Inovasi – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 04:41:13 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Inovasi – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Open Innovation jadi Kunci Keberhasilan Perusahaan Capai Tujuan Keberlanjutan https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/ https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/#respond Tue, 07 Nov 2023 07:18:46 +0000 https://designthinking.id/?p=2268 Walau inovasi terbuka atau open innovation bukanlah konsep yang baru, pendekatan inovasi satu ini dinilai kian relevan dalam menghadapi lanskap bisnis yang semakin kompleks. Seiring meningkatnya urgensi iklim, open innovation diyakini banyak perusahaan sebagai pendekatan yang tepat dalam menjawab tantangan keberlanjutan atau sustainability yang dicita-citakan banyak perusahaan di dunia.

Dalam survei terhadap 1.000 perusahaan yang dilangsungkan pada Februari hingga Maret 2023, Capgemini Research Institute mencatat, 75% perusahaan memandang open innovation sebagai hal yang krusial untuk mengatasi permasalahan kompleks dalam bisnis mereka.

Open innovation bahkan dinilai jauh lebih penting dari sebelumnya mengingat besarnya tuntutan bagi perusahaan untuk menerapkan model bisnis yang lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Bahkan, 83% perusahaan yang disurvei mengakui open innovation sebagai faktor penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan keberlanjutan.

Seperti namanya, open innovation merupakan upaya mendapatkan pengetahuan atau bahkan solusi atas suatu permasalahan dengan melibatkan pihak internal dan eksternal perusahaan. Open innovation dinilai kian penting untuk mengatasi kesenjangan dan keterbatasan sumber daya internal perusahaan, seraya mempersingkat waktu dalam menjawab tantangan eksternal secepat mungkin.

Dengan begitu perusahaan bisa mendapatkan solusi yang lebih beragam, out-of-the-box, dalam waktu singkat dan tentunya dengan biaya yang lebih sedikit. Tak heran jika 55% perusahaan mengakui bahwa inovasi terbuka mampu meningkatkan percepatan inovasi, sementara 62% perusahaan mengatakan inovasi dapat meningkatkan ketangkasan dan kemampuan beradaptasi karyawan. Lebih dari 60% perusahaan pun telah merealisasikan manfaat finansial seperti peningkatan pendapatan dan efisiensi operasional. 

Dalam konteks keberlanjutan atau sustainability, kebutuhan untuk mempercepat transisi menuju net zero emission mendorong organisasi untuk memanfaatkan sumber inovasi eksternal dan kehadiran open innovation telah membuka jalan bagi perusahaan untuk melakukan kolaborasi. Open innovation memungkinkan setiap perusahaan untuk berkolaborasi dengan pemasok, pelanggan, startup, pemerintah, organisasi nirlaba atau bahkan pesaing untuk menjawab tantangan keberlanjutan yang bersifat sistemik. 

Bahkan, 68% perusahaan mengaku telah berinvestasi pada open innovation sebagai metode untuk menjawab tantangan keberlanjutan. Unilever misalnya, perusahaan FMCG multinasional yang telah melibatkan banyak pihak eksternal dalam open innovation sebagai upaya untuk mewujudkan bisnis berkelanjutan.

Mencapai Tujuan Keberlanjutan Melalui Open Innovation Bersama Startup

Pada tahun 2021, Unilever bekerja sama dengan LanzaTech –startup bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat (AS)– dan India Glycols –produsen bahan kimia yang berbasis di India– berhasil menciptakan cairan pencuci piring pertama di dunia yang terbuat dari emisi karbon industri yang didaur ulang. Tak hanya itu, Unilever juga berpartisipasi dalam proyek Flue2Chem, sebuah inisiatif open innovation yang melibatkan 15 organisasi di Inggris dengan tujuan mengubah gas limbah industri menjadi gas berkelanjutan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam berbagai produk FMCG.

Pada tahun yang sama, perusahaan utilitas listrik asal Spanyol, Iberdrola, melangsungkan Global Smart Grids Innovation Hub yang melibatkan 91 mitra di sektor teknologi termasuk startup untuk menggandakan jumlah proyek inovasi smart grid di seluruh dunia. Melalui open innovation, Iberdrola mencoba menciptakan solusi digitalisasi jaringan listrik, integrasi energi terbarukan, hingga optimalisasi sistem penyimpanan energi.

Berkat teknologi dan ketangkasan yang dimiliki startup, banyak perusahaan besar melihat startup sebagai mitra paling ideal dalam mencapai upaya keberlanjutan mereka. Bahkan, tujuh dari sepuluh perusahaan yang disurvei Capgemini Research Institute meyakini pentingnya berkolaborasi dengan startup dalam open innovation untuk mengatasi tantangan keberlanjutan. 

Sebanyak 55% perusahaan mengatakan bahwa mereka sudah mulai terlibat dalam open innovation bersama startup teknologi dalam dua tahun terakhir. Mereka meyakini, teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), blockchain, biologi sintetis, dan teknologi kuantum yang dibawa startup merupakan kunci untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan penipisan sumber daya alam.

Senada, Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, menyatakan bahwa startup mampu menghasilkan solusi digital dalam menghadapi tuntutan emisi nol bersih berkat perspektif segar yang mereka bawa, juga sistem kerja yang berbeda dari perusahaan besar pada umumnya.

Startup dan pengusaha membawa pola pikir yang berbeda dan perspektif baru dalam tantangan net-zero emission. Mereka dapat bergerak lebih cepat daripada organisasi besar dan lebih mudah melakukan hal-hal baru. Hal ini membuat mereka sangat cocok untuk perusahaan seperti Shell, yang kurang gesit, tetapi dapat menawarkan dukungan finansial yang kuat, kapasitas teknis yang luas, dan akses mudah ke mitra dan pasar global,” ujar Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, seperti dilansir dari laman resmi Shell.

Kolaborasi lintas industri yang dimungkinkan open innovation inilah yang secara luas diakui mampu membantu perusahaan mencapai tujuan keberlanjutan mereka. Dalam laporan bertajuk The Power of Minds: How Open Innovation Over Benefits for All, mayoritas atau 63% perusahaan yang disurvei mengaku bahwa inisiatif open innovation yang mereka lakukan mampu meningkatkan indikator keberlanjutan lingkungan perusahaan dan 55% melaporkan peningkatan dalam indikator keberlanjutan sosial mereka.

Dengan segenap keuntungan yang ditawarkan, tak heran jika 71% dari 1.000 perusahaan yang disurvei berencana untuk meningkatkan investasi dalam open innovation selama dua tahun ke depan. Tak hanya itu, mereka juga meyakini bahwa 70% inovasi perusahaan di masa depan akan lahir dari kolaborasi, mengingat besarnya tantangan global, termasuk perubahan iklim.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/feed/ 0
3 Ajang Open Innovation Bantu Pemerintah Hadapi Isu Lingkungan dan Sosial https://designthinking.id/gaya-hidup/3-ajang-open-innovation-bantu-pemerintah-hadapi-isu-lingkungan-dan-sosial/ https://designthinking.id/gaya-hidup/3-ajang-open-innovation-bantu-pemerintah-hadapi-isu-lingkungan-dan-sosial/#respond Wed, 25 Oct 2023 09:55:04 +0000 https://designthinking.id/?p=2248

Open innovation atau inovasi terbuka tak hanya menawarkan cara baru bagi pemerintah dalam mengatasi masalah yang kompleks, tapi juga meningkatkan keterlibatan dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Mulai dari perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, hingga kesenjangan sosial, pemerintah dituntut masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan yang kian mendesak. Sayangnya, solusi yang diperlukan jarang sekali hadir dari sektor pemerintahan itu sendiri. Dalam menyelesaikan isu sosial dan lingkungan yang semakin menantang, pemerintah dituntut untuk  berkolaborasi dengan berbagai pihak dari berbagai sektor.

Dalam laporan bertajuk The Nine Trends Reshaping Government in 2023, Deloitte menekankan bahwa pencapaian tujuan kebijakan publik semakin bergantung pada upaya terkoordinasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk memanfaatkan pengetahuan bersama dan kekuatan unik dalam rangka mendorong solusi yang inovatif. 

