Otomotif – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Tue, 17 Oct 2023 14:26:49 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Otomotif – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Bersama Innovesia, Shell Mobility Ciptakan Peluang Bisnis Baru Melalui Inovasi https://designthinking.id/otomotif/bersama-innovesia-shell-mobility-ciptakan-peluang-bisnis-baru-melalui-inovasi/ https://designthinking.id/otomotif/bersama-innovesia-shell-mobility-ciptakan-peluang-bisnis-baru-melalui-inovasi/#respond Tue, 08 Aug 2023 09:20:14 +0000 https://designthinking.id/?p=1439 Menjadi peritel di sektor mobilitas terbesar di dunia tak lantas membuat Shell Mobility berpuas diri. Tersebar di lebih dari 46.000 lokasi dengan 32 juta pelanggan secara global, Shell Mobility terus berupaya menjadi pemain utama di sektor mobilitas yang tak hanya menawarkan pembelian bahan bakar minyak (BBM), tapi juga penggantian pelumas dan pencucian mobil. Bahkan kebutuhan yang dibutuhkan oleh para pengendara seperti makanan dan minuman.

Dengan semangat itulah, Shell Mobility memutuskan perlunya berinovasi untuk tetap relevan di lanskap bisnis yang terus berubah. Namun, perjalanan inovasi Shell Mobility tidaklah mulus. Dihadapkan pada banyak ide inovasi justru membuat Michael Tumengkol yang sempat menduduki posisi Head of Organizational Development and Learning di Shell Mobility Indonesia mengalami kesulitan.

you can try this out

“Sebelum berinovasi kita berdiskusi bersama banyak pihak di Shell Mobility. Tapi kesimpulannya sederhana, bahwa kita perlu berinovasi mengenai bagaimana kita mengkonstruksi ide, karena idenya banyak tapi cenderung serabutan. Kita kesulitan menerjemahkan ide jadi action,” ujar Michael Tumengkol, yang kini menjabat sebagai Global Learning and Development Advisor di Shell.

Kesulitan menerjemahkan banyaknya ide inovasi yang terkumpul, lantas membuat Michael berpikir perlunya mempelajari pendekatan atau pola pikir yang akan membantu Shell Mobility berinovasi secara terstruktur. Saat itulah Michael memutuskan untuk bekerja sama dengan Innovesia dalam tujuan menanamkan pendekatan inovasi yang tepat.

“Jadi pertimbangan awal kita untuk berinovasi maksudnya adalah membuat pendekatan yang terstruktur dalam menerjemahkan berbagai ide baru menjadi rencana dan action,” lanjut Michael.

Innovesia dipercaya Shell menanamkan pola pikir design thinking kepada pegawai Shell Mobility melalui lokakarya “Innovation by Design for Shell Mobility Indonesia”. Diselenggarakan secara daring serta luring untuk observasi dan wawancara pada Februari 2021, workshop design thinking ditujukan melatih manajerial Shell Mobility dan retailer agar mampu menghasilkan solusi inovatif untuk mempertahankan dan meningkatkan profitabilitas. 

Lebih dari 30 peserta yang terdiri dari sejumlah departemen di Shell Mobility ikut serta mempelajari pendekatan design thinking dari Innovesia yang mencakup tiga tahapan besar, yakni inspiration yang menuntut mereka memahami masalah dengan mempelajari kebutuhan pelanggan melalui imersi, ideation yang membantu Shell Mobility membingkai wawasan dari masalah yang ditemui dan menghasilkan ragam solusi inovatif, juga implementation di mana para peserta lokakarya harus mewujudkan solusi mereka dalam bentuk prototype.

Dari banyaknya pendekatan pemecahan masalah, design thinking dipilih Michael karena pendekatan satu ini mudah dipelajari dan bisa menuntun Shell Mobility memahami masalah utama yang mereka hadapi, menentukan ide inovasi mana yang paling dibutuhkan dan mewujudkan ide itu dari sekedar konsep menjadi solusi nyata.

