Human Centered Design – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 05:02:34 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Human Centered Design – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 5 Inovasi Medis Hasil Metode yang Berfokus pada Pengguna Hapus Hambatan di Bidang Kesehatan https://designthinking.id/kesehatan/5-inovasi-medis-hasil-metode-yang-berfokus-pada-pengguna-hapus-hambatan-di-bidang-kesehatan/ https://designthinking.id/kesehatan/5-inovasi-medis-hasil-metode-yang-berfokus-pada-pengguna-hapus-hambatan-di-bidang-kesehatan/#respond Thu, 07 Sep 2023 09:54:09 +0000 https://designthinking.id/?p=1546

Bidang kesehatan terus mengalami transformasi yang mengagumkan berkat serangkaian inovasi. Mulai dari yang mengubah cara kita mendiagnosis, mengobati dan hingga bagaimana pelayanan kesehatan diberikan.

Dari pengembangan teknologi medis mutakhir hingga pendekatan pengobatan yang lebih personal, inovasi di bidang kesehatan telah mengubah kehidupan jutaan orang di seluruh dunia dan dengan design thinking, inovasi yang diciptakan lebih mampu menjawab kebutuhan pasien dan praktisi medis.

Aspek kreativitas, empati, dan analisis yang dihadirkan design thinking telah memungkinkan penyelidikan yang lebih mendalam tentang bagaimana pasien berinteraksi dengan pengobatan mereka. Kemampuan inilah yang mendorong penciptaan inovasi medis agar lebih baik dalam merespon kebutuhan setiap pasien.

Berikut lima inovasi medis luar biasa yang dihasilkan melalui pendekatan design thinking, yang diyakini mampu membuka jendela baru menuju masa depan pelayanan kesehatan yang lebih inovatif.

1. Proses Komunikasi Teratur untuk Pasien, Stanford Hospital

Kelas Design Thinking di Stanford Hospital. (Sumber: Stanford Hospital)

Selama dua hari, 14 manajer di Stanford Hospital, California, Amerika Serikat, meninggalkan pekerjaan harian mereka sebagai ahli medis dan kembali ‘bersekolah’. Bersama-sama mereka mengikuti kursus design thinking yang disediakan d.school.

Dalam pelatihan ini, setiap peserta bermain peran sebagai keluarga pasien dan ahli medis untuk merasakan langsung bagaimana rasanya berada dalam kekacauan UGD. Tujuannya adalah untuk mencari cara dalam meningkatkan pengalaman pasien dan keluarga mereka selama berada di UGD.

Para ahli medis yang terlibat dalam kelas design thinking juga diharuskan mewawancarai pasien dan keluarganya tentang pengalaman mereka terhadap perawatan medis yang mereka dapatkan selama berada di UGD.

Hasilnya luar biasa, wawancara dan bermain peran telah mendorong mereka untuk berempati terhadap kesulitan yang dihadapi pasien dan keluarganya. Dari kursus itu, mereka mengetahui bahwa pasien menginginkan aliran informasi yang lebih teratur untuk membantu mereka meredakan kecemasan dan ketakutan mereka selama berada di UGD.

2. MRI Ramah Anak, GE Healthcare

Mesin MRI ramah anak dari GE Healthcare (Sumber: GE Healthcare)

Besarnya mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI), acapkali membuat anak-anak yang harus melewati pemeriksaan medis ketakutan. Fenomena inilah yang mendorong Doug Dietz, seorang arsitek yang telah lama bekerja di GE HealthCare, mengembangkan desain MRI yang ramah anak.

Alih-alih merancang mesin baru, Doug Dietz meluncurkan serangkaian MRI bertema petualangan yang dinamakan “The Adventure Series”. Berkat riset pengguna yang ekstensif dan uji coba rumah sakit, Doug Dietz mengubah mesin MRI dari yang menyeramkan menjadi bernuansa kapal bajak laut dengan pemandangan pantai, istana pasir, dan lautan.

Berkat solusi kreatifnya, skor kepuasan pasien naik 90%. Anak-anak tidak lagi menderita kecemasan ketika berhadapan dengan mesin pencitraan satu ini. Mesin MRI ramah anak itu juga memudahkan anak-anak untuk tetap diam selama prosedur, yang pada gilirannya mencegah dokter untuk mengulangi pemindaian. Artinya, lebih banyak pasien yang dapat dipindai setiap harinya.

3. Sarana Edukasi dan Komunikasi Menstruasi, UNICEF dan Innovesia

Ilustrasi Menstruasi (Sumber: Freepik)

Kurangnya edukasi dan maraknya stigma negatif terkait menstruasi menjadi tantangan tersendiri bagi implementasi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di tanah air. Di berbagai daerah, menstruasi kerap menimbulkan rasa tidak nyaman yang dialami siswa perempuan. Ditambah dengan perundungan dari siswa lain, membuat menstruasi kerap menjadi momok menakutkan bagi siswa perempuan di Indonesia.

Situasi inilah yang melatari kerja sama UNICEF dan Innovesia untuk memahami permasalahan nyata yang dialami siswa terkait menstruasi di lima kota besar di Indonesia yakni, Surabaya, Banda Aceh, Kupang, Makassar dan Jayapura.

Bersama-sama, UNICEF dan Innovesia, mendalami bagaimana para siswa baik perempuan dan laki-laki memahami siklus menstruasi guna membangun kesadaran dan mengedukasi para murid terkait menstruasi, khususnya MKM itu sendiri.

Dengan bimbingan dari jaringan expert Innovesia, para siswa dibimbing membuat sejumlah prototype sarana edukasi MKM, seperti pembuatan mading kelas atau sekolah, website, buku cerita hingga aplikasi mobile, yang tidak hanya mampu memberikan edukasi tapi juga menghubungkan para murid dengan para pakar untuk bisa berkonsultasi lebih lanjut mengenai MKM.

4. Kemasan Obat Tersortir, PillPack

PillPack (Sumber: PillPack)

Berkomitmen memudahkan pasien untuk meminum obat yang tepat pada waktu yang tepat, TJ Parker dan Elliot Cohen membuat PillPack, startup di bidang farmasi yang memiliki misi untuk mempermudah akses pasien terhadap obat-obatan.

Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia seperti design thinking, Parker dan Cohen mendesain seperangkat layanan yang mencerminkan pemahaman yang benar tentang para pasien. Selama proses pengujian prototype, keduanya juga memastikan bahwa setiap interaksi pelanggan dengan PillPack, mulai dari mendaftar ke layanan secara online hingga menggunakan produknya setiap hari, dapat dilakukan secara langsung dan meyakinkan.

Hal inilah yang membuat PillPack menemukan model bisnis yang tepat. Begini cara kerjanya, pasien dapat mengirimkan resep obat-obatan secara langsung ke apoteker di PillPack secara daring atau online. Setelahnya, tim apoteker di PillPack akan mengatur obat-obatan pasien ke dalam paket atau kemasan kecil yang telah disortir dan dipersonalisasi.

Dengan model layanan ini, PillPack tak hanya mempermudah pasien mendapatkan obat-obatan tapi juga mempermudah mereka mengonsumsi obat-obatan.

5. Pengukur Gula Darah Otomatis, CONTOUR USB

CONTOUR USB dari Ascensia Diabetes Care (Sumber: Ascensia)

Fenomena inilah yang mendorong Ascensia Diabetes Care bermitra dengan IDEO, untuk mendalami apa yang sebenarnya membuat banyak pasien diabetes kesulitan mendapatkan perawatan kesehatan yang mumpuni. Dari sana, Ascensia sadar bahwa banyak penderita diabetes yang merasakan stigma negatif, khususnya ketika harus melakukan pemeriksaan kadar gula darah di depan umum.

Mengetahui masalah ini, Ascensia dan IDEO lantas merancang alat pengukur gula darah yang didesain layaknya perangkat teknologi canggih. Keduanya mengembangkan “CONTOUR USB”,  alat pengukur gula darah pertama yang mampu dihubungkan langsung ke komputer. Seperti namanya, CONTOUR USB memungkinkan pasien untuk mengunggah data kadar gula darah mereka secara otomatis ke aplikasi sehingga pasien tidak perlu lagi mencatatkannya secara manual.

Inovasi ini juga dilengkapi dengan fitur smartLIGHT berwarna merah, hijau, atau kuning untuk memberikan umpan balik instan tentang apakah kadar gula darah berada di bawah atau di atas kisaran target. Dengan begitu, CONTOUR USB dapat membantu memandu pasien untuk mengambil keputusan secara real-time terkait kondisi kesehatannya.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/5-inovasi-medis-hasil-metode-yang-berfokus-pada-pengguna-hapus-hambatan-di-bidang-kesehatan/feed/ 0
Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/ https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/#respond Tue, 25 Jul 2023 07:05:25 +0000 https://designthinking.id/?p=1366 Organisasi Kesehatan Dunia () mencatat sekitar 422 juta orang di seluruh dunia menderita diabetes. Namun sayang, banyak penderita diabetes masih kesulitan mendapat akses ke pengobatan yang komprehensif.

Diabetes sendiri merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah. Penyakit satu ini tentu tidak bisa dianggap enteng karena dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. 

