Crowdsourcing – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 05:07:22 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Crowdsourcing – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Implementasi Crowdsourcing yang Tepat untuk Memajukan Bisnis https://designthinking.id/eksklusif/implementasi-crowdsourcing-yang-tepat-untuk-memajukan-bisnis/ https://designthinking.id/eksklusif/implementasi-crowdsourcing-yang-tepat-untuk-memajukan-bisnis/#respond Tue, 12 Sep 2023 06:32:36 +0000 https://designthinking.id/?p=1555 Perkembangan teknologi tak hanya menuntut perusahaan untuk terus berinovasi, tapi juga mengubah cara mereka dalam berinovasi. Jika dahulu inovasi dilakukan melalui penelitian internal perusahaan oleh departemen litbang, internet telah membuka peluang bagi perusahaan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan ratusan bahkan ribuan pakar lintas ilmu disiplin. Semua itu dimungkinkan melalui crowdsourcing.

Fiter Bagus Cahyono, Direktur, Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi bisnis, mengartikan crowdsourcing sebagai pendekatan yang memungkinkan perusahaan atau organisasi lainnya untuk memperoleh ide atau konten yang dibutuhkan dengan meminta kontribusi dari sekelompok besar orang.

“Melalui crowdsourcing, perusahaan atau bisnis dapat memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan banyak orang untuk membantu mereka mencapai sejumlah keuntungan. Dan dengan internet, orang-orang ini tidak hanya terbatas pada suatu demografi saja, tapi di seluruh dunia,” jelas Fiter Bagus.

Luasnya ruang lingkup ini dinilai Fiter Bagus membuat banyak perusahaan mulai mengadopsi crowdsourcing untuk tetap relevan di industri dan mencapai keunggulan kompetitif.

“Dalam hal ini, crowdsourcing dinilai jauh lebih efektif daripada pendekatan inovasi terbuka lainnya, seperti program startup inkubator, model klien ventura atau venture client model, dan jauh lebih unggul dari membangun pusat atau laboratorium inovasi,” ujar Fiter Bagus.

Senada, Digital Transformation Expert, Daniel Oscar Baskoro, metode crowdsourcing membuka kesempatan bagi perusahaan untuk bekerja sama dengan publik guna mencapai ragam tujuan yang luas. Dengan crowdsourcing, Oscar menyebut, perusahaan mampu memanfaatkan ‘crowd’ atau keramaian untuk menghimpun ide dalam jumlah yang masif, mengembangkan produk, bahkan sampai membantu melakukan monitoring dan evaluasi.

“Crowdsourcing ini bisa digunakan untuk tujuan yang luas, misalnya untuk mengembangkan sebuah produk, untuk menghimpun ide dari masyarakat, itu pernah saya lakukan. Kemudian untuk monitoring dan evaluasi, banyak sekali,” ujar Oscar yang telah berpengalaman membantu perusahaan dan pemerintah melakukan crowdsourcing.

Menghimpun Ide atau Gagasan Inovasi Secara Masif

Ilustrasi ideation (Dok. Innovesia)

Mengingat tujuannya untuk menghimpun beragam ide atau solusi, manfaat paling signifikan dari crowdsourcing adalah kemampuannya untuk menemukan solusi yang tidak terduga atau out-of-the-box.

Sumber daya manusia menjadi hambatan terbesar bagi banyak perusahaan untuk berinovasi. Riset bertajuk Gartner CMO Brand Strategy and Innovation Survey mencatat sebanyak 41% perusahaan kesulitan berinovasi karena kurangnya sumber daya manusia dengan keterampilan yang dibutuhkan.

Menurut Oscar, crowdsourcing telah memungkinkan apa yang tidak bisa dilakukan tim riset internal perusahaan. Pasalnya, crowdsourcing mampu mengatasi masalah keterbatasan sumber daya manusia dengan mengundang kelompok pemikir atau inovator dari berbagai disiplin ilmu untuk menyumbangkan pengetahuan mereka dan membantu perusahaan berinovasi. Khususnya bagi bisnis dengan basis pengguna atau user yang melimpah.