Berkat kerja sama dengan sektor swasta melalui open innovation, pemerintah mempunyai potensi besar untuk menghadirkan solusi inovatif guna menciptakan manfaat sosial dan lingkungan yang nyata bagi seluruh penduduknya. Dalam hal ini, open innovation dinilai sangat berguna untuk menemukan pendekatan dan solusi baru terhadap permasalahan sosial serta lingkungan yang mendesak dan belum terpecahkan.

Open innovation juga mampu menstimulasi pemerintah untuk menemukan cara-cara baru agar dapat bekerja dengan cara yang lebih tangkas dibandingkan kerangka kerja konvensional yang silo. 

Pendekatan open innovation juga membuka jalan untuk membangun sistem pemerintahan yang terbuka dan proses demokrasi berskala besar karena memungkinkan siapapun untuk berpartisipasi menjawab isu-isu kompleks yang dihadapi masyarakat. Pada akhirnya, keterlibatan sektor swasta dan masyarakat dalam open innovation memungkinkan meningkatnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah.

Berikut tiga inisiatif open innovation yang berhasil menghubungkan pemerintah dengan pihak swasta untuk menjawab isu sosial dan lingkungan:

1. The InoveMob Challenge

Ilustrasi kepadatan kota (Sumber: Chris Griffin/Flickr)

Seiring pertumbuhan penduduk, pemerintah bertanggung jawab membentuk inovasi dalam sektor mobilitas untuk meningkatkan keselamatan masyarakat dan mengurangi kemacetan. The InoveMob Challenge yang berlangsung pada 2018 menjadi bukti bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan swasta berhasil menciptakan inovasi mobilitas di perkotaan.

Melalui kolaborasi, National Front of Mayors, sebuah organisasi non-partisan yang terdiri dari walikota di seluruh Brasil, Toyota Mobility Foundation dan World Resources Institute (WRI) Brasil berhasil meluncurkan kompetisi inovasi InoveMob Challenge untuk menghadirkan solusi yang dapat meningkatkan mobilitas di sekitar universitas, sekolah, gedung administrasi, dan kawasan pusat bisnis.

Dari 80 proposal yang diajukan, lima di antaranya terpilih menerima dukungan finansial dan teknis untuk proyek percontohan. Mereka adalah Bikxi, layanan ridesharing yang menggunakan sepeda tandem bertenaga listrik sehingga memberikan kenyamanan dan kecepatan berkendara; Carona dan Pé, sebuah inisiatif yang mendorong anak-anak untuk berjalan kaki ke sekolah dengan membuat rute berjalan kaki dan mendorong mereka untuk pergi dalam kelompok yang dipandu; Nina, platform yang memungkinkan pengguna angkutan umum melaporkan pelecehan yang mereka derita atau saksikan; OnBoard Mobility yang menawarkan solusi tiket elektronik untuk angkutan umum untuk menghindari antrean umum di terminal; terakhir Bynd, menawarkan layanan berbagi tumpangan bagi karyawan.

2. Helsinki Energy Challenge

Kick off Helshinky Energy Challenge (Sumber: HEC)

Meski emisi karbon yang dihasilkan kota Helsinki dilaporkan 28% lebih kecil dibandingkan tahun 1990-an, bahan bakar fosil masih menjadi masalah utama di ibukota Finlandia tersebut. Kota berpenduduk 632 ribu jiwa itu masih mengandalkan sistem pemanas yang bersumber dari bahan bakar fosil, yang menyumbang lebih dari separuh total emisi karbon Helsinki.

Fenomena inilah yang mendorong Jan Vapaavuori, yang pernah menjabat sebagai Walikota Helsinki periode 2017-2021, untuk menggelar open innovation. Bertajuk Helsinki Energy Challenge, Jan Vapaavuori menawarkan hadiah €1.000.000 bagi para inovator yang mampu merancang ide inovasi guna mempercepat dekarbonisasi sistem pemanasan kota Helsinki.

Dimulai pada 27 Februari 2020, Helsinki Energy Challenge berlangsung selama setahun dan menginspirasi 252 tim dari 35 negara di seluruh dunia untuk berpartisipasi memerangi krisis iklim. Sepuluh tim dengan ide inovasi terbaik kemudian diundang untuk mengikuti fase co-creation.

Melalui Helsinki Energy Challenge, Helsinki menemukan tidak hanya satu tetapi sepuluh alternatif, di mana empat diantaranya dianggap solusi terbaik untuk menghangatkan seisi kota tanpa bahan bakar fosil.

3. Bristol Smart City Challenge

Kota Bristol (Sumber: alamy)

Dengan populasi penduduk yang diproyeksikan meningkat sebesar 15% selama periode 2018-2043 dan mencapai total populasi 532.700 pada tahun 2043, pemerintah Bristol dituntut untuk membangun 24.000 rumah baru dengan harga terjangkau untuk menyelesaikan kesenjangan ekonomi di kota tersebut. Namun, rencana pembangunan puluhan ribu rumah baru ini membuka risiko terhadap krisis iklim.

Pasalnya, perumahan dilaporkan menyumbang sekitar 40% dari total jejak karbon atau carbon footprint di Inggris, di mana separuh dari jumlah tersebut berasal dari energi yang digunakan dalam bangunan dan infrastruktur, dan 28% berasal dari bahan yang digunakan dalam konstruksi bangunan. Atas dasar itu, pemerintah Bristol harus mampu menghadirkan hunian berkelanjutan tentunya dengan harga terjangkau yang dinilai kian mustahil.

Tantangan ini mendorong pemerintah Bristol untuk menghadirkan solusi yang merangkul kompleksitas dari hubungan tersebut melalui kompetisi inovasi, Bristol Smart City Challenge. Melalui open innovation, pemerintah Bristol menantang pengembang, investor di sektor ESG, ahli teknologi hunian ramah lingkungan serta pakar keuangan real estat untuk menghadirkan model pembiayaan dalam pembangunan kawasan hunian baru di lahan Brownfield di Bristol yang selama ini dianggap tidak layak, namun dinilai sebagai kunci untuk membuka ratusan rumah yang hemat energi, netral karbon, dan terjangkau.

Pemenang kompetisi, tim Thriving Places terpilih untuk mengembangkan ide mereka lebih lanjut dan mendemonstrasikan solusi mereka di Bristol pada tahun 2023. Solusi dari Thriving Places akan fokus pada penguatan Bristol sebagai kota yang sehat secara holistik. Prioritas mereka mencakup optimalisasi potensi setiap lahan yang kurang dimanfaatkan dan mendefinisikan ulang nilai pembangunan untuk definisi kelayakan yang baru.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/3-ajang-open-innovation-bantu-pemerintah-hadapi-isu-lingkungan-dan-sosial/feed/ 0
Asian Games Hangzhou Rendah Karbon dengan Platform Kecerdasan Buatan https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-rendah-karbon-dengan-platform-kecerdasan-buatan/ https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-rendah-karbon-dengan-platform-kecerdasan-buatan/#respond Mon, 16 Oct 2023 06:46:39 +0000 https://designthinking.id/?p=1637 Maskot memang menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan satu acara dan acara lainnya. Dalam konteks Asian Games, setiap maskot memiliki keunikan karena menggambarkan budaya dan nilai-nilai dari negara tuan rumah, begitu juga dengan Asian Games di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.

Sekilas, tak ada yang berbeda dengan Congcong, Lianlian, dan Chenchen, tiga boneka robot berjuluk ”The Smart Triplets” atau ”Si Kembar Tiga yang Cerdas” dipilih sebagai maskot Asian Games Hangzhou. Ketiganya dipilih sebagai lambang transformasi peradaban baik di Hangzhou maupun Tiongkok yang mengombinasikan warisan budaya dengan keunggulan ragam inovasi teknologi.

