Kesehatan – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 04:40:33 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Kesehatan – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Open Innovation Mungkinkan FibriCheck Penuhi Kebutuhan Pasien Fibrilasi Atrium https://designthinking.id/kesehatan/open-innovation-mungkinkan-fibricheck-penuhi-kebutuhan-pasien-fibrilasi-atrium/ https://designthinking.id/kesehatan/open-innovation-mungkinkan-fibricheck-penuhi-kebutuhan-pasien-fibrilasi-atrium/#respond Mon, 25 Sep 2023 06:23:42 +0000 https://designthinking.id/?p=1594 Jantung merupakan salah satu organ vital dalam tubuh manusia. Dalam keadaan normal, jantung berdetak dengan irama beraturan agar dapat mengalirkan darah dari serambi ke bilik jantung, untuk selanjutnya dialirkan ke seluruh jaringan tubuh manusia. Namun, pada fibrilasi atrium atau atrial fibrilasi (AF), irama jantung cenderung tidak teratur, yang dalam keadaan parah dapat menyebabkan pembekuan darah di jantung.

Mengingat kondisi ini utamanya disebabkan karena usia, penyakit jantung bawaan dan pola hidup tidak sehat, CDC memperkirakan, 12,1 juta orang di Amerika Serikat akan menderita fibrilasi atrium pada tahun 2030. Sementara di Eropa, diperkirakan 14 hingga 17 juta penduduk benua biru akan menderita fibrilasi atrium pada tahun 2030, dengan 120.000 hingga 215.000 kasus baru setiap tahunnya.

Walaupun kondisi ini umumnya tidak mengancam jiwa, fibrilasi atrium yang tidak diobati dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit serius tertentu, seperti gagal jantung, diabetes, demensia, hipertensi, bahkan stroke. Sayangnya bagi banyak orang, fibrilasi atrium tidak menunjukkan gejala. Sekitar 40% pasien fibrilasi atrium tidak pernah merasakan gejala apapun sehingga sering kali tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut.

Menciptakan Solusi Medis Melalui Kolaborasi

Pasalnya walaupun tanpa gejala, fibrilasi atrium sebenarnya bisa dicegah dengan diagnosa dini melalui perangkat digital berbasis teknologi elektrokardiogram (EKG) untuk mengukur ritme jantung dan photoplethysmograph (PPG), yang dapat mendeteksi perubahan volume darah menggunakan sensor optik.

Pengetahuan inilah yang membuat Jochen Hurlebaus, Head of Digital Health Innovation di Roche Diagnostic memperkenalkan FibriCheck, yang menyediakan aplikasi ponsel cerdas bersertifikat medis yang dapat digunakan untuk mendeteksi atau memantau irama jantung tidak teratur, seperti fibrilasi atrium.

Roche Diagnostics meyakini bahwa untuk melahirkan inovasi-inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, dibutuhkan kolaborasi antar lembaga dan tak ada satu entitas pun yang mampu memulai transformasi perangkat atau layanan medis tanpa berkolaborasi.

Melalui program inovasi terbuka atau open innovation bertajuk Startup Creasphere, tim gabungan Roche Diagnostics dan FibriCheck mengeksplorasi bagaimana solusi digital yang dimiliki aplikasi FibriCheck dapat diperkuat untuk skrining pasien fibrilasi atrium yang tidak terdiagnosis.

Dua skenario kolaborasi yang berbeda pun muncul. Pada proyek pertama, tim gabungan kedua perusahaan melakukan pengujian dengan menawarkan aplikasi FibriCheck secara gratis selama minggu untuk memastikan bagaimana pengguna berinteraksi terhadap aplikasi tersebut.

Sementara itu, proyek kedua mengeksplorasi prototype yang dapat melengkapi proses skrining dan diagnosis fibrilasi atrium dengan stratifikasi risiko dan panduan terapi potensial untuk para pasien. Salah satu instrumen terbaru yang tersedia adalah skor ABC yang menggunakan usia, data biomarker, serta riwayat klinis untuk menilai kondisi terkini pasien  fibrilasi atrium yang didiagnosis.

Kolaborasi Roche Diagnostics dan FibriCheck berhasil menawarkan akses langsung ke hasil pengukuran yang membantu pasien fibrilasi atrium memantau ritme jantung mereka kapan saja dan di mana saja. Memanfaatkan kemampuan digital platform Extra Horizon, sebuah platform backend-as-a-service khusus medis, aplikasi FibriCheck mampu menawarkan layanan terintegrasi solusi yang memberi pasien opsi untuk mendapatkan peninjauan hasil diagnosa oleh tim medis langsung.

Dengan merangkul perkembangan teknologi dan kolaborasi, startup seperti FibriCheck mampu terus beradaptasi untuk menyempurnakan bisnis mereka guna mendapatkan dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Melalui kolaborasi bersama Roche Diagnostics, FibriCheck mampu memenuhi kebutuhan pasien yang belum terpenuhi dan memberikan rasa aman pada setiap pasien fibrilasi atrium.