Pada 2019 saja misalnya, diabetes menjadi penyebab langsung 1,5 juta kematian. Di mana 48% dari seluruh kematian akibat diabetes menimpa mereka yang berusia di bawah 70 tahun. Pada tahun yang sama, 460.000 kematian akibat penyakit ginjal juga disebabkan oleh diabetes.

Perawatan kesehatan bagi mereka yang menderita diabetes tidaklah mudah. Pasalnya mereka harus menjaga kadar gula darah terkendali dengan menjaga gaya hidup yang sehat. Penderita diabetes umumnya diharuskan mengkonsumsi obat-obatan untuk menurunkan gula darah bahkan mendapatkan suntikan insulin untuk bertahan hidup. Mereka juga diwajibkan memeriksa gula darah beberapa kali sehari, menyimpan catatan aktivitas yang mendetail, hingga mencatat asupan makanan sehari-hari.

Melihat bahwa banyak penderita diabetes kesulitan melaksanakan perawatan mandiri yang dibutuhkan, , menyadari perlunya menciptakan semacam alat pengukur kadar gula dalam darah yang mampu memberi pasien informasi dan kontrol kesehatan yang lebih baik.

Perusahaan perawatan kesehatan global yang telah memimpin dalam pengobatan diabetes selama lebih dari 80 tahun itu, lantas memilih pendekatan lain dengan memahami apa yang sebenarnya mempersulit penderita diabetes untuk rutin mengecek kadar gula darah dan menciptakan solusi yang komprehensif.

CONTOUR USB, Pengukur Gula Darah Digital Pertama di Dunia

CONTOUR USB, alat pengecek gula darah dari Asensia Diabetes Care (Sumber: Ascensia)

Bermitra dengan IDEO, Ascensia sadar bahwa banyak penderita diabetes yang merasakan stigma negatif. Hal yang sama juga mereka rasakan ketika harus melakukan pemeriksaan kadar gula darah di depan umum. Mengetahui masalah ini, Ascensia dan IDEO lantas memfokuskan pengembangan solusi mereka untuk membantu mengurangi stigma negatif tersebut.

Bersama-sama, keduanya memutuskan untuk merancang alat pengukur gula darah yang didesain layaknya perangkat teknologi canggih. Ascensia memang sudah terkenal sebagai produsen alat pengukur gula darah bernama CONTOUR NEXT ONE. Namun, pendekatan human-centered design yang digunakannya kali ini tidak hanya mampu mengukur kadar gula darah, tapi mengentaskan stigma negatif sekaligus memberikan solusi kesehatan yang lebih komprehensif.

Layaknya perangkat teknologi canggih, Ascensia dan IDEO mengembangkan “CONTOUR USB”,  alat pengukur gula darah pertama yang mampu dihubungkan langsung ke komputer. Seperti namanya, CONTOUR USB memungkinkan pasien untuk mengunggah data kadar gula darah mereka secara otomatis ke aplikasi sehingga pasien tidak perlu lagi mencatatkannya secara manual. 

Inovasi ini juga dilengkapi dengan fitur smartLIGHT berwarna merah, hijau, atau kuning untuk memberikan umpan balik instan tentang apakah kadar gula darah berada di bawah atau di atas kisaran target. Dengan begitu, CONTOUR USB dapat membantu memandu pasien untuk mengambil keputusan secara real-time terkait kondisi kesehatannya.

CONTOUR Diabetes App, Bantu Penderita Diabetes Rencanakan Pola Hidup Sehat

CONTOUR USB dan Aplikasi Diabetes dari Ascensia Diabetes Care (Sumber: IDEO)

Tak berhenti hanya dengan CONTOUR USB, Ascensia melihat peluang inovasi lain dengan mengembangkan layanan kesehatan digital dalam bentuk aplikasi yang tidak hanya mampu mendokumentasikan riwayat kadar gula darah pasien, tapi juga mendokumentasikan asupan makanan dan semua faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang.

Diberi nama CONTOUR Diabetes App, aplikasi satu ini tak hanya mampu mendokumentasikan riwayat gaya hidup pasien, tapi juga memberikan pasien kontrol yang lebih besar untuk merencanakan pola hidup sehat yang dipersonalisasi, seperti rencana olahraga dan asupan nutrisi. 

Tentunya semua ini dilakukan dengan bimbingan dari tenaga tenaga medis diabetes bersertifikat, yang akan membuat program khusus berdasarkan kebutuhan masing-masing pasien. Para pasien juga akan menerima rekomendasi artikel kesehatan yang relevan dengan kondisi aktual mereka. 

Layanan kesehatan berbasis aplikasi ini memberi penderita diabetes akses ke informasi yang tepat pada waktu yang tepat dan dapat menjawab pertanyaan mereka kapan saja melalui obrolan dengan para pakar diabetes. Tujuannya adalah untuk mendorong pasien ke arah gaya hidup yang lebih sehat dan kontrol yang lebih baik terhadap kondisi mereka.

Hasilnya luar biasa, dari hasil pengujian terhadap 60 orang, hanya dua peserta yang gagal menyelesaikan penelitian. Angka ini menunjukan tingkat keberhasilan yang tinggi mengingat tingkat kepatuhan pasien terhadap terapi penyakit kronis seperti diabetes di negara maju rata-rata hanya sekitar 50%. 

Artinya, sangat sulit bagi pasien penderita penyakit kronis untuk melakukan perawatan atau terapi rutin untuk menjaga kesehatan mereka, tapi perangkat kesehatan Ascensia baik CONTOUR USB dan CONTOUR Diabetes App, telah membantu pasien untuk melakukan perawatan kesehatan secara rutin. Selain itu, para peserta juga melaporkan peningkatan drastis dalam kesehatan fisik dan mental.

Kedua inovasi di atas telah mengubah cara berinovasi Ascensia. Dengan merangkul human-centered design, Ascensia mampu melihat atau mengadopsi pandangan yang lebih luas tentang penawaran mereka, dan pada akhirnya memperluas cara mereka melayani penderita diabetes.

“Menempatkan pasien sebagai pusat dari semua yang kami ciptakan adalah inti dari Ascensia Diabetes Care. Berkolaborasi dengan IDEO selama beberapa tahun terakhir adalah contoh yang sangat baik dalam bekerja sama dengan mitra strategis untuk memenuhi kebutuhan penderita diabetes melalui inovasi,” ujar Jazz Panchoo, Kepala Strategi Global di Ascensia Diabetes Care.

best site

Memahami Kebutuhan Pasien Bersama Innovesia

Memahami kebutuhan pasien kian penting untuk mengatasi hambatan mereka untuk mendapatkan atau melaksanakan perawatan kesehatan dan membantu meningkatkan taraf hidup mereka. Semakin baik kita memahami pasien, maka semakin besar kemungkinan kita dapat merancang produk atau membangun layanan kesehatan yang bekerja dengan baik dan paling dibutuhkan oleh konsumen.

Nilai itulah yang juga diyakini , yang merupakan pelopor ekosistem open innovation di Indonesia. Innovesia percaya, kolaborasi melalui open innovation mampu menawarkan berbagai perspektif yang membantu memecahkan masalah dengan lebih baik, tak terkecuali di bidang kesehatan.

Sebagai perusahaan konsultasi yang paham betul pentingnya memahami kebutuhan pengguna sebagai dasar dalam berinovasi, Innovesia telah dipercaya lebih dari 100 mitra termasuk mereka yang berjuang membangun layanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Indonesia. Innovesia dipercaya UNICEF untuk mempelajari pemahaman siswa sekolah mengenai Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di Indonesia.

Kurangnya edukasi dan maraknya stigma negatif terkait menstruasi menjadi tantangan tersendiri bagi implementasi MKM di tanah air.  Hal itu tidak lain terjadi karena rasa tidak nyaman yang dialami murid perempuan. Masalah lain juga timbul dari perundungan yang mereka terima, terlebih jika tampak noda menstruasi pada rok murid perempuan.

Situasi inilah yang melatari kerja sama UNICEF dan Innovesia untuk memahami permasalahan nyata yang dialami murid terkait menstruasi di lima kota besar di indonesia yakni, Surabaya, Banda Aceh, Kupang, Makassar dan Jayapura. Pemahaman ini dibutuhkan untuk selanjutnya membangun kesadaran murid dan sekolah tentang pentingnya MKM.

Dari tahap berempati inilah kemudian dihasilkan sejumlah prototype untuk mengedukasi para murid terkait menstruasi, khususnya MKM itu sendiri. Beberapa prototype di antaranya, pembuatan sarana informasi dan edukasi seperti mading kelas atau sekolah, website, buku cerita hingga aplikasi mobile yang tidak hanya mampu memberikan edukasi tapi juga menghubungkan para murid dengan para pakar untuk bisa berkonsultasi lebih lanjut mengenai MKM.

Pada kesempatan lain, Innovesia juga dipercaya memperkenalkan open innovation dalam Evidence Summit 2017, sebuah program kajian mengenai bagaimana menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia dengan mengumpulkan seluruh bukti permasalahan di setiap daerah. 

Diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia () dan sebuah lembaga layanan kesehatan internasional yang mengkhususkan diri dalam kesehatan ibu dan bayi baru lahir, Evidence Summit dihadiri para pemangku kepentingan yang berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi, lembaga penelitian, sektor swasta, lembaga donor atau bantuan, dan masih banyak lagi. Tujuan utamanya adalah untuk berbagi dan menyajikan data aktual terkait angka kematian ibu di berbagai daerah di Indonesia.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/feed/ 0
Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/gaya-hidup/unilever-ciptakan-merek-skincare-baru-usai-pahami-kebutuhan-konsumen-yang-terabaikan/ https://designthinking.id/gaya-hidup/unilever-ciptakan-merek-skincare-baru-usai-pahami-kebutuhan-konsumen-yang-terabaikan/#respond Fri, 21 Jul 2023 06:18:48 +0000 https://designthinking.id/?p=1352 Menggabungkan wawasan dari puluhan dokter kulit dan konsumen, Unilever melalui pusat inovasi Polycultural Centre of Excellence (PCOE) berupaya mengembangkan produk kecantikan yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna yang belum terlayani yakni mereka yang memiliki kulit gelap atau kaya melanin.

Di Amerika Serikat, meskipun jumlah warga berkulit hitam, Hispanik dan Asia mewakili 37,3% dari keseluruhan populasi, sebuah laporan dari Food and Drug Association (FDA) menunjukkan bahwa kelompok-kelompok ini hanya memiliki sedikit keterwakilan dalam uji klinis berbagai produk kecantikan dan perawatan tubuh.

Menurut laporan FDA, individu Asia, orang berkulit hitam atau Afrika-Amerika, dan Hispanik masing-masing hanya mencapai 6%, 8%, dan 11% dari populasi uji klinis. Jumlah ini sangat kontras jika dibandingkan dengan keterlibatan orang kulit putih dalam uji klinis yang mencapai 75% dari total responden.

Atas dasar inilah Unilever menyadari bahwa ada pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa setiap uji klinis benar-benar mampu mewakili beragam demografi pengguna atau dalam hal ini konsumen mereka. Maka, Unilever mendirikan Polycultural Centre of Excellence (PCOE) agar dapat membantu mengatasi kesenjangan pengetahuan ini.

Logo Unilever (Sumber: Unilever)

Melansir laman resmi Unilever, Polycultural Centre of Excellence (PCOE) menyatukan tim dari berbagai fungsi R&D termasuk formulasi, riset konsumen, serta sains dan teknologi untuk bekerja sama dalam program ‘Melanin Science Movement”, sebuah program yang dirancang oleh Unilever untuk lebih mengembangkan pemahaman tentang melanin dan bagaimana pengaruhnya terhadap kulit.

“Meskipun kami tahu ada lebih dari 1,5 miliar konsumen dengan kulit kaya melanin dan/atau rambut bertekstur di seluruh dunia, kami juga memahami bahwa mereka memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi di bidang kecantikan, perawatan, dan kesehatan,” jelas Peter Schrooyen, Head of Beauty & Wellbeing R&D North America di Unilever, seperti dilansir dari laman resmi

Melibatkan Konsumen

Alih-alih hanya melibatkan pakar kecantikan, Unilever turut melibatkan konsumen mereka, salah satunya dalam menciptakan produk tabir surya atau sunscreen yang cocok bagi konsumen dengan kulit yang berwarna lebih gelap.

Selama penelitian, tim peneliti menemukan banyak konsumen yang masih enggan menggunakan tabir surya. Tidak sedikit dari mereka yang belum menyadari bahwa paparan sinar matahari atau sinar UV dapat menyebabkan kerusakan pada kulit kaya melanin. Melihat minimnya pengetahuan konsumen akan bahaya sinar matahari bagi kulit, Unilever merasa perlu untuk menyebarkan pesan mengenai pentingnya penggunaan Sun Protection Factor (SPF). 

Untuk mendapatkan pesan yang tepat, Unilever lantas bekerja dengan pakar kulit berwarna demi membuat penjelasan singkat mengenai pentingnya SPF untuk meminimalkan potensi kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari. Pada gilirannya, komunitas dokter kulit berbagi wawasan mereka bahwa banyak klien mereka yang enggan menggunakan tabir surya karena dapat meninggalkan lapisan putih pada kulit yang lebih gelap.

Menggabungkan sains dengan wawasan gaya hidup ini membantu Unilever menciptakan merek perawatan kulit bernama MELÉ dengan SPF bawaan, yang tak hanya mampu memberikan perlindungan bagi kulit tapi juga kecantikan. Melansir laman resmi perusahaan, MELÉ lahir dari keyakinan unik bahwa kulit yang kaya melanin harus selalu menjadi prioritas. Didukung oleh sains dan dibuat dengan bahan-bahan yang menutrisi, MELÉ dipercaya mampu meningkatkan, dan melindungi kecantikan kulit yang kaya melanin.

Rangkaian produk MELÉ (Sumber: MELÉ)

“Wanita kulit hitam dan cokelat adalah konsumen utama dan penggemar semua aspek kecantikan, namun ada kekurangan pengetahuan berbasis sains dan perawatan kulit di pasar yang dirancang khusus untuknya. Memanfaatkan kekuatan ilmu pengetahuan Unilever, bergandengan tangan dengan sekelompok dokter kulit dan konsumen dengan kulit berwarna, kami telah bersama-sama mengembangkan merek yang mengedepankan kecantikan, kekhawatiran, dan solusi untuk kulit kaya melanin. Kami harap Anda menikmatinya,” jelas Sarah Irby Brand Director di Unilever untuk wilayah North America, seperti dilansir dari laman resmi .

Satu Pengetahuan untuk Semua Merek Kecantikan

check this site out

Selain kemampuannya memenuhi kebutuhan konsumen yang sebelumnya diabaikan, kolaborasi antar pakar di Polycultural Centre of Excellence (PCOE) juga menghasilkan pengetahuan yang mampu diadopsi oleh sejumlah merek produk kecantikan dan perawatan tubuh di Unilever.

Dengan kata lain, pusat inovasi Polycultural Centre of Excellence (PCOE) tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengalaman produk konsumen yang lebih beragam dan inklusif, tetapi juga mengembangkan produk dan membawanya ke pasar dengan cepat. Salah satu contohnya adalah penemuan bahwa kulit yang kaya melanin memiliki susunan ceramide yang berbeda, yang berpotensi lebih besar untuk kehilangan kelembapan dan membuatnya cenderung lebih kering daripada jenis kulit lainnya. 

Temuan itu mendorong merek Vaseline, yang juga dimiliki Unilever untuk menambahkan produk “Ultra Hydrating Lipids” ke rangkaian produk perawatan intensif Vaseline. Bersamaan dengan ini, mereka mengembangkan formula pelembab yang ditingkatkan untuk memberikan kelembapan hingga 90% lebih baik dari sebelumnya.

Selain Vaseline dan MELÉ, merek perawatan kulit bayi, Baby Dove turut menggunakan temuan ini untuk menciptakan serangkaian produk, yang dirancang khusus untuk merawat kulit bayi yang kaya melanin dengan lembut, termasuk sabun cuci hipoalergenik, krim, dan minyak yang menenangkan.

Sebagai pusat inovasi, Polycultural Centre of Excellence (PCOE) telah menjadi rumah bagi hampir 400 ilmuwan yang berspesialisasi dalam perawatan kulit, pembersihan kulit, dan perawatan rambut. Ratusan ilmuwan itu berkolaborasi, melakukan penelitian dan pengembangan secara global untuk menciptakan produk perawatan kulit dan perawatan rambut untuk berbagai merek kecantikan di bawah Unilever, termasuk SheaMoisture, Vaseline, Dove, dan MELÉ.

“Kemitraan dengan berbagai pakar dan pemasok untuk memahami bagaimana preferensi budaya, kebiasaan, dan praktik saling terkait untuk menciptakan pengalaman kecantikan konsumen,” kata Peter Schrooyen.

Bagaimana Pemahaman Pengguna Membantu Bisnis Tetap Unggul

Memahami kebutuhan pengguna memang krusial bagi bisnis. Semakin baik perusahaan memahami penggunanya, maka semakin besar kemungkinan mereka dapat merancang produk atau membangun layanan yang bekerja dengan baik dan paling dibutuhkan oleh konsumen. Pasalnya, wawasan akan kebutuhan pengguna membantu kita mengetahui lebih dekat mengenai konsumen dan keadaan atau faktor yang mengarahkan mereka untuk menggunakan produk atau layanan.

Dalam hal ini, kebutuhan pengguna yang hendak Unilever penuhi termasuk dalam jenis kebutuhan fungsional. Menurut laman , kebutuhan fungsional berfokus pada produk atau layanan yang membantu konsumen dalam mencapai tugas atau fungsi tertentu.

Tak heran jika MELÉ, merek kecantikan Unilever yang dikembangkan melalui kolaborasi banyak pakar kecantikan termasuk dalam hal mengumpulkan wawasan pengguna, mampu meraih banyak penghargaan. Dalam kurun waktu setahun setelah diluncurkan, MELÉ menjadi salah satu merek perawatan wajah pendatang baru yang mendapatkan banyak penghargaan.

Sejak Agustus 2020 sampai Juli 2021, MELÉ mendapatkan 13 penghargaan dari berbagai media top Amerika Serikat, seperti Elle, Bazaar, Allure, Cosmopolitan dan masih banyak lagi.