Uniknya, ketiga boneka itu dilengkapi dengan QR code atau kode batang yang bisa dipindai. Namun, bukan deskripsi atau arti dari masing-masing maskot yang muncul melainkan sumber produksi hingga jejak karbon atau carbon footprint yang dihasilkan dari proses produksinya.

Ketika di klik, tautan menunjukkan bahwa Chenchen, Congcong, dan Lianlian—memiliki jejak karbon masing-masing sebesar 1,59 kilogram setara karbon dioksida (kg CO2e) per produk. Besaran emisi itu dilaporkan berasal dari penggunaan listrik, bahan baku, dan pengemasan.

Boneka maskot Asian Games ke-19 (Sumber: hangzhou22.cn)

Namun, berkat komitmen produsen dan pemerintah Tiongkok dalam penggunaan energi bersih, jejak karbon setiap boneka dari salah satu maskot itu berhasil dikurangi hingga 0,15 kg CO2e per item, serta mereduksi emisi 1,59 kg CO2e setiap produk dengan skema kredit karbon. Artinya, 1,59 kg CO2e emisi yang sebelumnya dihasilkan dari produksi boneka itu telah berhasil dihilangkan.

Melalui platform ini, para atlet, relawan, kru dan seluruh tamu undangan yang tinggal di Asian Games Villages mengetahui besaran emisi dari setiap aktivitas atau produk yang mereka temui di kawasan tersebut. Harapannya, partisipan dapat terdorong untuk mengadopsi aktivitas atau gaya hidup rendah karbon selama menikmati Asian Games Hangzhou.

Langkah ini diambil Alibaba Cloud untuk mendorong gaya hidup ramah lingkungan mengingat emisi berbasis konsumsi dari produksi barang dan jasa serta aktivitas rumah tangga menyumbang sekitar 53% dari total emisi karbon dioksida di Tiongkok pada tahun 2019, menurut  penelitian Chinese Academy of Sciences yang diterbitkan pada tahun 2021.

Untuk lebih memotivasi peserta Asian Games Hangzhou, Alibaba Cloud juga menyiapkan rewards bagi peserta. Di mana baik atlet, kru, relawan dan tamu undangan yang tinggal di kawasan Asian Games Villages dapat memindai kode batang untuk mencatat aktivitas rendah karbon mereka di aplikasi web. Mulai dari tidak menggunakan kantong plastik ketika berbelanja di supermarket, menggunakan kendaraan umum bertenaga listrik, hingga mengambil foto piring bersih usai makan untuk mengurangi limbah makanan.

Semakin banyak aktivitas rendah karbon yang mereka lakukan, partisipan dapat mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan pin bertema Asian Games edisi terbatas dan produk yang bersertifikat rendah karbon, seperti tas, pakaian, dan boneka di Low Carbon Store yang berdiri di Asian Games Villages.

Membantu Perusahaan Mengurangi Emisi

Platform Energy Expert dalam gelaran Asian Games ke-19 (Sumber: alizila)

Alibaba Cloud juga menerapkan platform keberlanjutan Energy Expert untuk membantu mengurangi emisi dalam produksi produk berlisensi Asian Games dan operasional harian toko-toko di Asian Games Villages, seperti dalam produksi boneka maskot Asian Games Hangzhou. Melalui platform Energy Expert, pabrik Hangzhou Kayford Branding Co., Ltd yang memproduksi boneka Lianlian telah sukarela mengurangi emisi karbon.

Menariknya, perusahaan seperti Hangzhou Kayford Branding Co., Ltd tidak lagi perlu membangun ruang server sendiri mengingat platform Energy Expert berbasis teknologi cloud computing atau komputasi awan.

Cloud memanfaatkan internet sebagai pusat pengolahan dan manajemen data, serta pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang memudahkan kerja manusia. Inilah yang terjadi pada Energy Expert, dengan memungkinkan setiap perusahaan dari berbagai industri menghitung besaran jejak karbon dari operasional serta keseluruhan value chain mereka.

“Dengan teknologi (Energy Expert), industri mengetahui jejak karbonnya dan berupaya membatasinya,” kata William Xiong, Wakil Presiden, Alibaba Cloud Intelligence dan General Manager Enterprise Service Cloud.

Selama gelaran Asian Games Hangzhou, platform berbasis Energy Expert yang disediakan Alibaba Cloud telah menarik lebih dari 310.000 kunjungan untuk berpartisipasi dalam kegiatan rendah karbon di seluruh kawasan Asian Games Villages. Lebih dari 7 ton karbon juga berhasil dikurangi sejak pembukaan desa Asian Games Hangzhou pada tanggal 16 September. Sementara di luar ajang Asian Games, Energy Expert telah melayani sekitar 2.900 perusahaan.

“Alibaba Cloud telah terbukti keahliannya dalam mendukung inisiatif keberlanjutan organisasi dan acara olahraga dengan teknologi digital,” kata William Xiong, Wakil Presiden, Alibaba Cloud Intelligence dan General Manager Enterprise Service Cloud.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-rendah-karbon-dengan-platform-kecerdasan-buatan/feed/ 0
Asian Games Hangzhou Buktikan Komitmen Tiongkok Menuju Sustainability https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-buktikan-komitmen-tiongkok-menuju-sustainability/ https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-buktikan-komitmen-tiongkok-menuju-sustainability/#respond Fri, 13 Oct 2023 08:05:13 +0000 https://designthinking.id/?p=1639

Gelaran Asian Games Hangzhou tidak hanya menjadi panggung bagi para atlet bertalenta, tetapi juga ajang unjuk gigi pemerintah Tiongkok dalam memerangi perubahan iklim.

Setelah melewati 15 hari kompetisi olahraga yang sengit, Asian Games ke-19 resmi berakhir dengan upacara penutupan yang berlangsung di Stadion Pusat Olahraga Olimpiade Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok. Lebih dari 12.000 atlet dari seluruh Asia merayakan pencapaian dan kerja keras mereka selama berkompetisi di 480 cabang olahraga.

Uniknya, meski tanpa atraksi kembang api yang identik dengan perayaan, upacara penutupan Asian Games Hangzhou tetap berlangsung meriah berkat pertunjukkan pesta audiovisual yang didukung oleh teknologi mutakhir. Berkat teknologi kontrol numerik komputer atau computer numerical control (CNC), lapangan stadion diubah menjadi layar dengan 40.000 titik cahaya. Teknologi ini berhasil mengubah rumput lapangan sepak bola menjadi palet warna raksasa yang menyambut para atlet dengan warna dan gambar penuh kilau yang senantiasa berubah-ubah.

Selama 85 menit, ribuan atlet dan tamu undangan yang datang disuguhkan dengan layar proyeksi visual yang memperlihatkan simbol-simbol dari setiap cabang olahraga, proyeksi seribu teratai dan bunga osmanthus raksasa yang merupakan ciri khas Hangzhou. Tak luput pembawa obor digital yang diberi nama “Pioneer” yang melambangkan jutaan orang dalam estafet obor digital.

Upacara penutupan Asia Games ke-19 di Hangzhou, Tiongkok (Sumber: CMG)

Menggabungkan virtual reality (VR) dan augmented reality (AR), Asian Games Hangzhou telah mengurangi emisi jejak karbon melalui penggantian pesta kembang api yang berpolusi dengan kemeriahan audiovisual yang terkesan nyata nan memukau.

“Melalui bunga virtual, Anda dapat merasakan kekuatan alam, kemanusiaan, dan teknologi,” ujar Cui Wei, Wakil Direktur Upacara Penutupan Asian Games ke-19.

Digelar di tengah tantangan keberlanjutan yang semakin digaungkan, pemerintah Tiongkok telah mengambil sikap tegas dalam komitmennya menyelenggarakan Asian Games ke-19 secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, termasuk dalam hal pembangunan venue, pasokan energi, dan operasional acara.

Venue Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Stadion Pusat Olahraga Olimpiade Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok (Sumber: Xinhua)

Di antara 56 venue yang digunakan dalam gelaran Asian Games ke-19 di Hangzhou, hanya 12 venue di antaranya yang baru dibangun sementara puluhan sisanya sekedar direvitalisasi atau dibangun sementara untuk gelaran tersebut. Pembangunan venue-pun dilakukan dengan menganut prinsip ramah lingkungan, cerdas dan hemat sepenuhnya.