“Merupakan kenyataan bahwa perusahaan layanan kesehatan digital seperti FibriCheck mengubah cara pasien dikelola secara klinis. Semakin dini kita menghadapi kenyataan ini dan menjajaki sinergi tanpa bias, semakin baik kesiapan kita untuk mendorong transformasi digital. Saya senang Startup Creasphere menyediakan kerangka pragmatis untuk mengevaluasi potensi solusi digital,” ujar Bjoern Schwanhaeusser, yang kini menjabat Global Project Leader Critical Care & Women`s Health di Roche Diagnostics.

Yakin bahwa selalu ada peluang untuk inovasi, FibriCheck berkomitmen untuk terus melangkah maju dan menghadirkan solusi-solusi baru yang tidak terbatas. Termasuk berkolaborasi untuk menjangkau sebanyak mungkin pasien dan memberdayakan masyarakat untuk mengelola kesehatan mereka dengan lebih baik. Bersama Roche Diagnostics, FibriCheck akan terus mengidentifikasi peluang inovasi untuk meningkatkan layanan medis terkait penyakit gagal jantung, yang merupakan fokus Roche Diagnostics.

“Kami mendapat banyak manfaat dari kerja sama dengan Roche dan jaringannya, serta mampu membuka area bisnis baru dan tumbuh secara internasional,” ujar Bieke Van Gorp, Co-founder di FibriCheck.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/open-innovation-mungkinkan-fibricheck-penuhi-kebutuhan-pasien-fibrilasi-atrium/feed/ 0
Roche Diagnostics Ungkap Transformasi Industri Perangkat Medis Dimulai dari Kolaborasi https://designthinking.id/kesehatan/roche-diagnostics-ungkap-transformasi-industri-perangkat-medis-dimulai-dari-kolaborasi/ https://designthinking.id/kesehatan/roche-diagnostics-ungkap-transformasi-industri-perangkat-medis-dimulai-dari-kolaborasi/#respond Thu, 21 Sep 2023 06:14:09 +0000 https://designthinking.id/?p=1582 Secara definisi, open innovation atau inovasi terbuka merupakan upaya mendapatkan pengetahuan atau bahkan solusi atas suatu permasalahan dari pihak internal dan eksternal perusahaan. Jika sebelumnya perusahaan berpegang pada gagasan bahwa inovasi yang efisien adalah tentang kontrol tertentu atas proses inovasi, transformasi teknologi kini memaksa pelaku bisnis untuk meninggalkan gagasan itu dan mengadopsi inovasi berbasis kolaborasi tak terkecuali dengan pihak eksternal perusahaan.

Open innovation yang memanfaatkan kebijaksanaan dan keahlian kolektif dari dalam dan luar perusahaan, secara luas diyakini mampu mempercepat pengembangan teknologi medis yang inovatif.

Platform inovasi yang menghubungkan dan mendorong kolaborasi berbagai pelaku industri itu didirikan Roche Diagnostics untuk meningkatkan kemampuan analisis data dan praktik klinis guna meningkatkan pengalaman pasien di seluruh rangkaian perawatan.

Menurutnya, tidak ada satu entitas pun yang dapat menghadapi transformasi teknologi perangkat medis sendirian. Kolaborasi di seluruh industri layanan kesehatan lah yang dinilai Bao mampu mendorong Roche Diagnostics menghadirkan inovasi-inovasi yang tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, tapi juga memberdayakan masyarakat untuk mengelola kesehatan mereka dengan lebih baik.

Itulah sebabnya kolaborasi di seluruh industri layanan kesehatan dinilai Roche Diagnostics sangatlah penting. Pemahaman inilah yang mendorong Roche Diagnostics untuk merangkul pendekatan open innovation, sebuah langkah yang Bao anggap penting guna memastikan keberlangsungan dan kesuksesan perusahaan di masa depan.

Memperluas Peluang Inovasi melalui Startup Creasphere

Sosok Wendy Bao dalam wawancara bersama Korea Biomedical Review (Sumber: Koreabiomed.com)

Startup Creasphere telah menjadi inisiatif yang paling menonjol dalam perjalanan inovasi Roche Diagnostics. Melalui Startup Creasphere, Roche Diagnostics terus memperluas upaya kerja sama dengan para inovator untuk memberikan para profesional di laboratorium, dokter, peneliti, dan pasien ke akses layanan kesehatan dan perangkat medis yang cerdas.

Platform inovasi kesehatan digital global itu telah berhasil menghubungkan startup dengan mitra perusahaan terkemuka untuk mendorong transformasi industri layanan kesehatan melalui kolaborasi.

Menurut Bao, Startup Creasphere telah mampu menghadirkan solusi dan inovasi yang mendorong Roche Diagnostics memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan dan pasien dalam rangka meningkatkan keseluruhan penawaran perusahaan.