Adapun, cara terbaik untuk memahami kebutuhan pengguna adalah dengan menempatkan diri kita pada posisi mereka atau berempati. Menurut perusahaan konsultasi inovasi di Indonesia, , empati sangat penting untuk pemecahan masalah karena memungkinkan perusahaan untuk mengesampingkan asumsi dan mendapatkan wawasan nyata tentang pengguna dan kebutuhan mereka.

Untuk membantu bisnis memahami kebutuhan pengguna mereka, Innovesia telah merumuskan kerangka kerja design thinking sebagai salah satu pola pikir atau metode pemecahan masalah berfokus pengguna. Dengan metode design thinking 9i, Innovesia telah membantu lebih dari 100 perusahaan, pemerintah hingga institusi pendidikan untuk berinovasi dengan memusatkan pengguna sebagai inti atau pusat dari segala tahapan inovasi.

Mulai dari merangkum wawasan dari permasalahan yang dihadapi, membangun banyak ide atau solusi untuk permasalahan, hingga mewujudkan solusi tersebut dalam bentuk prototype untuk dievaluasi hingga diterjunkan ke pasar, Innovesia membantu bisnis untuk memposisikan pengguna atau target konsumen sebagai pusat dari inovasi mereka.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/unilever-ciptakan-merek-skincare-baru-usai-pahami-kebutuhan-konsumen-yang-terabaikan/feed/ 0
General Electric Ciptakan Teknologi Baterai Baru Usai Mendalami Kebutuhan Pelanggan https://designthinking.id/teknologi/general-electric-ciptakan-teknologi-baterai-baru-usai-mendalami-kebutuhan-pelanggan/ https://designthinking.id/teknologi/general-electric-ciptakan-teknologi-baterai-baru-usai-mendalami-kebutuhan-pelanggan/#respond Mon, 12 Jun 2023 06:32:52 +0000 https://designthinking.id/?p=1178 Dengan lanskap industri yang cepat berubah, perusahaan-perusahaan mapan tak lagi bisa bersantai dengan hanya meningkatkan model bisnis yang mereka miliki. Dalam rangka memastikan pertumbuhan bisnis, korporasi kini dituntut berinovasi menciptakan model bisnis baru di tengah disrupsi eksternal.

Mengetahui bahwa baterai baru yang dikembangkan oleh unit tersebut berpotensi mengganggu industri yang telah mapan, Prescott Logan yang kala itu menjabat sebagai manajer umum departemen Energy Storage di GE memilih pendekatan baru dalam pengembangan produknya.

Alih-alih menghabiskan waktunya untuk membuat rencana bisnis, membangun pabrik dan melakukan produksi, Logan justru mencari model bisnis baru dengan melibatkan pelanggan-pelanggan GE. Logan dan timnya memilih menggali lebih dalam rasa frustasi konsumen dengan industri baterai dan mempelajari bagaimana pelanggan membeli baterai industri, seberapa sering mereka menggunakannya, dan kondisi pengoperasiannya. 

Wawasan mendalam mengenai pelanggan yang telah dikumpulkan lantas membuat perubahan besar dalam hubungan GE dengan pasar dan menemukan segmen pasar baru yakni utilitas dan menciptakan teknologi baterai baru.

Teknologi baterai Durathon sendiri menawarkan cara cerdas untuk mengatasi masalah tersebut. Sebagai bagian dari sistem penyimpanan energi sederhana, baterai Durathon produksi GE memberikan alternatif untuk struktur daya baru, yang memungkinkan energi digunakan saat dibutuhkan. Karena bahan kimia miliknya, baterai Durathon memiliki kemampuan untuk bertahan hingga dua dekade sambil memberikan waktu pengisian dan pengosongan yang optimal. Baterai Durathon sangat cocok untuk aplikasi di lingkungan bersuhu ekstrim.

“Teknologi baterai Durathon GE telah dikembangkan untuk mengubah masa depan pembangkit listrik, transmisi dan distribusi bagi pengguna akhir di seluruh dunia,” ujar Prescott Logan.

Dua tahun kemudian, GE bahkan menginvestasikan membangun fasilitas manufaktur baterai kelas dunia di Schenectady, New York, Amerika Serikat. Perusahaan juga menginvestasikan USD 150 juta (sekitar Rp2,2 triliun) untuk mengembangkan teknologi baterai Durathon melalui pengembangan material baru, teknologi manufaktur baru, dan kontrol cerdas. Menurut laporan pers, permintaan akan baterai baru GE kian tinggi.

Pentingnya Memahami Kebutuhan Pelanggan

Pentingnya Memahami Kebutuhan Pelanggan

Siapa sangka, perusahaan sebesar GE dengan bisnis yang bergerak dalam berbagai bidang antara lain kelistrikan, elektronik, permesinan, modal ventura, dan bahkan layanan keuangan, justru memilih mendengarkan pelanggan mereka sebelum mengembangkan suatu produk. Padahal dengan sumber daya yang dimilikinya, GE bisa saja langsung membangun produk baru untuk mengeksekusi ide bisnis yang dimilikinya.

Memahami kebutuhan pelanggan sangat penting bagi bisnis karena konsumen biasanya berupaya mencari produk atau layanan untuk menyelesaikan rasa frustasi atau ketidakpuasan mereka atas produk atau layanan tersebut. Kondisi inilah yang biasanya mendorong konsumen untuk beralih atau mencoba berbagai produk secara bergantian.

Atas dasar itu, sudah seharusnya sebuah bisnis berusaha sebaik mungkin memahami kebutuhan pelanggan mereka. Perusahaan harus mendalami kebutuhan, pendapat, emosi, dan motivasi orang-orang. Kabar baiknya, semua pemahaman itu dapat diperoleh dengan berempati, yang merupakan pijakan awal design thinking.

design thinking.
design thinking
user needs.
Inspiration
design thinking

Pada tahap ini, perusahaan dituntut untuk memposisikan diri di posisi orang lain atau dalam hal ini adalah konsumen yang menjadi targetnya agar mendapatkan pengalaman secara langsung. Tahap ini memungkinkan kita untuk mengartikulasikan apa yang dirasakan oleh orang lain yang solusinya hendak kita desain atau bantu penyelesaian masalahnya.

Tahap Inspiration sangat penting pada design thinking lantaran tak sedikit orang yang kesulitan untuk mengungkapkan kebutuhan dan keinginan terpendam mereka, entah itu karena keterbatasan bahasa, rasa tertekan atau bahkan ketakutan mereka untuk terbuka dan disalahpahami.

Inspiration
design thinking

Sebaliknya, melalui tahapan ini Innovesia membantu membuka peluang bagi perusahaan untuk memahami dan mendalami perasaan, kebutuhan dan interaksi pelanggan bahkan yang tersirat sekalipun.

Innovesia telah membantu lebih dari 100 perusahaan, pemerintah, organisasi dan institusi pendidikan secara lokal dan global untuk berinovasi dengan  mengimplementasikan metodologi design thinking. Salah satunya, adalah RARE Indonesia, sebuah organisasi dengan visi mendorong perubahan sosial bagi manusia dan alam.

design thinking.
agile
investigate this site

]]>
https://designthinking.id/teknologi/general-electric-ciptakan-teknologi-baterai-baru-usai-mendalami-kebutuhan-pelanggan/feed/ 0
Ubah Limbah jadi Tekstil, Ananas Anam Ciptakan Solusi Berkelanjutan Melalui Design Thinking https://designthinking.id/gaya-hidup/ubah-limbah-jadi-tekstil-ananas-anam-ciptakan-solusi-berkelanjutan-melalui-design-thinking/ https://designthinking.id/gaya-hidup/ubah-limbah-jadi-tekstil-ananas-anam-ciptakan-solusi-berkelanjutan-melalui-design-thinking/#respond Thu, 08 Jun 2023 10:13:27 +0000 https://designthinking.id/?p=1164 design thinking,
fashion

Dikenal sejak 2014 melalui produk pertamanya, Piñatex, Ananas Anam menjadi pelopor inovasi tekstil alami yang menjadi alternatif kulit pertama dan telah digunakan untuk tas fashion, alas kaki dan bahkan perabotan. 

Piñatex sendiri merupakan tekstil inovatif yang dikembangkan untuk digunakan sebagai alternatif bahan kulit alami dari serat yang diekstraksi dari daun nanas. Daun yang digunakan Ananas Anam semuanya berasal dari limbah pertanian. Alhasil, produksi Piñatex tidak melibatkan sumber daya seperti tanah, air, atau pestisida tambahan untuk menghasilkan bahan mentah.

Limbah daun nanas yang digunakan Ananas Anam dalam memproduksi tekstil alami (Sumber: Ananas Anam).

Limbah daun nanas yang digunakan Ananas Anam dalam memproduksi tekstil alami (Sumber: Ananas Anam).

Melalui valorisasi limbah, Ananas Anam mengurangi jumlah pembakaran limbah daun nanas sehingga mengurangi emisi karbon dioksida yang terlepas ke atmosfer. Adapun, setiap meter Piñatex setara dengan mencegah 12 kilogram emisi karbon dioksida.

