Design Thinking – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 05:02:34 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Design Thinking – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Jawab Tantangan Bonus Demografi, Innovesia Bimbing Mahasiswa Unika Atma Jaya Kembangkan Ide Bisnis https://designthinking.id/edukasi/jawab-tantangan-bonus-demografi-innovesia-bimbing-mahasiswa-unika-atma-jaya-kembangkan-ide-bisnis/ https://designthinking.id/edukasi/jawab-tantangan-bonus-demografi-innovesia-bimbing-mahasiswa-unika-atma-jaya-kembangkan-ide-bisnis/#respond Tue, 24 Oct 2023 08:14:19 +0000 https://designthinking.id/?p=2232 Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi bisnis, kembali dipercaya menanamkan pola pikir design thinking bagi mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Atma Jaya melalui program Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB). Terkenal akan nilai-nilai kewirausahaannya, program AJIB menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide inovasi mereka dari sebuah konsep menjadi rencana bisnis yang matang.

Memiliki mayoritas penduduk yang didominasi usia produktif dengan 69,25% populasi berusia 15 sampai 64 tahun, Indonesia akan memasuki masa puncak bonus demografi yang bisa menjadi anugerah sekaligus tantangan besar. Pasalnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebut pemerintah setidaknya harus menyediakan 3,6 juta lapangan pekerjaan tiap tahunnya.

Atas dasar itulah, menanamkan jiwa pengusaha sedini mungkin menjadi salah satu opsi yang dinilai Menko Effendy mampu membawa Indonesia melewati puncak bonus demografi dengan baik.

“Bonus demografi menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi keuntungan ekonomi karena banyaknya penduduk usia kerja (produktif) yang berkorelasi dengan meningkatnya produktivitas. Namun, untuk menjadikan bonus demografi sebagai keuntungan ada syarat yang harus dipenuhi yakni penduduk usia produktif harus memiliki kompetensi untuk memenangkan persaingan,” ujar Fiter Bagus Cahyono, Direktur, Innovesia.

Menjadikan bonus demografi sebagai anugerah juga merupakan cita-cita Unika Atma Jaya yang senantiasa mendorong mahasiswanya untuk tak sekedar menjadi tenaga kerja tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi bangsa Indonesia.

“Kami melihat kalau semua orang maunya hanya bekerja dan tidak ada yang menciptakan lapangan pekerjaan, lama-lama tingkat persaingannya akan semakin keras, makin sulit dan tidak mungkin perusahaan yang sudah ada itu bisa menampung semua penduduk usia produktif di Indonesia. Jadi mau tidak mau harus ada pengusaha-pengusaha baru yang muncul yang memang bisa mengisi kekosongan di dalam pasar,” ujar Devi Angrahini A. Lembana, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) AJIB.

Mematangkan Ide Bisnis Melalui Design Thinking

Innovesia ajarkan pendekatan Design Thinking dalam Bootcamp Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) (Sumber: Innovesia)

Semangat inilah yang mendorong AJIB menyelenggarakan serangkaian bootcamp untuk membimbing mahasiswa Unika Atma Jaya yang tertarik berwirausaha untuk mematangkan ide bisnis secara intensif. Bootcamp sendiri merupakan bagian dari program inkubasi AJIB yang telah memasuki Angkatan ke-3.

Bootcamp dibuat karena kami melihat bahwa pengembangan ide bisnis itu perlu dilakukan secara intensif. Jadi, dengan bootcamp ini kami mencoba membuat kelas yang mendalam sehingga dalam waktu dua minggu, mahasiswa yang mengikuti program ini dapat fokus mengembangkan ide bisnis sampai bisa menghasilkan satu prototype dan agar mereka siap menceritakan ide bisnis mereka ke orang lain,” jelas Devi.

Sebanyak 27 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Fakultas Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi (FIABIKOM), secara aktif terlibat dalam Bootcamp Design Thinking yang dibawakan Innovesia. 

Bertempat di Gedung K2 Unika Atma Jaya, Innovesia mengajak seluruh peserta menggunakan design thinking, sebuah pola pikir yang berpusat pada pengguna, untuk mengembangkan ide bisnis mereka dengan memusatkan calon pelanggan pada setiap langkah perumusan rencana bisnis mereka.

Selama empat hari, Innovesia secara intensif mengajarkan design thinking agar peserta mendapatkan first-hand-experience tentang bagaimana menemukan bisnis yang cocok dengan minat mereka selagi menjawab kebutuhan pasar. Dengan begitu, ide bisnis yang mereka kembangkan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang belum terjawab atau bahkan terabaikan.

“Innovesia mengajak seluruh peserta untuk bisa menelusuri kembali ide awal mereka, agar ide bisnis yang mereka bangun didasarkan pada fakta dan data yang kuat akan esensi keberadaannya bagi target pelanggan,” ujar Fiter Bagus.

Pola pikir design thinking sendiri dipilih Unika Atma Jaya karena dinilai menjadi metode yang paling tepat untuk membuka pikiran mahasiswa agar dapat mengesampingkan asumsi dan perasaan mereka ketika merancang sebuah ide bisnis.

Innovesia menanamkan pendekatan Design Thinking pada Bootcamp Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) (Dok. Innovesia)

“Kami sudah beberapa kali bekerja bersama Innovesia dan kami lihat memang metode design thinking ini paling bisa diterapkan untuk mengajarkan mahasiswa. Hal terpenting adalah, kalau membuat atau mendirikan bisnis itu tidak bisa berdasarkan pikiran atau perasaan kita, atau hanya dengan menganalisa pesaing. Akan tetapi, harus benar-benar mendalami apa yang sebenarnya dibutuhkan konsumen. Inilah manfaat terbesar design thinking,” jelas Devi.

Selain dapat membimbing mahasiswa untuk merancang ide atau rencana bisnis yang sesuai kebutuhan pasar. Pola pikir design thinking juga dinilai Unika Atma Jaya relevan dengan nilai-nilai kewirausahaan yang diajarkan universitas serta praktik nyata di lapangan.

“Pendekatan design thinking dari Innovesia kita lihat itu memang berkesinambungan dengan teori yang kami ajarkan di kelas juga dengan apa yang diterapkan di lapangan. Metode ini yang kami rasa merupakan pilihan terbaik untuk saat ini,” lanjut Devi.

Selama empat hari, Innovesia mengajarkan metode design thinking secara intensif. Mulai dari membimbing setiap peserta yang mengikuti program AJIB untuk menemukan ide bisnis yang sesuai kaidah design thinking, mengidentifikasi masalah untuk mencari peluang, memahami permasalahan tersebut dari sudut pandang calon pelanggan, sampai pada pencarian ide untuk memberikan solusi bagi pelanggan dalam bentuk prototype sederhana.

Tak hanya membimbing peserta mematangkan ide bisnis mereka melalui pendekatan design thinking, Innovesia turut memastikan bahwa setiap peserta mampu mengemas dan mengomunikasikan inovasi mereka secara menarik. Melalui kelas Proposal Writing yang digelar secara daring pada 4 September, Innovesia memastikan setiap peserta Bootcamp AJIB mampu membangun pitch deck yang efektif dan menguasai teknik dasar storytelling guna menunjukkan keunggulan inovasinya dengan baik.

Innovesia mengisi kelas Proposal Writing dalam Bootcam Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) (Sumber: Innovesia)

“Inovasi yang baik belum tentu punya dampak yang baik, dari segi revenue maupun sosial jika tidak bisa dikomunikasikan dengan baik. Kami berharap mahasiswa Unika Atma Jaya bisa mengomunikasikan ide inovasinya dengan sempurna, baik secara verbal maupun non verbal agar setiap goals atau tujuan dari ide tersebut bisa dikomunikasikan dengan jelas,” ujar Fiter Bagus.

Innovesia Mendorong Lahirnya Wirausaha Muda di Indonesia

Seperti Unika Atma Jaya, Innovesia berharap kedepannya akan semakin banyak universitas yang melihat pengembangan kewirausahaan sebagai hal yang krusial untuk dijadikan materi pengajaran dalam kurikulum perkuliahan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menyambut masa puncak bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada 2030.

Menciptakan lebih banyak wirausaha juga sejalan dengan mandat Kementerian Koperasi dan UKM yang menargetkan Indonesia berada di peringkat ke-60 pada Global Entrepreneurship Index (GEI) dari saat ini di posisi ke-75 dari 132 negara. Target tersebut merupakan bagian dari upaya Indonesia menjadi negara maju.

“Peringkat ini jelas menunjukkan bahwa peluang dunia kewirausahaan di Indonesia masih terbuka luas. Hal inilah yang membuat Innovesia optimis bahwa kehadiran program AJIB menjadi salah satu solusi dalam mencetak potensi wirausaha muda bagi Indonesia. Kami berharap akan semakin banyak perguruan tinggi yang melihat potensi serupa,” ujar Fiter Bagus.

]]>
https://designthinking.id/edukasi/jawab-tantangan-bonus-demografi-innovesia-bimbing-mahasiswa-unika-atma-jaya-kembangkan-ide-bisnis/feed/ 0
Menciptakan Solusi Atas Kasus Kematian Bayi Melalui Design Thinking https://designthinking.id/kesehatan/menciptakan-solusi-atas-kasus-kematian-bayi-melalui-design-thinking/ https://designthinking.id/kesehatan/menciptakan-solusi-atas-kasus-kematian-bayi-melalui-design-thinking/#respond Tue, 10 Oct 2023 07:39:19 +0000 https://designthinking.id/?p=1619 Ironinya, banyak kematian ini dapat dicegah. Menurut WHO, 75% kematian dan penyakit akibat kelahiran prematur dapat dicegah dengan menjaga bayi tetap hangat. Sayangnya, tak semua ibu memiliki kesempatan yang sama besar untuk menghangatkan bayi mereka. Pasalnya, tak semua rumah sakit di negara miskin memiliki inkubator yang umum digunakan untuk menghangatkan bayi pasca lahir.

Itulah mengapa kasus kematian bayi baru lahir lebih banyak terjadi di negara-negara miskin seperti Afrika Sub-Sahara, Asia Tengah dan Asia Selatan. Bahkan, para bayi yang terlahir di wilayah Afrika Sub-Sahara memiliki kemungkinan 10 kali lebih besar untuk meninggal pada bulan pertama dibandingkan anak yang lahir di negara berpenghasilan tinggi. Pada sisi lain, penggunaan teknologi yang kurang optimal di negara berpendapatan menengah menyebabkan meningkatnya beban kecacatan di kalangan bayi prematur yang bertahan hidup pada periode neonatal.