“Startup Creasphere memberikan peluang unik bagi startup untuk berkolaborasi dengan Roche Diagnostics,” kata Bao.

Beberapa inovasi paling terkenal yang telah dihasilkan dari inisiatif Startup Creasphere adalah kolaborasi dengan Cobas Pulse dalam menciptakan cobas® pulse system, perangkat manajemen glukosa darah profesional pertama yang dilengkapi dengan solusi digital yang terintegrasi sehingga mampu membantu meningkatkan perawatan pasien.

Juga kolaborasi bersama startup FibriCheck dalam mengeksplorasi bagaimana solusi digital seperti aplikasi FibriCheck dapat menambah nilai bagi perawatan pasien fibrilasi atrium, misalnya skrining untuk pasien yang tidak terdiagnosis.

Kesuksesan inilah yang mendorong Roche Diagnostics memperluas jangkauan Startup Creasphere ke kawasan Asia Pasifik guna menjaring lebih banyak startup dengan solusi digital yang mampu meningkatkan perawatan pasien.

“Kemitraan yang sukses ini menunjukkan potensi program ini dalam menumbuhkan inovasi dan menghasilkan solusi yang berdampak bagi industri layanan kesehatan, itulah sebabnya kami membawa program ini ke APAC,” katanya.

Di Asia Pasifik, Wendy Bao menjelaskan Startup Creasphere ditujukan untuk menciptakan solusi digital yang mampu meningkatkan pemantauan pasien jarak jauh dan pengalaman pasien secara keseluruhan.

“Perawatan terdesentralisasi merupakan solusi yang belum tentu menjadi alat diagnostik namun dapat memungkinkan pemantauan pasien jarak jauh dan meningkatkan perjalanan pasien secara keseluruhan. Kami sedang mencari cara untuk menghadirkan solusi perawatan terdesentralisasi ke dalam platform perusahaan untuk memberikan solusi yang lebih komprehensif,” ujar Wendy Bao.

Ke depannya, Wendy Bao percaya bahwa open innovation akan memperbesar kontribusi Roche Diagnostics terhadap transformasi layanan kesehatan.

“Kompleksitas dan kecepatan transformasi layanan kesehatan memerlukan pendekatan kolaboratif, dan saya melihat Roche Diagnostics sebagai pemain kunci dalam perjalanan ini,” kata Wendy Bao.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/roche-diagnostics-ungkap-transformasi-industri-perangkat-medis-dimulai-dari-kolaborasi/feed/ 0
Mudahkan Konsumsi Obat bagi Pasien, PillPack Merevolusi Industri Kesehatan melalui Design Thinking https://designthinking.id/kesehatan/mudahkan-konsumsi-obat-bagi-pasien-pillpack-merevolusi-industri-kesehatan-melalui-design-thinking/ https://designthinking.id/kesehatan/mudahkan-konsumsi-obat-bagi-pasien-pillpack-merevolusi-industri-kesehatan-melalui-design-thinking/#respond Fri, 18 Aug 2023 08:49:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1480 Berkomitmen mempermudah operasional apotek, PillPack menggunakan design thinking untuk mempermudah akses pasien ke obat-obatan. Sebuah solusi yang kemudian merevolusi industri farmasi.

Berkomitmen mempermudah operasional apotek, PillPack menggunakan design thinking untuk mempermudah akses pasien ke obat-obatan. Sebuah solusi yang kemudian merevolusi industri farmasi.

Berurusan dengan pengobatan memang seringkali lebih menyakitkan daripada rasa sakit dari penyakit itu sendiri. Bagaimana tidak, pasien acap kali harus menyisihkan waktu mereka untuk berdiri dalam antrean panjang di apotek, rutin memeriksa tanggal kadaluarsa obat-obatan, memastikan membawa segala jenis obat setiap mereka hendak bepergian. Hingga memastikan minum obat tepat waktu. Jelas itu semua bisa membuat pasien kewalahan.

startup
startup

Ide untuk mendirikan PillPack sebenarnya sudah lama dimiliki Parker, seorang apoteker yang telah menyaksikan perjuangan banyak orang untuk meminum obat sesuai resep. Sementara Cohen, pendiri lain PillPack yang juga seorang pengusaha dan insinyur teknologi kesehatan atau healthtech, juga familiar dengan kekhawatiran serupa mengingat sang ayah harus berjuang melawan kanker. Kondisi sang ayah inilah yang terus membuat Cohen kian putus asa atas rumit dan lambatnya model operasional farmasi tradisional.

healthtech,

Menggabungkan Industri Farmasi dan Design Thinking

Menggabungkan Industri Farmasi dan Design Thinking

PillPack (Sumber: PillPack)

PillPack (Sumber: PillPack)

Berkomitmen memudahkan pasien untuk meminum obat yang tepat pada waktu yang tepat, Parker dan Cohen melakukan lompatan kewirausahaan. Pada 2013, mereka kemudian meminta layanan kreatif dari firma desain yang berpusat pada manusia atau human-centered design IDEO yang berbasis di California, AS, untuk mendefinisikan kembali bagaimana konsumen terlibat berinteraksi dengan PillPack selama proses pengujian prototype.

safe
human-centered design
prototype

Selama residensi yang berlangsung tiga bulan, Parker dan Cohen beserta tim dari IDEO berfokus untuk memastikan bahwa setiap interaksi pelanggan dengan PillPack, mulai dari mendaftar ke layanan secara online hingga menggunakan produknya setiap hari, dapat dilakukan secara langsung dan meyakinkan.

Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia seperti design thinking, Parker dan Cohen mendesain seperangkat layanan yang mencerminkan pemahaman yang benar tentang para pasien. Begini cara kerjanya. Pertama, dokter atau pasien dapat mengirimkan resep obat-obatan secara langsung ke apoteker di PillPack secara daring atau online. Setelahnya, tim apoteker di PillPack akan mengatur obat-obatan pasien ke dalam paket atau kemasan kecil yang telah disortir dan dipersonalisasi. 

design thinking
online.

Paket atau kemasan kecil tersebut lantas diberi label berdasarkan tanggal dan waktu konsumsi obat. Setiap kemasan obat ini dimaksudkan untuk sekali konsumsi. Dengan begitu pasien tak perlu lagi menyortir obat-obatan mereka setiap kali hendak mengonsumsinya. Terakhir, paket obat untuk persediaan selama 14 hari akan dikirim ke pintu rumah pasien. IDEO juga mendesain kantong perjalanan yang membuat aktivitas minum obat saat bepergian menjadi sederhana dan tidak menyulitkan.

Merevolusi Industri Farmasi

Merevolusi Industri Farmasi

Kemasan PillPack (Sumber: Gregory Reid)

Kemasan PillPack (Sumber: Gregory Reid)

PillPack telah menggunakan design thinking untuk merevolusi cara kerja industri farmasi dan pasar obat-obatan. Inovasi sederhana PillPack telah membuat hidup para pasien lebih mudah. Mereka tak lagi perlu menghabiskan waktu untuk mengantri di apotek, menyortir ragam obat-obatan mereka setiap harinya. Dengan design thinking, PillPack telah mengatasi tak hanya satu tapi semua kesulitan pasien dalam mengonsumsi obat-obatan sesuai resep mereka.

design thinking
design thinking,

Design thinking sendiri merupakan pendekatan yang fokus pada pemahaman mendalam terhadap pengguna guna menciptakan solusi inovatif melalui iterasi berulang dalam proses pengembangan produk atau layanan. Dalam kasus PillPack, design thinking berhasil mendorong perusahaan untuk lebih mendalami kebutuhan, preferensi dan tantangan pasien dalam mengonsumsi obat.

design thinking

Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, mengutarakan bahwa design thinking telah membantu PillPack memahami betapa rumitnya pengelolaan obat bagi pasien yang mengonsumsi banyak jenis obat sekaligus.

design thinking

“PillPack menggunakan pendekatan design thinking untuk menciptakan kemasan obat yang disesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan setiap pasien. Inovasi ini jelas mengarah pada pengalaman yang lebih mudah, lebih teratur, dan lebih sedikit stres bagi pasien,” ujar Fiter Bagus.

design thinking

Secara menyeluruh, Fiter Bagus menilai apa yang dilakukan PillPack telah menunjukkan bahwa penerapan design thinking dalam industri farmasi dapat menghasilkan inovasi yang signifikan dalam produk dan layanan yang diberikan untuk pasien. Pasalnya, design thinking membantu perusahaan untuk lebih baik memahami dan memenuhi kebutuhan pasien serta mengatasi tantangan kompleks dalam penyediaan obat yang aman dan efektif.

design thinking
design thinking

Berkaca pada kesuksesan PillPack menggunakan design thinking untuk menyelesaikan masalah pasien terkait konsumsi obat, Innovesia sebagai salah satu pengadopsi awal metode design thinking di Indonesia membuka kesempatan bagi lebih banyak perusahaan farmasi untuk merangkul pendekatan satu ini untuk memecahkan masalah kesehatan dan tentunya meningkatkan kemudahan bagi pasien.

design thinking
design thinking

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/mudahkan-konsumsi-obat-bagi-pasien-pillpack-merevolusi-industri-kesehatan-melalui-design-thinking/feed/ 0
Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/ https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/#respond Tue, 25 Jul 2023 07:05:25 +0000 https://designthinking.id/?p=1366 Organisasi Kesehatan Dunia () mencatat sekitar 422 juta orang di seluruh dunia menderita diabetes. Namun sayang, banyak penderita diabetes masih kesulitan mendapat akses ke pengobatan yang komprehensif.

