ESG – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 04:57:57 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png ESG – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Buktikan Komitmen Berkelanjutan Perusahaan, United Tractors Raih Sertifikat Greenship Net Zero Healthy Building https://designthinking.id/teknologi/buktikan-komitmen-berkelanjutan-perusahaan-united-tractors-raih-sertifikat-greenship-net-zero-healthy-building/ https://designthinking.id/teknologi/buktikan-komitmen-berkelanjutan-perusahaan-united-tractors-raih-sertifikat-greenship-net-zero-healthy-building/#respond Mon, 09 Oct 2023 07:42:15 +0000 https://designthinking.id/?p=1613 Krisis iklim dan seiring cita-cita Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060, mengurangi emisi gas rumah kaca kian menjadi langkah krusial yang harus ditempuh. Tak terkecuali dalam mendesain bangunan yang ramah lingkungan. Pasalnya, bangunan bertanggung jawab atas 39% emisi karbon global dan menjadikannya sebagai sektor penyumbang terbesar terhadap perubahan iklim.

Atas dasar itu untuk mencapai emisi nol bersih guna mempertahankan suhu di bawah batas 1,5 derajat Celcius, emisi global dari bangunan harus dikurangi sebesar 90% dari tingkat emisi tahun 2015. Tujuan ini tentunya hanya bisa ditempuh melalui peningkatan efisiensi, pengurangan permintaan energi dan elektrifikasi, sekaligus dekarbonisasi secara menyeluruh di sektor kelistrikan dan langkah inilah yang berusaha dicapai oleh United Tractors.

Sebagai penyandang sertifikat Greenship Net Zero Healthy Building, United Tractors sekali lagi telah membuktikan komitmennya terhadap infrastruktur berkelanjutan dengan membangun gedung-gedung ramah lingkungan yang mengedepankan kesehatan dan kebersihan ekosistem.

Menciptakan Gedung Kantor yang Berkelanjutan dengan Merangkul Energi Terbarukan

United Tractors raih Rekor Muri (Sumber: UT)

Gedung kantor pusat United Tractors yang berlokasi di Cakung, Jakarta Timur dibangun dengan kombinasi desain arsitektur tropis dengan bangunan komersial industri modern, di mana eksterior maupun interior gedung telah menerapkan konsep ramah lingkungan yang berkesinambungan. Mengusung konsep net zero carbon, gedung ini memanfaatkan sumber daya terbarukan, panel surya, untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi operasional gedung.

Selain bergantung pada sumber energi terbarukan yang merupakan salah satu penilaian sertifikasi Greenship Net Zero Healthy Building, gedung United Tractors juga telah memenuhi tiga kriteria lainnya, yakni penggunaan ventilasi dan pencahayaan alami; optimalisasi kinerja sistem pendingin udara, penerangan dan peralatan lainnya; juga menciptakan kualitas udara yang sehat dan nyaman dalam gedung.

Bagaimana tidak, gedung United Tractors memiliki area dengan luas keseluruhan 10.591 meter persegi, di mana 45% luas area terdiri dari lahan hijau, vertical garden, dan roof garden. Tak hanya itu, 69.83% luas area gedung juga menggunakan cahaya alami sebagai sumber pencahayaan utama. Sementara sisanya didesain menggunakan kaca yang dilaminasi sehingga bisa menambah jumlah cahaya matahari yang masuk.

Meski bergantung pada tenaga surya untuk pencahayaan, suasana di dalam gedung United Tractors tidak lantas menjadi lebih panas. Hal ini menjadi mungkin karena gedung United Tractors didesain sedemikian rupa sehingga memiliki nilai overall thermal transfer value (OTTV) atau konservasi energi pada bangunan yang mengatur nilai perpindahan panas pada fasad dinding bangunan, yang rendah. Alhasil, radiasi matahari tidak langsung masuk ke dalam gedung yang membuat udara di dalam bangunan tetap sejuk.

