokan atau supply chain cost.

Berkaca pada kasus Amazon di mana penerapan otomatisasi di warehouse mereka mampu menghemat biaya operasi pergudangan hingga 20% atau sekitar USD 22 juta per gudang per tahun, Auto Digda menghadirkan teknologi robot AGV yang mampu meningkatkan efisiensi sistem manajemen gudang hingga tiga kali lipat. Kelebihan ini dimungkinkan berkat perangkat lunak atau software yang memungkinkan kontrol, monitoring dan tracking atas setiap robot yang mereka miliki.

Uniknya lagi, inovasi robot AGV dari Auto Digda dilengkapi dengan teknologi Auto Digda Combine di mana ‘main AGV’ bisa bertransformasi menjadi empat jenis mesin sekaligus, mulai dari unit loads, arm robot, towing, and forklift. Tak heran jika Auto Digda mampu memenangkan sejumlah kompetisi startup seperti PJCI’s Innovation for Energy, Genbi Startup Competition, juga Astronauts.

Tak hanya meningkatkan efisiensi dalam hal operasional dan biaya, inovasi Auto Digda juga diharapkan mampu mengurangi risiko kecelakaan kerja yang kerap menimpa karyawan di pergudangan.

4. Water Coin

Presentasi Water Coin dalam IEE Series 2023 (Sumber: Tangkapan Layar)

Ketersediaan air bersih khususnya berupa air minum memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Namun, tak semua wilayah di Indonesia memiliki akses yang luas akan air bersih. Pada 2021 misalnya, Badan Pusat Statistik mencatat ada 47.915 dari 83.843 desa/kelurahan di Indonesia yang belum memiliki akses air minum bersih.

5. Matador Lectro

Inovasi baterai dari Matador Lectro (Sumber: Matador Lectro)

Tak seperti baterai lithium pada umumnya, inovasi baterai lithium Matador Lectro terbukti lebih kuat dan lebih tahan lama dengan keandalan dan kapasitas penyimpanan yang tinggi. Selain itu, baterai lithium yang diciptakan juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan setiap konsumen yang berbeda-beda.

Yakin bahwa masa depan energi harus didukung oleh sumber daya yang terbarukan dan berkelanjutan, Matador Lectro menyediakan sistem manajemen baterai cerdas yang mampu mengoptimalkan penggunaan energi setiap konsumen. Pasalnya, inovasi sistem manajemen daya tersebut mampu mengatur dan mengoptimalkan aliran energi dari panel surya ke baterai dan ke beban listrik, memastikan penggunaan energi yang efisien dan hemat biaya.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/hadirkan-solusi-inovatif-5-startup-ubah-tantangan-berkelanjutan-jadi-peluang-bisnis/feed/ 0
Rilis iPhone 15, Apple Buktikan Komitmen Perusahaan Capai Netralitas Karbon 2030 https://designthinking.id/uncategorized/rilis-iphone-15-apple-buktikan-komitmen-perusahaan-capai-netralitas-karbon-2030/ https://designthinking.id/uncategorized/rilis-iphone-15-apple-buktikan-komitmen-perusahaan-capai-netralitas-karbon-2030/#respond Wed, 27 Sep 2023 07:09:11 +0000 https://designthinking.id/?p=1604 Siapa yang tak kenal Apple, perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat itu telah dikenal luas akan inovasi yang out-of-the-box dalam setiap lini produknya, khususnya iPhone. Mulai dari Touch ID, desain layar berponi, kamera boba, hingga Dynamic Island, setiap inovasi yang dihadirkan Apple dalam jajaran produk smartphone mereka telah menjadi kiblat atau trendsetter, yang diikuti oleh produsen-produsen gawai pintar di dunia.

Kini, Apple kembali merilis smartphone terbarunya, iPhone 15 yang menjanjikan serangkaian fitur inovatif. Apple melangkah lebih jauh dari yang disyaratkan Uni Eropa dengan tidak hanya mengadopsi USB-C untuk membantu mengurangi limbah elektronik atau e-waste, tapi juga menggunakan lebih banyak bahan daur ulang untuk komponen iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max. Emas yang digunakan Apple untuk melapisi konektor USB-C tersebut misalnya, juga berasal dari emas daur ulang.