Diabetes sendiri merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah. Penyakit satu ini tentu tidak bisa dianggap enteng karena dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. 

Pada 2019 saja misalnya, diabetes menjadi penyebab langsung 1,5 juta kematian. Di mana 48% dari seluruh kematian akibat diabetes menimpa mereka yang berusia di bawah 70 tahun. Pada tahun yang sama, 460.000 kematian akibat penyakit ginjal juga disebabkan oleh diabetes.

Perawatan kesehatan bagi mereka yang menderita diabetes tidaklah mudah. Pasalnya mereka harus menjaga kadar gula darah terkendali dengan menjaga gaya hidup yang sehat. Penderita diabetes umumnya diharuskan mengkonsumsi obat-obatan untuk menurunkan gula darah bahkan mendapatkan suntikan insulin untuk bertahan hidup. Mereka juga diwajibkan memeriksa gula darah beberapa kali sehari, menyimpan catatan aktivitas yang mendetail, hingga mencatat asupan makanan sehari-hari.

Melihat bahwa banyak penderita diabetes kesulitan melaksanakan perawatan mandiri yang dibutuhkan, , menyadari perlunya menciptakan semacam alat pengukur kadar gula dalam darah yang mampu memberi pasien informasi dan kontrol kesehatan yang lebih baik.

Perusahaan perawatan kesehatan global yang telah memimpin dalam pengobatan diabetes selama lebih dari 80 tahun itu, lantas memilih pendekatan lain dengan memahami apa yang sebenarnya mempersulit penderita diabetes untuk rutin mengecek kadar gula darah dan menciptakan solusi yang komprehensif.

CONTOUR USB, Pengukur Gula Darah Digital Pertama di Dunia

CONTOUR USB, alat pengecek gula darah dari Asensia Diabetes Care (Sumber: Ascensia)

Bermitra dengan IDEO, Ascensia sadar bahwa banyak penderita diabetes yang merasakan stigma negatif. Hal yang sama juga mereka rasakan ketika harus melakukan pemeriksaan kadar gula darah di depan umum. Mengetahui masalah ini, Ascensia dan IDEO lantas memfokuskan pengembangan solusi mereka untuk membantu mengurangi stigma negatif tersebut.

Bersama-sama, keduanya memutuskan untuk merancang alat pengukur gula darah yang didesain layaknya perangkat teknologi canggih. Ascensia memang sudah terkenal sebagai produsen alat pengukur gula darah bernama CONTOUR NEXT ONE. Namun, pendekatan human-centered design yang digunakannya kali ini tidak hanya mampu mengukur kadar gula darah, tapi mengentaskan stigma negatif sekaligus memberikan solusi kesehatan yang lebih komprehensif.

Layaknya perangkat teknologi canggih, Ascensia dan IDEO mengembangkan “CONTOUR USB”,  alat pengukur gula darah pertama yang mampu dihubungkan langsung ke komputer. Seperti namanya, CONTOUR USB memungkinkan pasien untuk mengunggah data kadar gula darah mereka secara otomatis ke aplikasi sehingga pasien tidak perlu lagi mencatatkannya secara manual. 

Inovasi ini juga dilengkapi dengan fitur smartLIGHT berwarna merah, hijau, atau kuning untuk memberikan umpan balik instan tentang apakah kadar gula darah berada di bawah atau di atas kisaran target. Dengan begitu, CONTOUR USB dapat membantu memandu pasien untuk mengambil keputusan secara real-time terkait kondisi kesehatannya.

CONTOUR Diabetes App, Bantu Penderita Diabetes Rencanakan Pola Hidup Sehat

CONTOUR USB dan Aplikasi Diabetes dari Ascensia Diabetes Care (Sumber: IDEO)

Tak berhenti hanya dengan CONTOUR USB, Ascensia melihat peluang inovasi lain dengan mengembangkan layanan kesehatan digital dalam bentuk aplikasi yang tidak hanya mampu mendokumentasikan riwayat kadar gula darah pasien, tapi juga mendokumentasikan asupan makanan dan semua faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang.

Diberi nama CONTOUR Diabetes App, aplikasi satu ini tak hanya mampu mendokumentasikan riwayat gaya hidup pasien, tapi juga memberikan pasien kontrol yang lebih besar untuk merencanakan pola hidup sehat yang dipersonalisasi, seperti rencana olahraga dan asupan nutrisi. 

Tentunya semua ini dilakukan dengan bimbingan dari tenaga tenaga medis diabetes bersertifikat, yang akan membuat program khusus berdasarkan kebutuhan masing-masing pasien. Para pasien juga akan menerima rekomendasi artikel kesehatan yang relevan dengan kondisi aktual mereka. 

Layanan kesehatan berbasis aplikasi ini memberi penderita diabetes akses ke informasi yang tepat pada waktu yang tepat dan dapat menjawab pertanyaan mereka kapan saja melalui obrolan dengan para pakar diabetes. Tujuannya adalah untuk mendorong pasien ke arah gaya hidup yang lebih sehat dan kontrol yang lebih baik terhadap kondisi mereka.