Berkat inovasi ini, Ananas Anam telah menciptakan solusi tekstil berdampak rendah yang mendukung upaya merek dan industri untuk mengurangi emisi dan memenuhi target iklim dan keberlanjutan atau sustainability mereka.

sustainability

Inovasi Berkelanjutan yang Membawa Ananas Anam Mendunia

Inovasi Berkelanjutan yang Membawa Ananas Anam Mendunia

Perjalanan inovatif Ananas Anam dimulai saat Carmen Hijosa, seorang ahli barang-barang dari kulit atau leather goods, dipercaya menjadi konsultan di industri ekspor kulit Filipina pada tahun 1990-an. Terkejut dengan dampak lingkungan dari produksi kulit massal dan penyamakan kimia, dia menyadari bahwa produksi kulit seperti itu tidak baik jika masih dilanjutkan.

leather goods

Meski industri fashion juga telah mengenal PVC atau Polyvinyl Chloride, yang merupakan bahan plastik yang umum digunakan sebagai bahan pengganti kulit pada bahan baku pakaian, Carmen merasa PVC juga bukan solusinya. Menurut Carmen, solusi atas masalah ini harus berkelanjutan. Ia pun memutuskan untuk meneliti alternatif yang berkelanjutan, meski memakan waktu bertahun-tahun. 

fashion
Polyvinyl Chloride

Terinspirasi oleh kelimpahan sumber daya alam, termasuk penggunaan serat tanaman dalam tenun tradisional seperti pada pakaian tradisional Filipina yakni Barong Tagalog, Carmen berusaha untuk menciptakan tekstil non-anyaman alami yang dapat diproduksi secara komersial. 

Dengan Design Thinking, Carmen berupaya menciptakan solusi yang memiliki dampak sosial dan ekonomi yang positif, selagi tetap memelihara jejak karbon atau carbon footprint yang rendah. Inilah bagaimana Piñatex muncul. 

carbon footprint
design thinking

,

Ketekunannya dalam mengembangkan alternatif kulit yang alami dan berkelanjutan membuatnya mengambil gelar PhD di Royal College of Art di Inggris. mengembangkan Ananas Anam lebih lanjut melalui program inkubator di Innovation Royal College of Art.

Pinatex, tekstil alami yang diproduksi Ananas Anam dari limbah daun nanas (Sumber: Ananas Anam).

Pinatex, tekstil alami yang diproduksi Ananas Anam dari limbah daun nanas (Sumber: Ananas Anam).
read full report

Pemanfaatan serat daun nanas yang merupakan produk limbah pertanian sebagai bahan dasar Piñatex memberikan peluang untuk membangun industri komersial yang terukur untuk mengembangkan masyarakat petani, dengan dampak lingkungan yang minimal. Ananas Anam jelas menciptakan dampak sosial dengan memperkenalkan pekerjaan baru di daerah pedesaan, sambil memberikan aliran pendapatan kedua dan beragam kepada petani nanas.

Berkat inovasinya, Carmen yang kini menjabat sebagai Founder and Chief Creative & Innovation Officer di Ananas Anam, telah diakui oleh sejumlah penghargaan termasuk Cartier Women’s Initiative Award pada 2015 dan penghargaan Innovate UK Women In Innovation Award pada 2016. Tak hanya itu, Carmen juga secara teratur membagikan pandangan inovatifnya tentang keberlanjutan di berbagai acara termasuk menjadi pembicara di TEDx.

Piñatex sendiri telah digunakan di seluruh rantai industri fashion, baik sebagai aksesori maupun kain pelapis dan telah digunakan oleh lebih dari 1000 merek di seluruh dunia termasuk Hugo Boss, H&M, dan Hilton Hotel Bankside.

fashion,

Inovasi dari Hulu ke Hilir bersama Innovesia

Inovasi dari Hulu ke Hilir bersama Innovesia
end to end

Melalui layanan konsultasi yang ditawarkannya, Innovesia membantu organisasi mengembangkan strategi pengembangan bisnis, model bisnis, dan inovasi proses bisnis, mulai dari mencari wawasan mendalam, roadmap, hingga pengujian solusi hingga pengembangan produk dalam tahap implementasi. Dengan semua tahapan ini, Innovesia turut membantu mematangkan ide inovasi yang ada agar siap diluncurkan.

roadmap

Innovesia dipercaya menjadi konsultan bagi Kabupaten Tulang Bawang Barat atau Tubaba, yang berada di Provinsi Lampung, dalam merumuskan pembangunan yang dibutuhkan. Sebagai kabupaten baru di Lampung, Kabupaten Tubaba perlu menemukan jati diri dan karakter asli yang membedakan kabupaten tersebut sekaligus menjadikannya istimewa agar dapat dikenal dengan identitas yang solid.

Dalam konsultasi ini, Innovesia membantu semua proses dari nol, mulai dari memahami karakteristik wilayah hingga penduduk setempat, begitu juga dengan kebutuhan mereka. Dengan memposisikan diri sebagai penduduk asli setempat, Innovesia mampu membuat roadmap pembangunan Kabupaten Tubaba serta program kerja pemerintahan yang sesuai dengan kebutuhan dan kekhususan mereka baik dari sisi kabupaten maupun masyarakat setempat.

roadmap

Salah satu program yang terbentuk berkat konsultasi ini adalah terbentuknya Kebun Agrowisata Pulung Kencana yang ditanami aneka buah unggul, seperti buah naga dan jambu mutiara. Selain menjadi tempat wisata, kebun ini juga menjadi lokasi praktik pertanian bagi para pelajar dan petani.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/ubah-limbah-jadi-tekstil-ananas-anam-ciptakan-solusi-berkelanjutan-melalui-design-thinking/feed/ 0
Gagal Memahami User Needs, Startup Triangulate Terpaksa Gulung Tikar https://designthinking.id/teknologi/gagal-memahami-user-needs-startup-triangulate-terpaksa-gulung-tikar/ https://designthinking.id/teknologi/gagal-memahami-user-needs-startup-triangulate-terpaksa-gulung-tikar/#respond Wed, 07 Jun 2023 08:49:48 +0000 https://designthinking.id/?p=626 Banyak startup berlomba menawarkan kebaruan teknologi dalam menciptakan produk atau jasa. Tak sedikit yang percaya bahwa kebaruan yang mereka bawa akan sangat menarik dan laku di pasaran. Tanpa berbicara pada target konsumen, startup sepenuhnya mempercayakan asumsi atau penilaian mereka ketika mengembangkan produk atau jasa baru.

startup
startup

Sayangnya, mendasarkan bisnis pada asumsi-asumsi ini tak akan membawa startup menuju kesuksesan. Inilah yang terjadi dengan startup Triangulate ketika menciptakan aplikasi kencan sosial yang secara otomatis mengekstrak data profil konsumen dari jejaring sosial mereka.

startup
startup

Meski berhasil mengumpulkan pendanaan hingga USD 750.000 (setara dengan Rp11,6 miliar) dari venture capital, aplikasi kencan bernama Wings yang dikembangkan Triangulate harus berujung pada bangkrutnya perusahaan.

venture capital

Kisah kegagalan Triangulate dimulai pada 2010 ketika pendirinya, Sunil Nagaraj awalnya bermaksud menciptakan sebuah software atau perangkat lunak bagi aplikasi kencan, yang mampu secara otomatis mengekstrak data profil konsumen dari jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Spotify, dan Netflix. Software tersebut kemudian akan menggunakan algoritma untuk memasangkan pengguna yang selera dan kebiasaannya menunjukkan bahwa mereka mungkin cocok secara romantis. 

software
Software tersebut

Alih-alih mendirikan aplikasi kencannya sendiri, software itu awalnya hendak dilisensikan Triangulate ke situs kencan yang sudah ada seperti eHarmony dan Match. Namun, Venture Capital menolak memberikan pendanaan untuk mendukung rencana Nagaraj dan meminta ia untuk lebih dulu menandatangani kesepakatan lisensi.

software

Bergerak dengan cepat untuk membuktikan kepada calon pemegang lisensi bahwa software yang diciptakannya berfungsi dengan baik, Nagaraj memutuskan untuk menggunakan software tersebut demi memperkuat situs kencan yang Triangulate buat sendiri.

software
software
article source

Gagasannya berhasil, Nagaraj mengumpulkan USD 750.000 atau sekitar Rp11,6 miliar yang digunakan Triangulate untuk meluncurkan situs kencan bernama Wings. Berkat software pencocokan yang diciptakan Nagaraj, Wings secara otomatis mengisi profil pengguna dengan menghubungkan ke Facebook dan layanan online lainnya.

software

Keunikan lain yang dimiliki Wings adalah pengguna dapat mengundang teman Facebook mereka sebagai “Wingman” yang dalam hal ini mengacu sebagai mak comblang. Namun, keunikan dan kebaruan yang dimiliki Wings dalam ranah aplikasi kencan tak lantas membawanya menjadi aplikasi kencan yang diminati.

Kurang dari setahun mengudara, Nagaraj memutuskan tak lagi menggunakan algoritma pencocokan berdasarkan profil jejaring media sosial pengguna, ia pun meninggalkan konsep Wingman yang dibanggakan. 

Ternyata, pengguna tak sepenuhnya tertarik dengan algoritma tersebut. Sebaliknya, pengguna lebih menyukai kecocokan yang didasarkan pada daya tarik fisik, kedekatan, dan tanggapan calon pasangan terhadap pesan, dan semua ini adalah kriteria yang umum digunakan banyak situs kencan yang ada. Terkait peran Wingman, banyak pengguna yang justru merasa tidak nyaman menjadikan kehidupan kencan mereka sebagai buku terbuka bagi teman-teman mereka.