Gedung kantor United Tractors juga didesain hemat air, di mana penggunaan air tercatat 44.14% lebih rendah dari baseline, dengan penggunaan fitur air yang sesuai dengan kapasitas buangan di bawah standar maksimum kemampuan alat keluaran air. Kebutuhan untuk flushing dan gardening juga telah difasilitasi dari air daur ulang grey water.

United Tractors gunakan panel surya sebagai sumber energi operasional gedung kantor (Sumber: UT)

Mengingat operasional bisnis tak lepas dari sampah, gedung United Tractors dilengkapi dengan fasilitas pemilahan sampah terpadu serta bekerja sama dengan pihak ketiga untuk pengelolaan dan pemanfaatan daur ulang sampah. Anak perusahaan PT Astra International Tbk itu juga mengusung konsep zero run off, untuk mengurangi volume limpasan air hujan hingga 230%. Dengan begitu, limpasan air hujan tidak akan membebani volume drainase kota.

Tak heran jika ketika baru selesai dibangun saja, United Tractors langsung meraih sertifikat Platinum atas bangunan baru dengan pencapaian Platinum dan sedang dalam proses sertifikasi existing building di tahun 2022. Kala itu, gedung United Tractors tercatat menggunakan energi 38% lebih rendah dari baseline gedung baru, dengan total konversi penghematan energi sebesar 1.641.027 kg CO2/tahun.

Kedua sertifikasi dari Green Building Council Indonesia jelas memperlihatkan betapa serius komitmen United Tractors untuk menjadi perusahaan yang sustainable serta dapat terus memberikan dampak positif terhadap kebersihan ekosistem dan lingkungan.

Memastikan Kesehatan Karyawan dan Masyarakat

Diakui sebagai salah satu perusahaan terbaik untuk bekerja di Asia, langkah United Tractors membangun gedung kantor yang ramah lingkungan juga tak terlepas dari upaya perusahaan dalam menciptakan suasana yang positif bagi para pekerjanya. Tentunya dengan memprioritaskan kesejahteraan dan kenyamanan mereka.

Dengan luasnya lahan hijau di area perkantoran, United Tractors mendorong karyawannya untuk menerapkan hidup sehat. Penerapan pola hidup sehat ini juga dilakukan perusahaan dengan menyediakan 100 slot parkir khusus sepeda. Tak hanya itu, perusahaan juga aktif mengatur jumlah konsentrasi karbon dioksida di dalam ruangan agar tidak lebih dari 1.000 ppm, menggunakan sensor karbon dioksida di area dengan tingkat kepadatan tinggi dan memiliki mekanisme untuk mengatur jumlah ventilasi udara luar.

Tak hanya mengutamakan kenyamanan bagi internal perusahaan, United Tractors  juga berkomitmen menciptakan lingkungan positif serta berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Bagi United Tractors, keberlanjutan berarti kehadiran perusahaan yang tidak hanya sekedar menyediakan produk dan layanan berkualitas, melainkan memberi nilai lebih bagi para pemangku kepentingan yang selaras dengan value chain, kelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/buktikan-komitmen-berkelanjutan-perusahaan-united-tractors-raih-sertifikat-greenship-net-zero-healthy-building/feed/ 0
Rilis iPhone 15, Apple Buktikan Komitmen Perusahaan Capai Netralitas Karbon 2030 https://designthinking.id/uncategorized/rilis-iphone-15-apple-buktikan-komitmen-perusahaan-capai-netralitas-karbon-2030/ https://designthinking.id/uncategorized/rilis-iphone-15-apple-buktikan-komitmen-perusahaan-capai-netralitas-karbon-2030/#respond Wed, 27 Sep 2023 07:09:11 +0000 https://designthinking.id/?p=1604 Siapa yang tak kenal Apple, perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat itu telah dikenal luas akan inovasi yang out-of-the-box dalam setiap lini produknya, khususnya iPhone. Mulai dari Touch ID, desain layar berponi, kamera boba, hingga Dynamic Island, setiap inovasi yang dihadirkan Apple dalam jajaran produk smartphone mereka telah menjadi kiblat atau trendsetter, yang diikuti oleh produsen-produsen gawai pintar di dunia.