Qiu Peihuang, Direktur Departemen Venue, Komite Penyelenggara Asian Games Hangzhou, menjelaskan pembangunan venue dilakukan dengan melibatkan teknologi building information modeling (BIM) yang mampu mensimulasikan seluruh informasi terkait proyek pembangunan ke dalam model tiga dimensi.

Venue Asian Games ke-19 di Hangzhou, Tiongkok (Sumber: Hangzhou2022.cn)

Selain dari proses konstruksi, seluruh venue Asian Games ke-19 di Hangzhou dipastikan menggunakan listrik ramah lingkungan. Bersumber dari tenaga fotovoltaik di Cekungan Qaidam, Kota Jiayuguan, dan Dataran Tinggi Loess di barat laut Tiongkok, serta energi angin dari Hami, Daerah Otonomi Uygur Xinjiang, gelaran Asian Games ke-19 diyakini telah  memangkas penggunaan 76.000 ton batubara dan mengurangi emisi karbon dioksida hingga 15.200 metrik ton.

“Semua listrik kami adalah listrik ramah lingkungan. Semua venue harus menggunakan listrik ramah lingkungan selama kompetisi,” ujar Qiu Peihuang.

Walaupun ajang Asian Games ke-19 di Hangzhou telah berakhir, gedung-gedung olahraga yang baru dibangun khusus untuk ajang olahraga se-Asia itu akan dialih fungsikan menjadi pusat kebugaran bagi warga setempat.

Qiu Peihuang menekankan, pihaknya juga telah bekerja sama dengan banyak perusahaan untuk mengalih fungsikan venue Asian Games menjadi lokasi komersial seperti konser musik, pesta, atau bahkan kompetisi olahraga tingkat lokal dan nasional. Semuanya telah dipikirkan dengan matang bahkan sebelum proses konstruksi dilakukan.

“Kami telah sepenuhnya mempertimbangkan penggunaan kembali tempat dalam periode perencanaan dan konstruksi. Di satu sisi banyak venue yang akan menjadi pusat kebugaran warga di beberapa daerah, dan di sisi lain banyak venue yang akan bekerjasama dengan perusahaan komersial. Sebenarnya, selama setahun terakhir operasi uji coba, banyak venue telah mengadakan konser, pesta, kegiatan olahraga,” tutur Qiu Peihuang.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-buktikan-komitmen-tiongkok-menuju-sustainability/feed/ 0
Hadirkan Solusi Inovatif, 5 Startup Ubah Tantangan Berkelanjutan jadi Peluang Bisnis https://designthinking.id/teknologi/hadirkan-solusi-inovatif-5-startup-ubah-tantangan-berkelanjutan-jadi-peluang-bisnis/ https://designthinking.id/teknologi/hadirkan-solusi-inovatif-5-startup-ubah-tantangan-berkelanjutan-jadi-peluang-bisnis/#respond Wed, 11 Oct 2023 09:27:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1627 Dimeriahkan oleh lebih dari 2,100 perusahaan, Indonesia Energy & Engineering 2023 Series sukses memperkenalkan ragam inovasi teknologi baru di sektor industri energi dan konstruksi yang menerapkan prinsip sustainability. Diselenggarakan selama empat hari pada 13–16 September lalu, Indonesia Energy & Engineering 2023 turut menghadirkan ragam panel diskusi yang membahas target-target pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yang terkait dengan sektor industri energi dan konstruksi.

Dengan memanfaatkan teknologi digital, kelima startup ini dipilih berkat ide inovasi bisnis mereka dalam energi terbarukan yang diyakini mampu mempercepat transisi energi bersih di Indonesia. Berikut lima startup yang mampu menghadirkan solusi inovatif dengan penerapan prinsip sustainability:

1. Biojel

Biojel Presentasikan inovasi hijau terbarukan ubah limbah biomassa jadi biogas (Sumber: Tangkapan Layar)

Startup yang bergerak di sektor energi terbarukan itu menghadirkan inovasi teknologi yang menguntungkan dengan mengubah limbah biomassa menjadi biogas, yang dapat digunakan untuk keperluan memasak bagi rumah tangga di Indonesia. Dengan teknologi biodigester portabel yang lebih mudah dalam proses pemeliharaan, Biojel meyakini inovasi yang mereka hadirkan lebih murah dari penggunaan LPG.

Selain mengurangi emisi karbon hingga 6.204,424 ton CO2/bulan dari penggunaan LPG, inovasi oleh Biojel ini juga diyakini mampu mengurangi besaran subsidi LPG yang dikeluarkan pemerintah yang pada 2023 mencapai Rp117,85 triliun.

2. Econella

Econella Presentasikan inovasi hijau terbarukan ubah limbah biomassa jadi biogas (Sumber: Tangkapan Layar)

Faktor inilah yang mendorong Econella menghadirkan alternatif efisiensi energi untuk membantu mengatasi krisis BBM di Indonesia yang memiliki dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hanya dengan menambahkan tiga tetes pada satu liter BBM, petani mampu menghemat penggunaan BBM mereka hingga 25%. Dengan efisiensi BBM, tentu Econella mampu mengurangi emisi karbon di sektor pertanian.

Minyak atsiri sendiri dipilih Econella karena sifatnya yang mudah menguap, memiliki bobot jenis dan viskositas rendah, tersusun dari senyawa hidrokarbon dan oksigen, juga karena mampu larut sempurna di dalam bahan bakar, tidak mengandung logam berat dan terakhir dapat diperbarui. Produk inovasi di ranah bioenergi ini turut memberikan nilai tambah dengan memanfaatkan bahan hasil pertanian yang reject dan limbah pertanian sebagai bahan bakunya.

3. Auto Digda

Auto Digda pamerkan inovasi dalam otomatisasi pergudangan (Sumber: Tangkapan Layar).

Membawa inovasi automatic guided vehicle (AGV), startup yang anggotanya terdiri dari mahasiswa Politeknik Astra itu berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas perpindahan barang di gudang atau warehouse sekaligus mengurangi tingginya biaya rantai pasokan atau supply chain cost.

Berkaca pada kasus Amazon di mana penerapan otomatisasi di warehouse mereka mampu menghemat biaya operasi pergudangan hingga 20% atau sekitar USD 22 juta per gudang per tahun, Auto Digda menghadirkan teknologi robot AGV yang mampu meningkatkan efisiensi sistem manajemen gudang hingga tiga kali lipat. Kelebihan ini dimungkinkan berkat perangkat lunak atau software yang memungkinkan kontrol, monitoring dan tracking atas setiap robot yang mereka miliki.

Uniknya lagi, inovasi robot AGV dari Auto Digda dilengkapi dengan teknologi Auto Digda Combine di mana ‘main AGV’ bisa bertransformasi menjadi empat jenis mesin sekaligus, mulai dari unit loads, arm robot, towing, and forklift. Tak heran jika Auto Digda mampu memenangkan sejumlah kompetisi startup seperti PJCI’s Innovation for Energy, Genbi Startup Competition, juga Astronauts.

Tak hanya meningkatkan efisiensi dalam hal operasional dan biaya, inovasi Auto Digda juga diharapkan mampu mengurangi risiko kecelakaan kerja yang kerap menimpa karyawan di pergudangan.

4. Water Coin

Presentasi Water Coin dalam IEE Series 2023 (Sumber: Tangkapan Layar)

Ketersediaan air bersih khususnya berupa air minum memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Namun, tak semua wilayah di Indonesia memiliki akses yang luas akan air bersih. Pada 2021 misalnya, Badan Pusat Statistik mencatat ada 47.915 dari 83.843 desa/kelurahan di Indonesia yang belum memiliki akses air minum bersih.