Kesenjangan inilah yang mendorong Jane Chen, Linus Liang, Naganand Murty, dan Rahul Panicker untuk menciptakan penghangat bayi dengan harga terjangkau bagi para ibu di negara-negara berkembang. 

design thinking
,
prototype

1. Inspiration

1. Inspiration

Ilustrasi (Sumber: UNICEF)

Ilustrasi (Sumber: UNICEF)

Ketiganya lantas langsung memutuskan untuk terbang langsung ke Kathmandu, Nepal, demi memahami kebutuhan pengguna. Di sana, ketiganya menghabiskan beberapa hari mengamati unit neonatal di rumah sakit. Namun, betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa 80% bayi yang meninggal di negara berkembang seperti Nepal justru dilahirkan di rumah di desa-desa, jauh dari rumah sakit yang lengkap. 

Selain itu yang cukup menyedihkan lagi, tim juga menyadari bahwa bayi-bayi prematur tersebut tidak pernah dibawa ke rumah sakit. Wawasan tersebut membuat mereka memikirkan kembali secara mendasar siapa sebenarnya penggunanya.

Untuk lebih memahami alasan dibalik fenomena ini, tim lantas mewawancarai orang tua di wilayah tersebut. Dari aktivitas inilah mereka mengetahui bahwa para orang tua cenderung mempercayai obat-obatan untuk menjaga kesehatan bayi mereka. Sayangnya, obat-obatan tak mampu mengatasi hipotermia yang diderita bayi prematur. 

Pada sisi lain, tak sedikit bayi yang meninggal di jalan ketika hendak dibawa ke rumah sakit karena jarak tempuh yang jauh Selain itu, tidak adanya akses terhadap listrik reguler juga membuat inkubator umum menjadi sia-sia. Semua masalah ini kemudian tim rangkum untuk membuat solusi terbaik.

2. Ideation

2. Ideation

Embrace, inkubator portable untuk bayi (Sumber: Embrace)

Embrace, inkubator portable untuk bayi (Sumber: Embrace)

Berdasarkan pengamatan yang mengkhawatirkan, tim menyadari perlunya mengembangkan inkubator yang sesuai dengan kebutuhan lokal yang ada. Pertama, inkubator harus mampu bekerja dengan optimal tanpa tenaga listrik sepanjang saat. Kedua, inkubator harus bisa diperoleh dengan harga terjangkau mengingat kondisi ekonomi masyarakat di sana. 

Pengamatan ini lantas mengarahkan mereka merancang penghangat bayi portabel yang terlihat seperti kantong tidur kecil, yang dapat dengan mudah disterilkan. Ide ini terinspirasi kantong yang dimiliki kanguru betina guna menghangatkan dan melindungi bayi mereka.

3. Implementation

3. Implementation

Inkubator portabel untuk bayi (Sumber: Embrace)

Inkubator portabel untuk bayi (Sumber: Embrace)
rapid prototyping

Embrace juga bereksperimen dengan model penetapan harga yang berbeda, seperti opsi sewa untuk menjadikan produknya sangat terjangkau di negara-negara seperti India, di mana ratusan juta penduduk desa hidup dengan pendapatan kurang dari USD 2 per harinya.

”Pengusaha sering kali jatuh cinta dengan ide produk atau model bisnis asli mereka dan gagal mendengarkan kebutuhan pelanggan. Kami, di sisi lain, tidak ragu untuk mengubah fitur produk dan harga kami berulang kali hingga kami menemukan solusi yang memberikan nilai tertinggi kepada pelanggan kami dengan biaya terendah bagi mereka. Bagi kami, inovasi adalah proses dinamis yang tidak pernah berakhir,” jelas Chen.

Embrace, Memberi Kehangatan untuk Bayi dan Orang Tua

web link
Embrace, Memberi Kehangatan untuk Bayi dan Orang Tua

Seorang ibu tengah menghangatkan bayi menggunakan Embrace (Sumber: Como Foundation)

Seorang ibu tengah menghangatkan bayi menggunakan Embrace (Sumber: Como Foundation)

Embrace adalah contoh nyata bagaimana berempati terhadap kebutuhan pengguna ketika berinovasi dapat menyelesaikan masalah bahkan terkait kesenjangan sekalipun. Pada tahun 2011, Embrace melakukan uji coba produk ini di India, dimana 1,2 juta bayi prematur meninggal setiap tahunnya. Hasil awal sangat menggembirakan. Di sana, Embrace melakukan studi klinis yang lebih ekstensif terhadap 160 bayi prematur. Hasilnya memuaskan.

Dalam salah satu contoh, Embrace menyelamatkan bayi seberat dua pon yang lahir dari di sebuah desa dekat Bangalore, di India Selatan. Berkat inovasi yang dibawa Embrace, berat badan sang bayi mulai bertambah dan membawa kebahagiaan bagi orang tuanya, yang pernah kehilangan dua bayi sebelumnya.

Embrace juga telah menegosiasikan kemitraan dengan perusahaan farmasi dan peralatan medis multinasional seperti GE Healthcare. Bersama-sama keduanya memperluas jaringan distribusi Embrace untuk dapat diakses oleh sebanyak mungkin rumah sakit dan klinik di negara-negara seperti Nepal dan India. 

Terbaru, Embrace membantu para ibu dan rumah sakit di Ukraina untuk memberikan kehangatan pada bayi baru lahir di tengah invasi Rusia yang menyebabkan runtuhnya rumah sakit di negara itu. Embrace menjadi pilihan para ibu untuk menjaga bayi mereka tetap hangat selagi harus mengamankan diri di tempat-tempat perlindungan.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/menciptakan-solusi-atas-kasus-kematian-bayi-melalui-design-thinking/feed/ 0
Menciptakan Sistem Pendidikan yang Berfokus pada Siswa Melalui Design Thinking https://designthinking.id/edukasi/menciptakan-sistem-pendidikan-yang-berfokus-pada-siswa-melalui-design-thinking/ https://designthinking.id/edukasi/menciptakan-sistem-pendidikan-yang-berfokus-pada-siswa-melalui-design-thinking/#respond Wed, 13 Sep 2023 08:47:05 +0000 https://designthinking.id/?p=1567 Bukan rahasia lagi jika semakin banyak bisnis sukses menerapkan pendekatan design thinking untuk meningkatkan produk, pengalaman pelanggan hingga memberikan dampak yang luar biasa. Tapi mengapa kita membatasi penggunaan design thinking hanya pada bisnis?

Ketika berbicara mengenai design thinking, kita mungkin terpaku pada efektivitasnya dalam meningkatkan produk, pengalaman pelanggan, hingga memberikan dampak yang luar biasa bagi bisnis. Padahal, design thinking bukan sekedar alat untuk meningkatkan pendapatan bisnis. Lebih dari itu, design thinking merupakan pola pikir yang mampu diadopsi dalam berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali pada ruang lingkup pendidikan.

Meskipun banyak sekolah hingga perguruan tinggi menggunakan design thinking guna memberdayakan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, pendekatan satu ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar mengajar secara keseluruhan.

Dalam dunia pendidikan, design thinking dengan fokus pada empati merupakan alat yang tepat untuk mengidentifikasi kebutuhan dan preferensi siswa serta merancang pengalaman belajar yang memenuhi kebutuhan.

Dengan berempati, tenaga pengajar mampu mengembangkan pemahaman akan kebutuhan siswa dan memungkinkan mereka untuk mendesain kurikulum, ruang belajar, hingga aktivitas belajar dan mengajar berdasarkan wawasan atas kebutuhan dan preferensi belajar siswa. Dengan begitu, proses belajar dan mengajar tentunya dapat lebih efektif dan partisipatif.

Michael Schurr misalnya, seorang guru sekolah dasar di New York, Amerika Serikat, memanfaatkan design thinking untuk memaksimalkan kenyamanan para siswa ketika berada di kelas. Alih-alih mengubah tata ruang kelas berdasarkan keinginannya, Michael Schurr memutuskan berbicara langsung dengan siswanya untuk mencari tahu desain ruang kelas terbaik.

Berdasarkan masukan siswanya, Schurr lantas mendesain ulang ruang kelas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan siswanya dengan lebih baik. Ia menurunkan papan buletin atau mading sehingga siswanya benar-benar dapat melihat isi mading dengan nyaman. Selain itu, Schurr juga menciptakan ruang semi-pribadi yang lebih nyaman bagi siswa untuk belajar.

Dengan perubahan ini, murid-murid Schurr dapat lebih terlibat secara mendetail selama belajar. Schurr juga bisa bergerak lebih leluasa ketika menghampiri siswanya, begitu juga sebaliknya. Sekarang, Schurr secara konsisten melibatkan siswanya untuk membantu membentuk pengalaman belajar yang lebih efektif.

Manfaat design thinking bagi dunia pendidikan juga terlihat dari program “Students Design For Education” atau SD4E, sebuah terobosan untuk membuat sekolah yang dirancang langsung oleh siswa sekolah menengah.

Bermitra dengan Business Innovation Factory, yang paham akan design thinking, sejumlah lembaga pendidikan di Amerika Serikat: Providence Public Schools, Departemen Pendidikan Rhode Island, Youth In Action, Nellie Mae Education Foundation, dan Rhode Island Foundation, memanfaatkan kekuatan kolektif dan kreativitas siswa untuk merancang pengalaman pendidikan yang benar-benar berpusat pada siswa.

Berangkat dari tuntutan dalam meningkatkan kinerja sekolah dan tingkat kelulusan siswanya, kolaborasi antar lembaga pendidikan itu melihat pentingnya pendekatan inovatif untuk mengubah sistem pendidikan. Alih-alih menghabiskan banyak waktu dalam mengembangkan kurikulum baru, kolaborasi ini memutuskan untuk melibatkan orang-orang yang terpengaruh secara langsung dengan sistem pendidikan tersebut, dan siapa lagi kalau bukan para siswa itu sendiri.

Untuk mengumpulkan wawasan para siswa, metode design thinking digunakan sebagai bagian dari meneliti kebutuhan para siswa, merefleksikan dan mengidentifikasi masalah utama, merancang model pendidikan baru.

Dengan menempatkan siswa sebagai pusat penyelesaian masalah, Students Design For Education telah memungkinkan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan dan menguji konsep-konsep baru yang inovatif bersama pemangku kepentingan yang berpengalaman, merancang pendidikan yang lebih baik untuk diri mereka sendiri, dan mengubah cara pemangku kepentingan dalam melihat sistem pendidikan.

]]>
https://designthinking.id/edukasi/menciptakan-sistem-pendidikan-yang-berfokus-pada-siswa-melalui-design-thinking/feed/ 0
5 Inovasi Medis Hasil Metode yang Berfokus pada Pengguna Hapus Hambatan di Bidang Kesehatan https://designthinking.id/kesehatan/5-inovasi-medis-hasil-metode-yang-berfokus-pada-pengguna-hapus-hambatan-di-bidang-kesehatan/ https://designthinking.id/kesehatan/5-inovasi-medis-hasil-metode-yang-berfokus-pada-pengguna-hapus-hambatan-di-bidang-kesehatan/#respond Thu, 07 Sep 2023 09:54:09 +0000 https://designthinking.id/?p=1546

Bidang kesehatan terus mengalami transformasi yang mengagumkan berkat serangkaian inovasi. Mulai dari yang mengubah cara kita mendiagnosis, mengobati dan hingga bagaimana pelayanan kesehatan diberikan.