Kini, Apple kembali merilis smartphone terbarunya, iPhone 15 yang menjanjikan serangkaian fitur inovatif. Apple melangkah lebih jauh dari yang disyaratkan Uni Eropa dengan tidak hanya mengadopsi USB-C untuk membantu mengurangi limbah elektronik atau e-waste, tapi juga menggunakan lebih banyak bahan daur ulang untuk komponen iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max. Emas yang digunakan Apple untuk melapisi konektor USB-C tersebut misalnya, juga berasal dari emas daur ulang.

Tak hanya itu, sebagai langkah signifikan menuju keberlanjutan, Apple mengumumkan bahwa 20% komponen dari kedua seri dari iPhone 15 itu berasal dari bahan daur ulang. Langkah ini termasuk menggunakan bahan daur ulang untuk semua komponen alumunium, timah, mineral tanah jarang atau rare earth, tembaga dan plastik yang digunakan untuk memproduksi iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max.

Apple gunakan emas daur ulang untuk melapisi konektor USB-C (Sumber: Apple).

Untuk iPhone 15, Apple juga menjanjikan kapasitas baterai yang digadang-gadang lebih tahan lama dari para pendahulunya dengan rentang kapasitas mencapai 3.349 mAh hingga 4.383 mAh untuk seri tersebut. Tak hanya dari segi kapasitas, inovasi dalam komponen baterai iPhone 15 juga berasal dari 100 persen kobalt daur ulang yang semakin memperjelas komitmen Apple untuk mengurangi dampak lingkungan dari setiap produk yang dihasilkan.

Sebagai perusahaan teknologi yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, Apple tak hanya bermimpi menjadikan setiap produk yang diproduksinya netral karbon pada tahun 2030, tapi juga memastikan keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam membuat, menggunakan, dan mendaur ulang produk Apple, serta membatasi penggunaan ratusan zat berbahaya. Untuk melindungi manusia dan lingkungan, Apple memastikan bahwa iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max bebas dari zat berbahaya seperti berilium, PVC, ftalat, arsenik, merkuri dan kaca layar bebas arsenik.

Selain memelopori penggunaan banyak bahan daur ulang dalam produknya, Apple turut mengakhiri penggunaan kulit di seluruh lini produknya, termasuk aksesori iPhone dan tali jam Apple Watch. Melansir laman resmi perusahaan, Apple mengganti kulit dengan tekstil baru yang disebut FineWoven, yang terbuat dari 68 persen bahan daur ulang dan memiliki emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan kulit. FineWoven akan melengkapi produk casing hingga tali jam Apple Watch Magnetic Link dan Modern Buckle.

Untuk selangkah lebih maju dalam menghilangkan seluruh penggunaan plastik dari kemasan pada 2025, 99% dari kemasan iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max menggunakan serat kayu yang berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab. Uniknya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan akan serat kayu, Apple terlibat secara aktif dalam melindungi dan menciptakan cukup banyak hutan yang dikelola secara bertanggung jawab.

Langkah ini diambil Apple untuk memastikan sumber daya yang mereka gunakan tidak mengganggu fungsi hutan dalam membersihkan udara sekaligus memurnikan sumber air kita.

Mengingat aktivitas distribusi iPhone 15 dari pabrik ke tangan konsumen di seluruh belahan dunia menyumbang sekitar 9% jejak karbon dari seluruh operasional Apple, perusahaan telah beralih ke moda transportasi laut yang diyakini Apple menghasilkan emisi 95 persen lebih sedikit dibandingkan melalui udara.

Langkah Apple Menuju Netralitas Karbon pada 2030

Apple sejauh ini telah mengurangi total emisi sebesar lebih dari 45% sejak tahun 2015, seraya tetap meningkatkan pendapatan hingga 65% lebih besar dalam periode yang sama. Semua tercapai berkat hasil kerja cerdas dan inovasi signifikan yang diterapkan Apple, baik dalam operasional maupun rantai pasokan globalnya.