“Ketika mereka memiliki user yang besar, akan sulit bagi perusahaan untuk menangkap permasalahan terhadap produknya atau juga masukan terhadap produknya, dan dengan crowdsourcing perusahaan bisa menghimpun data yang lebih luas, lebih besar, lebih banyak, jadi mereka akan mendapatkan point of view yang lebih luas,” jelas sosok dibalik berbagai inovasi teknologi kemanusiaan di Indonesia.

Memanfaatkan keterampilan dan pengetahuan banyak orang dari luar perusahaan, disebut sosok yang berpengalaman memimpin pengelolaan inisiatif digital pemerintah itu, juga mampu membantu perusahaan keluar dari cara-cara lama mereka memecahkan masalah dan keluar dari stagnasi.

Crowdsourcing bisa jadi jalan keluar ketika perusahaan sudah kehabisan ide atau stuck dan membutuhkan ide baru, atau ketika produk mereka sudah dikembangkan secara maksimal tapi tidak punya gagasan untuk menciptakan produk baru. Saat itu lah crowdsourcing menjadi semacam jalan keluar bagi perusahaan untuk menjaring ide-ide, gagasan dan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya,” ujar Oscar.

Mengesampingkan Asumsi Perusahaan

Tak cuma menghimpun ide secara masif, crowdsourcing disebut Oscar mendorong perusahaan mengumpulkan data dan informasi berdasarkan pengalaman nyata dan fakta yang diperoleh langsung dari masyarakat atau pengguna. Dengan begitu, perusahaan dapat mengesampingkan segala asumsi mereka, baik ketika menghimpun masalah utama yang sebenarnya dihadapi perusahaan atau ketika mencari solusi atas permasalahan berikut. Alhasil, solusi yang dihasilkan sudah pasti tepat sasaran.

“Satu hal mendasar dalam crowdsourcing adalah menghilangkan asumsi. Karena ketika kita menghimpun masalah melalui crowdsourcing, we got all the problem from the real user. Sebaliknya, ketika masalahnya ditentukan berdasarkan asumsi, solusi yang dibuat sudah pasti tidak sesuai karena cara mereka mendapatkan masalahnya saja berdasarkan asumsi,” jelas Oscar yang sempat menghabiskan waktunya bekerja untuk  Lembaga Internasional di bidang teknologi untuk kemanusiaan.

Crowdsourcing juga bisa digunakan untuk menguji asumsi yang telah ada. Dengan mengajukan pertanyaan kepada masyarakat, perusahaan dapat melihat apakah asumsi mereka diterima atau dipertanyakan oleh mayoritas orang. Hal ini juga disebut Oscar sebagai salah satu keuntungan crowdsourcing dalam hal menilai kedalaman suatu masalah.

“Yang paling penting juga dari crowdsourcing kita bisa melihat kedalaman masalahnya. Misalnya ketika ada ratusan orang menyebutkan masalah yang sama, maka masalah itu kemungkinan menjadi masalah utama yang benar-benar dihadapi masyarakat,” tutur Oscar menjelaskan.

Berinovasi Lebih Cepat dan Hemat Biaya

Ilustrasi (Sumber: Freepik)

Saat memecahkan masalah secara internal, perusahaan dibatasi dengan seberapa cepat departemen litbang atau karyawan mereka dapat bekerja. Crowdsourcing juga memungkinkan perusahaan mengeluarkan lebih sedikit biaya.

Menurut Oscar, melalui crowdsourcing, perusahaan tidak perlu mempekerjakan para ahli, insinyur, atau membangun laboratorium inovasi. Mereka hanya perlu meluncurkan tantangan atau pertanyaan, menyusun tujuan atau goals, menyusun metodologi crowdsourcing secara end-to-end dan memberikan insentif bagi pihak yang mengurunkan dayanya. Oscar menekankan, insentif yang diberikan tak melulu berbentuk materi, bisa berupa sertifikat, penghargaan, dan lain sebagainya.