Dari pengembangan teknologi medis mutakhir hingga pendekatan pengobatan yang lebih personal, inovasi di bidang kesehatan telah mengubah kehidupan jutaan orang di seluruh dunia dan dengan design thinking, inovasi yang diciptakan lebih mampu menjawab kebutuhan pasien dan praktisi medis.

Aspek kreativitas, empati, dan analisis yang dihadirkan design thinking telah memungkinkan penyelidikan yang lebih mendalam tentang bagaimana pasien berinteraksi dengan pengobatan mereka. Kemampuan inilah yang mendorong penciptaan inovasi medis agar lebih baik dalam merespon kebutuhan setiap pasien.

Berikut lima inovasi medis luar biasa yang dihasilkan melalui pendekatan design thinking, yang diyakini mampu membuka jendela baru menuju masa depan pelayanan kesehatan yang lebih inovatif.

1. Proses Komunikasi Teratur untuk Pasien, Stanford Hospital

Kelas Design Thinking di Stanford Hospital. (Sumber: Stanford Hospital)

Selama dua hari, 14 manajer di Stanford Hospital, California, Amerika Serikat, meninggalkan pekerjaan harian mereka sebagai ahli medis dan kembali ‘bersekolah’. Bersama-sama mereka mengikuti kursus design thinking yang disediakan d.school.

Dalam pelatihan ini, setiap peserta bermain peran sebagai keluarga pasien dan ahli medis untuk merasakan langsung bagaimana rasanya berada dalam kekacauan UGD. Tujuannya adalah untuk mencari cara dalam meningkatkan pengalaman pasien dan keluarga mereka selama berada di UGD.

Para ahli medis yang terlibat dalam kelas design thinking juga diharuskan mewawancarai pasien dan keluarganya tentang pengalaman mereka terhadap perawatan medis yang mereka dapatkan selama berada di UGD.

Hasilnya luar biasa, wawancara dan bermain peran telah mendorong mereka untuk berempati terhadap kesulitan yang dihadapi pasien dan keluarganya. Dari kursus itu, mereka mengetahui bahwa pasien menginginkan aliran informasi yang lebih teratur untuk membantu mereka meredakan kecemasan dan ketakutan mereka selama berada di UGD.

2. MRI Ramah Anak, GE Healthcare

Mesin MRI ramah anak dari GE Healthcare (Sumber: GE Healthcare)

Besarnya mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI), acapkali membuat anak-anak yang harus melewati pemeriksaan medis ketakutan. Fenomena inilah yang mendorong Doug Dietz, seorang arsitek yang telah lama bekerja di GE HealthCare, mengembangkan desain MRI yang ramah anak.

Alih-alih merancang mesin baru, Doug Dietz meluncurkan serangkaian MRI bertema petualangan yang dinamakan “The Adventure Series”. Berkat riset pengguna yang ekstensif dan uji coba rumah sakit, Doug Dietz mengubah mesin MRI dari yang menyeramkan menjadi bernuansa kapal bajak laut dengan pemandangan pantai, istana pasir, dan lautan.

Berkat solusi kreatifnya, skor kepuasan pasien naik 90%. Anak-anak tidak lagi menderita kecemasan ketika berhadapan dengan mesin pencitraan satu ini. Mesin MRI ramah anak itu juga memudahkan anak-anak untuk tetap diam selama prosedur, yang pada gilirannya mencegah dokter untuk mengulangi pemindaian. Artinya, lebih banyak pasien yang dapat dipindai setiap harinya.

3. Sarana Edukasi dan Komunikasi Menstruasi, UNICEF dan Innovesia

Ilustrasi Menstruasi (Sumber: Freepik)

Kurangnya edukasi dan maraknya stigma negatif terkait menstruasi menjadi tantangan tersendiri bagi implementasi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di tanah air. Di berbagai daerah, menstruasi kerap menimbulkan rasa tidak nyaman yang dialami siswa perempuan. Ditambah dengan perundungan dari siswa lain, membuat menstruasi kerap menjadi momok menakutkan bagi siswa perempuan di Indonesia.

Situasi inilah yang melatari kerja sama UNICEF dan Innovesia untuk memahami permasalahan nyata yang dialami siswa terkait menstruasi di lima kota besar di Indonesia yakni, Surabaya, Banda Aceh, Kupang, Makassar dan Jayapura.

Bersama-sama, UNICEF dan Innovesia, mendalami bagaimana para siswa baik perempuan dan laki-laki memahami siklus menstruasi guna membangun kesadaran dan mengedukasi para murid terkait menstruasi, khususnya MKM itu sendiri.

Dengan bimbingan dari jaringan expert Innovesia, para siswa dibimbing membuat sejumlah prototype sarana edukasi MKM, seperti pembuatan mading kelas atau sekolah, website, buku cerita hingga aplikasi mobile, yang tidak hanya mampu memberikan edukasi tapi juga menghubungkan para murid dengan para pakar untuk bisa berkonsultasi lebih lanjut mengenai MKM.

4. Kemasan Obat Tersortir, PillPack

PillPack (Sumber: PillPack)

Berkomitmen memudahkan pasien untuk meminum obat yang tepat pada waktu yang tepat, TJ Parker dan Elliot Cohen membuat PillPack, startup di bidang farmasi yang memiliki misi untuk mempermudah akses pasien terhadap obat-obatan.

Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia seperti design thinking, Parker dan Cohen mendesain seperangkat layanan yang mencerminkan pemahaman yang benar tentang para pasien. Selama proses pengujian prototype, keduanya juga memastikan bahwa setiap interaksi pelanggan dengan PillPack, mulai dari mendaftar ke layanan secara online hingga menggunakan produknya setiap hari, dapat dilakukan secara langsung dan meyakinkan.

Hal inilah yang membuat PillPack menemukan model bisnis yang tepat. Begini cara kerjanya, pasien dapat mengirimkan resep obat-obatan secara langsung ke apoteker di PillPack secara daring atau online. Setelahnya, tim apoteker di PillPack akan mengatur obat-obatan pasien ke dalam paket atau kemasan kecil yang telah disortir dan dipersonalisasi.

Dengan model layanan ini, PillPack tak hanya mempermudah pasien mendapatkan obat-obatan tapi juga mempermudah mereka mengonsumsi obat-obatan.

5. Pengukur Gula Darah Otomatis, CONTOUR USB

CONTOUR USB dari Ascensia Diabetes Care (Sumber: Ascensia)

Fenomena inilah yang mendorong Ascensia Diabetes Care bermitra dengan IDEO, untuk mendalami apa yang sebenarnya membuat banyak pasien diabetes kesulitan mendapatkan perawatan kesehatan yang mumpuni. Dari sana, Ascensia sadar bahwa banyak penderita diabetes yang merasakan stigma negatif, khususnya ketika harus melakukan pemeriksaan kadar gula darah di depan umum.

Mengetahui masalah ini, Ascensia dan IDEO lantas merancang alat pengukur gula darah yang didesain layaknya perangkat teknologi canggih. Keduanya mengembangkan “CONTOUR USB”,  alat pengukur gula darah pertama yang mampu dihubungkan langsung ke komputer. Seperti namanya, CONTOUR USB memungkinkan pasien untuk mengunggah data kadar gula darah mereka secara otomatis ke aplikasi sehingga pasien tidak perlu lagi mencatatkannya secara manual.

Inovasi ini juga dilengkapi dengan fitur smartLIGHT berwarna merah, hijau, atau kuning untuk memberikan umpan balik instan tentang apakah kadar gula darah berada di bawah atau di atas kisaran target. Dengan begitu, CONTOUR USB dapat membantu memandu pasien untuk mengambil keputusan secara real-time terkait kondisi kesehatannya.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/5-inovasi-medis-hasil-metode-yang-berfokus-pada-pengguna-hapus-hambatan-di-bidang-kesehatan/feed/ 0
Menelisik Cara Google Ciptakan Inovasi Pendidikan Melalui Design Thinking https://designthinking.id/edukasi/menelisik-cara-google-ciptakan-inovasi-pendidikan-melalui-design-thinking/ https://designthinking.id/edukasi/menelisik-cara-google-ciptakan-inovasi-pendidikan-melalui-design-thinking/#respond Tue, 22 Aug 2023 08:39:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1495

Dengan design thinking, Google sukses menciptakan pengalaman belajar baru bagi anak-anak untuk melakukan eksperimen coding secara interaktif.

Dengan design thinking, Google sukses menciptakan pengalaman belajar baru bagi anak-anak untuk melakukan eksperimen coding secara interaktif.

Dengan design thinking, Google sukses menciptakan pengalaman belajar baru bagi anak-anak untuk melakukan eksperimen coding secara interaktif.

Dengan design thinking, Google sukses menciptakan pengalaman belajar baru bagi anak-anak untuk melakukan eksperimen coding secara interaktif.

Belajar kode atau coding bukan hanya soal mengetahui simbol dan sintaksis. Lebih dari itu, belajar coding sejak dini diyakini mampu menumbuhkan kreativitas dan imajinasi anak-anak. Kemampuan ini lahir karena melalui coding, anak-anak dapat terinspirasi untuk membangun hal-hal baru dan berinteraksi dengan serangkaian objek.

coding
coding
coding,
coding
coding
Our children must learn to code but the future lies in being human,
coding.