Dengan menghindari aktivitas yang menghasilkan karbon, Apple telah secara signifikan memperluas implementasi energi terbarukan termasuk memanfaatkan bahan daur ulang. Dalam hal ini, Apple telah memelopori penggunaan banyak bahan daur ulang melalui rekayasa produk kelas dunia, kualifikasi desain yang ekstensif, dan menerapkan aturan yang ketat terhadap rantai pasokan. Sejak 2020, Apple telah menetapkan target yang lebih ambisius untuk mencapai netralitas karbon di seluruh rantai nilai perusahaan pada 2030.

]]>
https://designthinking.id/uncategorized/rilis-iphone-15-apple-buktikan-komitmen-perusahaan-capai-netralitas-karbon-2030/feed/ 0
Kompetisi Inovasi Dorong Pemerintah Bristol Bangun Hunian Ramah Lingkungan yang Terjangkau https://designthinking.id/gaya-hidup/kompetisi-inovasi-dorong-pemerintah-bristol-bangun-hunian-ramah-lingkungan-yang-terjangkau/ https://designthinking.id/gaya-hidup/kompetisi-inovasi-dorong-pemerintah-bristol-bangun-hunian-ramah-lingkungan-yang-terjangkau/#respond Tue, 19 Sep 2023 08:15:06 +0000 https://designthinking.id/?p=1577 Salah satu kota terpadat di Inggris, Bristol, tengah dihadapkan dengan krisis perumahan sekaligus krisis iklim secara bersamaan. Sebagai kota dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, masih banyak penduduk Bristol yang belum memiliki hunian tetap. Tercatat, lebih dari 15.000 individu dan keluarga di Bristol berada dalam daftar tunggu perumahan dan lebih dari 800 rumah tangga berada di akomodasi sementara.

Dengan populasi penduduk yang diproyeksikan meningkat sebesar 15% selama periode 2018-2043 dan mencapai total populasi 532.700 pada tahun 2043, Pemerintah Bristol menargetkan membangun 24.000 rumah baru yang terjangkau pada 2050. Namun, rencana pembangunan puluhan ribu rumah baru ini bukan tanpa risiko.

Pasalnya, perumahan dilaporkan menyumbang sekitar 40% dari total jejak karbon atau carbon footprint di Inggris, di mana separuh dari jumlah tersebut berasal dari energi yang digunakan dalam bangunan dan infrastruktur, dan 28% berasal dari bahan yang digunakan dalam konstruksi bangunan.

Angka-angka ini jelas menjadi tantangan tersendiri bagi Bristol yang telah mendeklarasikan darurat iklim pada tahun 2018 dan berkomitmen untuk mencapai net zero emission serta netralitas karbon pada tahun 2030. Mencapai emisi nol bersih jelas sangat penting bagi Bristol mengingat dalam skenario emisi tinggi, pada tahun 2080, Bristol diperkirakan akan mengalami kenaikan permukaan air laut hingga 72 cm di garis pantai Bristol.

Tingkat curah hujan musim dingin bisa meningkat hingga 48% sementara suhu maksimum ketika musim panas diperkirakan meningkat lebih dari 9 derajat Celcius. Lebih parahnya, tingkat curah hujan selama musim panas di Bristol juga diproyeksi menurun hingga 68% pada tahun 2080.

Menghadirkan hunian yang berkelanjutan jelas menjadi prioritas Bristol. Pemerintah harus mampu menghadirkan puluhan ribu hunian tanpa menambah jejak karbon dan menjauhkan Bristol dari bahaya krisis iklim yang mengintainya di masa depan. Pada sisi lain, biaya yang dibutuhkan untuk membangun hunian sejenis ini tentulah tidak murah sehingga hampir mustahil untuk membuatnya tersedia dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Atas dasar itu diperlukan model keuangan baru untuk mencapai prioritas netralitas karbon dan perumahan yang terjangkau.