Walaupun basis pengguna Wings tumbuh, keterlibatan pengguna yang dilaporkan jauh lebih rendah dari yang diharapkan. Pendapatan per pengguna juga jauh dari proyeksi Nagaraj. Wings juga kesulitan mendapatkan pengguna baru. Dengan model bisnis yang tidak berkelanjutan, Nagaraj dan timnya harus memutar otaknya untuk menyelamatkan bisnisnya di tengah saldo kas yang menipis.

Meski sempat menawarkan ide baru dengan menciptakan aplikasi kencan baru bernama DateBuzz, Triangulate tetap dihadapkan pada kegagalan. Tak yakin dengan prospek bisnisnya, Nagaraj lantas memutuskan untuk menutup Triangulate dan mengembalikan USD 120.000 atau sekitar Rp1 miliar kepada investor.

Memulai dengan Awal yang Salah

Memulai dengan Awal yang Salah
Why Startup Fail
,
user needs.

Meski membawa kebaruan dalam hal algoritma pencocokan dalam aplikasi kencan, tak ada konsumen yang membutuhkan pencocokan yang didasarkan pada profil dan aktivitas jejaring media sosial pengguna. Sebaliknya, pengguna aplikasi kencan lebih nyaman dengan kriteria pencocokan yang umum digunakan aplikasi kencan.

startup
No User Needs”
startup
startup

Memahami kebutuhan pelanggan kian penting karena dapat membantu bisnis untuk mengungkapkan dan memahami siapa konsumen kita dan keadaan atau faktor  yang mengarahkan konsumen untuk menggunakan produk atau layanan. Semakin baik kita memahami pelanggan, maka semakin besar kemungkinan kita dapat merancang produk atau membangun layanan yang bekerja dengan baik dan paling dibutuhkan oleh konsumen. 

State of the Connected Customer

Atas dasar itu Steve Blank, yang dikenal luas sebagai guru startup, menuntut startup untuk menyelesaikan fase wawancara dengan calon pelanggan sebelum mulai membangun produk. Wawancara ini ditujukan untuk menyelidiki kebutuhan pelanggan yang kuat dan belum terpenuhi.

startup,
startup

Dalam wawancara Eisenmann dengan Nagaraj tentang kegagalan Triangulate, dia mengakui telah melewatkan langkah penting ini. Dia dan timnya gagal melakukan penelitian awal untuk memvalidasi permintaan akan mesin yang cocok atau daya tarik konsep wingman. Alih-alih meluncurkan prototype dan mengujikannya dengan calon konsumen, Triangulate bergegas meluncurkan Wings. 

wingman
prototype

Pahami User Needs dengan Metode Rancangan Innovesia

Pahami
User Needs
User Needs
dengan Metode Rancangan Innovesia


user needs

Design thinking sendiri merupakan sebuah proses dan pola pikir untuk berempati dengan masalah yang berfokus pada manusia. Design thinking menekankan pada siklus yang berulang untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk mempertanyakan masalah, meragukan asumsi dan implikasinya. Karena itulah aplikasi design thinking mendorong perusahaan untuk menciptakan solusi yang memenuhi kebutuhan nyata pelanggan mereka. 

Design thinking
Design thinking
design thinking

Melalui design thinking, ide bisnis yang ditawarkan diharapkan dapat menjadi solusi yang benar-benar menjawab kebutuhan target penggunanya atau product market-fit dan bukan mengedepankan teknologi atau fiturnya.

design thinking
product market-fit

Innovesia percaya, inovasi tidak berasal dari teknologi, produk atau fitur, tetapi dari kebutuhan manusia, pola pikir, dan empati. Tujuan utama dari tahapan ini adalah untuk mengembangkan pemahaman terbaik tentang pelanggan, kebutuhan mereka, dan masalah yang mendasari pengembangan produk atau layanan yang ingin Anda ciptakan atau perbaiki. 

 

]]>
https://designthinking.id/teknologi/gagal-memahami-user-needs-startup-triangulate-terpaksa-gulung-tikar/feed/ 0
3 Alasan Mengapa Empati Sangat Krusial dalam Design Thinking https://designthinking.id/edukasi/3-alasan-mengapa-empati-sangat-krusial-dalam-design-thinking/ https://designthinking.id/edukasi/3-alasan-mengapa-empati-sangat-krusial-dalam-design-thinking/#respond Thu, 11 May 2023 10:50:00 +0000 https://designthinking.id/?p=746 design thinking
design thinking.

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, empati merupakan keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Sementara menurut Interaction Design Foundation, empati merupakan kemampuan untuk melihat dunia melalui mata orang lain. Tujuannya, supaya dapat melihat apa yang mereka lihat, merasakan apa yang mereka rasakan, dan mengalami hal-hal seperti yang mereka alami. 

Interaction Design Foundation,

Human-Centered Design Toolkit dari firma desain dan konsultasi populer yang berbasis di Amerika sejak 1991, IDEO menekankan, empati dalam design thinking mengharuskan kita mempelajari kesulitan yang dihadapi orang dan mengungkap kebutuhan dan keinginan terpendam mereka untuk menjelaskan perilaku mereka. Meski tak ada seorang pun yang dapat sepenuhnya merasakan atau mengalami hal-hal seperti yang dialami orang lain, kita harus berusaha sedekat mungkin dengan hal ini.

Human-Centered Design Toolkit
design thinking

Empati dengan Simpati

Empati dengan Simpati

Banyak orang yang masih terkecoh dengan empati dan simpati, dan dalam menerapkan pendekatan design thinking, kekeliruan ini harus dihindari. 

design thinking,

Apabila empati adalah tentang mencoba merasakan apa yang dirasakan orang lain dan sejenisnya, simpati berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk menunjukkan kepedulian terhadap orang lain, tanpa harus memahami perasaan mereka atau mengalami apa yang orang lain lakukan. 

Dengan kata lain, orang yang bersimpati seringkali tidak merasa terikat dan melibatkan perasaan iba atau kasihan. Perasaan ini tidak hanya berpotensi membuat orang salah paham, tetapi juga terbukti tidak berguna dalam pendekatan design thinking. Karena tujuan utama design thinking adalah memahami pelanggan dan bukan bereaksi terhadap kesulitan mereka dengan cara yang emosional.

design thinking.
design thinking

Design thinking mengharuskan pengguna pendekatan ini untuk memposisikan diri sebagai pelanggan untuk memahami mereka dan apa yang mereka butuhkan. Semuanya dilakukan agar kita dapat menciptakan solusi yang membantu memecahkan masalah yang mereka hadapi, dan semua ini membutuhkan empati bukan simpati.

Design thinking

Manfaat Empati dalam Design Thinking

Manfaat Empati dalam
Design Thinking
Design Thinking

Empati sangat penting untuk pemecahan masalah melalui design thinking yang berpusat pada manusia karena memungkinkan perusahaan mengesampingkan asumsi mereka sendiri untuk mendapatkan wawasan nyata tentang pengguna dan kebutuhan mereka.

design thinking
design thinking
design thinking
Inspiration.

Empati adalah dasar dari design thinking. Sebagai “design thinker“, kita harus dapat memahami semua perasaan, pikiran, keluhan, harapan, dan kebiasaan orang-orang yang terhubung pada masalah yang sedang kita fokuskan. Karena itu, setiap indera, perasaan, dan pikiran harus difokuskan dan dipusatkan pada orang tersebut. Istilahnya dalam bahasa Inggris “putting ourselves into their shoes“. Pada tahap ini kita bisa bertanya apa saja, untuk dapat lebih memahami mereka.

design thinking
design thinker
putting ourselves into their shoes

Berikut tiga alasan mengapa empati sangat penting dalam design thinking:

design thinking:

1. Lebih memahami pelanggan

1. Lebih memahami pelanggan

Karena design thinking berpusat pada pengguna, berempati bertujuan untuk mengembangkan pemahaman terbaik tentang pelanggan, kebutuhan mereka, dan masalah yang mendasari pengembangan produk atau layanan yang ingin dibuat.

design thinking

Dengan memposisikan diri sebagai pelanggan, perusahaan mampu berinovasi sesuai kebutuhan aktual pelanggan daripada hanya berasumsi. Pemahaman ini juga bisa digunakan untuk mengadvokasi pelanggan potensial seputar mengapa suatu produk cocok untuk mereka.

Saat kita membenamkan diri dalam lingkungan orang yang kita target, seringkali kita bisa mendapatkan perspektif yang sama sekali berbeda dari yang diharapkan.

2. Mendorong kesuksesan bisnis

2. Mendorong kesuksesan bisnis

Empati dianggap sebagai komponen penting dari solusi bisnis karena empati memungkinkan perusahaan memperoleh wawasan penting tentang pelanggan dan hal ini krusial jika perusahaan ingin tetap relevan di pasar. Tanpa empati, besar kemungkinan perusahaan akan membuat solusi yang benar-benar meleset dari keinginan pasar.

safe

Banyak pemimpin dalam bidang inovasi, pembelajaran, dan kewirausahaan telah menunjukkan tiga parameter kunci yang menentukan produk atau layanan yang sukses, yakni  keinginan, kelayakan, dan kelangsungan hidup.