Pertama, coding membantu anak-anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Seperti yang Steve Jobs katakan: “Setiap orang harus tahu cara memprogram komputer, karena itu mengajari Anda cara berpikir.”

coding

Kedua, belajar coding memberi anak-anak alat untuk menjadi produsen dan bukan sekedar konsumen teknologi. Dengan begitu, anak-anak akan memiliki daya saing sebagai tenaga kerja mengingat coding dan pemrograman komputer diprediksi menjadi salah satu keterampilan yang paling banyak diburu pencari kerja di masa depan.

coding
coding

Meski begitu, Google tak melihat coding dan pemrograman komputer sebagai keterampilan kerja. Menurut mereka, coding merupakan literasi dasar yang harus dipelajari semua orang. Menurut Google, coding harus diajarkan sedini mungkin bukan untuk memudahkan anak-anak mencari pekerjaan ketika sudah dewasa, tapi agar mereka memiliki keterampilan berpikir yang baik.

coding
coding
coding

Dengan pemikiran tersebut, Google Creative Lab datang ke IDEO, sebuah studio desain yang berfokus pada manusia atau human-centered design seperti design thinking, untuk membuat media pembelajaran coding yang sederhana dan interaktif bagi anak-anak tanpa melibatkan layar komputer.

human-centered design
design thinking,
coding

1. Inspiration

1. Inspiration

Project Bloks (Sumber: Google)

Project Bloks (Sumber: Google)

Untuk mulai membangun media belajar coding yang interaktif bagi anak-anak, Google Creative Lab bersama IDEO harus lebih dulu memahami bagaimana anak-anak berinteraksi dengan aktivitas pemrograman dan membuatnya menjadi lebih menarik bagi mereka. Tahap inilah yang disebut sebagai inspiration dalam design thinking, di mana Google dituntut untuk memahami dan merasakan permasalahan yang ada demi membantu menemukan solusi terbaik.

coding
inspiration
design thinking

Pasalnya, belajar pemrograman seperti coding bisa sangat melelahkan bahkan bagi orang dewasa sekalipun. Bagaimana tidak, untuk membangun aplikasi yang paling sederhana saja, seorang programmer dapat menghabiskan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari di depan komputer. Tetapi mengingat kian pentingnya ilmu satu ini bagi dunia modern, banyak peneliti seperti di Google yang tergerak untuk membuatnya lebih menyenangkan dan mudah didekati, terutama untuk anak-anak dengan sedikit kesabaran.

coding
programmer

Atas dasar ini, Google hendak menciptakan metode pembelajaran coding, yang terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak, yang memungkinkan anak-anak mendapatkan landasan dalam konsep dasar komputasi.

coding,

2. Ideation

2. Ideation

Ragam blok pada Project Bloks dari Google (Sumber: Google)

Ragam blok pada Project Bloks dari Google (Sumber: Google)
hot

Setelah memahami tantangan yang dihadapi anak-anak, kini saatnya tim desainer mengumpulkan berbagai ide atau solusi dalam tahap ideation. Tim dari Google Creative Lab dan IDEO mendesain seperangkat blok guna menemukan cara anak-anak dapat belajar coding melalui objek nyata. Setiap blok diberi fungsi dan bentuk tertentu, membimbing anak-anak untuk mengatur, menggabungkan, dan mengatur ulang blok untuk membuat perintah dan mengontrol hal-hal seperti robot atau speaker di dunia nyata.

ideation.
coding

Selama tahap ideation, tim desainer juga mencoba berbagai media pembelajaran fisik lain seperti sketsa, inti busa, kertas, Play-Doh, dan cetakan 3D untuk melihat bagaimana perubahan bentuk media pembelajaran mempengaruhi pengalaman belajar anak-anak. Semua hal ini dilakukan agar lebih memahami apa yang mampu memperdalam keterlibatan anak-anak, dan meningkatkan keingintahuan mereka.

ideation,

Proses ideation juga membimbing tim desainer untuk memikirkan kembali anak-anak sebagai target pengguna. Hal ini membuat mereka menyadari bahwa solusi yang mereka buat haruslah mengikuti naluri alami anak-anak. Mengingat anak-anak baru belajar membaca dari kiri ke kanan, tim kemudian mengubah susunan perintah coding yang tadinya dari atas ke bawah menjadi dari kiri ke kanan.

ideation
coding

3. Implementation

3. Implementation

Project Bloks dari Google (Sumber: Google)

Project Bloks dari Google (Sumber: Google)

Untuk lebih memahami bagaimana fitur sistem memungkinkan cara baru untuk berinteraksi dengan blok mereka, Google melakukan prototyping dengan merancang “Coding Kit”, yang berisi satu set blok untuk pengajaran pemrograman. Dalam design thinking, prototyping kian krusial untuk mengubah ide menjadi sesuatu yang nyata dan mengujinya.

prototyping
design thinking, prototyping

Selama beberapa bulan pengujian, Google bekerja dengan lebih dari 150 anak untuk memahami bagaimana mereka bermain dengan Coding Kit tersebut. Hasilnya mengejutkan. Program pembelajaran yang didesain untuk memenuhi kebutuhan anak-anak itu memungkinkan mereka dengan cepat memahami prinsip-prinsip pemrograman.

Dalam menit pertama, anak-anak dapat mengetahui cara menghubungkan blok dan mengarahkannya. Dalam lima menit pertama, mereka juga memahami urutan eksekusi, dan sebagian besar dari mereka melepas dan mengganti sejumlah keping blok dengan mudah di Base Board.

Meski menuai kesuksesan, prototyping membuat tim desainer menemukan adanya kekurangan pada desain Coding Kit mereka. Pasalnya, beberapa anak kesulitan memahami konsep perulangan dalam coding. Anak-anak juga kesulitan mengidentifikasi kesalahan dalam program mereka. Untuk menyelesaikan hal ini, tim desainer dari Google kemudian menyertakan sejumlah alat debugging semacam umpan balik langsung yang membantu anak-anak melihat masalah dengan coding mereka sebelum menjalankannya.

prototyping
coding
debugging
coding

Project Bloks, Sebuah Inovasi untuk Pendidikan

Project Bloks, Sebuah Inovasi untuk Pendidikan

Dengan memahami kebutuhan nyata anak-anak, Google Creative Lab berhasil menciptakan Project Bloks, sebuah media pembelajaran interaktif yang memungkinkan anak-anak cara menyusun coding menggunakan blok fisik.

coding

Seperti namanya, Project Bloks terdiri dari elemen fisik berbentuk blok, yang terdiri dari pucks atau keping, base board dan brain board. Ketika dihubungkan bersama, ketiga blok ini dapat membentuk semacam urutan perintah yang sederhana. Pucks misalnya terdiri dari kepingan blok yang berisi jenis kontrol yang berbeda, seperti saklar hidup atau mati maupun panah arah. 

pucks
base board
brain board
Pucks

Sementara base board merupakan jenis blok yang dilengkapi komponen elektronik dan memiliki konektor di semua sisi, sehingga dapat disatukan dalam sejumlah konfigurasi dan memungkinkan aliran pemrograman yang berbeda. Terakhir, brain board adalah unit pemrosesan dari keseluruhan Project Bloks. Blok satu ini bertugas menerima perintah dari base board, menafsirkan perintah itu, dan mengirimkannya melalui koneksi WiFi atau Bluetooth ke perangkat yang terhubung.

base board
brain board
base board

Dengan menggabungkan blok-blok ini, anak-anak dapat menciptakan alur kerja yang mengajarkan konsep dasar pemrograman seperti urutan, perulangan, dan pengambilan keputusan. Project Bloks berfokus pada kesederhanaan, kreativitas, dan interaksi fisik untuk memperkenalkan anak-anak pada dasar-dasar pemrograman. 

Inovasi ini jelas merupakan contoh bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendidik anak-anak tentang literasi digital dengan cara yang intuitif dan menyenangkan. Dengan Project Bloks, tenaga pengajar juga dapat mengembangkan cara baru dalam mengajar dan mengeksplorasi pemrograman karena sifatnya yang adaptif.

]]>
https://designthinking.id/edukasi/menelisik-cara-google-ciptakan-inovasi-pendidikan-melalui-design-thinking/feed/ 0
Mudahkan Konsumsi Obat bagi Pasien, PillPack Merevolusi Industri Kesehatan melalui Design Thinking https://designthinking.id/kesehatan/mudahkan-konsumsi-obat-bagi-pasien-pillpack-merevolusi-industri-kesehatan-melalui-design-thinking/ https://designthinking.id/kesehatan/mudahkan-konsumsi-obat-bagi-pasien-pillpack-merevolusi-industri-kesehatan-melalui-design-thinking/#respond Fri, 18 Aug 2023 08:49:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1480 Berkomitmen mempermudah operasional apotek, PillPack menggunakan design thinking untuk mempermudah akses pasien ke obat-obatan. Sebuah solusi yang kemudian merevolusi industri farmasi.

Berkomitmen mempermudah operasional apotek, PillPack menggunakan design thinking untuk mempermudah akses pasien ke obat-obatan. Sebuah solusi yang kemudian merevolusi industri farmasi.

Berurusan dengan pengobatan memang seringkali lebih menyakitkan daripada rasa sakit dari penyakit itu sendiri. Bagaimana tidak, pasien acap kali harus menyisihkan waktu mereka untuk berdiri dalam antrean panjang di apotek, rutin memeriksa tanggal kadaluarsa obat-obatan, memastikan membawa segala jenis obat setiap mereka hendak bepergian. Hingga memastikan minum obat tepat waktu. Jelas itu semua bisa membuat pasien kewalahan.

startup
startup

Ide untuk mendirikan PillPack sebenarnya sudah lama dimiliki Parker, seorang apoteker yang telah menyaksikan perjuangan banyak orang untuk meminum obat sesuai resep. Sementara Cohen, pendiri lain PillPack yang juga seorang pengusaha dan insinyur teknologi kesehatan atau healthtech, juga familiar dengan kekhawatiran serupa mengingat sang ayah harus berjuang melawan kanker. Kondisi sang ayah inilah yang terus membuat Cohen kian putus asa atas rumit dan lambatnya model operasional farmasi tradisional.

healthtech,

Menggabungkan Industri Farmasi dan Design Thinking

Menggabungkan Industri Farmasi dan Design Thinking

PillPack (Sumber: PillPack)

PillPack (Sumber: PillPack)

Berkomitmen memudahkan pasien untuk meminum obat yang tepat pada waktu yang tepat, Parker dan Cohen melakukan lompatan kewirausahaan. Pada 2013, mereka kemudian meminta layanan kreatif dari firma desain yang berpusat pada manusia atau human-centered design IDEO yang berbasis di California, AS, untuk mendefinisikan kembali bagaimana konsumen terlibat berinteraksi dengan PillPack selama proses pengujian prototype.

safe
human-centered design
prototype

Selama residensi yang berlangsung tiga bulan, Parker dan Cohen beserta tim dari IDEO berfokus untuk memastikan bahwa setiap interaksi pelanggan dengan PillPack, mulai dari mendaftar ke layanan secara online hingga menggunakan produknya setiap hari, dapat dilakukan secara langsung dan meyakinkan.

Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia seperti design thinking, Parker dan Cohen mendesain seperangkat layanan yang mencerminkan pemahaman yang benar tentang para pasien. Begini cara kerjanya. Pertama, dokter atau pasien dapat mengirimkan resep obat-obatan secara langsung ke apoteker di PillPack secara daring atau online. Setelahnya, tim apoteker di PillPack akan mengatur obat-obatan pasien ke dalam paket atau kemasan kecil yang telah disortir dan dipersonalisasi. 

design thinking
online.