Kepadatan Kota Bristol, Inggris. (Sumber: raconteur.net)

Tantangan ini mendorong pemerintah Bristol untuk menghadirkan solusi yang merangkul kompleksitas dari hubungan tersebut melalui kompetisi inovasi, Bristol Smart City Challenge. Berkolaborasi dengan Nesta Challenge dan UN-Habitat, Bristol Smart City Challenge mencerminkan komitmen pemerintah Bristol dalam mendorong inovasi dan pemahaman akan bagaimana menyeimbangkan kebutuhan dekarbonisasi dengan kebutuhan untuk menciptakan rumah yang benar-benar terjangkau agar dapat memerangi kesenjangan sosial.

“Atas tujuan ini, saya bersemangat untuk bekerja sama dengan Nesta Challenge, dan UN-Habitat dalam menghadirkan tantangan yang tidak mengabaikan kompleksitas masalah ini dan menyambut baik perbincangan tentang solusi bagi keseluruhan masalah,” ujar Marvin Rees, Walikota Bristol.

Melalui Bristol Smart City Challenge, pemerintah Bristol menantang pengembang, investor di sektor ESG, ahli teknologi hunian ramah lingkungan serta pakar keuangan real estat dari seluruh dunia untuk menghadirkan model pembiayaan dalam pembangunan kawasan hunian baru di lahan Brownfield di Bristol yang selama ini dianggap tidak layak, namun dinilai sebagai kunci untuk membuka ratusan rumah yang hemat energi, netral karbon, dan terjangkau.

“Kompetisi ini juga mencerminkan penerapan pendekatan Satu Kota, dimana para pemangku kepentingan di seluruh kota berkolaborasi untuk mengartikulasikan tantangan yang dihadapi Bristol dan solusi yang dibutuhkan dari para inovator global. Saya berharap, melalui kemitraan dengan organisasi-organisasi internasional ini, kita akan mendorong perubahan perilaku dalam cara kita mengembangkan dan membangun rumah serta mengatasi permasalahan kompleks ini bersama-sama sebagai sebuah kota,” tutur Marvin Rees.

Diselenggarakan sejak 2021, tim Thriving Places terpilih untuk mengembangkan ide mereka lebih lanjut dan mendemonstrasikan solusi mereka di Bristol pada tahun 2023. Solusi dari Thriving Places akan fokus pada penguatan Bristol sebagai kota yang sehat secara holistik. Prioritas mereka mencakup optimalisasi potensi setiap lahan yang kurang dimanfaatkan dan mendefinisikan ulang nilai pembangunan untuk definisi kelayakan yang baru. Tujuan utamanya adalah menyediakan perumahan layak bagi semua orang dengan menggunakan solusi cerdas iklim yang netral karbon.

Tim Thriving Places juga akan bekerja sama dengan pemerintah kota, investor, dan mitra lainnya untuk menunjukkan jalur dan kemampuan baru dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, sekaligus berkontribusi terhadap restorasi alam, keadilan sosial, kesehatan, keamanan, lapangan kerja, dan manfaat sosial lainnya.

“Tim Thriving Places merasakan pengalaman bergabung di Bristol Smart City Challenge sebagai pengalaman yang sangat positif. Kompetisi ini menjadi tempat di mana hubungan baru dibentuk dengan banyak finalis berbeda di fase pertama kompetisi, untuk menetaskan ide-ide baru, memprovokasi satu sama lain, dan menantang satu sama lain untuk berpikir berbeda. Hal ini memungkinkan kami untuk membentuk hubungan baru yang belum pernah ada sebelumnya dan benar-benar mempertimbangkan bagaimana kami dapat menjadi berani melalui kekuatan kolektif kami untuk mengatasi tantangan kota Bristol,” ujar Zoe Metcalfe, Client Director di Atkins Global, yang bergabung dalam Thriving Places.

Kedepannya, Marvin Rees berharap Bristol Smart City Challenge dapat memotivasi kota-kota lain di Inggris dan di seluruh dunia untuk menghadapi krisis iklim dengan cara yang baru dan lebih melibatkan masyarakat.