“Kalau design thinking karena itu adalah hal sederhana untuk menerjemahkan ide jadi rencana, kita bisa melihat bahwa design thinking adalah sesuatu yang bisa dipelajari secara cepat dan orang bisa menangkap konsepnya dengan mudah serta menerjemahkan idenya menjadi action,” jelas Michael.

Dengan bimbingan dari sejumlah fasilitator Innovesia, para peserta yang dibagi ke dalam enam kelompok tak hanya dibimbing untuk memahami akar masalah dari sudut pandang konsumen, tapi juga menghadirkan solusi dan bagaimana mengeksekusi ide tersebut ke dalam situasi bisnis sebenarnya melalui business model canvas.

Pada tahap inilah para peserta dari Shell Mobility diajarkan memetakan solusi pada sejumlah faktor eksternal, seperti seberapa besar ide inovasi itu diinginkan atau mampu menciptakan nilai bagi pelanggan. Para peserta juga dituntut untuk mengkritisi kelayakan ide inovasi serta memetakan konsekuensi implementasi ide inovasi tersebut terhadap keuangan perusahaan. Dengan begitu, ide inovasi yang nantinya diimplementasikan sudah pasti tepat sasaran.

Terlebih, metode design thinking mewajibkan prototype untuk diujikan kepada para calon pelanggan sehingga Shell Mobility sebagai inovator mampu melihat apakah ide inovasi atau solusi yang mereka kembangkan diterima baik atau tidak. Umpan balik dari pelanggan inilah yang digunakan untuk meningkatkan atau memperbaiki ide inovasi tersebut.

Terciptanya Dua Peluang Bisnis Baru

Adapun selama dua bulan menjalankan lokakarya Innovation by Design for Shell Mobility Indonesia bersama Innovesia, para peserta tak hanya berhasil mengembangkan satu tapi enam buah ide inovasi yang kemudian diwujudkan dalam bentuk prototype. Dua diantaranya bahkan diimplementasikan sebagai bentuk layanan baru di Shell Mobility.

Kedua inovasi itu adalah pojok kuliner dan Shell Smart Club Apps atau yang kini dikenal sebagai Shell Go+. Pojok kuliner sendiri merupakan penambahan komoditas makanan lokal khususnya produk usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) di Shell Select. Dengan pojok kuliner, diharapkan akan mampu meningkatkan kunjungan pengendara roda dua ke SPBU Shell.

Pojok kuliner di Shell Select.

Berkat pendekatan design thinking yang ditanamkan Innovesia melalui lokakarya, Shell Mobility paham betul pentingnya mengidentifikasi kebutuhan target pelanggan setiap lokasi SPBU Shell, yang tentunya berbeda-beda. Wawasan inilah yang menuntun Shell Mobility untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai target pelanggan mereka dan kebutuhannya guna menyediakan produk yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

“Yang pertama, dikembangkan adalah yang pojok kuliner di Shell Indonesia. Jadi memang sedikit dikembangkan karena kita mengidentifikasi lebih jelas setiap toko [Shell Select] itu bisa punya pojok kuliner yang berbeda-beda dan itukan tergantung siapa supplier-nya siapa konsumen yang biasa kesitu dan apa yang mereka mau. Nah itu yang kita terapkan terus mulai dari produk apa yang harus ditaruh di mana, dan berapa banyak,” jelas Michael.

Sementara itu, Shell SmartClub hadir dalam bentuk aplikasi di ponsel yang lebih mudah dan praktis, yang menawarkan kemudahan bagi konsumen Shell untuk menemukan lokasi SPBU Shell terdekat, bertransaksi secara digital hingga mendapatkan berbagai keuntungan lainnya di Shell.

Tampilan aplikasi Shell Go+ (Sumber: Shell Indonesia)

Menurut Michael, ide membuat aplikasi sudah lama terpikirkan oleh Shell Mobility. Namun, lagi-lagi kesulitan mewujudkan ide menjadi produk nyata membuat Shell Mobility belum bisa mengeksekusi ide itu hingga mengikuti lokakarya design thinking bersama Innovesia.

“Shell Smart Club Apps ini yang kita kembangkan menjadi aplikasi mobile Shell untuk memudahkan transaksi di SPBU Shell. Itu dari workshop bersama Innovesia. Memang idenya sudah ada dari sebelum workshop ya, tapi ketika mengikuti workshop ini diakselerasi menggunakan design thinking itu tadi,” ujar Michael.