Paket atau kemasan kecil tersebut lantas diberi label berdasarkan tanggal dan waktu konsumsi obat. Setiap kemasan obat ini dimaksudkan untuk sekali konsumsi. Dengan begitu pasien tak perlu lagi menyortir obat-obatan mereka setiap kali hendak mengonsumsinya. Terakhir, paket obat untuk persediaan selama 14 hari akan dikirim ke pintu rumah pasien. IDEO juga mendesain kantong perjalanan yang membuat aktivitas minum obat saat bepergian menjadi sederhana dan tidak menyulitkan.

Merevolusi Industri Farmasi

Merevolusi Industri Farmasi

Kemasan PillPack (Sumber: Gregory Reid)

Kemasan PillPack (Sumber: Gregory Reid)

PillPack telah menggunakan design thinking untuk merevolusi cara kerja industri farmasi dan pasar obat-obatan. Inovasi sederhana PillPack telah membuat hidup para pasien lebih mudah. Mereka tak lagi perlu menghabiskan waktu untuk mengantri di apotek, menyortir ragam obat-obatan mereka setiap harinya. Dengan design thinking, PillPack telah mengatasi tak hanya satu tapi semua kesulitan pasien dalam mengonsumsi obat-obatan sesuai resep mereka.

design thinking
design thinking,

Design thinking sendiri merupakan pendekatan yang fokus pada pemahaman mendalam terhadap pengguna guna menciptakan solusi inovatif melalui iterasi berulang dalam proses pengembangan produk atau layanan. Dalam kasus PillPack, design thinking berhasil mendorong perusahaan untuk lebih mendalami kebutuhan, preferensi dan tantangan pasien dalam mengonsumsi obat.

design thinking

Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, mengutarakan bahwa design thinking telah membantu PillPack memahami betapa rumitnya pengelolaan obat bagi pasien yang mengonsumsi banyak jenis obat sekaligus.

design thinking

“PillPack menggunakan pendekatan design thinking untuk menciptakan kemasan obat yang disesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan setiap pasien. Inovasi ini jelas mengarah pada pengalaman yang lebih mudah, lebih teratur, dan lebih sedikit stres bagi pasien,” ujar Fiter Bagus.

design thinking

Secara menyeluruh, Fiter Bagus menilai apa yang dilakukan PillPack telah menunjukkan bahwa penerapan design thinking dalam industri farmasi dapat menghasilkan inovasi yang signifikan dalam produk dan layanan yang diberikan untuk pasien. Pasalnya, design thinking membantu perusahaan untuk lebih baik memahami dan memenuhi kebutuhan pasien serta mengatasi tantangan kompleks dalam penyediaan obat yang aman dan efektif.

design thinking
design thinking

Berkaca pada kesuksesan PillPack menggunakan design thinking untuk menyelesaikan masalah pasien terkait konsumsi obat, Innovesia sebagai salah satu pengadopsi awal metode design thinking di Indonesia membuka kesempatan bagi lebih banyak perusahaan farmasi untuk merangkul pendekatan satu ini untuk memecahkan masalah kesehatan dan tentunya meningkatkan kemudahan bagi pasien.

design thinking
design thinking

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/mudahkan-konsumsi-obat-bagi-pasien-pillpack-merevolusi-industri-kesehatan-melalui-design-thinking/feed/ 0
Inovasi Hadapi Tech Winter, Innovesia Bekali Peserta di UI Innovation War 2023 https://designthinking.id/edukasi/inovasi-hadapi-tech-winter-innovesia-bekali-peserta-di-ui-innovation-war-2023/ https://designthinking.id/edukasi/inovasi-hadapi-tech-winter-innovesia-bekali-peserta-di-ui-innovation-war-2023/#respond Wed, 16 Aug 2023 07:14:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1473 Bertema “Resilient Business Strategy: Turning Volatility into Opportunity with Dynamic Up-to-Date Solution”, kompetisi business plan dan business case tingkat nasional itu ditujukan untuk meningkatkan kreativitas para peserta dalam menciptakan rencana bisnis yang berkelanjutan, juga menyediakan inovasi dan strategi dalam memecahkan business case nyata di tengah fenomena tech winter.

business plan
business case
tech winter
startup
startup
rapid growth.
startup

Namun, dengan berangsur pulihnya kondisi dunia dari pandemi Covid-19 ditambah meningkatnya laju inflasi dan kondisi geopolitik yang tak stabil, mendorong Bank Sentral Amerika Serikat untuk kembali meningkatkan suku bunganya bahkan hingga menyentuh tujuh kali lipat pada tahun 2022. Sayangnya, peningkatan suku bunga ini turut menjadi cikal bakal adanya tech Winter, sebuah kondisi dimana perusahaan startup satu per satu runtuh karena berkurangnya dana investasi yang mereka terima dari para investor.

tech Winter
startup. 

Fenomena ini menjadi tantangan besar yang diangkat UI Innovation War 2023 tahun ini. Pasalnya, fenomena tech winter telah memaksa perusahaan seperti startup untuk tak cuma mengejar rapid growth tapi mulai berfokus pada pertumbuhan profit. Fenomena tech winter jelas menuntut startup untuk berinovasi, menciptakan sumber pendapatan atau revenue stream baru tanpa lagi harus membakar uang demi menarik lebih banyak pelanggan.

tech winter
startup
rapid growth
tech winter
startup
revenue stream

Atas dasar itu, ajang Workshop Business Case Competition and Mini Case Trial ini diharapkan mampu menambah wawasan, menumbuhkan kreativitas dan kemampuan analitis para peserta untuk menjawab tantangan bisnis yang kompleks.

Workshop ini adalah ajang di mana para peserta dapat menambah wawasan dan inspirasi di era inovasi dan teknologi yang berkembang pesat bagi bisnis. Dengan tujuan untuk memperkaya wawasan dan pemahaman tentang berbagai aspek bisnis, acara ini menghadirkan serangkaian webinar dengan speaker ternama yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidangnya masing-masing,” ujar Caturangga Argya, Vice Project Officer UI Innovation War 2023, dalam sambutannya pada Sabtu (5/8).

Workshop

Poster ajang UI Innovation War 2023 (Sumber: Istimewa)

Poster ajang UI Innovation War 2023 (Sumber: Istimewa)

Pada kesempatan kali ini, Innovesia dipercaya Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) selaku penyelenggara UI Innovation War 2023 untuk menyediakan studi kasus yang menjadi bahan diskusi para peserta selama workshop berlangsung. Dalam waktu 45 menit, para peserta diharapkan dapat berkolaborasi untuk memecahkan masalah bisnis secara inovatif dan visioner. Innovesia dalam hal ini juga terlibat dalam menilai hasil studi para peserta dalam mini case competition.

workshop
mini case competition.

“Acara ini juga menyelenggarakan mini case competition di mana peserta akan menghadapi tantangan sebenarnya dalam rangkaian kasus yang menarik. Dalam 45 menit, para peserta diharapkan mampu menerapkan kemampuan analitis, kreativitas dan kerja tim mereka dalam menyelesaikan masalah bisnis yang kompleks,” jelas Caturangga Argya.

mini case competition

Fiter Bagus Cahyono selaku Direktur Innovesia berpendapat, Workshop Business Case Competition and Mini Case Trial memberi kesempatan bagi para peserta untuk mengasah keterampilan mereka dalam menciptakan ide bisnis dengan belajar langsung dari kasus bisnis di dunia nyata.

“Dengan adanya UI Innovation War, mahasiswa yang menjadi peserta diharapkan mampu mengasah keterampilannya dalam melihat situasi bisnis terkini serta ke depan dan mengaplikasikan pola pikir jangka panjang agar bisnis yang dijalani bisa berkelanjutan,” ujar Fiter Bagus.

Selain menyediakan studi kasus untuk diselesaikan, Mia Astari Vice President of Corporate Innovation yang mewakili Innovesia, juga membekali para peserta dengan pendekatan design thinking untuk membantu para peserta membangun atau menciptakan inovasi produk, layanan atau model bisnis yang mampu menjawab kebutuhan pelanggan atau pasar. 

design thinking

Dengan materi design thinking, Mia berharap para peserta mampu menciptakan ide bisnis yang benar-benar menjawab kebutuhan target penggunanya atau product market-fit dan bukan mengedepankan teknologi atau fiturnya.

design thinking,
product market-fit

Design thinking merupakan sebuah jembatan dalam pembangunan Kanvas Model Bisnis yang membantu pendefinisian Segmen Pelanggan dan Proposisi Nilai yang ditawarkan untuk pengguna. Dengan design thinking, pelaku bisnis bisa mendalami kebutuhan pelanggan dan memperbaiki produknya agar kepuasan pelanggan dapat ditingkatkan dan keberlanjutan bisnis bisa dipertahankan,” ujar Mia Astari.

Design thinking

Mia Astari sebagai salah satu pemateri dalam UI Innovation War 2023. (Sumber: Tangkapan Layar)

Mia Astari sebagai salah satu pemateri dalam UI Innovation War 2023. (Sumber: Tangkapan Layar)

Pada kesempatan yang sama, Mia juga memberikan pemahaman terkait kanvas model bisnis atau business model canvas (BMC) yang akan menuntun para peserta menyusun ide bisnis mereka dengan lebih terstruktur. Dengan BMC, para peserta dituntun melihat hubungan logis antara komponen-komponen dalam bisnis mereka dan membantu mereka menemukan proposisi nilai. BMC juga dapat berguna untuk menguji konsistensi keterkaitan antara satu komponen dapat memiliki pengaruh terhadap komponen lainnya.

business model canvas

Adapun setelah penyelenggaraan Workshop Business Case Competition and Mini Case Trial, ajang UI Innovation War 2023 akan dilanjutkan dengan Workshop Business Plan Competition dan Business Model Canvas Trial untuk membantu para peserta membangun bisnis mereka dengan cara yang ahli. 

Para peserta nantinya juga akan dibekali dengan serangkaian kegiatan pendampingan atau mentoring untuk menguatkan rancangan bisnis mereka sebelum mempresentasikannya di hadapan dewan juri. Rangkaian workshop, mentoring dan kompetisi UI Innovation War 2023 ini tak lain ditujukan untuk menumbuhkan kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan di kalangan remaja.

mentoring
workshop, mentoring

“Innovesia berharap, ke depannya akan semakin banyak kegiatan atau kompetisi seperti UI Innovation War 2023 untuk pengembangan jiwa kewirausahaan sedini mungkin, juga meningkatkan keterampilan pelajar dalam analisis bisnis, dan pemecahan masalah melalui serangkaian workshop dan pendampingan atau mentoring,” ujar Fiter Bagus.

workshop
mentoring,”

Innovesia selalu terbuka akan kesempatan baik seperti ini dalam mendukung pengembangan kapabilitas generasi masa depan Indonesia demi kemajuan bangsa.

you can find out more

]]>
https://designthinking.id/edukasi/inovasi-hadapi-tech-winter-innovesia-bekali-peserta-di-ui-innovation-war-2023/feed/ 0
Bersama Innovesia, Shell Mobility Ciptakan Peluang Bisnis Baru Melalui Inovasi https://designthinking.id/otomotif/bersama-innovesia-shell-mobility-ciptakan-peluang-bisnis-baru-melalui-inovasi/ https://designthinking.id/otomotif/bersama-innovesia-shell-mobility-ciptakan-peluang-bisnis-baru-melalui-inovasi/#respond Tue, 08 Aug 2023 09:20:14 +0000 https://designthinking.id/?p=1439 Menjadi peritel di sektor mobilitas terbesar di dunia tak lantas membuat Shell Mobility berpuas diri. Tersebar di lebih dari 46.000 lokasi dengan 32 juta pelanggan secara global, Shell Mobility terus berupaya menjadi pemain utama di sektor mobilitas yang tak hanya menawarkan pembelian bahan bakar minyak (BBM), tapi juga penggantian pelumas dan pencucian mobil. Bahkan kebutuhan yang dibutuhkan oleh para pengendara seperti makanan dan minuman.