“Bristol adalah salah satu dari 10 kota inti di Inggris yang menyumbang lebih dari seperempat perekonomian negara. Sebagai kota inti, Bristol berada pada posisi yang tepat untuk mempengaruhi perubahan dalam cara masyarakat berinteraksi dengan keadaan darurat iklim, dan untuk mengkatalisis tindakan secara regional, nasional dan internasional,” ujar Marvin Rees.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/kompetisi-inovasi-dorong-pemerintah-bristol-bangun-hunian-ramah-lingkungan-yang-terjangkau/feed/ 0
3 Langkah Mencapai Tujuan ESG dengan Program Inovasi https://designthinking.id/gaya-hidup/3-langkah-mencapai-tujuan-esg-dengan-program-inovasi/ https://designthinking.id/gaya-hidup/3-langkah-mencapai-tujuan-esg-dengan-program-inovasi/#respond Thu, 14 Sep 2023 07:26:20 +0000 https://designthinking.id/?p=1573 Dewasa ini, keberlanjutan perusahaan atau corporate sustainability telah menjadi poin krusial yang harus dicapai perusahaan dengan menerapkan kerangka environmental, social dan governance (ESG). Kebutuhan untuk berpikir dan bertindak sesuai kerangka ESG menjadi semakin mendesak akhir-akhir ini berkat beragam regulasi yang mengatur dan memantau kontribusi riil perusahaan dalam implementasi ESG.

Di tengah desakan untuk menciptakan keberlanjutan perusahaan, banyak perusahaan yang memperluas upaya inovasi untuk mengidentifikasi peluang baru di tiga aspek ESG, juga untuk mengoptimalkan proses yang ada, dan mengatasi permasalahan mendesak dalam implementasi ESG. Tak heran, nilai investasi yang berorientasi pada ESG dilaporkan McKinsey & Company mencapai USD 30 triliun pada 2019, melesat hingga 68% lebih tinggi sejak tahun 2014.

Secara umum, tantangan keberlanjutan jelas memerlukan solusi inovatif. Untuk membangun perusahaan yang bertahan lama, perusahaan diharuskan melakukan perbaikan dan inovasi-inovasi yang sejalan dengan kebutuhan bisnis yang cepat berubah. Perusahaan tak lagi hanya berfokus memikirkan bagaimana bisnis mereka tetap dapat menghasilkan keuntungan dalam waktu yang lama, tapi juga memastikan operasional mereka mampu berdampak positif bagi masyarakat dan stakeholder, juga lingkungan sekitar.

Upaya inovasi dalam hal ini mampu membantu perusahaan mengidentifikasi, menilai dan mengembangkan solusi yang memenuhi kebutuhan ESG. Penting untuk diingat bahwa implementasi ESG bukan hanya tentang mematuhi regulasi atau menjalankan praktik bisnis berkelanjutan, tapi juga tentang menciptakan nilai jangka panjang untuk perusahaan dan masyarakat.

Tak heran jika program inovasi yang terintegrasi dengan prinsip-prinsip ESG dapat membantu perusahaan mencapai tujuan ini dan membangun reputasi berkelanjutan di pasar. Berikut tiga jenis program inovasi yang mampu mempercepat perusahaan mencapai tujuan ESG.

1. Inkubator Startup

Secara definisi, inkubator adalah sebuah program yang ditujukan untuk membantu perkembangan perusahaan rintisan atau startup. Di tengah desakan untuk menerapkan tata kelola dan model bisnis yang berkelanjutan, perusahaan memerlukan kecanggihan teknologi untuk mencapainya dan startup jelas memiliki jawaban atas masalah ini. Dengan kemampuannya untuk mengembangkan teknologi secara cepat, startup dapat membantu perusahaan mengidentifikasi sekaligus menerapkan solusi baru yang mampu memberikan nilai berkelanjutan bagi perusahaan.