Menanamkan Pola Pikir yang Berharga

Meski lokakarya design thinking bersama Innovesia mendorong Shell Mobility menciptakan peluang bisnis baru, Michael menekankan bahwa keuntungan utama lokakarya tersebut adalah perubahan pola pikir pegawai Shell Mobility.

Menurut Michael, mengenal design thinking memungkinkan pegawai untuk meninggalkan ketakutan yang dulu mereka rasakan ketika berinovasi. Rasa takut ini juga yang telah menghambat upaya Shell Mobility untuk mewujudkan ide inovasi mereka. Poin inilah yang masih melekat di Shell, meski lokakarya telah berakhir pada 2020 silam.

“Setelah workshop, saya lihat ya cara orang menerjemahkan ide jadi action itu memang bergeser [menjadi lebih baik]. Ada beberapa hal yang mereka implementasikan. Mereka jadi lebih berani. Misalnya, kita coba saja terlebih dahulu, ide tidak harus perfect, minimal MVP [minimum viable product],” tutur Michael.

Bahkan Michael menuturkan bahwa pola pikir seperti ini tak hanya tertanam pada mereka yang mengikuti lokakarya design thinking bersama Innovesia, tapi juga ditularkan kepada mereka yang tidak mengikuti lokakarya tersebut. Kini, pendekatan design thinking menjadi salah satu cara berpikir yang masih digunakan Shell Mobility dalam pekerjaan sehari-hari.

“Cara berpikir seperti itu digunakan terlepas ini sudah di luar workshop. Bahkan di level lain, pembicaraan seperti itu masih berlangsung. TIdak perlu perfect, minimum MVP kita coba saja, kita trial nanti kita evaluasi lagi itu jadi pendekatan yang sering kita lakukan,” lanjut Michael.

Ketika ditanya mengenai pengalamannya berinovasi bersama Innovesia, Michael mengaku lokakarya yang diselenggarakan pada 2020 lalu menjadi pengalaman yang berharga bagi Shell Mobility.

“Berharga, maksudnya memang pengalaman belajarnya singkat tapi yang berharga itu kita belajar mengenai cara berpikirnya, framework-nya, langkah-langkahnya dan dari waktu belajar yang singkat, cara berpikir itu tetap bisa dipakai sampai kapanpun,” tutup Michael.

]]>
https://designthinking.id/otomotif/bersama-innovesia-shell-mobility-ciptakan-peluang-bisnis-baru-melalui-inovasi/feed/ 0
5 Langkah Renault Group Ciptakan Revolusi Mobilitas Industri Otomotif Lewat Open Innovation https://designthinking.id/otomotif/5-langkah-renault-group-ciptakan-revolusi-mobilitas-industri-otomotif-lewat-open-innovation/ https://designthinking.id/otomotif/5-langkah-renault-group-ciptakan-revolusi-mobilitas-industri-otomotif-lewat-open-innovation/#respond Wed, 02 Aug 2023 08:28:29 +0000 https://designthinking.id/?p=1401 “Inovasi datang dari keterbukaan terhadap dunia, dan inspirasi kreatif datang dari tempat yang tak terduga.”

Kalimat itulah yang akan kita temui ketika menjelajah laman resmi Renault Group, produsen kendaraan multinasional Prancis yang terkenal akan kecanggihan teknologinya. Bahkan, kelahiran Renault sendiri tak lepas dari inovasi sang pendiri, Louis Renault, yang berhasil menciptakan transmisi penggerak langsung atau direct-drive transmission yang revolusioner pada 1890.

Kini 120 tahun berlalu, Renault Group tak henti berinovasi. Mereka justru melebarkan sayap inovasi dengan merangkul pihak eksternal dan bersama-sama menciptakan terobosan baru dalam sektor manufaktur kendaraan dan mobilitas. Semua dilakukan demi menciptakan mobilitas dan teknologi baru agar dapat diakses oleh khalayak seluas mungkin. Tak terkecuali jika harus berkolaborasi dengan para kompetitor.