Dengan semangat itulah, Shell Mobility memutuskan perlunya berinovasi untuk tetap relevan di lanskap bisnis yang terus berubah. Namun, perjalanan inovasi Shell Mobility tidaklah mulus. Dihadapkan pada banyak ide inovasi justru membuat Michael Tumengkol yang sempat menduduki posisi Head of Organizational Development and Learning di Shell Mobility Indonesia mengalami kesulitan.

you can try this out

“Sebelum berinovasi kita berdiskusi bersama banyak pihak di Shell Mobility. Tapi kesimpulannya sederhana, bahwa kita perlu berinovasi mengenai bagaimana kita mengkonstruksi ide, karena idenya banyak tapi cenderung serabutan. Kita kesulitan menerjemahkan ide jadi action,” ujar Michael Tumengkol, yang kini menjabat sebagai Global Learning and Development Advisor di Shell.

Kesulitan menerjemahkan banyaknya ide inovasi yang terkumpul, lantas membuat Michael berpikir perlunya mempelajari pendekatan atau pola pikir yang akan membantu Shell Mobility berinovasi secara terstruktur. Saat itulah Michael memutuskan untuk bekerja sama dengan Innovesia dalam tujuan menanamkan pendekatan inovasi yang tepat.

“Jadi pertimbangan awal kita untuk berinovasi maksudnya adalah membuat pendekatan yang terstruktur dalam menerjemahkan berbagai ide baru menjadi rencana dan action,” lanjut Michael.

Innovesia dipercaya Shell menanamkan pola pikir design thinking kepada pegawai Shell Mobility melalui lokakarya “Innovation by Design for Shell Mobility Indonesia”. Diselenggarakan secara daring serta luring untuk observasi dan wawancara pada Februari 2021, workshop design thinking ditujukan melatih manajerial Shell Mobility dan retailer agar mampu menghasilkan solusi inovatif untuk mempertahankan dan meningkatkan profitabilitas. 

Lebih dari 30 peserta yang terdiri dari sejumlah departemen di Shell Mobility ikut serta mempelajari pendekatan design thinking dari Innovesia yang mencakup tiga tahapan besar, yakni inspiration yang menuntut mereka memahami masalah dengan mempelajari kebutuhan pelanggan melalui imersi, ideation yang membantu Shell Mobility membingkai wawasan dari masalah yang ditemui dan menghasilkan ragam solusi inovatif, juga implementation di mana para peserta lokakarya harus mewujudkan solusi mereka dalam bentuk prototype.

Dari banyaknya pendekatan pemecahan masalah, design thinking dipilih Michael karena pendekatan satu ini mudah dipelajari dan bisa menuntun Shell Mobility memahami masalah utama yang mereka hadapi, menentukan ide inovasi mana yang paling dibutuhkan dan mewujudkan ide itu dari sekedar konsep menjadi solusi nyata.

“Kalau design thinking karena itu adalah hal sederhana untuk menerjemahkan ide jadi rencana, kita bisa melihat bahwa design thinking adalah sesuatu yang bisa dipelajari secara cepat dan orang bisa menangkap konsepnya dengan mudah serta menerjemahkan idenya menjadi action,” jelas Michael.

Dengan bimbingan dari sejumlah fasilitator Innovesia, para peserta yang dibagi ke dalam enam kelompok tak hanya dibimbing untuk memahami akar masalah dari sudut pandang konsumen, tapi juga menghadirkan solusi dan bagaimana mengeksekusi ide tersebut ke dalam situasi bisnis sebenarnya melalui business model canvas.

Pada tahap inilah para peserta dari Shell Mobility diajarkan memetakan solusi pada sejumlah faktor eksternal, seperti seberapa besar ide inovasi itu diinginkan atau mampu menciptakan nilai bagi pelanggan. Para peserta juga dituntut untuk mengkritisi kelayakan ide inovasi serta memetakan konsekuensi implementasi ide inovasi tersebut terhadap keuangan perusahaan. Dengan begitu, ide inovasi yang nantinya diimplementasikan sudah pasti tepat sasaran.

Terlebih, metode design thinking mewajibkan prototype untuk diujikan kepada para calon pelanggan sehingga Shell Mobility sebagai inovator mampu melihat apakah ide inovasi atau solusi yang mereka kembangkan diterima baik atau tidak. Umpan balik dari pelanggan inilah yang digunakan untuk meningkatkan atau memperbaiki ide inovasi tersebut.

Terciptanya Dua Peluang Bisnis Baru

Adapun selama dua bulan menjalankan lokakarya Innovation by Design for Shell Mobility Indonesia bersama Innovesia, para peserta tak hanya berhasil mengembangkan satu tapi enam buah ide inovasi yang kemudian diwujudkan dalam bentuk prototype. Dua diantaranya bahkan diimplementasikan sebagai bentuk layanan baru di Shell Mobility.

Kedua inovasi itu adalah pojok kuliner dan Shell Smart Club Apps atau yang kini dikenal sebagai Shell Go+. Pojok kuliner sendiri merupakan penambahan komoditas makanan lokal khususnya produk usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) di Shell Select. Dengan pojok kuliner, diharapkan akan mampu meningkatkan kunjungan pengendara roda dua ke SPBU Shell.

Pojok kuliner di Shell Select.

Berkat pendekatan design thinking yang ditanamkan Innovesia melalui lokakarya, Shell Mobility paham betul pentingnya mengidentifikasi kebutuhan target pelanggan setiap lokasi SPBU Shell, yang tentunya berbeda-beda. Wawasan inilah yang menuntun Shell Mobility untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai target pelanggan mereka dan kebutuhannya guna menyediakan produk yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

“Yang pertama, dikembangkan adalah yang pojok kuliner di Shell Indonesia. Jadi memang sedikit dikembangkan karena kita mengidentifikasi lebih jelas setiap toko [Shell Select] itu bisa punya pojok kuliner yang berbeda-beda dan itukan tergantung siapa supplier-nya siapa konsumen yang biasa kesitu dan apa yang mereka mau. Nah itu yang kita terapkan terus mulai dari produk apa yang harus ditaruh di mana, dan berapa banyak,” jelas Michael.

Sementara itu, Shell SmartClub hadir dalam bentuk aplikasi di ponsel yang lebih mudah dan praktis, yang menawarkan kemudahan bagi konsumen Shell untuk menemukan lokasi SPBU Shell terdekat, bertransaksi secara digital hingga mendapatkan berbagai keuntungan lainnya di Shell.

Tampilan aplikasi Shell Go+ (Sumber: Shell Indonesia)

Menurut Michael, ide membuat aplikasi sudah lama terpikirkan oleh Shell Mobility. Namun, lagi-lagi kesulitan mewujudkan ide menjadi produk nyata membuat Shell Mobility belum bisa mengeksekusi ide itu hingga mengikuti lokakarya design thinking bersama Innovesia.

“Shell Smart Club Apps ini yang kita kembangkan menjadi aplikasi mobile Shell untuk memudahkan transaksi di SPBU Shell. Itu dari workshop bersama Innovesia. Memang idenya sudah ada dari sebelum workshop ya, tapi ketika mengikuti workshop ini diakselerasi menggunakan design thinking itu tadi,” ujar Michael.

Menanamkan Pola Pikir yang Berharga

Meski lokakarya design thinking bersama Innovesia mendorong Shell Mobility menciptakan peluang bisnis baru, Michael menekankan bahwa keuntungan utama lokakarya tersebut adalah perubahan pola pikir pegawai Shell Mobility.

Menurut Michael, mengenal design thinking memungkinkan pegawai untuk meninggalkan ketakutan yang dulu mereka rasakan ketika berinovasi. Rasa takut ini juga yang telah menghambat upaya Shell Mobility untuk mewujudkan ide inovasi mereka. Poin inilah yang masih melekat di Shell, meski lokakarya telah berakhir pada 2020 silam.

“Setelah workshop, saya lihat ya cara orang menerjemahkan ide jadi action itu memang bergeser [menjadi lebih baik]. Ada beberapa hal yang mereka implementasikan. Mereka jadi lebih berani. Misalnya, kita coba saja terlebih dahulu, ide tidak harus perfect, minimal MVP [minimum viable product],” tutur Michael.

Bahkan Michael menuturkan bahwa pola pikir seperti ini tak hanya tertanam pada mereka yang mengikuti lokakarya design thinking bersama Innovesia, tapi juga ditularkan kepada mereka yang tidak mengikuti lokakarya tersebut. Kini, pendekatan design thinking menjadi salah satu cara berpikir yang masih digunakan Shell Mobility dalam pekerjaan sehari-hari.

“Cara berpikir seperti itu digunakan terlepas ini sudah di luar workshop. Bahkan di level lain, pembicaraan seperti itu masih berlangsung. TIdak perlu perfect, minimum MVP kita coba saja, kita trial nanti kita evaluasi lagi itu jadi pendekatan yang sering kita lakukan,” lanjut Michael.

Ketika ditanya mengenai pengalamannya berinovasi bersama Innovesia, Michael mengaku lokakarya yang diselenggarakan pada 2020 lalu menjadi pengalaman yang berharga bagi Shell Mobility.

“Berharga, maksudnya memang pengalaman belajarnya singkat tapi yang berharga itu kita belajar mengenai cara berpikirnya, framework-nya, langkah-langkahnya dan dari waktu belajar yang singkat, cara berpikir itu tetap bisa dipakai sampai kapanpun,” tutup Michael.