“Sebenarnya perusahaan bisa mempekerjakan researcher atau peneliti ya, tapi tentu membutuhkan biayanya besar sekali. Dengan crowdsourcing, biayanya lebih rendah dan perusahaan bisa menghimpun ide dengan lebih maksimal,” kata Oscar.

Salah satu bukti nyata kesuksesan crowdsourcing terlihat dari kompetisi The Goldcorp Challenge pada tahun 2000. Dengan mempublikasikan 400 megabyte data geologis hasil riset perusahaan dan menawarkan CAD 575.000 (Rp3,6 miliar), Goldcorp dikirimi 1.000 ide inovasi yang salah satunya memungkinkan perusahaan mengidentifikasi 110 lokasi deposit emas dan menemukan emas senilai CAD 6 miliar (Rp38 triliun).

Sarana Pemasaran Terbaik dalam Meningkatkan Brand Awareness

Ilustrasi (Sumber: Investopedia)

Memiliki aspek komunal serta kompetitif, membuat crowdsourcing tidak hanya menawarkan kesempatan untuk mengembangkan solusi atau ide inovasi, tapi juga meningkatkan awareness atau kesadaran di masyarakat.

Crowdsourcing pastinya mampu meningkatkan awareness perusahaan karena masyarakat sangat dilibatkan disitu,” jelas Oscar.

Lays misalnya, produsen makanan ringan asal Amerika itu beralih ke crowdsourcing untuk meminta penggemar keripik kentang menyumbangkan ide terbaik untuk rasa keripik kentang baru mereka. Melalui crowdsourcing bertajuk ‘Do Us Flavor’, Lays menerima 14,4 juta ide rasa baru sekaligus meningkatkan citra positif merek tersebut.

Dari kasus Lays tercermin bagaimana crowdsourcing menawarkan sarana pemasaran yang cerdas karena dapat menjadi sarana memasarkan nama perusahaan mereka ke khalayak luas dan melibatkan mereka dengan cara yang menyenangkan. Tentu hal ini akan membantu membangun jaringan penggemar yang lebih besar.

Memastikan Keberhasilan Crowdsourcing 

Terlepas dari segudang manfaat yang diberikan, melaksanakan crowdsourcing tidak bisa dianggap sepele. Oscar menegaskan, banyak perusahaan terjebak dan menganggap metode satu ini sebagai ajang kompetisi inovasi. Meski melibatkan tantangan yang perlu diselesaikan, crowdsourcing lebih dari sekedar menghimpun ide inovasi.

“Ada miskonsepsi di mana perusahaan melihat crowdsourcing hanya sebagai kompetisi menghimpun ide. Dapat proposal, penjurian, menentukan juara sudah selesai. Kadang-kadang semua berhenti di competition, ga diteruskan dan itu bukan crowdsourcing. Karena crowdsourcing itu harus sampai pada implementasi dari ide atau solusi tersebut,” ujar Oscar menekankan.

Sosok Daniel Oscar Baskoro (Dok. Istimewa)

Atas dasar itu Oscar menekankan dibutuhkan strategi atau metodologi secara end-to-end mulai dari mengkurasi masalah yang dihadapi perusahaan dan menentukan masalah utama yang hendak diselesaikan, lalu menghimpun solusi hingga memastikan solusi tersebut bisa diimplementasikan di dalam perusahaan.

End-to-end ini yang terkadang suka lepas di perusahaan-perusahaan, jadi saya kira perlu memang ada satu framework untuk memastikan crowdsourcing ini ga cuma collecting the information, collecting the idea, tapi juga memikirkan langkah selanjutnya setelah mendapatkan solusi tadi,” lanjut Oscar.