5. Matador Lectro

Inovasi baterai dari Matador Lectro (Sumber: Matador Lectro)

Tak seperti baterai lithium pada umumnya, inovasi baterai lithium Matador Lectro terbukti lebih kuat dan lebih tahan lama dengan keandalan dan kapasitas penyimpanan yang tinggi. Selain itu, baterai lithium yang diciptakan juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan setiap konsumen yang berbeda-beda.

Yakin bahwa masa depan energi harus didukung oleh sumber daya yang terbarukan dan berkelanjutan, Matador Lectro menyediakan sistem manajemen baterai cerdas yang mampu mengoptimalkan penggunaan energi setiap konsumen. Pasalnya, inovasi sistem manajemen daya tersebut mampu mengatur dan mengoptimalkan aliran energi dari panel surya ke baterai dan ke beban listrik, memastikan penggunaan energi yang efisien dan hemat biaya.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/hadirkan-solusi-inovatif-5-startup-ubah-tantangan-berkelanjutan-jadi-peluang-bisnis/feed/ 0
Lewat Crowdsourcing, Luis von Ahn Ubah reCAPTCHA jadi Alat Digitalisasi Dokumen https://designthinking.id/teknologi/lewat-crowdsourcing-luis-von-ahn-ubah-recaptcha-jadi-alat-digitalisasi-dokumen/ https://designthinking.id/teknologi/lewat-crowdsourcing-luis-von-ahn-ubah-recaptcha-jadi-alat-digitalisasi-dokumen/#respond Fri, 29 Sep 2023 06:51:32 +0000 https://designthinking.id/?p=1608 Dalam dunia yang semakin terhubung secara online, sistem keamanan seperti CAPTCHA telah menjadi elemen penting dalam melindungi situs dan aplikasi dari serangan bot dan spam. Namun, apa yang membuat CAPTCHA semakin menarik adalah bagaimana ia memanfaatkan kekuatan kolektif jutaan pengguna internet untuk membantu mengatasi masalah digital yang kompleks.

Awalnya, CAPTCHA memang ditujukan von Ahn untuk sekedar mengamankan situs atau aplikasi dari bot dan spam. Namun, von Ahn melihat potensi dari sistem yang diciptakannya untuk memecahkan masalah berskala besar dengan membangun sistem yang menggabungkan manusia dan internet melalui reCAPTCHA.

Sejatinya reCAPTCHA tak jauh berbeda dengan CAPTCHA, hanya saja dengan reCAPTCHA pengguna internet tidak sekedar mengetik teks terdistrorsi untuk membedakan dirinya dengan robot, tapi membantu digitalisasi ratusan buku dan arsip lama. Kejeniusan di balik model bisnis reCAPTCHA yang dikembangkan von Ahn adalah setiap kali pengguna memverifikasi dirinya, mereka sebenarnya tengah membuat teks digital yang dapat diindeks dari buku, majalah, jurnal, dan surat kabar berusia ratusan tahun.

Siapa sangka, setiap kali mengisi reCAPTCHA dengan kombinasi huruf dan angka yang aneh, kita secara tidak sadar telah mendigitalkan ribuan teks dan buku secara online. Semua ini menjadi mungkin berkat kegilaan von Ahn pada crowdsourcing atau apa yang ia pribadi sebut sebagai human computation. Dengan memanfaatkan pertumbuhan populasi yang terhubung ke internet, von Ahn berhasil membangun kolaborasi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bagaimana reCAPTCHA Bekerja?

Tak jauh berbeda dengan CAPTCHA generasi pertama, reCAPTCHA bekerja dengan menampilkan dua kata acak pengguna. Hanya saya, kata-kata yang ditampilkan pada reCAPTCHA merupakan kata-kata nyata yang diperoleh dari teks yang diarsipkan yang tidak dapat diidentifikasi oleh perangkat lunak optical character recognition (OCR).

Sebagai informasi, OCR memungkinkan kita untuk mengkonversikan gambar atau teks menjadi format teks yang dapat dibaca oleh mesin sehingga dapat didigitalkan dan diindeks. OCR menjadi kian krusial karena sebagian besar alur kerja bisnis melibatkan penerimaan informasi dari media cetak.

Meskipun manajemen dokumen tanpa kertas adalah jalan keluarnya, pemindaian dokumen melalui OCR bukan tanpa kekurangan. Pasalnya, banyak teks yang sulit dibaca khususnya dokumen yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.

Pada kasus inilah reCAPTCHA menggantikan tugas OCR. Dengan memanfaatkan jumlah pengguna internet yang tak terhitung, reCAPTCHA memanfaatkan mereka untuk menginput dua kata, di mana satu kata merupakan kata yang tidak dapat diinterpretasikan oleh OCR dan satu kata kontrol.

Untuk memperhitungkan kesalahan manusia atau human error dalam proses digitalisasi, reCAPTCHA mengirimkan setiap kata yang tidak dikenal OCR ke banyak pengguna dengan distorsi acak yang berbeda. Jika pengguna memasukkan jawaban yang benar pada kata kontrol terkait, maka jawaban pengguna atas kata yang tidak dikenal itu akan dicatat sebagai tebakan yang masuk akal.

Namun, jika tebakan tiga orang pertama cocok satu sama lain, maka kata tersebut dianggap benar dan akan menjadi kata kontrol dalam tantangan reCAPTCHA lainnya. Dengan algoritma ini, reCAPTCHA mampu mencapai akurasi hingga 99,1%. Jauh lebih akurat dari tingkat akurasi OCR standar dengan 83,5%.

Memanfaatkan Massa untuk Melestarikan Sejarah

Sosok Luis von Ahn (Sumber: GeekWire/Taylor Soper)

Kejeniusan Von Ahn telah membantu media pemberitaan ternama di Amerika Serikat (AS), New York Times untuk mendigitalkan semua koran yang diterbitkan New York Times selama 20 tahun. Hebatnya, dengan crowdsourcing dibalik kerja reCAPTCHA, proses digitalisasi itu hanya memakan waktu beberapa bulan.

Pada tahun 2009, reCAPTCHA dibeli oleh Google yang kemudian digunakan raksasa teknologi itu untuk membangun perpustakaan Google Books, yang kini menjadi salah satu perpustakaan digital terbesar di dunia. Memperluas fungsi reCAPTCHA, Google menggunakan perangkat lunak buatan Von Ahn untuk meminta pengguna mengidentifikasi nama jalan dan alamat dari Google Maps Street View.

Crowdsourcing seperti yang dilakukan von Ahn dalam reCAPTCHA adalah salah satu inovasi yang telah mengubah cara kita melihat interaksi manusia dengan teknologi digital. Dengan memanfaatkan upaya kolektif ratusan juta orang untuk melakukan tugas yang sangat penting yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi otomatis pada saat itu.

Bayangkan saja, setahun setelah berdiri, reCAPTCHA telah digunakan oleh lebih dari 40.000 situs dengan lebih dari 1,2 miliar CAPTCHA terpecahkan. Dengan kata lain, lebih dari 440 juta kata tak dikenal berhasil dicatatkan dan lebih dari 17.600 buku mampu ditranskripsi secara manual.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/lewat-crowdsourcing-luis-von-ahn-ubah-recaptcha-jadi-alat-digitalisasi-dokumen/feed/ 0
Rilis iPhone 15, Apple Buktikan Komitmen Perusahaan Capai Netralitas Karbon 2030 https://designthinking.id/uncategorized/rilis-iphone-15-apple-buktikan-komitmen-perusahaan-capai-netralitas-karbon-2030/ https://designthinking.id/uncategorized/rilis-iphone-15-apple-buktikan-komitmen-perusahaan-capai-netralitas-karbon-2030/#respond Wed, 27 Sep 2023 07:09:11 +0000 https://designthinking.id/?p=1604 Siapa yang tak kenal Apple, perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat itu telah dikenal luas akan inovasi yang out-of-the-box dalam setiap lini produknya, khususnya iPhone. Mulai dari Touch ID, desain layar berponi, kamera boba, hingga Dynamic Island, setiap inovasi yang dihadirkan Apple dalam jajaran produk smartphone mereka telah menjadi kiblat atau trendsetter, yang diikuti oleh produsen-produsen gawai pintar di dunia.