]]>
https://designthinking.id/otomotif/bersama-innovesia-shell-mobility-ciptakan-peluang-bisnis-baru-melalui-inovasi/feed/ 0
Metode Design Thinking Dibalik Terciptanya Gojek https://designthinking.id/teknologi/metode-design-thinking-dibalik-terciptanya-gojek/ https://designthinking.id/teknologi/metode-design-thinking-dibalik-terciptanya-gojek/#respond Mon, 07 Aug 2023 05:50:39 +0000 https://designthinking.id/?p=1427 Siapa yang tak kenal Gojek. Penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi atau ride hailing terbesar di Indonesia yang telah berkembang menjadi super app dengan layanan transportasi, pengiriman makanan, logistik, pembayaran, dan bahkan layanan gaya hidup seperti pembelian tiket bioskop dan titip belanja. Dengan jutaan pengguna setiap harinya di Indonesia, Gojek bahkan dikenal sebagai salah satu sistem operasi yang memberdayakan Indonesia.

Memperluas jangkauannya di pasar Vietnam, dan sejumlah negara lain di Asia Tenggara, peluncuran Gojek dimulai dari keprihatinan Nadiem Makarim, sang pendiri Gojek. Kembali ke tahun 2010, ojek merupakan pilihan transportasi Nadiem di Jakarta. Seperti masyarakat lainnya, kemacetan Jakarta memang sudah kian meresahkan. Banyak yang pada akhirnya memilih ojek karena kemampuannya dalam menerobos kemacetan ibu kota.

Atas dasar itu, Nadiem tergerak untuk memperbaiki transportasi di Indonesia. Menurutnya, masalah kemacetan harus diselesaikan dengan solusi alternatif. Khususnya ketersediaan transportasi yang memiliki mobilitas tinggi dan mudah di akses. Kebiasaannya menggunakan jasa ojek pun membuatnya melihat potensi layanan transportasi satu itu untuk mendukung aktivitas masyarakat Jakarta.

Bermula dari permasalahan ini, lahirlah inovasi aplikasi yang diciptakan oleh PT Aplikasi Karya Anak Bangsa. Fenomena Gojek di Indonesia memberikan banyak perubahan pada kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta. Gojek tak hanya memberikan kemudahan bagi para penumpang untuk mendapatkan akses ke layanan transportasi dengan mudah, tapi juga membantu para tukang ojek akan kepastian penghasilan.

Dalam wawancaranya bersama Liputan6 pada 2018 silam, Nadiem mengaku tak pernah mengira bahwa industri transportasi yang ia bangun mampu sebesar saat ini. Perkembangan yang cukup signifikan pada Gojek sebenarnya tidak lepas dari pendekatan  design thinking yang diimplementasikan Nadiem ketika pertama kali mendirikan Gojek. Pasalnya, Gojek mampu memberikan solusi efektif dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan transportasi, suatu hal yang dikenal sebagai empati dalam design thinking. 

Berbeda dari proses atau metode inovasi lainnya, design thinking digambarkan sebagai sebuah proses dan pola pikir untuk berempati dengan masalah yang berfokus pada manusia. Dalam hal ini, Gojek memanfaatkan perkembangan teknologi seraya tetap menjadikan manusia sebagai pusat interaksi dan kendali dalam menciptakan sebuah solusi. 

Kesuksesan Gojek merupakan salah satu bukti nyata bahwa design thinking mampu memberikan dampak nyata dalam bisnis.

1. Inspiration

Design thinking dimulai dengan memahami dan merasakan permasalahan yang ada untuk membantu kita menemukan solusi terbaik bagi orang-orang yang kita bantu selesaikan masalahnya. Karenanya, untuk menemukan wawasan akan masalah yang dihadapi orang lain, kita butuh berempati. Dengan berempati kita mencoba memposisikan diri kita sebagai orang lain untuk benar-benar memahami apa yang mereka rasakan, pikirkan, harapkan, dan kebiasaan lain yang terhubung pada masalah yang sedang kita fokuskan.

Hal inilah yang dilakukan Gojek. Untuk menciptakan solusi yang mampu mengatasi masalah kemacetan, Gojek mengawalinya dengan berempati atas setiap keresahan masyarakat mengenai kemacetan. Pada sisi lain, Gojek juga mencoba memahami permasalahan yang dirasakan pengendara ojek. Pasalnya, banyak tukang ojek yang kesulitan mendapatkan penumpang. Tak jarang, mereka hanya bisa mengantar dua sampai tiga orang dalam sehari.

“Dulu saya naik ojek ke mana-mana. Karena kalau naik mobil gak akan nyampe. Saya rasa banyak orang-orang yang dulu tidak percaya bahwa ojek bisa profesional. Hal ini cukup membuat saya frustasi, karena saya juga harus mengetahui secara persis pengendara ojek di Indonesia. Dengan mengetahui mereka secara personal, saya segera sadar bahwa sektor ini benar-benar sungguh bernilai,” ujar Nadiem dalam sebuah wawancara pada 2018 silam, seperti dilansir dari laman liputan6.com.

site web

Empati sangat penting untuk pemecahan masalah melalui design thinking yang berpusat pada manusia karena memungkinkan kita mengesampingkan asumsi untuk mendapatkan wawasan nyata tentang pengguna dan kebutuhan mereka. Empati inilah yang mengarahkan Gojek pada solusi yang tepat.

2. Ideation

Setelah berempati, design thinking mengarahkan kita untuk mendefinisikan setiap temuan atau wawasan untuk menentukan masalah konsumen yang hendak kita diselesaikan. Tahap ideation dilakukan dengan menemukan pola umum atau masalah inti terkait kebutuhan konsumen yang secara konsisten muncul selama proses berempati. Usai mengidentifikasi sejumlah pernyataan masalah, design thinking dilanjutkan dengan menghasilkan ide atau solusi dari masalah tersebut.

Dari empati tersebut kemudian Gojek berupaya menggabungkan semua saran dan keresahan yang dialami masyarakat dan tukang ojek untuk menentukan beberapa poin penting. Nadiem mengidentifikasi permasalahan utama, di mana masyarakat selaku konsumen menghadapi permasalahan kemacetan. Sementara para tukang ojek dihadapkan dengan pendapatan yang rendah dan ketidakpastian.

Dari kedua masalah utama inilah Gojek berusaha menciptakan solusi yang memposisikan mereka sebagai penghubung antara konsumen dan tukang ojek yang bekerjasama atau bermitra dengan mereka.

“Konsumen adalah mereka yang memiliki masalah hari demi hari, dan kami menciptakan produk di mana Gojek dapat menembus ruang kosong tersebut,” ujar Nadiem, menggambarkan bagaimana keresahan masyarakat merupakan fokus utamanya dalam membangun Gojek.

3. Implementation

Design thinking dilanjutkan dengan menciptakan prototype dan purwarupa dari ide yang terseleksi. Tujuan dari tahap pembuatan prototype ini adalah untuk mengubah ide menjadi sesuatu yang nyata dan dapat diuji pada pelanggan. Setelah membuat prototype, ini saatnya untuk menempatkannya ke konsumen agar dapat  melihat bagaimana mereka bereaksi dan berinteraksi dengan prototype tersebut. Selama tahap pengujian, perhatikan baik-baik apakah fitur yang telah didesain diterima dengan baik atau tidak.

Alih-alih langsung meluncurkan solusi dalam bentuk produk jadi. Pada 2010, Gojek lebih dulu membuat aplikasi yang awalnya hanya sebagai pusat call center bagi penyedia ojek konvensional yang berjumlah 20 orang pengemudi.

Siapa sangka, ide itu disambut baik oleh masyarakat. Dari sana, Gojek melakukan pembaruan dan evaluasi untuk mengembangkan aplikasi yang telah mereka buat agar dapat berfungsi lebih baik dan menghubungkan lebih banyak mitra pengemudi ojek dan penumpang. Pada tahun 2015 Gojek mendapatkan peningkatan mitra driver dari 20 orang menjadi 800 orang mitra driver.

Menjadi Super App dan Merambah Pasar Asia Tenggara

Sejak diluncurkan pada 2010, Gojek telah sukses menjadi penghubung mitra ojek online dengan customer yang membutuhkan transportasi alternatif untuk menghindari kemacetan Jakarta. Kesuksesan layanan ride hailing yang ditawarkannya pun membuat Gojek mengembangkan bisnisnya pada layanan antar makanan, barang, pembelian barang, jasa kebersihan, dan lain sebagainya.

“Ketika kami memulai bisnis ini, banyak orang yang mengatakan bahwa kami harus ahli dalam satu bidang. Jika kami tidak cukup luar biasa pada satu industri, maka akan cepat dilupakan oleh industri lain yang lebih baik dalam hal teknologi maupun finansial,” ungkap Nadiem.

Kini, jutaan orang menggunakan Gojek setiap harinya. Pada 2020, lebih dari dua juta pengemudi ojek terdaftar sebagai mitra driver Gojek. Merger Gojek dengan Tokopedia, membuat GoTo mencatatkan nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) secara grup lebih dari USD 22 miliar (Rp 314 triliun) dengan lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan pada tahun 2020.

Tak hanya itu, Gojek juga menjadi satu-satunya perusahaan di Asia Tenggara yang masuk ke daftar “Change the World’ versi majalah ekonomi Fortune sebanyak dua kali.

“Saya ingin Gojek 10 tahun dari sekarang, atau 20 tahun dari sekarang akan dibicarakan sebagai perusahaan yang membuktikan bahwa teknologi dapat berpengaruh besar pada ekonomi, yakni membawa dampak evolusi besar pada masyarakat,” tandas Nadiem.

Memahami Design Thinking Bersama Innovesia

Dewasa ini di mana inovasi menentukan kesuksesan dan pertumbuhan bisnis, design thinking menjadi kunci kesuksesan banyak organisasi global terkemuka. Hal ini tak terlepas dari kemampuan design thinking untuk menempatkan pengguna atau konsumen dalam setiap proses inovasi.

Innovesia sebagai perusahaan konsultasi dalam bidang inovasi, telah dikenal luas atas kiprahnya membantu perusahaan dan organisasi untuk berinovasi menggunakan design thinking. Melalui pendekatan Design Thinking 9i dari Innovesia, organisasi dibimbing untuk senantiasa memahami kebutuhan pengguna ketika berinovasi.

Innovesia percaya bahwa inovasi tidak berasal dari teknologi, produk atau fitur, tetapi dari kebutuhan manusia, pola pikir, dan empati. Sejak berdiri pada 2015, Innovesia melalui layanan workshop dan konsultasi strategisnya telah membantu banyak organisasi mengatasi tantangan dengan memusatkan proses pemecahan masalah kepada manusia sebagai pengguna atau konsumen.

Pada bulan Oktober 2018, Innovesia berkesempatan bekerja sama dengan OneMaker Group dalam menjawab tantangan bagaimana mendesain mobilitas yang lebih baik di Singapura. Dengan metodologi design thinking, Innovesia membimbing para peserta memecahkan masalah seputar fasilitas transportasi umum.