Mengenali manfaat ini, L’Oréal meluncurkan program inovasi “Northeast Asia Big Bang Beauty Tech & Innovation Challenge” di Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan. Berkolaborasi dengan startup, L’Oréal mencoba mengembangkan produk kecantikan dan melahirkan beauty experience baru, salah satunya dengan menciptakan alternatif produk kecantikan yang berkelanjutan dan memanfaatkan bioteknologi.

Di Tiongkok sendiri di mana program Big Bang telah lebih dulu diluncurkan, L’Oréal telah menarik lebih dari 1.500 startup dan menginkubasi lebih dari 50 proyek dalam tiga tahun terakhir.

2. Crowdsourcing

Dengan meminta kontribusi dari sekelompok besar orang, crowdsourcing dikenal luas sebagai sarana bagi perusahaan atau organisasi lainnya untuk memperoleh ide inovasi secara masif, tak terkecuali pada setiap kategori ESG. Keuntungan lainnya, crowdsourcing juga memungkinkan perusahaan menunjukkan kepada publik betapa seriusnya langkah yang mereka ambil untuk menerapkan praktik keberlanjutan.

Mengenali manfaat ini, Schneider Electric, perusahaan otomasi digital dan manajemen energi asal Prancis, meluncurkan program Schneider Go Green untuk pelajar di seluruh dunia. Diinisiasi sejak 2010, Schneider Go Green menjadi ajang kompetisi global untuk memfasilitasi generasi muda mencari solusi dalam pengelolaan energi dan automasi industri yang berdampak positif terhadap lingkungan.

3. Membangun Budaya Inovasi Internal

Meski memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan internal dapat mempercepat proses inovasi perusahaan, jangan lupakan kehebatan karyawan. Pasalnya, karyawan yang peka terhadap perubahan dalam lingkungan bisnis dan kebutuhan pelanggan dapat membantu perusahaan dalam mengadaptasi dan merespons perubahan ini dengan inovasi yang sesuai.

PT Pertamina (Persero) misalnya. Meluncurkan New Venture School, perusahaan migas itu berusaha memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh pegawainya untuk meningkatkan keterampilan dan mendorong inovasi dalam ranah transisi energi. Sesuai dengan visi Pertamina sebagai perusahaan berkelanjutan, peningkatan kompetensi memang menjadi salah satu perhatian perusahaan terhadap tenaga kerjanya.

New Venture School menunjukkan komitmen Pertamina dalam implementasi dua aspek ESG yakni, pelestarian lingkungan dan tanggung jawab sosial.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/3-langkah-mencapai-tujuan-esg-dengan-program-inovasi/feed/ 0
New Venture School, Cara Pertamina Implementasikan ESG Lewat Program Inovasi https://designthinking.id/eksklusif/new-venture-school-cara-pertamina-implementasikan-esg-lewat-program-inovasi/ https://designthinking.id/eksklusif/new-venture-school-cara-pertamina-implementasikan-esg-lewat-program-inovasi/#respond Fri, 08 Sep 2023 06:28:28 +0000 https://designthinking.id/?p=1551 Sebagai perusahaan terdepan dalam transisi energi yang berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 Indonesia, PT Pertamina (Persero) meluncurkan New Venture School, sebuah platform kurikulum pendidikan inovasi bisnis bagi pegawai Pertamina.  Sejalan dengan penerapan Environmental, Social and Governance (ESG), New Venture School menjadi platform bagi Pertamina untuk senantiasa meningkatkan keterampilan karyawaannya dan mendorong inovasi di sektor transisi energi.

Menurut Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Bisnis Pertamina, Salyadi Saputra, New Venture School merupakan bentuk komitmen Pertamina yang selalu berusaha memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh pegawainya untuk meningkatkan keterampilan. Sesuai dengan visi Pertamina sebagai perusahaan berkelanjutan, peningkatan kompetensi memang menjadi salah satu perhatian perusahaan terhadap tenaga kerjanya.

Lebih lanjut Salyadi menekankan program New Venture School akan mendorong pegawai untuk menciptakan berbagai penelitian dan inovasi sebagai langkah mengembangkan ketajaman bisnis untuk menghadapi tantangan transisi energi di masa depan.