Artinya, tidaklah cukup bahwa produk itu ada dan membawa manfaat, tapi juga butuh pelanggan untuk merasakan keinginan terhadap produk atau layanan tersebut agar tetap kuat di pasar. Dengan kata lain, perusahaan hanya bisa merancang produk atau layanan yang diinginkan ketika kebutuhan, pengalaman, keinginan, dan preferensi orang dipahami dengan benar.

3. Empati membantu kita membaca yang tersirat

3. Empati membantu kita membaca yang tersirat

Daripada sekedar memahami apa yang orang katakan, empati memberi peluang bagi kita untuk secara menyeluruh memahami apa yang orang itu maksudkan. Pada aspek ini, empati sangat bermanfaat ketika pelanggan yang coba dipahami cenderung menutupi detail ketika mereka berbagi cerita dan informasi lainnya atau ketika mereka mengekspresikan diri mereka dengan cara yang kurang jelas.

Mereka mungkin menahan informasi karena takut, tidak percaya, atau faktor penghambat lainnya baik itu internal atau berdasarkan orang-orang yang terlibat dengan mereka. Interaction Design Foundation menekankan empati membantu kita memahami apa yang tidak dikatakan dan apa yang diisyaratkan di bawah ekspresi dan kata-kata eksternal.

Interaction Design Foundation

]]>
https://designthinking.id/edukasi/3-alasan-mengapa-empati-sangat-krusial-dalam-design-thinking/feed/ 0
Mengenal Metode What-How-Why, Apa Pentingnya dalam Inovasi? https://designthinking.id/edukasi/mengenal-metode-what-how-why-apa-pentingnya-dalam-inovasi/ https://designthinking.id/edukasi/mengenal-metode-what-how-why-apa-pentingnya-dalam-inovasi/#respond Tue, 09 May 2023 09:42:29 +0000 https://designthinking.id/?p=691 design thinking.

Dengan berempati, kita dituntut untuk mengesampingkan pembelajaran, budaya, pengetahuan, pendapat, dan pandangan yang dimiliki demi memahami pengalaman orang lain tentang berbagai hal secara mendalam dan bermakna. Agar berhasil, empati mengharuskan kita untuk meninggalkan prasangka terhadap orang lain.

Walau empati merupakan bawaan lahir manusia, pendidikan, lingkungan, dan pengalaman kita sebelumnya dapat membentuk penilaian subjektif atau prasangka tentang orang lain yang membuat kita kesulitan mengenal atau memahami mereka. 

Di banyak titik dalam proyek inovasi berdasarkan design thinking, kita akan mewawancarai pelanggan, baik ketika mencoba membangun pemahaman tentang pengguna di tahap awal, maupun setelah menguji prototipe dengan mereka. Ketika melewati dua tahap ini, kita diharuskan mengajukan pertanyaan kepada mereka untuk menyelidiki lebih dalam emosi dan perilaku mereka.

design thinking

Selama wawancara, kita harus terus mengajukan pertanyaan “Mengapa?” secara konstan, terlepas dari apakah kita mungkin berpikir sudah tahu jawabannya. Langkah ini penting dilakukan karena bukan tidak mungkin pelanggan akan memiliki jawaban sendiri yang menantang asumsi kita tentang mereka. 

Karena itu, menjadi pendengar yang penuh empati ketika menjalankan proyek dengan pendekatan design thinking bukanlah perkara mudah. Kita tak hanya dituntut untuk sekedar mendengarkan pelanggan, tapi juga memahami apa yang mereka katakan dan mendalami apa yang tidak mereka katakan. 

design thinking

Kabar baiknya, kita dapat belajar mengembangkan rasa empati untuk membentuk pemahaman yang mendalam dan tulus terhadap pelanggan. Terlebih, ada banyak teknik yang dapat digunakan untuk mengembangkan empati semacam ini, salah satunya melalui metode What-How-Why. 

What-How-Why. 

Apa itu metode What-How-Why?

apply now
Apa itu metode
What-How-Why?
What-How-Why?

Interaction Design Foundation mengartikan What-How-Why sebagai alat yang dapat digunakan saat mengamati orang untuk membantu kita menyelami pengamatan dan mendapatkan tingkat pemahaman yang lebih dalam.

Interaction Design Foundation
What-How-Why

Sementara Hasso Plattner Institute of Design (d.school) di Stanford University, merumuskan metode What-How-Why sebagai alat yang memungkinkan kita beralih dari pengamatan konkret atas situasi tertentu ke emosi dan motif yang lebih abstrak yang berperan dalam situasi itu. Metode What-How-Why disebut d.school sangat berguna untuk dimanfaatkan sebagai alat dalam menganalisis gambar yang mungkin kita ambil saat mengamati pelanggan.

Hasso Plattner Institute of Design
Stanford University
What-How-Why
What-How-Why

Lebih jelasnya, dengan metode What-How-Why, kita mulai dengan pengamatan konkret atau ‘Apa’. Kemudian beralih ke tingkat abstraksi yang lebih tinggi dengan menanyakan ‘Bagaimana‘, sementara aspek ‘Mengapa’ merupakan pendorong emosional di balik perilaku orang yang juga perlu diamati. Berikut penjabaran lebih jelas mengenai metode What-How-Why:

What-How-Why,
What-How-Why:

  1. What
  • What
  • What
    What

    Dalam what, kita diharuskan mencatat detail dari apa yang terjadi. Apa yang pelanggan lakukan, apa yang terjadi di sekitarnya ketika ia melakukan hal itu, apa yang dipegangnya dan jelaskan sekonkret mungkin menggunakan kata sifat.

    what,

    2. How 

    2. How 
    How

    How atau bagaimana mencoba menjelaskan bagaimana orang tersebut atau dalam hal ini pelanggan, melakukan apa yang dia lakukan. Misalnya, apakah orang tersebut berusaha keras atau apakah dia justru mengerutkan kening atau tersenyum saat menjelaskan sesuatu atau ketika mereka menggunakan produk atau layanan. Singkatnya, how mengharuskan kita untuk menggambarkan dampak emosional produk atau layanan pada pelanggan.

    How
    how

    3. Why

    3. Why
    Why

    Terakhir, cobalah untuk menginterpretasikan adegan tersebut ketika memasuki aspek why. Berdasarkan pengamatan pada what dan how, tebak pendorong emosional di balik orang yang kita amati. Orang tersebut mungkin mengerutkan kening karena dia khawatir akan melukai dirinya sendiri dalam prosesnya. Hal ini menandakan bahwa pelanggan kita kemungkinan mengkhawatirkan keselamatannya ketika berinteraksi dengan produk atau layanan.

    why
    what
    how

    ]]>
    https://designthinking.id/edukasi/mengenal-metode-what-how-why-apa-pentingnya-dalam-inovasi/feed/ 0
    Keuntungan Menguji Prototype Bagi Keberhasilan Inovasi https://designthinking.id/edukasi/keuntungan-menguji-prototype-bagi-keberhasilan-inovasi/ https://designthinking.id/edukasi/keuntungan-menguji-prototype-bagi-keberhasilan-inovasi/#respond Wed, 19 Apr 2023 11:55:00 +0000 https://designthinking.id/?p=811 prototype
    prototype

    Prototype dapat dalam bentuk apapun, dari hal-hal sederhana seperti gambar pada selembar kertas, atau arsitek bangunan bergaya sketsa, atau prototype yang lebih maju dari program atau aplikasi komputer. 

    Prototype 
    prototype

    Prototype sering digunakan dalam tahap pengujian akhir dalam proses design thinking untuk menentukan bagaimana pelanggan atau konsumen berinteraksi dengan prototype. Dengan membuat konsep menjadi nyata, kita dapat lebih memahami mekanika yang mendasarinya dan membuat penilaian berdasarkan informasi.

    Prototype
    design thinking
    prototype

    Tujuan dari pembuatan prototype ini adalah untuk mengubah ide menjadi sesuatu yang real yang dapat diuji pada pelanggan. Jadi, hal penting dari prototype adalah dapat menggambarkan ide yang ingin diwujudkan dan membuat semua orang dapat berinteraksi dengan ide tersebut. Kemudian, uji ke target pelanggan untuk mendapatkan wawasan, ulangi dan berikan cerita kepada target pelanggan untuk menciptakan dampak yang lebih tahan lama. 

    prototype
    real 
    prototype

    Mengingat design thinking adalah memusatkan pemecahan masalah pada pelanggan atau human-centric, akan sangat sia-sia apabila pengembang menghasilkan produk jadi tanpa menciptakan dan menguji prototype terlebih dahulu karena produk atau layanan yang dihasilkan kemungkinan besar kurang atau bahkan gagal memenuhi kebutuhan pelanggan. Hal ini tentu akan membuat biaya produksi menjadi sia-sia, dan mengharuskan perusahaan mengembangkan solusi atas masalah yang sama secara berulang.

    design thinking

    human-centric,
    prototype

    Setelah membuat prototype, ini saatnya untuk menempatkan prototipe di depan pelanggan sesungguhnya dan melihat bagaimana mereka bereaksi dan berinteraksi dengan prototipe tersebut. Amati bagaimana orang berinteraksi dengan purwarupa tersebut. 

    prototype,

    Perhatikan baik-baik, apakah fitur yang telah didesain diterima dengan baik atau tidak atau apakah ada hal-hal yang sesuai dan tidak sesuai dengan harapan ketika orang menggunakan purwarupa tersebut. Di sini kita harus mencatat apa saja poin untuk meningkatkan fitur purwarupa sehingga bisa lebih baik.