Bagi Renault Group, kendaraan masa depan hanya akan lahir dengan menggabungkan kreativitas internal dan eksternal melalui inovasi terbuka atau open innovation. Menurut Renault Group, open innovation memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan ide-ide inovasi dari mitra, universitas, perusahaan rintisan dan lain sebagainya seraya mempromosikan kreativitas perusahaan.

Open innovation membuka jalan bagi Renault Group untuk mengimbangi kehadiran teknologi baru yang disruptif dan merespon perubahan itu dengan menciptakan layanan dan solusi mobilitas baru kepada pelanggan mereka. Pendekatan inilah yang membuat Renault Group tetap unggul meski sudah berdiri lebih dari seratus tahun. 

Mulai dari berkolaborasi bersama perusahaan rintisan atau startup, akademisi, hingga kompetitor, berikut program open innovation Renault Group:

1. Alliance Innovation Labs

Logo Alliace Innovation Lab (Sumber: Nissan News USA)

basics

Berdiri sejak 2011 di Silicon Valley, Alliance Innovation Lab merupakan pusat inovasi hasil kolaborasi Renault Group, Nissan dan Mitsubishi. Menggabungkan inovasi teknologi dan bisnis, Alliance Innovation Lab ditujukan untuk mendorong lahirnya era baru dalam sektor mobilitas yang berfokus pada tiga bidang, yakni kendaraan listrik dan ekosistemnya, kesejahteraan dalam berkendara, dan menciptakan layanan baru.

Menjalin kemitraan dengan universitas, organisasi masyarakat, pemerintah daerah, dan laboratorium inovasi lainnya, Alliance Innovation Lab menjadi sarana bagi Renault Group, Nissan dan Mitsubishi untuk memanfaatkan peluang inovasi dan keterampilan eksternal untuk menjelajahi topik baru, membuat prototype dan mengujinya, serta mempelajari potensi dan dinamika pasar.

Memperluas jangkauan open innovation, Alliance Innovation Lab turut didirikan di Tel Aviv, Israel. Sebagai salah satu dari lima negara teratas dengan ekosistem paling kondusif untuk startup sekaligus rumah bagi lembaga penelitian akademis, Israel dipercaya menawarkan peluang besar untuk melahirkan inovasi terdepan dalam bidang sensor, keamanan siber, konektivitas, data, dan kecerdasan buatan.

Memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi di Asia Timur, Alliance Innovation Lab dibuka di Shanghai, China. Di negeri tirai bambu, pusat inovasi yang mengedepankan kolaborasi ini berfokus pada penelitian dan pengembangan sistem mengemudi otonom atau autonomous driving, kendaraan pintar atau smart connected vehicles dan tentunya kendaraan listrik yang menjadi fokus utama Renault Group.

2. Software République

Logo Software République (Sumber: Software République)

Berkolaborasi bersama Atos, Dassault Systèmes, Orange, Thales Group, dan STMicroelectronics, Renault Group meluncurkan Software République, sebuah ekosistem open innovation untuk mewujudkan mobilitas yang cerdas, aman, dan berkelanjutan. Menyatukan keahlian mereka dalam kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, dan big data, Renault Group bersama lima perusahaan terkemuka berencana mengembangkan perangkat lunak yang mampu meningkatkan pengalaman berkendara.

Terdapat tiga fokus utama inovasi Software République, yakni meningkatkan keselamatan dan pengalaman pengemudi dengan solusi terkoneksi yang inovatif, menjadikan mobilitas lebih aman, berkelanjutan, dan lebih efisien, serta meningkatkan pengalaman pengguna kendaraan listrik. 

Hanya dalam beberapa bulan setelah diluncurkan, Software République telah mengambil langkah penting untuk memajukan inovasi guna memenuhi tantangan mobilitas. Langkah ini telah memungkinkan terciptanya penguatan kolaborasi dengan pemangku kepentingan di sektor swasta, publik dan akademisi. 

Bersama-sama mereka tengah mengerjakan lebih dari 30 proyek penelitian dan pengembangan perangkat lunak yang diyakini mampu membawa era baru bagi sektor mobilitas. Pada tahun 2025, Software République berkomitmen meluncurkan 10 penawaran produk dan layanan baru.