Mengingat besarnya keuntungan yang didapat perusahaan melalui crowdsourcing, Oscar berharap akan lebih banyak bisnis mengadopsi metode satu ini dalam memecahkan masalah dan membantu perusahaan untuk tetap relevan di lanskap bisnis yang kian kompetitif.

“Saya kira crowdsourcing menjadi metode yang harusnya sudah mulai dilakukan banyak perusahaan ya. Apalagi kita berpindah pada sebuah era kompetisi yang sangat ketat dan juga situasi yang tidak pasti. Dengan crowdsourcing perusahaan akan terbantu untuk memahami apa yang betul-betul dibutuhkan masyarakat terkait produk atau layanan perusahaan. Dengan begitu bisnis mereka bisa terus berkembang,” tutup Oscar.

Paham betul krusialnya strategi end-to-end dalam praktik crowdsourcing, Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, telah berpengalaman menuntun perusahaan atau organisasi lainnya untuk mengembangkan strategi dan eksekusi crowdsourcing demi mengembangkan model bisnis melalui layanan konsultasi end-to-end yang strategis.

Berdiri sejak 2015, Innovesia tak hanya dipercaya atas kemampuannya menjelajahi potensi inovasi dari luar perusahaan. Tapi juga membantu perusahaan mengidentifikasi dan mendalami masalah utama mereka dalam bisnis. Lebih dari itu, melalui program inkubasi yang ditawarkan, Innovesia turut memastikan solusi yang dihimpun selama proses crowdsourcing dapat dimatangkan dari sekedar konsep untuk kemudian diimplementasikan dengan baik oleh perusahaan.

“Dengan visi membantu pengembangan inovasi yang fokus pada target pengguna, Innovesia membuka peluang bagi setiap perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui crowdsourcing. Dengan jaringan expert dari berbagai disiplin ilmu berbeda, Innovesia memastikan crowdsourcing dilakukan secara strategis, mulai dari memperdalam masalah yang dihadapi perusahaan hingga memastikan setiap ide inovasi yang dihimpun benar-benar mampu menyelesaikan masalah tersebut secara menyeluruh,” ujar Fiter Bagus Cahyono, Direktur, Innovesia.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/implementasi-crowdsourcing-yang-tepat-untuk-memajukan-bisnis/feed/ 0
4 Kunci Keberhasilan dalam Crowdsourcing https://designthinking.id/eksklusif/4-kunci-keberhasilan-dalam-crowdsourcing/ https://designthinking.id/eksklusif/4-kunci-keberhasilan-dalam-crowdsourcing/#respond Wed, 06 Sep 2023 06:16:49 +0000 https://designthinking.id/?p=1543 Crowdsourcing memang memungkinkan perusahaan atau organisasi lainnya untuk menghimpun ide atau sumber daya lainnya secara masif dari banyak orang dengan berbagai latar belakang. Namun, crowdsourcing tak hanya soal menghimpun ide dengan lebih cepat dan biaya yang lebih murah, tapi memastikan bahwa ide yang dihimpun mampu menjawab permasalahan dan kebutuhan perusahaan.

Digital Transformation Expert, Daniel Oscar Baskoro, menerangkan banyak perusahaan terjebak pada tahap kompetisi dalam praktik crowdsourcing, tanpa melanjutkan menuju tahap implementasi yang seharusnya.

“Dewasa ini crowdsourcing banyak digunakan perusahaan-perusahaan untuk menghimpun ide, gagasan atau masalah, tapi yang paling krusial ada miskonsepsi di sini, di mana perusahaan sering kali menyamakan crowdsourcing dengan kompetisi,” ujar pria lulusan Columbia University tersebut kerap luput dalam pelaksanaan crowdsourcing.

Pria yang telah membantu banyak perusahaan dan pemerintah mencapai tujuan organisasi melalui crowdsourcing selama lebih dari tujuh tahun itu menekankan bahwa esensi sejati dari crowdsourcing justru terletak pada bagaimana perusahaan memastikan dapat menghimpun ide-ide yang mampu diimplementasikan guna menjawab tantangan yang dihadapi perusahaan dan bukan hanya sekadar pada tahap persaingan semata.