Melalui pendekatan satu ini, para peserta diajarkan untuk berempati kepada masyarakat pengguna transportasi umum dengan memahami akar masalah. Tahapan ini dilakukan dengan wawancara dan mengamati warga Singapura yang menggunakan fasilitas tersebut setiap hari.

Setelah merumuskan wawasan, mereka menghasilkan ide-ide dan memvisualisasikannya menjadi prototype. Dengan menggunakan metodologi ini, peserta dapat memahami “What-How-Why” sistem transportasi di Singapura. Kerja sama ini lantas menghasilkan dua hasil, masing-masing memberikan aksesibilitas bagi masyarakat, baik itu akses untuk lanjut usia atau fasilitas bagi orang dengan mobilitas tinggi. 

Dari dua kasus di atas, kita dapat melihat bahwa design thinking dapat digunakan oleh siapa saja untuk mencoba memberikan dampak yang positif.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/metode-design-thinking-dibalik-terciptanya-gojek/feed/ 0
Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/ https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/#respond Tue, 25 Jul 2023 07:05:25 +0000 https://designthinking.id/?p=1366 Organisasi Kesehatan Dunia () mencatat sekitar 422 juta orang di seluruh dunia menderita diabetes. Namun sayang, banyak penderita diabetes masih kesulitan mendapat akses ke pengobatan yang komprehensif.

Diabetes sendiri merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah. Penyakit satu ini tentu tidak bisa dianggap enteng karena dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. 

Pada 2019 saja misalnya, diabetes menjadi penyebab langsung 1,5 juta kematian. Di mana 48% dari seluruh kematian akibat diabetes menimpa mereka yang berusia di bawah 70 tahun. Pada tahun yang sama, 460.000 kematian akibat penyakit ginjal juga disebabkan oleh diabetes.

Perawatan kesehatan bagi mereka yang menderita diabetes tidaklah mudah. Pasalnya mereka harus menjaga kadar gula darah terkendali dengan menjaga gaya hidup yang sehat. Penderita diabetes umumnya diharuskan mengkonsumsi obat-obatan untuk menurunkan gula darah bahkan mendapatkan suntikan insulin untuk bertahan hidup. Mereka juga diwajibkan memeriksa gula darah beberapa kali sehari, menyimpan catatan aktivitas yang mendetail, hingga mencatat asupan makanan sehari-hari.

Melihat bahwa banyak penderita diabetes kesulitan melaksanakan perawatan mandiri yang dibutuhkan, , menyadari perlunya menciptakan semacam alat pengukur kadar gula dalam darah yang mampu memberi pasien informasi dan kontrol kesehatan yang lebih baik.

Perusahaan perawatan kesehatan global yang telah memimpin dalam pengobatan diabetes selama lebih dari 80 tahun itu, lantas memilih pendekatan lain dengan memahami apa yang sebenarnya mempersulit penderita diabetes untuk rutin mengecek kadar gula darah dan menciptakan solusi yang komprehensif.

CONTOUR USB, Pengukur Gula Darah Digital Pertama di Dunia

CONTOUR USB, alat pengecek gula darah dari Asensia Diabetes Care (Sumber: Ascensia)

Bermitra dengan IDEO, Ascensia sadar bahwa banyak penderita diabetes yang merasakan stigma negatif. Hal yang sama juga mereka rasakan ketika harus melakukan pemeriksaan kadar gula darah di depan umum. Mengetahui masalah ini, Ascensia dan IDEO lantas memfokuskan pengembangan solusi mereka untuk membantu mengurangi stigma negatif tersebut.

Bersama-sama, keduanya memutuskan untuk merancang alat pengukur gula darah yang didesain layaknya perangkat teknologi canggih. Ascensia memang sudah terkenal sebagai produsen alat pengukur gula darah bernama CONTOUR NEXT ONE. Namun, pendekatan human-centered design yang digunakannya kali ini tidak hanya mampu mengukur kadar gula darah, tapi mengentaskan stigma negatif sekaligus memberikan solusi kesehatan yang lebih komprehensif.

Layaknya perangkat teknologi canggih, Ascensia dan IDEO mengembangkan “CONTOUR USB”,  alat pengukur gula darah pertama yang mampu dihubungkan langsung ke komputer. Seperti namanya, CONTOUR USB memungkinkan pasien untuk mengunggah data kadar gula darah mereka secara otomatis ke aplikasi sehingga pasien tidak perlu lagi mencatatkannya secara manual. 

Inovasi ini juga dilengkapi dengan fitur smartLIGHT berwarna merah, hijau, atau kuning untuk memberikan umpan balik instan tentang apakah kadar gula darah berada di bawah atau di atas kisaran target. Dengan begitu, CONTOUR USB dapat membantu memandu pasien untuk mengambil keputusan secara real-time terkait kondisi kesehatannya.

CONTOUR Diabetes App, Bantu Penderita Diabetes Rencanakan Pola Hidup Sehat

CONTOUR USB dan Aplikasi Diabetes dari Ascensia Diabetes Care (Sumber: IDEO)

Tak berhenti hanya dengan CONTOUR USB, Ascensia melihat peluang inovasi lain dengan mengembangkan layanan kesehatan digital dalam bentuk aplikasi yang tidak hanya mampu mendokumentasikan riwayat kadar gula darah pasien, tapi juga mendokumentasikan asupan makanan dan semua faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang.

Diberi nama CONTOUR Diabetes App, aplikasi satu ini tak hanya mampu mendokumentasikan riwayat gaya hidup pasien, tapi juga memberikan pasien kontrol yang lebih besar untuk merencanakan pola hidup sehat yang dipersonalisasi, seperti rencana olahraga dan asupan nutrisi. 

Tentunya semua ini dilakukan dengan bimbingan dari tenaga tenaga medis diabetes bersertifikat, yang akan membuat program khusus berdasarkan kebutuhan masing-masing pasien. Para pasien juga akan menerima rekomendasi artikel kesehatan yang relevan dengan kondisi aktual mereka. 

Layanan kesehatan berbasis aplikasi ini memberi penderita diabetes akses ke informasi yang tepat pada waktu yang tepat dan dapat menjawab pertanyaan mereka kapan saja melalui obrolan dengan para pakar diabetes. Tujuannya adalah untuk mendorong pasien ke arah gaya hidup yang lebih sehat dan kontrol yang lebih baik terhadap kondisi mereka.

Hasilnya luar biasa, dari hasil pengujian terhadap 60 orang, hanya dua peserta yang gagal menyelesaikan penelitian. Angka ini menunjukan tingkat keberhasilan yang tinggi mengingat tingkat kepatuhan pasien terhadap terapi penyakit kronis seperti diabetes di negara maju rata-rata hanya sekitar 50%. 

Artinya, sangat sulit bagi pasien penderita penyakit kronis untuk melakukan perawatan atau terapi rutin untuk menjaga kesehatan mereka, tapi perangkat kesehatan Ascensia baik CONTOUR USB dan CONTOUR Diabetes App, telah membantu pasien untuk melakukan perawatan kesehatan secara rutin. Selain itu, para peserta juga melaporkan peningkatan drastis dalam kesehatan fisik dan mental.

Kedua inovasi di atas telah mengubah cara berinovasi Ascensia. Dengan merangkul human-centered design, Ascensia mampu melihat atau mengadopsi pandangan yang lebih luas tentang penawaran mereka, dan pada akhirnya memperluas cara mereka melayani penderita diabetes.

“Menempatkan pasien sebagai pusat dari semua yang kami ciptakan adalah inti dari Ascensia Diabetes Care. Berkolaborasi dengan IDEO selama beberapa tahun terakhir adalah contoh yang sangat baik dalam bekerja sama dengan mitra strategis untuk memenuhi kebutuhan penderita diabetes melalui inovasi,” ujar Jazz Panchoo, Kepala Strategi Global di Ascensia Diabetes Care.

best site

Memahami Kebutuhan Pasien Bersama Innovesia

Memahami kebutuhan pasien kian penting untuk mengatasi hambatan mereka untuk mendapatkan atau melaksanakan perawatan kesehatan dan membantu meningkatkan taraf hidup mereka. Semakin baik kita memahami pasien, maka semakin besar kemungkinan kita dapat merancang produk atau membangun layanan kesehatan yang bekerja dengan baik dan paling dibutuhkan oleh konsumen.

Nilai itulah yang juga diyakini , yang merupakan pelopor ekosistem open innovation di Indonesia. Innovesia percaya, kolaborasi melalui open innovation mampu menawarkan berbagai perspektif yang membantu memecahkan masalah dengan lebih baik, tak terkecuali di bidang kesehatan.

Sebagai perusahaan konsultasi yang paham betul pentingnya memahami kebutuhan pengguna sebagai dasar dalam berinovasi, Innovesia telah dipercaya lebih dari 100 mitra termasuk mereka yang berjuang membangun layanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Indonesia. Innovesia dipercaya UNICEF untuk mempelajari pemahaman siswa sekolah mengenai Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di Indonesia.

Kurangnya edukasi dan maraknya stigma negatif terkait menstruasi menjadi tantangan tersendiri bagi implementasi MKM di tanah air.  Hal itu tidak lain terjadi karena rasa tidak nyaman yang dialami murid perempuan. Masalah lain juga timbul dari perundungan yang mereka terima, terlebih jika tampak noda menstruasi pada rok murid perempuan.

Situasi inilah yang melatari kerja sama UNICEF dan Innovesia untuk memahami permasalahan nyata yang dialami murid terkait menstruasi di lima kota besar di indonesia yakni, Surabaya, Banda Aceh, Kupang, Makassar dan Jayapura. Pemahaman ini dibutuhkan untuk selanjutnya membangun kesadaran murid dan sekolah tentang pentingnya MKM.

Dari tahap berempati inilah kemudian dihasilkan sejumlah prototype untuk mengedukasi para murid terkait menstruasi, khususnya MKM itu sendiri. Beberapa prototype di antaranya, pembuatan sarana informasi dan edukasi seperti mading kelas atau sekolah, website, buku cerita hingga aplikasi mobile yang tidak hanya mampu memberikan edukasi tapi juga menghubungkan para murid dengan para pakar untuk bisa berkonsultasi lebih lanjut mengenai MKM.

Pada kesempatan lain, Innovesia juga dipercaya memperkenalkan open innovation dalam Evidence Summit 2017, sebuah program kajian mengenai bagaimana menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia dengan mengumpulkan seluruh bukti permasalahan di setiap daerah. 

Diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia () dan sebuah lembaga layanan kesehatan internasional yang mengkhususkan diri dalam kesehatan ibu dan bayi baru lahir, Evidence Summit dihadiri para pemangku kepentingan yang berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi, lembaga penelitian, sektor swasta, lembaga donor atau bantuan, dan masih banyak lagi. Tujuan utamanya adalah untuk berbagi dan menyajikan data aktual terkait angka kematian ibu di berbagai daerah di Indonesia.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/feed/ 0