“Banyak perwira muda Pertamina yang ingin mentransformasikan ide-idenya menjadi produk atau layanan yang bermanfaat bagi Pertamina dan Indonesia. Ke depannya, transisi energi yang dapat menghasilkan ide dan riset sangat penting dalam meningkatkan kinerja Pertamina sebagai perusahaan migas, khususnya di sektor energi terbarukan. Inovasi-inovasi ini juga diharapkan dapat meluas ke industri lain,” jelas Salyadi saat acara peluncuran New Venture School pada Juni lalu.

Dioperasikan oleh New Venture Team yang merupakan tim inkubator khusus Pertamina, New Venture School diharapkan mampu mengembangkan soft skill dan hard skill seluruh pegawai Pertamina untuk memahami dasar-dasar pengembangan inovasi bisnis.

“Melalui Pertamina New Venture School, Pertamina mendorong tumbuhnya inovator dan ekosistemnya di lingkungan tenaga kerja Pertamina,” kata Salyadi.

New Venture School sebagai Implementasi ESG Pertamina

Fadjar Djoko Santoso, VP Corporate Communication Pertamina, mengungkapkan peluncuran program New Venture School merupakan salah satu implementasi Pertamina dalam bidang ESG, khususnya dalam aspek sosial dan lingkungan hidup.

Dalam aspek sosial, Fadjar Djoko Santoso menjelaskan, New Venture School menjadi bentuk kepedulian perusahaan terhadap pengembangan kompetensi pekerja dan pemerataan kesempatan belajar. New Venture School juga diharapkan memperkuat keterlibatan pegawai terhadap masyarakat melalui tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility.

Aspek sosial dalam ESG sendiri berbicara mengenai bagaimana hubungan sebuah perusahaan dengan pegawai, pemasok, pelanggan, dan komunitas tempat perusahaan beroperasi. Untuk memenuhi aspek sosial dalam ESG, perusahaan harus bergerak aktif untuk mendalami masalah sosial berkisar dari hak asasi manusia dan kesehatan dan keselamatan pekerja.

Sementara implementasi pada aspek lingkungan, terlihat dari bagaimana New Venture School ditujukan untuk pengembangan pegawai untuk berinovasi dan menciptakan produk yang mendorong transisi energi sekaligus mengurangi emisi karbon. Hal ini mencakup pengembangan sumber energi baru terbarukan seperti solar EV, hidrogen, energi panas bumi, dan lainnya untuk mendukung program emisi nol bersih atau net zero emission (NZE).

“New Venture School merupakan salah satu program komprehensif yang bertujuan untuk menghasilkan tidak hanya pegawai yang terampil, kompeten, dan berdaya, tetapi juga individu yang menjunjung tinggi tata kelola dan mewujudkan nilai-nilai perusahaan,” tambah Fadjar.

Dengan mendorong inovasi dalam transisi energi, Pertamina telah mempertimbangkan bagaimana operasional perusahaan mampu memberikan dampak positif untuk perusahaan itu sendiri dan untuk lingkungan. Program inovasi seperti New Venture School akan membantu Pertamina mengidentifikasi, menilai dan mengembangkan solusi yang memenuhi kebutuhan ESG.

Dengan melibatkan ratusan bahkan ribuan pegawai, program inovasi memungkinkan perusahaan membangun dasar pernyataan masalah yang jelas. Selanjutnya, program inovasi akan membantu perusahaan mengembangkan ide-ide inovasi menjadi solusi yang dapat diimplementasikan dan jika dilakukan dengan benar, hasilnya akan menjadi aset nyata bagi kinerja ESG perusahaan.

Ketika program inovasi menjadi upaya berkelanjutan, perusahaan tengah membangun basis data berharga yang berisi talenta, ide, dan solusi yang terus memberikan nilai dan memenuhi tujuan ESG.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/new-venture-school-cara-pertamina-implementasikan-esg-lewat-program-inovasi/feed/ 0