“Tak sedikit perusahaan yang melakukan crowdsourcing justru semua berhenti di competition dan itu bukan crowdsourcing. Karena crowdsourcing itu harus sampai pada implementasi dari ide atau solusi tersebut,” jelas Oscar menekankan.

Langkah lanjutan inilah yang dinilai Oscar kerap luput dalam pelaksanaan crowdsourcing. Padahal tanpa langkah-langkah konkret untuk mengimplementasikan solusi, potensi inovasi dari crowdsourcing tidak akan sepenuhnya dimanfaatkan.

Berikut empat langkah krusial untuk memastikan crowdsourcing lebih dari sekedar pengumpulan ide-ide, tetapi juga menjadi alat yang kuat untuk menghasilkan solusi nyata dan mendukung perkembangan perusahaan yang berkelanjutan.

1. Menetapkan Strategi dan Tujuan Crowdsourcing

Oscar menekankan dibutuhkan strategi atau metodologi secara end-to-end sebagai guide atau pedoman yang menuntun perusahaan mulai dari mengidentifikasi masalah utama mereka, menentukan target, menghimpun dan menyeleksi solusi, hingga membawa ide tersebut sebagai solusi untuk menyelesaikan tantangan atau masalah perusahaan.

“Kalau crowdsourcing mikirnya harus secara end-to-end, apa yang hendak kita solve, siapa target yang akan dihimpun masalahnya, bagaimana kita bisa mengkurasi masalah, kemudian tahapan crowdsourcing ide atau solusi, setelah itu pastikan solusi tadi bisa di-deliver menjadi sebuah program,” jelas Oscar.

Pola pikir inilah yang menurut Oscar kerap luput dilakukan oleh banyak perusahaan ketika berhadapan dengan crowdsourcing. Menurutnya, banyak langkah lain yang sudah harus ditetapkan sejak awal merencanakan crowdsourcing sehingga prosesnya tak berhenti usai mengumpulkan ide.

End-to-end ini yang terkadang suka lepas di perusahaan-perusahaan, jadi saya kira perlu memang ada satu framework untuk memastikan crowdsourcing ini ga cuma collecting the information, collecting the idea, tapi juga memikirkan langkah lanjutan setelah mendapatkan solusi tadi,” ujar sosok dibalik berbagai inovasi teknologi digital kemanusiaan.

2. Mengidentifikasi Masalah Secara Cermat

Mengidentifikasi masalah juga kerap disepelekan perusahaan ketika hendak melakukan crowdsourcing. Padahal, menentukan masalah yang tepat merupakan inti dari crowdsourcing. Menurut Oscar, tak sedikit perusahaan yang menentukan masalah berdasarkan asumsi yang belum tentu benar.

“Kadang-kadang orang melakukan crowdsourcing itu mikirin ngumpulin ide-ide saja, padahal yang tak kalah penting adalah mengumpulkan masalah, yang seharusnya juga dilakukan melalui crowdsourcing. Crowdsourcing masalahnya dulu baru solusinya,” tutur Oscar.

Dengan crowdsourcing, perusahaan akan mendapatkan wawasan tentang masalah nyata yang sebenarnya mereka hadapi karena masalah itu disampaikan langsung oleh banyak pengguna atau user mereka yang menjadi target crowdsourcing.

“Satu hal mendasar dalam crowdsourcing adalah menghilangkan asumsi. Karena ketika kita menghimpun masalah melalui crowdsourcing, we got all the problem from the real user. Sebaliknya, ketika masalahnya ditentukan berdasarkan asumsi, solusi yang dibuat sudah pasti tidak sesuai karena cara mereka mendapatkan masalahnya saja berdasarkan asumsi,” jelas Oscar.

Sosok Daniel Oscar Baskoro (Dok. Istimewa)

Selain itu, menghimpun masalah langsung dari user melalui crowdsourcing juga memungkinkan perusahaan menilai kedalaman masalah mereka berdasarkan fakta yang ada di lapangan.