Kini, Apple kembali merilis smartphone terbarunya, iPhone 15 yang menjanjikan serangkaian fitur inovatif. Apple melangkah lebih jauh dari yang disyaratkan Uni Eropa dengan tidak hanya mengadopsi USB-C untuk membantu mengurangi limbah elektronik atau e-waste, tapi juga menggunakan lebih banyak bahan daur ulang untuk komponen iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max. Emas yang digunakan Apple untuk melapisi konektor USB-C tersebut misalnya, juga berasal dari emas daur ulang.

Tak hanya itu, sebagai langkah signifikan menuju keberlanjutan, Apple mengumumkan bahwa 20% komponen dari kedua seri dari iPhone 15 itu berasal dari bahan daur ulang. Langkah ini termasuk menggunakan bahan daur ulang untuk semua komponen alumunium, timah, mineral tanah jarang atau rare earth, tembaga dan plastik yang digunakan untuk memproduksi iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max.

Apple gunakan emas daur ulang untuk melapisi konektor USB-C (Sumber: Apple).

Untuk iPhone 15, Apple juga menjanjikan kapasitas baterai yang digadang-gadang lebih tahan lama dari para pendahulunya dengan rentang kapasitas mencapai 3.349 mAh hingga 4.383 mAh untuk seri tersebut. Tak hanya dari segi kapasitas, inovasi dalam komponen baterai iPhone 15 juga berasal dari 100 persen kobalt daur ulang yang semakin memperjelas komitmen Apple untuk mengurangi dampak lingkungan dari setiap produk yang dihasilkan.

Sebagai perusahaan teknologi yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, Apple tak hanya bermimpi menjadikan setiap produk yang diproduksinya netral karbon pada tahun 2030, tapi juga memastikan keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam membuat, menggunakan, dan mendaur ulang produk Apple, serta membatasi penggunaan ratusan zat berbahaya. Untuk melindungi manusia dan lingkungan, Apple memastikan bahwa iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max bebas dari zat berbahaya seperti berilium, PVC, ftalat, arsenik, merkuri dan kaca layar bebas arsenik.

Selain memelopori penggunaan banyak bahan daur ulang dalam produknya, Apple turut mengakhiri penggunaan kulit di seluruh lini produknya, termasuk aksesori iPhone dan tali jam Apple Watch. Melansir laman resmi perusahaan, Apple mengganti kulit dengan tekstil baru yang disebut FineWoven, yang terbuat dari 68 persen bahan daur ulang dan memiliki emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan kulit. FineWoven akan melengkapi produk casing hingga tali jam Apple Watch Magnetic Link dan Modern Buckle.

Untuk selangkah lebih maju dalam menghilangkan seluruh penggunaan plastik dari kemasan pada 2025, 99% dari kemasan iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max menggunakan serat kayu yang berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab. Uniknya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan akan serat kayu, Apple terlibat secara aktif dalam melindungi dan menciptakan cukup banyak hutan yang dikelola secara bertanggung jawab.

Langkah ini diambil Apple untuk memastikan sumber daya yang mereka gunakan tidak mengganggu fungsi hutan dalam membersihkan udara sekaligus memurnikan sumber air kita.

Mengingat aktivitas distribusi iPhone 15 dari pabrik ke tangan konsumen di seluruh belahan dunia menyumbang sekitar 9% jejak karbon dari seluruh operasional Apple, perusahaan telah beralih ke moda transportasi laut yang diyakini Apple menghasilkan emisi 95 persen lebih sedikit dibandingkan melalui udara.

Langkah Apple Menuju Netralitas Karbon pada 2030

Apple sejauh ini telah mengurangi total emisi sebesar lebih dari 45% sejak tahun 2015, seraya tetap meningkatkan pendapatan hingga 65% lebih besar dalam periode yang sama. Semua tercapai berkat hasil kerja cerdas dan inovasi signifikan yang diterapkan Apple, baik dalam operasional maupun rantai pasokan globalnya.

Dengan menghindari aktivitas yang menghasilkan karbon, Apple telah secara signifikan memperluas implementasi energi terbarukan termasuk memanfaatkan bahan daur ulang. Dalam hal ini, Apple telah memelopori penggunaan banyak bahan daur ulang melalui rekayasa produk kelas dunia, kualifikasi desain yang ekstensif, dan menerapkan aturan yang ketat terhadap rantai pasokan. Sejak 2020, Apple telah menetapkan target yang lebih ambisius untuk mencapai netralitas karbon di seluruh rantai nilai perusahaan pada 2030.

]]>
https://designthinking.id/uncategorized/rilis-iphone-15-apple-buktikan-komitmen-perusahaan-capai-netralitas-karbon-2030/feed/ 0
Wujudkan Keadilan Sosial, JD Technology Permudah Peternak Tiongkok Akses Bantuan Modal dan Kredit https://designthinking.id/teknologi/wujudkan-keadilan-sosial-jd-technology-permudah-peternak-tiongkok-akses-bantuan-modal-dan-kredit/ https://designthinking.id/teknologi/wujudkan-keadilan-sosial-jd-technology-permudah-peternak-tiongkok-akses-bantuan-modal-dan-kredit/#respond Tue, 26 Sep 2023 06:36:32 +0000 https://designthinking.id/?p=1599 Mempunyai andil besar dalam menjamin ketahanan pangan, sektor pertanian jelas mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun perekonomian nasional. Sayangnya, krusialnya sektor pertanian tak lantas menjamin kesejahteraan dan kemakmuran bagi para pelaku usaha tani. Tak sedikit dari mereka yang hidup dalam kemiskinan akibat sistem distribusi pangan yang merugikan mereka hingga sulitnya bagi mereka memperluas usaha tani yang dimiliki lantaran sulitnya mendapatkan modal dan kredit dari bank.

Kesulitan ini tak terlepas dari kendala persyaratan yang diajukan pihak bank. Tak sedikit lembaga perbankan yang enggan menyalurkan kredit karena petani tidak memiliki agunan, penghasilan mereka yang tidak tetap serta tak semua petani memiliki sertifikat kepemilikan tanah. Akibatnya, banyak petani yang masih hidup di bawah kemiskinan.

Cara kerja platform Biological Assets Digital yang dikembangkan JD Technology sangat inovatif, karena memungkinkan para peternak memantau dan mencatat informasi pertumbuhan dan status hewan ternak mereka secara real-time melalui seperangkat kamera dan sensor yang dipasang pada setiap hewan.

Dengan bantuan dari algoritma AI dan Big Data, semua data inventaris terkait hewan ternak akan diunggah secara serempak ke blockchain untuk memastikan keunikan, keaslian, serta perlindungan terhadap gangguan kesehatan atau reproduksi yang mungkin dialami masing-masing hewan ternak tersebut.

Memudahkan Peternak Sekaligus Lembaga Perbankan

Memiliki dua basis pembiakan domba dengan lebih dari 100.000 ekor domba berencana melakukan ekspansi bisnis, namun mereka menghadapi tantangan pendanaan yang umum terjadi pada industri peternakan yang sangat fluktuatif, yang menyulitkan mereka mengakses modal dari bank.

Saat itulah Xinzhongsheng menemukan solusi kreatif melalui platform Biological Assets Digital. JD Technology menerapkan kamera pintar di pusat peternakan Xinzhongsheng, yang mendukung pengawasan real-time dan melakukan tinjauan inventaris domba secara otomatis dengan bantuan algoritma AI dan kemampuan Big Data.

Alhasil, aset pertenakan Xinzhongsheng dapat terukur. Lembaga perbankan pun tak lagi ragu menyalurkan kredit mereka karena inventarisasi yang dimungkinkan platform Biological Assets Digital yang dimiliki JD Technology telah memungkinkan mereka memiliki manajemen risiko pasca pinjaman. Pendekatan ini memungkinkan Xinzhongsheng berhasil mendapatkan pinjaman sebesar 10 juta yuan.