Hasilnya luar biasa, dari hasil pengujian terhadap 60 orang, hanya dua peserta yang gagal menyelesaikan penelitian. Angka ini menunjukan tingkat keberhasilan yang tinggi mengingat tingkat kepatuhan pasien terhadap terapi penyakit kronis seperti diabetes di negara maju rata-rata hanya sekitar 50%. 

Artinya, sangat sulit bagi pasien penderita penyakit kronis untuk melakukan perawatan atau terapi rutin untuk menjaga kesehatan mereka, tapi perangkat kesehatan Ascensia baik CONTOUR USB dan CONTOUR Diabetes App, telah membantu pasien untuk melakukan perawatan kesehatan secara rutin. Selain itu, para peserta juga melaporkan peningkatan drastis dalam kesehatan fisik dan mental.

Kedua inovasi di atas telah mengubah cara berinovasi Ascensia. Dengan merangkul human-centered design, Ascensia mampu melihat atau mengadopsi pandangan yang lebih luas tentang penawaran mereka, dan pada akhirnya memperluas cara mereka melayani penderita diabetes.

“Menempatkan pasien sebagai pusat dari semua yang kami ciptakan adalah inti dari Ascensia Diabetes Care. Berkolaborasi dengan IDEO selama beberapa tahun terakhir adalah contoh yang sangat baik dalam bekerja sama dengan mitra strategis untuk memenuhi kebutuhan penderita diabetes melalui inovasi,” ujar Jazz Panchoo, Kepala Strategi Global di Ascensia Diabetes Care.

best site

Memahami Kebutuhan Pasien Bersama Innovesia

Memahami kebutuhan pasien kian penting untuk mengatasi hambatan mereka untuk mendapatkan atau melaksanakan perawatan kesehatan dan membantu meningkatkan taraf hidup mereka. Semakin baik kita memahami pasien, maka semakin besar kemungkinan kita dapat merancang produk atau membangun layanan kesehatan yang bekerja dengan baik dan paling dibutuhkan oleh konsumen.

Nilai itulah yang juga diyakini , yang merupakan pelopor ekosistem open innovation di Indonesia. Innovesia percaya, kolaborasi melalui open innovation mampu menawarkan berbagai perspektif yang membantu memecahkan masalah dengan lebih baik, tak terkecuali di bidang kesehatan.

Sebagai perusahaan konsultasi yang paham betul pentingnya memahami kebutuhan pengguna sebagai dasar dalam berinovasi, Innovesia telah dipercaya lebih dari 100 mitra termasuk mereka yang berjuang membangun layanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Indonesia. Innovesia dipercaya UNICEF untuk mempelajari pemahaman siswa sekolah mengenai Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di Indonesia.

Kurangnya edukasi dan maraknya stigma negatif terkait menstruasi menjadi tantangan tersendiri bagi implementasi MKM di tanah air.  Hal itu tidak lain terjadi karena rasa tidak nyaman yang dialami murid perempuan. Masalah lain juga timbul dari perundungan yang mereka terima, terlebih jika tampak noda menstruasi pada rok murid perempuan.

Situasi inilah yang melatari kerja sama UNICEF dan Innovesia untuk memahami permasalahan nyata yang dialami murid terkait menstruasi di lima kota besar di indonesia yakni, Surabaya, Banda Aceh, Kupang, Makassar dan Jayapura. Pemahaman ini dibutuhkan untuk selanjutnya membangun kesadaran murid dan sekolah tentang pentingnya MKM.

Dari tahap berempati inilah kemudian dihasilkan sejumlah prototype untuk mengedukasi para murid terkait menstruasi, khususnya MKM itu sendiri. Beberapa prototype di antaranya, pembuatan sarana informasi dan edukasi seperti mading kelas atau sekolah, website, buku cerita hingga aplikasi mobile yang tidak hanya mampu memberikan edukasi tapi juga menghubungkan para murid dengan para pakar untuk bisa berkonsultasi lebih lanjut mengenai MKM.

Pada kesempatan lain, Innovesia juga dipercaya memperkenalkan open innovation dalam Evidence Summit 2017, sebuah program kajian mengenai bagaimana menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia dengan mengumpulkan seluruh bukti permasalahan di setiap daerah. 

Diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia () dan sebuah lembaga layanan kesehatan internasional yang mengkhususkan diri dalam kesehatan ibu dan bayi baru lahir, Evidence Summit dihadiri para pemangku kepentingan yang berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi, lembaga penelitian, sektor swasta, lembaga donor atau bantuan, dan masih banyak lagi. Tujuan utamanya adalah untuk berbagi dan menyajikan data aktual terkait angka kematian ibu di berbagai daerah di Indonesia.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/feed/ 0
Inovasi Medis Brain Implant, Bantu Pasien Lumpuh Kembali Berjalan https://designthinking.id/teknologi/inovasi-medis-brain-implant-bantu-pasien-lumpuh-kembali-berjalan/ https://designthinking.id/teknologi/inovasi-medis-brain-implant-bantu-pasien-lumpuh-kembali-berjalan/#respond Tue, 30 May 2023 08:16:09 +0000 https://designthinking.id/?p=608 Gert-Jan Oskam, pria Belanda berusia 40 tahun yang mengalami kelumpuhan selama 12 tahun akibat cedera saraf tulang belakang, bisa kembali berjalan berkat inovasi implan elektronik, yang disebutnya sebagai inovasi medis yang telah mengubah hidupnya.

Cedera saraf tulang belakang atau spinal cord injury memang dapat menyebabkan dampak permanen pada kekuatan, sensasi, dan fungsi organ tubuh lain, seperti fungsi motorik dan sensorik tubuh. Kondisi ini terjadi karena saraf tulang belakang berfungsi menjembatani sinyal-sinyal pesan dari otak menuju organ tubuh lainnya. 

spinal cord injury

Seseorang yang mengalami cedera saraf tulang belakang bisa mengalami rasa sakit, mati rasa hingga kelumpuhan yang bergantung pada tingkat keparahan dan lokasi cedera.

Atas dasar itu, peneliti dari Lausanne University, mengembangkan apa yang disebutnya sebagai brain–spine interface (BSI) atau sistem antarmuka otak-tulang belakang. 

brain–spine interface
,

“Kami menyusun jembatan digital nirkabel antara otak dan sumsum tulang belakang yang memulihkan kontrol alami atas gerakan anggota tubuh bagian bawah untuk berdiri dan berjalan di medan yang kompleks setelah kelumpuhan karena cedera tulang belakang,” tulis para peneliti dalam jurnal Nature.

look at here
Nature.

Uji Coba Brain–Spine Interface pada Manusia

Uji Coba
Brain–Spine Interface
Brain–Spine Interface
pada Manusia

Operasi untuk memulihkan gerakan Gert-Jan sendiri dilakukan pada Juli 2021. Profesor Jocelyne Bloch, yang juga merupakan ahli bedah saraf, memotong dua lubang melingkar di setiap sisi tengkorak Gert-Jan selebar diameter 5 cm. Dia kemudian memasukkan dua implan berbentuk cakram yang mengirimkan sinyal otak secara nirkabel ke dua sensor yang terpasang pada helm di kepala sang pasien.

Tim peneliti kemudian mengembangkan algoritma yang mampu menerjemahkan sinyal-sinyal ini menjadi instruksi untuk menggerakkan kaki dan otot kaki melalui implan kedua yang dimasukkan di sekitar sumsum tulang belakang, tepatnya di ujung saraf yang berhubungan dengan sensor motorik pasien.

Setelah menjalani operasi, pasien diharuskan melalui serangkaian tindakan berjalan selama satu jam atau lebih selama beberapa kali seminggu sebagai bagian dari pemulihan mereka. Terapi ini bertujuan untuk melatih otot dan memulihkan tingkat gerakan bahkan saat sistem dimatikan. Hal ini menunjukkan bahwa saraf yang rusak dapat tumbuh kembali. Alhasil setelah beberapa minggu pelatihan, Gert-Jan bisa berdiri dan berjalan dengan bantuan alat bantu jalan.

“Di sini, kami menyarankan bahwa jembatan digital antara otak dan sumsum tulang belakang akan memungkinkan kontrol kemauan atas waktu dan amplitudo aktivitas otot, memulihkan kontrol berdiri dan berjalan yang lebih alami dan adaptif pada orang dengan kelumpuhan akibat cedera tulang belakang,” tulis para peneliti dalam jurnal bertajuk Walking naturally after spinal cord injury using a brain–spine interface.

Walking naturally after spinal cord injury using a brain–spine interface.

Masih dalam Tahap Pengembangan

Masih dalam Tahap Pengembangan

Terlepas dari manfaatnya, Profesor Jocelyne Bloch yang melakukan operasi rumit untuk memasukkan implan menjelaskan sistem brain–spine interface (BSI) masih dalam tahap penelitian dasar dan masih bertahun-tahun lagi untuk tersedia bagi pasien yang lumpuh.

brain–spine interface

Uji coba brain–spine interface (BSI) juga masih terbatas pada satu orang sehingga masih belum jelas apakah sistem ini akan berlaku untuk lokasi dan tingkat keparahan cedera lainnya. Namun, beberapa pengamatan menunjukkan bahwa pendekatan ini akan berlaku untuk populasi yang luas pada individu yang mengalami kelumpuhan. 

brain–spine interface

Para peneliti juga tengah melakukan perbaikan terkait mengkomersialkan inovasi medis untuk penggunaan mandiri di rumah. Langkah itu dilakukan dengan mengembangkan prosedur yang mendukung kalibrasi langsung, cepat dan stabil dari hubungan antara aktivitas kortikal dan program stimulasi, yang memungkinkan pasien untuk mengoperasikan BSI di rumah tanpa pengawasan.