“Yang paling penting juga dari crowdsourcing kita bisa melihat kedalaman masalah yang dihadapi. Misalnya ketika ada ratusan orang menyebutkan masalah yang sama, maka masalah itu kemungkinan menjadi masalah utama yang benar-benar dihadapi masyarakat,” tutur Oscar menjelaskan.

3. Mempersiapkan Insentif Bagi Peserta

Mengingat inti dari crowdsourcing adalah ‘crowd’ atau keramaian, keberhasilan proyek crowdsourcing sangat bergantung pada memotivasi orang banyak untuk berkontribusi.

“Inti dari crowdsourcing adalah crowd-nya, bukan sekedar sourcing kalau tidak ada crowd maka bagaimana sourcing bisa dilakukan. Ketika berbicara terkait crowdsourcing kita harus memposisikan diri sebagai peserta dan berpikir apa yang membuat mereka mau turut berkontribusi atau urun daya,” ujar Oscar.

Menurut Oscar, perusahaan harus mampu mendorong publik atau target mereka untuk menyumbangkan pengetahuan atau keterampilannya. Dan salah satu metode yang sangat efektif untuk memberi insentif kepada target peserta adalah dengan mengadakan kompetisi di mana mereka bersaing satu sama lain untuk mendapatkan hadiah.

“Misalnya dulu ketika saya diminta mengumpulkan data-data pedagang kaki lima di suatu provinsi, saya berikan insentif berupa voucher pulsa kepada lima peserta yang memberikan data terbanyak. Jadi insentif itu penting untuk disiapkan di setiap proyek crowdsourcing,” jelasnya.

Meski, dorongan berupa insentif kian penting, Oscar menekankan insentif tak harus melulu berupa materi tapi juga bisa dalam bentuk penghargaan lain yang mampu mendorong partisipasi banyak orang.

“Insentif tidak melulu soal materi ya, jadi jangan sampai salah pemahaman. Insentif itu bisa berupa sertifikat, atau sistem penghargaan lain, misalnya penghargaan yang menyatakan bahwa yang mengirimkan ide berkontribusi terhadap Indonesia. Hal seperti itu bisa menjadi insentif juga,” tutur Oscar.

4. Melindungi Informasi Rahasia Perusahaan dan HaKI

Meski crowdsourcing memberikan akses terhadap ide-ide dari publik, sifat keterbukaan ini juga bisa menjadi masalah tersendiri khususnya terkait hal-hal yang mungkin menguntungkan kompetitor. Ketika suatu perusahaan memutuskan menggelar crowdsourcing, mereka turut mengumumkan masalah yang dimiliki perusahaan. Ada juga potensi risiko terhadap reputasi perusahaan, di mana bisnis mereka misalnya dianggap kehabisan ide.

Menghadapi masalah ini, Oscar menegaskan perusahaan diharuskan untuk membingkai masalah mereka khususnya jika menyentuh hal yang kian sensitif. Begitu juga dengan solusi yang diterima. Penting untuk memastikan isu sensitif dan solusi yang didapat dari crowdsourcing tetap menjadi kerahasiaan perusahaan.

“Masalah perusahaan mungkin harus kita buka ke publik tapi harus kita framing sebaik mungkin agar tidak ada rahasia yang keluar. Begitu juga dengan solusi. Perusahaan harus jaga solusi jangan sampai kemana-mana dan masalah perusahaan juga jangan sampai keluar kemana-mana itu harus jadi rahasia perusahaan,” jelas Oscar.