Selain membuka akses modal bagi peternak, platform Biological Assets Digital jelas turut memudahkan bank untuk menyalurkan kredit mereka dengan aman. Padahal, lembaga keuangan selama ini enggan menerima aset biologis sebagai jaminan, meskipun aset tersebut mempunyai potensi besar sebagai jaminan di daerah pedesaan. Hal ini tak lain karena berbagai kendala seperti pengukuran skor kredit yang kurang efektif dan kurangnya agunan.

Batasan-batasan inilah yang kemudian dihapuskan oleh kehadiran platform Biological Assets Digital dari JD Technology. Memanfaatkan platform tersebut, HengFeng Bank memberikan 1,75 juta yuan kepada Wang Yuhe, produsen ternak di Peternakan Hengchang di Heze, provinsi Shandong, Tiongkok.

Terhubung dengan peralatan kamera yang dipasang di lingkungan peternakan dan tag telinga pintar yang dipasang di telinga 160 sapi, platform Biological Assets Digital berhasil mengumpulkan data dinamis terkait kondisi setiap ekor sapi secara real-time. Data biologis inilah yang mengurangi risiko pinjaman dan meyakinkan HengFeng Bank untuk memberikan kredit kepada Wang Yuhe.

JD Technology Perluas Inovasi

Teknologi digital telah merambah ke setiap aspek bidang sosial dan ekonomi, membawa perubahan signifikan dalam pembangunan ekonomi dan menjadi kekuatan pendorong utama vitalisasi pedesaan. Pengawasan aset biologis terdigitalisasi seperti platform Biological Assets Digital telah membantu memberikan lebih banyak dukungan keuangan ke daerah pedesaan.

Selain pinjaman, lembaga keuangan dapat menurunkan ambang batas untuk menawarkan asuransi ternak khusus guna memitigasi berbagai risiko yang dihadapi oleh peternak. Pemerintah dalam hal ini juga dapat mendistribusikan subsidi kepada petani dengan lebih tepat sehingga program revitalisasi pedesaan yang sedang berlangsung di Tiongkok semakin meningkat.

Dalam laporan keberlanjutan perusahaan, JD Technology telah memberikan solusi digital kepada 914 lembaga keuangan dan memungkinkan dunia usaha dan petani memperoleh pinjaman sebesar 7,3 miliar yuan.

Di sisi konsumen, platform JD Technology juga menjamin kualitas produk, karena mendukung penelurusan produk daging secara penuh. Dalam beberapa kasus, jumlah ayam yang berjalan sebelum pemotongan dapat dinilai dengan pedometer yang dirancang khusus mirip dengan pita kaki unggas, yang dihubungkan ke platform, untuk memastikan kualitas daging.

Dengan memanfaatkan teknologi mutakhir untuk mendorong perubahan sosial dan tanggung jawab lingkungan, JD Technology tidak hanya membayangkan masa depan yang lebih baik tapi juga secara aktif menciptakannya. Ke depannya, JD Technology berkomitmen untuk terus berinovasi dan memperluas layanan mereka selagi menjamin keadilan sosial.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/wujudkan-keadilan-sosial-jd-technology-permudah-peternak-tiongkok-akses-bantuan-modal-dan-kredit/feed/ 0
EIGER Innoventure Ajak Inovator Indonesia Rancang Produk Hingga Strategi Pemasaran Baru https://designthinking.id/gaya-hidup/eiger-innoventure-ajak-inovator-indonesia-rancang-produk-hingga-strategi-pemasaran-baru/ https://designthinking.id/gaya-hidup/eiger-innoventure-ajak-inovator-indonesia-rancang-produk-hingga-strategi-pemasaran-baru/#respond Fri, 22 Sep 2023 06:44:29 +0000 https://designthinking.id/?p=1586 Sebagai merek asli Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1989 silam, EIGER tumbuh berkat kreativitas ribuan anak bangsa. Karena itulah EIGER Innoventure mengajak siapapun untuk menciptakan inovasi yang menggemparkan, bahkan mengubah cara kita memaknai, menikmati dan menjelajahi petualangan di alam bebas.

Terbuka untuk umum sejak Agustus 2023, EIGER Innoventure diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang bukan hanya membuat bisnis semakin kompetitif di pasar industri, tapi juga menghasilkan kebaruan dan memecahkan masalah bagi setiap segmen pasar secara efektif.

Marketing General Manager EIGER, Jason Wuysang menjelaskan Eiger Innoventure berfokus memenuhi kebutuhan segmen aspirasional, yakni mereka yang aktif secara sosial dan gemar berpetualang selagi tetap peduli terhadap penampilan dan gaya mereka, serta mengutamakan  kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.

“Innoventure terbuka untuk kalian yang memiliki solusi inovatif bagi para petualang di segmen aspirasional. Apakah kamu seorang wirausaha pemula, inovator, atau hanya seseorang dengan ide brilian, kami mendorong kamu untuk berpartisipasi dan wujudkan visi kamu bersama EIGER,” ujar Jason.

Adapun para peserta EIGER Innoventure dapat mengirimkan ide inovasi dalam tiga kategori, yakni kategori Pakaian dan Peralatan Luar Ruang, Inovasi Produk Digital, dan terakhir Inovasi Strategi Marketing.

Pada kategori Pakaian dan Peralatan Luar Ruang, EIGER mengajak para peserta yang menyukai eksplorasi kegiatan luar ruangan dan memiliki kemampuan desain untuk mengembangkan ide-ide brilian dalam mendesain pakaian dan peralatan aktivitas luar ruang yang berkualitas dengan estetika sebagai prioritas utama.

Sementara untuk peserta yang ahli dalam bidang teknologi, kategori Inovasi Produk Digital membuka kesempatan bagi peserta untuk mengembangkan aplikasi, platform atau produk digital lainnya yang mampu memperkaya pengalaman dunia luar ruang. Misalnya, aplikasi yang mampu memudahkan para pendaki untuk mencari rute pendakian terbaik atau sebatas platform berbagi yang mampu menjadi tempat para pendaki bertukar pengalaman.

Terakhir, kategori Inovasi Strategi Marketing dikhususkan bagi peserta yang memiliki jiwa bisnis dan akrab dengan dunia pemasaran atau marketing. Pada kategori ini, peserta dapat mengirimkan ide atau strategi pemasaran yang out of the box untuk mempromosikan projek EIGER Green, lini pakaian dan peralatan luar ruang EIGER yang mengutamakan kelestarian lingkungan.

“Selama ide itu sejalan dengan tujuan utama INNOVENTURE, yakni menyediakan kesempatan kegiatan luar ruang bagi segmen aspirational yang terkadang terbatas oleh waktu, pengetahuan, dan akses. Kami mengundang ide-ide inovasi terbaik kamu untuk mengubah pengalaman kegiatan outdoor,” kata Jason.

Tak hanya sebatas mengirimkan ide inovasi, para peserta dengan ide inovasi yang paling menarik dan mampu diaplikasikan akan dibekali dengan mentoring bersama sejumlah ahli dari berbagai industri. Dengan begitu ide inovasi setiap finalis akan ditajamkan dan dimatangkan guna diimplementasikan EIGER selaku penyelenggara Inovasi.

Mengenali Manfaat Crowdsourcing

Seperti yang dilakukan EIGER, crowdsourcing yang merupakan salah satu bentuk open innovation memang telah diimplementasikan banyak bisnis. Dengan memanfaatkan keramaian atau crowd, perusahaan atau entitas organisasi lain mampu menghimpun ide inovasi secara masif dalam waktu yang singkat.

EIGER dalam hal ini menggunakan open innovation sebagai sarana untuk menghimpun ide inovasi dalam tiga aspek, yakni pengembangan produk, layanan, hingga strategi pemasaran.