“Kendaraan tidak lagi menjadi titik sentral rantai nilai otomotif, karena perangkat lunak, elektronik, dan sistem kecerdasan tertanam semakin menentukan nilai dan penggunaan kendaraan untuk kebutuhan dan layanan mobilitas baru. Kami ingin bekerja sama dengan mitra di Software République untuk memposisikan diri kami sebagai pelopor dalam rantai nilai mobilitas baru ini,” ujar Luca de Meo selaku CEO Renault Group.

3. Alliance Ventures

Dikenal seringkali menjadi yang terdepan dalam hal cara baru untuk mengembangkan dan meningkatkan inovasi, startup menjadi sasaran utama Alliance Ventures, sebuah venture capital yang didirikan aliansi otomotif terbesar di dunia: Renault Group, Nissan Motor Corporation, dan Mitsubishi Motors Corporation. 

Dengan semangat berinovasi, Alliance Ventures didirikan ketiganya untuk mendorong percepatan pertumbuhan startup pada sektor industri otomotif. Terutama mobilitas, kendaraan listrik, dan sistem pengemudi otonom. Diluncurkan pada 2018, Alliance Ventures ditujukan mendukung startup dengan model bisnis disruptif baik dalam pengembangan bisnis mereka, menjalin kemitraan, hingga menawarkan platform inovasi bersama. 

Pendekatan Alliance Ventures terdiri dari mengidentifikasi teknologi inovatif dan model bisnis yang menawarkan nilai strategis tertinggi dan sinergi terbaik dengan anggota Aliansi. Kemudian, Aliansi yang terdiri dari Renault, Nissan dan Mitsubishi akan memanfaatkan efisiensi pasar dari struktur modal ventura untuk berinvestasi dalam proyek yang menjanjikan dan secara aktif berkolaborasi.

Visi utama Alliance Ventures sendiri tak lepas dari membentuk masa depan sektor mobilitas. Penggabungan keunggulan aliansi dengan talenta dan ide terbaik di pasar melalui inovasi terbuka, sekaligus menciptakan nilai finansial dan sinergi strategis bagi anggota Renault, Nissan dan Mitsubishi memungkinkan visi tersebut dapat tercapai.

4. Proyek SCOOP 

Ilustrasi inovasi Systems COOPerative (Sumber: Renault)

Berkolaborasi dengan berbagai organisasi di Prancis seperti Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah daerah, otoritas manajemen infrastruktur, universitas, dan pusat penelitian, Renault Group ikut andil dalam proyek SCOOP atau Systems COOPerative. Dilangsungkan sejak 2014, SCOOP adalah proyek percontohan pada sistem transportasi cerdas kooperatif (ITS) yang memungkinkan pengendara untuk menerima dan mengeluarkan peringatan tentang bahaya, kecelakaan, dan lain sebagainya demi  meningkatkan keselamatan jalan dan mengurangi kemacetan lalu lintas.

Di bawah proyek SCOOP, Renault Group juga berkolaborasi dengan Sanef, operator jalan tol, untuk lebih mengembangkan komunikasi antara kendaraan otonom dan infrastruktur jalan. Keduanya bekerja sama untuk membentuk mobil masa depan dengan mengintegrasikan infrastruktur, menggunakan konektivitas dari mobil ke mobil dan ke infrastruktur atau V2X, sebuah sistem yang dikembangkan dalam kerangka proyek SCOOP Eropa.

Renault Group sendiri telah terlibat dalam proyek ini sejak awal, mengingat peningkatan keselamatan berkendara juga merupakan salah satu prioritas perusahaan. Proyek SCOOP juga menjadi salah satu langkah nyata Renault untuk menciptakan mobil dengan sistem yang terkoneksi.

5. Rouen Normandy Autonomous Lab (RNAL)

Proyek Rouen Normandy Autonomous Lab (RNAL) (Sumber: Renault Group)

Renault Group juga merupakan bagian dari proyek Rouen Normandy Autonomous Lab (RNAL), yang didirikan bersama Transdev–sebuah perusahaan swasta internasional yang mengoperasikan angkutan umum–dan lima organisasi lainnya. Bersama-sama, mereka berkomitmen menguji layanan mobilitas otonom end-to-end di jalan terbuka.