Tak hanya itu, sebagai langkah signifikan menuju keberlanjutan, Apple mengumumkan bahwa 20% komponen dari kedua seri dari iPhone 15 itu berasal dari bahan daur ulang. Langkah ini termasuk menggunakan bahan daur ulang untuk semua komponen alumunium, timah, mineral tanah jarang atau rare earth, tembaga dan plastik yang digunakan untuk memproduksi iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max.

Apple gunakan emas daur ulang untuk melapisi konektor USB-C (Sumber: Apple).

Untuk iPhone 15, Apple juga menjanjikan kapasitas baterai yang digadang-gadang lebih tahan lama dari para pendahulunya dengan rentang kapasitas mencapai 3.349 mAh hingga 4.383 mAh untuk seri tersebut. Tak hanya dari segi kapasitas, inovasi dalam komponen baterai iPhone 15 juga berasal dari 100 persen kobalt daur ulang yang semakin memperjelas komitmen Apple untuk mengurangi dampak lingkungan dari setiap produk yang dihasilkan.

Sebagai perusahaan teknologi yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, Apple tak hanya bermimpi menjadikan setiap produk yang diproduksinya netral karbon pada tahun 2030, tapi juga memastikan keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam membuat, menggunakan, dan mendaur ulang produk Apple, serta membatasi penggunaan ratusan zat berbahaya. Untuk melindungi manusia dan lingkungan, Apple memastikan bahwa iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max bebas dari zat berbahaya seperti berilium, PVC, ftalat, arsenik, merkuri dan kaca layar bebas arsenik.

Selain memelopori penggunaan banyak bahan daur ulang dalam produknya, Apple turut mengakhiri penggunaan kulit di seluruh lini produknya, termasuk aksesori iPhone dan tali jam Apple Watch. Melansir laman resmi perusahaan, Apple mengganti kulit dengan tekstil baru yang disebut FineWoven, yang terbuat dari 68 persen bahan daur ulang dan memiliki emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan kulit. FineWoven akan melengkapi produk casing hingga tali jam Apple Watch Magnetic Link dan Modern Buckle.

Untuk selangkah lebih maju dalam menghilangkan seluruh penggunaan plastik dari kemasan pada 2025, 99% dari kemasan iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max menggunakan serat kayu yang berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab. Uniknya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan akan serat kayu, Apple terlibat secara aktif dalam melindungi dan menciptakan cukup banyak hutan yang dikelola secara bertanggung jawab.

Langkah ini diambil Apple untuk memastikan sumber daya yang mereka gunakan tidak mengganggu fungsi hutan dalam membersihkan udara sekaligus memurnikan sumber air kita.

Mengingat aktivitas distribusi iPhone 15 dari pabrik ke tangan konsumen di seluruh belahan dunia menyumbang sekitar 9% jejak karbon dari seluruh operasional Apple, perusahaan telah beralih ke moda transportasi laut yang diyakini Apple menghasilkan emisi 95 persen lebih sedikit dibandingkan melalui udara.

Langkah Apple Menuju Netralitas Karbon pada 2030

Apple sejauh ini telah mengurangi total emisi sebesar lebih dari 45% sejak tahun 2015, seraya tetap meningkatkan pendapatan hingga 65% lebih besar dalam periode yang sama. Semua tercapai berkat hasil kerja cerdas dan inovasi signifikan yang diterapkan Apple, baik dalam operasional maupun rantai pasokan globalnya.

Dengan menghindari aktivitas yang menghasilkan karbon, Apple telah secara signifikan memperluas implementasi energi terbarukan termasuk memanfaatkan bahan daur ulang. Dalam hal ini, Apple telah memelopori penggunaan banyak bahan daur ulang melalui rekayasa produk kelas dunia, kualifikasi desain yang ekstensif, dan menerapkan aturan yang ketat terhadap rantai pasokan. Sejak 2020, Apple telah menetapkan target yang lebih ambisius untuk mencapai netralitas karbon di seluruh rantai nilai perusahaan pada 2030.