    anchor

    Proses ini akan membantu pengembang mengungkapkan solusi baru untuk masalah, atau untuk mengetahui apakah solusi yang diimplementasikan berhasil atau tidak. Singkatnya, pembuatan prototype bertujuan  untuk mengubah ide menjadi sesuatu yang real yang dapat diuji pada pelanggan. 

    prototype
    real

    Hasil yang dihasilkan dari pengujian prototype kemudian digunakan untuk mendefinisikan kembali satu atau lebih masalah yang ditetapkan pada fase awal proyek.

    prototype

    Pedoman Prototype Ala Innovesia

    Pedoman Prototype
    Prototype
    Ala Innovesia

    Meski design thinking merupakan proses non-linear, bukan berarti kita boleh melakukannya dengan asal. Penting untuk diingat bahwa prototype seharusnya menjadi proses evaluasi yang cepat dan mudah. Berikut beberapa panduan yang akan membantu kita dalam tahap prototype:

    design thinking
    prototype
    prototype:

    1. Mempertimbangkan pelanggan

    1. Mempertimbangkan pelanggan

    Karena fokus design thinking adalah pelanggan, penting untuk melibatkan pelanggan ketika menguji prototype. Selama itu, coba amati apakah interaksi pelanggan dengan produk atau kepuasan mereka sesuai dengan harapan yang kita miliki atau tidak. Jika tidak, maka belajarlah dari kesenjangan antara harapan dan kenyataan itu untuk meningkatkan ide kita.

    design thinking
    prototype.

    2. Mulailah membangun prototype

    2. Mulailah membangun
    prototype
    prototype

    Ketika menjalankan proses design thinking, kita mungkin akan berlarut-larut pada tahap Inspiration dan Ideation yang menuntut pengembang untuk menghasilkan ide atau solusi dari masalah yang hendak diselesaikan. Pada tahap ini, kita mungkin akan meragukan sejumlah ide yang telah dikantongi. 

    design thinking,
    Inspiration
    Ideation

    Walau proses ini bagus untuk memvalidasi ide kita, berlarut-larut bisa membuat kita menjadi stuck, sebaiknya pilih beberapa ide potensial untuk dikembangkan menjadi prototype. Membuat prototype akan membantu kita memikirkan ide kita secara konkret, dan berpotensi memungkinkan kita mendapatkan wawasan tentang cara meningkatkan ide Anda.

    stuck
    prototype.
    prototype

    3. Buat prototype dalam waktu singkat

    3. Buat prototype dalam waktu singkat
    prototype

  • Menghabiskan banyak waktu untuk membangun prototype bisa memicu kita untuk semakin terikat secara emosional dengan ide yang kita miliki. Hal ini akan menghambat kemampuan kita untuk menilai manfaatnya secara objektif. Sebaiknya, cobalah untuk berpegang teguh pada masalah yang ingin kita selesaikan melalui pengujian tanpa sepenuhnya melupakan aspek lain yang dapat dipelajari.

    prototype

    ]]>
    https://designthinking.id/edukasi/keuntungan-menguji-prototype-bagi-keberhasilan-inovasi/feed/ 0
    Berempati Terhadap Kebutuhan Pelanggan dengan Prototype https://designthinking.id/edukasi/berempati-terhadap-kebutuhan-pelanggan-dengan-prototype/ https://designthinking.id/edukasi/berempati-terhadap-kebutuhan-pelanggan-dengan-prototype/#respond Thu, 06 Apr 2023 11:40:57 +0000 https://designthinking.id/?p=807 Meski prototype umumnya digunakan untuk mengevaluasi ide-ide yang dihasilkan selama proses design thinking, prototype juga dapat digunakan untuk mengembangkan empati terhadap pelanggan Anda, sekalipun Anda tidak memiliki produk atau layanan untuk diuji.  

    prototype
    design thinking, prototype
    learn the facts here now

    Dengan cara yang sama prototype membantu perusahaan untuk mendapatkan pemahaman tentang konsep produk yang tengah mereka kembangkan, prototype empati yang juga disebut “empati aktif”, dapat membantu Anda meraih pemahaman tentang ruang desain dan pola pikir pelanggan mengenai masalah tertentu. 

    prototype
    prototype

    Melalui prototype, Anda tidak hanya bertindak sebagai pengamat, tapi juga menciptakan kondisi untuk mengungkap informasi baru yang berbeda dari sekadar wawancara dan observasi. Menggunakan prototype juga bisa menjadi cara yang bagus untuk melakukan percakapan dengan pelanggan.

    prototype,
    prototype

    Menurut modul design thinking oleh d.school, prototype empati paling baik digunakan ketika Anda ingin menggali lebih dalam ke area tertentu atau menyelidiki wawasan yang sedang dikembangkan oleh tim Anda. 

    design thinking
    prototype

    User-Driven Prototype

    User-Driven Prototype
    User-Driven Prototype

    Salah satu cara untuk membangun empati aktif adalah melalui prototype berbasis pengguna atau user-driven prototype. Jika umumnya Anda membiarkan pengguna mencoba prototype yang Anda kembangkan untuk mendapatkan wawasan, user-driven prototype bertujuan untuk mendapatkan pemahaman dengan membiarkan pengguna membuat atau merancang sesuatu.

    prototype
    user-driven prototype.
    prototype
    user-driven prototype

    Pendekatan untuk membuat user-driven prototype adalah menyiapkan format bagi pengguna Anda untuk membuat sesuatu. Misalnya dapat berupa memberikan selembar kertas kosong kepada pelanggan dan memintanya untuk menggambar fitu, produk atau layanan yang seharusnya, seperti meminta mereka menggambarkan alur berobat ke dokter yang seharusnya, menyusun sesuatu seperti tata letak situs web yang nyaman bagi mereka, hingga membuat permainan kartu sederhana yang memaksa pengguna untuk membuat pilihan terkait dengan tantangan desain Anda.

    user-driven prototype

    Ketika Anda meminta pelanggan untuk membuat aspek desain mereka sendiri, Anda tengah berupaya untuk mengungkap asumsi dan keinginan yang berbeda dan tentunya lebih dalam, dari yang dihasilkan ketika sekedar meminta pelanggan mengevaluasi prototype yang sudah ada. 

    prototype

    Atas dasar itu, d.school menjelaskan user-driven prototype bukan bertujuan untuk mengambil apa yang mereka buat dan mengintegrasikannya ke dalam desain Anda, melainkan untuk memahami pemikiran mereka dan mungkin mengungkapkan kebutuhan dan fitur yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan oleh Anda.

    user-driven prototype

    Berikut 6 panduan membuat prototype empati seperti yang dirangkum dari modul d.school:

    prototype

    1. Hal pertama yang harus dilakukan adalah pikirkan dan tentukan tentang aspek yang ingin Anda pelajari lebih lanjut, lalu diskusikan cara Anda dapat menyelidiki subjek itu.
    2. Rumuskan prototype yang akan mengevaluasi aspek yang hendak dipelajari secara efektif. Misalnya, jika Anda ingin mengetahui pola pikir pengguna terhadap membaca, Anda dapat meminta pengguna untuk menggambar pendapat mereka tentang membaca.
    3. Setelah selesai, Anda bisa bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka gambar dan cobalah untuk memahami cara berpikir mereka.
    4. Pertimbangkan untuk menjalankan beberapa pengujian prototype sekaligus yang memungkinkan Anda menguji berbagai asumsi dan ide dengan cepat.
    5. Menangkap semua umpan balik atau feedback yang relevan dari orang-orang yang Anda rancang atau dalam hal ini adalah pelanggan Anda. Umpan balik pada tahap ini bisa mencakup apa yang pelanggan suka, atau fitur yang mereka ingini.
    6. Lanjutkan iterasi dengan terus belajar, beradaptasi, membuat prototype baru, dan mengujinya.
  • Hal pertama yang harus dilakukan adalah pikirkan dan tentukan tentang aspek yang ingin Anda pelajari lebih lanjut, lalu diskusikan cara Anda dapat menyelidiki subjek itu.
  • Rumuskan prototype yang akan mengevaluasi aspek yang hendak dipelajari secara efektif. Misalnya, jika Anda ingin mengetahui pola pikir pengguna terhadap membaca, Anda dapat meminta pengguna untuk menggambar pendapat mereka tentang membaca.
  • prototype

  • Setelah selesai, Anda bisa bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka gambar dan cobalah untuk memahami cara berpikir mereka.
  • Pertimbangkan untuk menjalankan beberapa pengujian prototype sekaligus yang memungkinkan Anda menguji berbagai asumsi dan ide dengan cepat.
  • prototype

  • Menangkap semua umpan balik atau feedback yang relevan dari orang-orang yang Anda rancang atau dalam hal ini adalah pelanggan Anda. Umpan balik pada tahap ini bisa mencakup apa yang pelanggan suka, atau fitur yang mereka ingini.
  • feedback

  • Lanjutkan iterasi dengan terus belajar, beradaptasi, membuat prototype baru, dan mengujinya.
  • prototype

    ]]>
    https://designthinking.id/edukasi/berempati-terhadap-kebutuhan-pelanggan-dengan-prototype/feed/ 0