Perusahaan juga harus merumuskan syarat dan ketentuan yang mengatur pelaksanaan proyek crowdsourcing dapat membantu mendefinisikan hubungan antara peserta serta hak dan kewajiban mereka terkait dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual atas informasi atau ide apapun yang peserta berikan ke perusahaan melalui crowdsourcing.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/4-kunci-keberhasilan-dalam-crowdsourcing/feed/ 0
Meningkatkan Efektivitas Crowdsourcing dengan Strategi End-to-End https://designthinking.id/eksklusif/meningkatkan-efektivitas-crowdsourcing-dengan-strategi-end-to-end/ https://designthinking.id/eksklusif/meningkatkan-efektivitas-crowdsourcing-dengan-strategi-end-to-end/#respond Mon, 04 Sep 2023 06:30:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1534 Crowdsourcing memang menawarkan kemudahan untuk menghimpun ide atau gagasan baru yang segar. Melalui crowdsourcing, perusahaan atau organisasi lainnya bisa memperoleh ide atau konten yang dibutuhkan dengan meminta kontribusi dari sekelompok besar orang. Dengan meluncurkan suatu tantangan ke publik, perusahaan bisa menjaring ide atau solusi secara masif. Namun dalam praktiknya, crowdsourcing sering kali tidak berjalan sesuai harapan karena penanganan yang kurang tepat.

Crowdsourcing
crowdsourcing,
crowdsourcing

Menurut Digital Transformation Expert, Daniel Oscar Baskoro, banyak perusahaan yang hingga kini masih terjebak dan menganggap crowdsourcing hanya sebatas kompetisi untuk mengumpulkan ide dari luar perusahaan.

crowdsourcing

“Ada miskonsepsi di mana perusahaan melihat crowdsourcing hanya sebagai kompetisi menghimpun ide. Dapat proposal, penjurian, menentukan juara sudah selesai. Kadang-kadang semua berhenti di competition, ga diteruskan dan itu bukan crowdsourcing. Karena crowdsourcing itu harus sampai pada implementasi dari ide atau solusi tersebut,” ujar pria yang akrab disapa Oscar itu.


crowdsourcing
competition
crowdsourcing
crowdsourcing
crowdsourcing
Harvard Business Review
,
crowdsourcing,

crowdsourcing

Kegagalan ini bukan datang karena ketidakmampuan crowdsourcing dalam menjaring ide. Pasalnya HBR mencatat inisiatif tersebut menghasilkan lusinan ide inovasi yang layak untuk menyelesaikan setiap tantangan yang diluncurkan VDMA. 

crowdsourcing

Walau banyak ide berhasil dihimpun, tak ada satupun dari solusi itu yang diterapkan oleh anggota asosiasi yang jumlahnya lebih dari 3.200 perusahaan. Alasannya, karena seluruh anggota asosiasi menolak menggunakan ide atau solusi apapun yang tidak ditemukan secara internal.

Nasib yang sama juga menimpa perusahaan rintisan atau startup Quirky. Berdiri pada 2009, Quirky berfokus pada crowdsourcing melalui platform yang memungkinkan para inventor menyampaikan ide inovasi mereka dan mengembangkannya menjadi produk. 

startup
crowdsourcing

Meski sempat mendapatkan pendanaan hingga USD 170 juta, startup bentukan Ben Kaufman itu mengajukan kebangkrutan pada tahun 2015, sebagian karena kegagalan perusahaan dalam mengembangkan sistem untuk meningkatkan penemuannya ke dalam produksi.

startup

Baik, VDMA dan Quirky sama-sama menunjukkan bahwa crowdsourcing bukan hanya sekedar perkara menjaring ide inovasi atau solusi. 

crowdsourcing

Sikap keterbukaan terhadap ide-ide dari luar memang merupakan jiwa dari crowdsourcing. Namun, menurut Oscar, crowdsourcing lebih dari sekedar aktivitas menghimpun ide tapi juga memastikan ide yang dihimpun mampu diubah menjadi solusi atau program yang dapat diadopsi ke perusahaan.

crowdsourcing
crowdsourcing

Langkah lanjutan inilah yang dinilai pria lulusan Columbia University tersebut kerap luput dalam pelaksanaan crowdsourcing. Untuk menghindari apa yang terjadi pada VDMA dan Quirky, perusahaan perlu keluar dari miskonsepsi dan berhenti melihat crowdsourcing sebagai kompetisi. 