]]>
https://designthinking.id/uncategorized/rilis-iphone-15-apple-buktikan-komitmen-perusahaan-capai-netralitas-karbon-2030/feed/ 0
Open Innovation jadi Kendaraan L’Oréal Mencapai Target Sustainability yang Ambisius https://designthinking.id/gaya-hidup/open-innovation-jadi-kendaraan-loreal-mencapai-target-sustainability-yang-ambisius/ https://designthinking.id/gaya-hidup/open-innovation-jadi-kendaraan-loreal-mencapai-target-sustainability-yang-ambisius/#respond Fri, 30 Jun 2023 06:04:09 +0000 https://designthinking.id/?p=1246
sustainability
open innovation.

Melalui program L’Oréal for the Future, jenama kecantikan nomor satu di dunia itu menetapkan target sustainability baru untuk dicapai pada tahun 2030. Melansir laman resmi perusahaan, L’Oréal menetapkan target yang lebih ambisius dari sebelumnya dengan mengurangi 50% emisi gas rumah kaca (GRK) dari produk jadi mereka. 


sustainability

L’Oréal juga menargetkan 100% plastik yang digunakan dalam kemasan produk mereka pada 2030 akan sepenuhnya berasal dari sumber daur ulang dan bio-based material yang berasal dari sumber biomassa terbarukan dan lebih ramah dari bahan baku berbasis fosil. Dalam waktu lebih dekat, L’Oréal juga berkomitmen untuk mencapai netralitas karbon dengan meningkatkan efisiensi energi dan menggunakan 100% energi terbarukan pada 2025.

bio-based material

Kedua, L’Oreal berkomitmen memberdayakan pihak-pihak dalam ekosistem bisnis dengan membantu mereka bertransisi ke dunia yang lebih berkelanjutan. L’Oreal membuat komitmen baru untuk memastikan para pemasok memiliki ambisi kebijakan pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan kebijakan perusahaan, termasuk pemberdayaan kelompok masyarakat sebagai tujuan utama untuk tahun 2030.

Ketiga, L’Oreal membantu mengatasi tantangan dunia, dengan mendukung kebutuhan sosial dan lingkungan yang mendesak. Dengan kata lain, L’Oreal tidak hanya mentransformasi model bisnisnya, tapi juga berkontribusi dalam mengatasi tantangan lingkungan dan sosial yang sedang dihadapi dunia.

Namun untuk mencapai tujuan keberlanjutan ini, L’Oreal membutuhkan transformasi yang radikal, yang menurut perusahaan dapat ditempuh melalui open innovation. Atas dasar itulah, L’Oreal senantiasa melibatkan pelanggan, pemasok hingga mitra eksternal lainnya untuk memastikan setiap langkah yang mereka ambil membawa perusahaan lebih dekat mencapai tujuan keberlanjutan mereka.

open innovation.

“Untuk mencapai hal ini, kami berkolaborasi dengan berbagai mitra eksternal, termasuk perusahaan rintisan, untuk memperoleh keahlian baru dan mempercepat inovasi. Misalnya, kami mengeksplorasi penggunaan biologi sintetik dan fermentasi,” jelas Laurent Chantalat.

L’Oréal for the Future sendiri bukanlah program pertama L’Oréal yang ditujukan untuk mencapai target sustainability perusahaan. Sejak tahun 2005, L’Oréal telah mengurangi hingga 78% dari emisi karbon dioksida atau CO2. Pada 2019, 59% produk L’Oréal diproduksi dengan formula baru yang menggunakan bahan baku terbarukan.

sustainability

“Selama dekade terakhir, kami telah mengubah perusahaan kami secara mendalam, menempatkan sustainability sebagai inti dari model bisnis kami. Dengan komitmen baru ini, kami memasuki fase baru percepatan transformasi tersebut: melampaui dampak lingkungan langsung kami, membantu konsumen membuat pilihan yang lebih berkelanjutan, serta menghasilkan kontribusi sosial dan lingkungan yang positif. Sebagai pemimpin industri, kami menganggap bahwa adalah peran kami untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Alexandra Palt, Kepala Departemen Corporate Responsibility di L’Oréal.

sustainability

Bagaimana Kemitraan dengan Startup Membantu L’Oréal

Bagaimana Kemitraan dengan
Startup
Startup
Membantu


L’Oréal
Green Sciences.