Dengan mengundang kelompok pemikir atau inovator, crowdsourcing juga memungkinkan EIGER untuk berinovasi secara cepat. Perusahaan tidak perlu mempekerjakan para ahli, insinyur, atau membangun laboratorium inovasi dan menghabiskan banyak waktu untuk merancang produk dan layanan baru. Mereka hanya perlu meluncurkan tantangan atau pertanyaan, menyusun tujuan atau goals, menyusun metodologi crowdsourcing secara komprehensif dan memberikan insentif bagi pihak yang mengurunkan dayanya.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/eiger-innoventure-ajak-inovator-indonesia-rancang-produk-hingga-strategi-pemasaran-baru/feed/ 0
Kompetisi Inovasi Dorong Pemerintah Bristol Bangun Hunian Ramah Lingkungan yang Terjangkau https://designthinking.id/gaya-hidup/kompetisi-inovasi-dorong-pemerintah-bristol-bangun-hunian-ramah-lingkungan-yang-terjangkau/ https://designthinking.id/gaya-hidup/kompetisi-inovasi-dorong-pemerintah-bristol-bangun-hunian-ramah-lingkungan-yang-terjangkau/#respond Tue, 19 Sep 2023 08:15:06 +0000 https://designthinking.id/?p=1577 Salah satu kota terpadat di Inggris, Bristol, tengah dihadapkan dengan krisis perumahan sekaligus krisis iklim secara bersamaan. Sebagai kota dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, masih banyak penduduk Bristol yang belum memiliki hunian tetap. Tercatat, lebih dari 15.000 individu dan keluarga di Bristol berada dalam daftar tunggu perumahan dan lebih dari 800 rumah tangga berada di akomodasi sementara.

Dengan populasi penduduk yang diproyeksikan meningkat sebesar 15% selama periode 2018-2043 dan mencapai total populasi 532.700 pada tahun 2043, Pemerintah Bristol menargetkan membangun 24.000 rumah baru yang terjangkau pada 2050. Namun, rencana pembangunan puluhan ribu rumah baru ini bukan tanpa risiko.

Pasalnya, perumahan dilaporkan menyumbang sekitar 40% dari total jejak karbon atau carbon footprint di Inggris, di mana separuh dari jumlah tersebut berasal dari energi yang digunakan dalam bangunan dan infrastruktur, dan 28% berasal dari bahan yang digunakan dalam konstruksi bangunan.

Angka-angka ini jelas menjadi tantangan tersendiri bagi Bristol yang telah mendeklarasikan darurat iklim pada tahun 2018 dan berkomitmen untuk mencapai net zero emission serta netralitas karbon pada tahun 2030. Mencapai emisi nol bersih jelas sangat penting bagi Bristol mengingat dalam skenario emisi tinggi, pada tahun 2080, Bristol diperkirakan akan mengalami kenaikan permukaan air laut hingga 72 cm di garis pantai Bristol.

Tingkat curah hujan musim dingin bisa meningkat hingga 48% sementara suhu maksimum ketika musim panas diperkirakan meningkat lebih dari 9 derajat Celcius. Lebih parahnya, tingkat curah hujan selama musim panas di Bristol juga diproyeksi menurun hingga 68% pada tahun 2080.

Menghadirkan hunian yang berkelanjutan jelas menjadi prioritas Bristol. Pemerintah harus mampu menghadirkan puluhan ribu hunian tanpa menambah jejak karbon dan menjauhkan Bristol dari bahaya krisis iklim yang mengintainya di masa depan. Pada sisi lain, biaya yang dibutuhkan untuk membangun hunian sejenis ini tentulah tidak murah sehingga hampir mustahil untuk membuatnya tersedia dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Atas dasar itu diperlukan model keuangan baru untuk mencapai prioritas netralitas karbon dan perumahan yang terjangkau.

Kepadatan Kota Bristol, Inggris. (Sumber: raconteur.net)

Tantangan ini mendorong pemerintah Bristol untuk menghadirkan solusi yang merangkul kompleksitas dari hubungan tersebut melalui kompetisi inovasi, Bristol Smart City Challenge. Berkolaborasi dengan Nesta Challenge dan UN-Habitat, Bristol Smart City Challenge mencerminkan komitmen pemerintah Bristol dalam mendorong inovasi dan pemahaman akan bagaimana menyeimbangkan kebutuhan dekarbonisasi dengan kebutuhan untuk menciptakan rumah yang benar-benar terjangkau agar dapat memerangi kesenjangan sosial.

“Atas tujuan ini, saya bersemangat untuk bekerja sama dengan Nesta Challenge, dan UN-Habitat dalam menghadirkan tantangan yang tidak mengabaikan kompleksitas masalah ini dan menyambut baik perbincangan tentang solusi bagi keseluruhan masalah,” ujar Marvin Rees, Walikota Bristol.

Melalui Bristol Smart City Challenge, pemerintah Bristol menantang pengembang, investor di sektor ESG, ahli teknologi hunian ramah lingkungan serta pakar keuangan real estat dari seluruh dunia untuk menghadirkan model pembiayaan dalam pembangunan kawasan hunian baru di lahan Brownfield di Bristol yang selama ini dianggap tidak layak, namun dinilai sebagai kunci untuk membuka ratusan rumah yang hemat energi, netral karbon, dan terjangkau.

“Kompetisi ini juga mencerminkan penerapan pendekatan Satu Kota, dimana para pemangku kepentingan di seluruh kota berkolaborasi untuk mengartikulasikan tantangan yang dihadapi Bristol dan solusi yang dibutuhkan dari para inovator global. Saya berharap, melalui kemitraan dengan organisasi-organisasi internasional ini, kita akan mendorong perubahan perilaku dalam cara kita mengembangkan dan membangun rumah serta mengatasi permasalahan kompleks ini bersama-sama sebagai sebuah kota,” tutur Marvin Rees.

Diselenggarakan sejak 2021, tim Thriving Places terpilih untuk mengembangkan ide mereka lebih lanjut dan mendemonstrasikan solusi mereka di Bristol pada tahun 2023. Solusi dari Thriving Places akan fokus pada penguatan Bristol sebagai kota yang sehat secara holistik. Prioritas mereka mencakup optimalisasi potensi setiap lahan yang kurang dimanfaatkan dan mendefinisikan ulang nilai pembangunan untuk definisi kelayakan yang baru. Tujuan utamanya adalah menyediakan perumahan layak bagi semua orang dengan menggunakan solusi cerdas iklim yang netral karbon.

Tim Thriving Places juga akan bekerja sama dengan pemerintah kota, investor, dan mitra lainnya untuk menunjukkan jalur dan kemampuan baru dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, sekaligus berkontribusi terhadap restorasi alam, keadilan sosial, kesehatan, keamanan, lapangan kerja, dan manfaat sosial lainnya.

“Tim Thriving Places merasakan pengalaman bergabung di Bristol Smart City Challenge sebagai pengalaman yang sangat positif. Kompetisi ini menjadi tempat di mana hubungan baru dibentuk dengan banyak finalis berbeda di fase pertama kompetisi, untuk menetaskan ide-ide baru, memprovokasi satu sama lain, dan menantang satu sama lain untuk berpikir berbeda. Hal ini memungkinkan kami untuk membentuk hubungan baru yang belum pernah ada sebelumnya dan benar-benar mempertimbangkan bagaimana kami dapat menjadi berani melalui kekuatan kolektif kami untuk mengatasi tantangan kota Bristol,” ujar Zoe Metcalfe, Client Director di Atkins Global, yang bergabung dalam Thriving Places.

Kedepannya, Marvin Rees berharap Bristol Smart City Challenge dapat memotivasi kota-kota lain di Inggris dan di seluruh dunia untuk menghadapi krisis iklim dengan cara yang baru dan lebih melibatkan masyarakat.

“Bristol adalah salah satu dari 10 kota inti di Inggris yang menyumbang lebih dari seperempat perekonomian negara. Sebagai kota inti, Bristol berada pada posisi yang tepat untuk mempengaruhi perubahan dalam cara masyarakat berinteraksi dengan keadaan darurat iklim, dan untuk mengkatalisis tindakan secara regional, nasional dan internasional,” ujar Marvin Rees.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/kompetisi-inovasi-dorong-pemerintah-bristol-bangun-hunian-ramah-lingkungan-yang-terjangkau/feed/ 0