Dengan keahliannya masing-masing, ketujuh perusahaan menggabungkan kemampuan mutakhir mereka untuk mengembangkan solusi transportasi yang inovatif dan berkelanjutan. Tujuan utama RNAL sendiri adalah untuk bereksperimen dan mengembangkan layanan transportasi tanpa pengemudi.

Renault Group dan Transdev misalnya bekerja sama melengkapi kendaraan dengan kamera, pemindai laser (LiDAR), GPS diferensial, penglihatan 360 derajat dan teknologi pemetaan untuk membangun representasi tiga dimensi dari lingkungan sekelilingnya secara real-time. Dengan begitu, mobil dapat mendeteksi, menemukan, dan mengidentifikasi objek bergerak dan tidak bergerak di sekitar mereka.

Peluang Inovasi di Industri Otomotif Melalui Open Innovation

Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi yang mengubah gaya hidup konsumen telah memengaruhi semua industri tak terkecuali pada industri otomotif. Perubahan itulah yang menuntut perusahaan untuk terus berinovasi dan memperkenalkan produk serta layanan baru. 

Dalam industri otomotif, perkembangan teknologi telah melahirkan kendaraan otonom, kendaraan listrik dan layanan mobilitas yang sepenuhnya menuntut kebutuhan akan solusi infrastruktur teknologi informasi yang terintegrasi dan memaksa produsen kendaraan untuk beradaptasi. Produsen mobil kini tak lagi hanya bertugas memproduksi kendaraan tapi juga menjadi penyedia layanan mobilitas dan hal ini menuntut mereka untuk merangkul model bisnis baru dan sistem teknologi informasi yang mendukung kebaruan tersebut.

McKinsey dalam laporan bertajuk Cybersecurity In Automotive Mastering The Challenge, memperkirakan hampir 100 juta barisan kode perangkat lunak dibutuhkan untuk mengontrol dan mengoperasikan subsistem yang membentuk mobil modern. Menurutnya, perangkat lunak akan mewakili hingga 30 persen dari komponen nilai kendaraan pada 2030 mendatang.

Untuk tetap relevan dan kompetitif, produsen kendaraan dituntut membangun solusi infrastruktur teknologi informasi yang terintegrasi. Seperti Renault Group, perusahaan diharuskan mengubah strategi inovasi mereka dengan merangkul pendekatan open innovation yang memungkinkan mereka berkolaborasi dengan siapa saja yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan infrastruktur teknologi yang mereka butuhkan.

Open innovation memungkinkan perusahaan otomotif untuk berkolaborasi dengan perusahaan teknologi, termasuk startup, yang berfokus pada pengembangan teknologi kendaraan otonom, sistem kecerdasan buatan, platform mobilitas, dan tentunya keamanan siber. Dengan menggandeng mitra eksternal ini, perusahaan otomotif dapat memperoleh akses ke teknologi terbaru dan pandangan yang segar tentang perkembangan industri.

Paham betul akan pentingnya kolaborasi bagi industri otomotif, Innovesia sebagai salah satu pendorong ekosistem open innovation di Indonesia, membuka kesempatan bagi perusahaan yang bergerak di bidang ini untuk menemukan mitra inovasi yang tepat. Melalui layanan konsultasi end-to-end yang strategis dan layanan open innovation, Innovesia membantu perusahaan otomotif untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak eksternal, seperti startup, universitas, dan lembaga penelitian. 

Melalui open innovation, Innovesia senantiasa memperluas jaringan perusahaan untuk mendapatkan akses ke pengetahuan dan teknologi terbaru. Bersama Innovesia, perusahaan otomotif dapat terus menghadirkan inovasi yang relevan, berdampak positif, dan memenuhi kebutuhan masyarakat masa depan.

]]>
https://designthinking.id/otomotif/5-langkah-renault-group-ciptakan-revolusi-mobilitas-industri-otomotif-lewat-open-innovation/feed/ 0