Didirikan pada tahun 2007, Microphyt merupakan startup yang memproduksi varietas mikroalga, sebuah organisme tanaman mikroskopis yang digunakan dalam kosmetik. Bersama Microphyt, L’Oréal akan membangun platform teknologi untuk membuat bahan mentah produk kecantikannya dari biomassa mikroalga, yang sangat selaras dengan ambisi sustainability L’Oréal.

startup
sustainability

Kemitraan ini penting mengingat bahan berbasis biomassa seperti mikroalga menawarkan proses daur ulang yang lebih baik daripada bahan berbasis fosil, yang selama ini digunakan dalam industri kimia, tak terkecuali pada produk kecantikan. Terlebih, perubahan iklim dan menipisnya sumber daya bumi yang terbatas telah menciptakan kebutuhan mendesak untuk menemukan alternatif yang layak untuk bahan mentah berbasis fosil. Di samping itu, bahan berbasis bio juga dapat menunjukkan toksisitas yang lebih rendah, di samping karakteristik baru lainnya seperti biodegradabilitas.

“Ambisi kami adalah untuk berkolaborasi dengan entitas ilmiah dalam sektor Green Sciences, untuk bersama-sama mengembangkan inovasi yang bertanggung jawab dalam skala besar dan membuatnya tersedia bagi sebanyak mungkin orang”, jelas Barbara Lavernos, Wakil CEO, yang juga bertanggung jawab atas Riset, Inovasi dan Teknologi, di L’Oréal Group. 

Green Sciences

Tahun ini, L’Oréal melalui program Green Sciences Incubator terus mencari potensi kolaborasi dengan startup untuk menciptakan solusi berkelanjutan bagi industri kecantikan. Green Sciences Incubator berfokus pada 4 keahlian utama yakni, penciptaan teknologi yang bertujuan untuk mengelola sumber daya air dan menghormati keanekaragaman hayati; bioteknologi; green extraction hingga green chemistry atau desain produk dan proses kimia yang mengurangi atau meniadakan penggunaan atau menghasilkan zat berbahaya.

startup
hop over to here
green extraction

green chemistry

Pentingnya Open Innovation untuk Mencapai Target Sustainability

Pentingnya
Open Innovation
Open Innovation
untuk Mencapai Target
Sustainability
Sustainability
net-zero emission
open innovation
open innovation
net-zero emission.

Lebih dari itu, sebanyak 83% perusahaan bahkan mengatakan bahwa open innovation  merupakan faktor penentu keberhasilan dalam mencapai target sustainability yang ditetapkan perusahaan. Hal ini tentu tak lepas dari kemampuan open innovation yang mampu mengatasi masalah kompleks pada bisnis, seperti yang diyakini 75% perusahaan.

innovation
sustainability
open innovation

Menurut Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, open innovation membuka peluang bagi perusahaan untuk mengakses pengetahuan, keahlian, dan sumber daya lain yang jauh lebih luas daripada yang dimiliki perusahaan. 

open innovation

“Dengan sumber daya yang luas melalui kolaborasi bersama mitra, universitas, komunitas, atau pelaku industri lainnya dalam open innovation, bisnis dapat mengakses pengetahuan dan keahlian yang berbeda dari yang dimiliki secara internal. Ini dapat membantu bisnis dalam mengembangkan solusi yang tidak hanya inovatif tapi juga berkelanjutan,” ujar Fiter Bagus.

open innovation,

Misalnya, seperti dalam kasus L’Oréal, Fiter Bagus menilai perusahaan dapat berkolaborasi dengan startup melalui open innovation untuk mengatasi tantangan terkait sustainability. Pasalnya, startup memiliki kebaruan teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan terobosan solusi dalam menghadapi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan penipisan sumber daya alam.

startup
open innovation
sustainability.
startup

Tak heran jika, perusahaan yang mengadopsi open innovation melaporkan kinerja positif. Di mana, 63% perusahaan melaporkan peningkatan kinerja pada indikator kelestarian lingkungan, 55% mencatat adanya peningkatan kinerja pada indikator keberlanjutan sosial. Sementara 40% perusahaan melaporkan pergeseran perilaku tenaga kerja dan konsumen ke arah yang lebih berkelanjutan.

open innovation

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/open-innovation-jadi-kendaraan-loreal-mencapai-target-sustainability-yang-ambisius/feed/ 0