“Kami merancang sistem yang dapat dioperasikan oleh peserta tanpa bantuan apa pun. Sistem ini mencakup walker yang menyematkan semua komponen BSI, yang memungkinkan peserta untuk berinteraksi dengan perangkat lunak yang disesuaikan untuk meluncurkan aktivitas, memverifikasi penempatan headset, dan menyesuaikan amplitudo program stimulasi minimum dan maksimum,” jelas para peneliti.

walker

Dengan begitu, pasien yang mengalami kelumpuhan mampu memanfaatkan BSI untuk rehabilitasi saraf atau untuk mendukung aktivitas kehidupan sehari-hari.

“Gert-Jan menerima implan 10 tahun setelah kecelakaannya. Bayangkan ketika kita menerapkan antarmuka otak-tulang belakang kita beberapa minggu setelah cedera. Potensi pemulihannya luar biasa,” ujar Profesor Grégoire Courtine dari École Polytechnique Fédérale di Lausanne (EPFL), yang memimpin projek brain–spine interface (BSI), seperti dilansir dari BBC News.

brain–spine interface
BBC News.
spinal cord injury.

Cedera lalu lintas jalan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi individu, keluarga, dan negara secara keseluruhan. Kerugian ini timbul dari biaya perawatan serta hilangnya produktivitas bagi mereka yang meninggal atau cacat karena luka-luka. Penyandang disabilitas juga sering menghadapi diskriminasi pada semua bidang kehidupan ekonomi, politik, sosial, sipil dan budaya, termasuk pekerjaan, pendidikan, dan perawatan kesehatan. 

Tak heran jika Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 turut menyuarakan pemberdayaan dan keadilan bagi penyandang disabilitas demi memastikan partisipasi dan pengakuan mereka sebagai anggota masyarakat yang berkontribusi aktif.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/inovasi-medis-brain-implant-bantu-pasien-lumpuh-kembali-berjalan/feed/ 0
Open Innovation: Pendekatan untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir https://designthinking.id/open-innovation/open-innovation-pendekatan-untuk-menurunkan-angka-kematian-ibu-dan-bayi-baru-lahir/ https://designthinking.id/open-innovation/open-innovation-pendekatan-untuk-menurunkan-angka-kematian-ibu-dan-bayi-baru-lahir/#respond Fri, 19 May 2017 02:09:00 +0000 https://designthinking.id/?p=856 Angka kematian ibu dan bayi yang baru lahir masih menjadi masalah serius di Indonesia yang dihadapi oleh semua pemangku kepentingan di bidang kesehatan. Banyak upaya yang telah dilakukan dan dijelajahi untuk mengurangi angka kematian tersebut.

you could try this out

Didukung oleh United States Agency for International Development (USAID), Evidence Summit bertujuan mengumpulkan semua pemangku kepentingan dalam bidang kesehatan ibu dan bayi baru lahir untuk mengumpulkan dan berkolaborasi dalam memadukan data penelitian atau bukti-bukti. Data-data inilag yang diharapkan mampu memberikan rekomendasi bagi kebijakan pemerintah dalam mengurangi angka kematian ibu dan bayi baru lahir.

Dalam salah satu rangkaian acara Evidence Summit, AIPI mengumpulkan semua pemangku kepentingan yang berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi, lembaga penelitian, sektor swasta, lembaga donor atau bantuan, dan berbagai pihak lainnya untuk berbagi dan menyajikan data aktual.

“Kami berbagi tentang mengapa Inovasi Terbuka dan Kolaborasi merupakan pendekatan yang sesuai untuk latar belakang yang beragam dari pemangku kepentingan. Kami memberikan contoh praktik inovasi terbuka dalam industri kesehatan seperti di industri farmasi,” ujar Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia.

Di industri farmasi, pendekatan inovasi terbuka telah memicu cara baru dalam mengoptimalkan penelitian dan pengembangan perusahaan dengan membuka data uji klinis mereka dan membagikannya dengan pihak eksternal seperti ilmuwan akademik atau lembaga penelitian lainnya, untuk memberikan kontribusi bukti-bukti yang relevan.

Sebelumnya, perusahaan farmasi menghabiskan miliaran dolar untuk Research and Development (R&D) produk baru, dengan menggunakan kemampuan dan sumber daya R&D internal. Sekarang, pendekatan ini telah memberikan percepatan yang signifikan dalam tahap penemuan dan pengembangan obat, serta menurunkan biaya R&D.

Research and Development

]]>
https://designthinking.id/open-innovation/open-innovation-pendekatan-untuk-menurunkan-angka-kematian-ibu-dan-bayi-baru-lahir/feed/ 0