crowdsourcing.
crowdsourcing

Oscar menekankan, kompetisi untuk menjaring ide hanyalah langkah permulaan dalam crowdsourcing. Menurut Oscar, setiap entitas baik perusahaan atau organisasi lainnya membutuhkan strategi atau metodologi secara end-to-end ketika hendak menggunakan metode satu ini.

crowdsourcing.
end-to-end

“Kalau crowdsourcing mikirnya harus secara end-to-end, masalahnya apa yang hendak kita selesaikan, siapa target yang akan menghimpun masalahnya, bagaimana kita bisa mengkurasi si masalah, kemudian tahapan kita crowdsourcing idenya bukan hanya masalahnya, solusinya, abis crowdsourcing solusi baru bisa diadopsi menjadi sebuah program,” jelas Oscar.

crowdsourcing
end-to-end
crowdsourcing

Strategi end-to-end inilah yang menurut Oscar kerap dilupakan oleh banyak perusahaan ketika hendak memanfaatkan pengetahuan atau keterampilan masyarakat melalui crowdsourcing. Dalam pandangannya, Oscar menilai keberhasilan crowdsourcing tidak hanya terletak pada proses pengumpulan informasi dan gagasan semata, melainkan juga pada langkah-langkah yang diambil setelah solusi-solusi berharga berhasil ditemukan.

end-to-end
crowdsourcing.
crowdsourcing

“Pastikan tujuannya itu apa dan jelas, dan pastikan metodologi yang digunakan itu secara end-to-end dan tak hanya sekedar mengumpulkan ide tapi memastikan betul setelah ide terkumpul apa yang selanjutnya dilakukan,” tutur Oscar.

end-to-end

Sosok Daniel Oscar Baskoro (Sumber: Istimewa)

safe

Sosok Daniel Oscar Baskoro (Sumber: Istimewa)

Pemikiran ini menyoroti pentingnya merancang pendekatan yang komprehensif, yang melibatkan aspek penerapan, pengembangan, dan adaptasi dari ide-ide yang berasal dari crowdsourcing

crowdsourcing

End-to-end ini yang terkadang suka lepas di perusahaan-perusahaan, jadi saya kira perlu memang ada satu framework untuk memastikan crowdsourcing ini ga cuma collecting the information, collecting the idea, tapi juga memikirkan langkah selanjutnya setelah mendapatkan solusi tadi,” lanjutnya.

End-to-end
framework
crowdsourcing
collecting the information, collecting the idea

Mengingat besarnya keuntungan yang didapat perusahaan melalui crowdsourcing, Oscar berharap akan lebih banyak bisnis mengadopsi metode satu ini dalam memecahkan masalah dan membantu perusahaan untuk tetap relevan di lanskap bisnis yang kian kompetitif.

crowdsourcing,

“Saya kira crowdsourcing menjadi metode yang harusnya sudah mulai dilakukan banyak perusahaan ya. Apalagi kita berpindah pada sebuah era kompetisi yang sangat ketat dan juga situasi yang tidak pasti. Dengan crowdsourcing perusahaan akan terbantu untuk memahami apa yang betul-betul dibutuhkan masyarakat terkait produk atau layanan perusahaan. Dengan begitu bisnis mereka bisa terus berkembang,” tutup Oscar.

crowdsourcing
crowdsourcing

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/meningkatkan-efektivitas-crowdsourcing-dengan-strategi-end-to-end/feed/ 0
OZ Minerals Ciptakan Terobosan Eksplorasi Mineral Berbasis Data Lewat Crowdsourcing https://designthinking.id/pertambangan/oz-minerals-ciptakan-terobosan-eksplorasi-mineral-berbasis-data-lewat-crowdsourcing/ https://designthinking.id/pertambangan/oz-minerals-ciptakan-terobosan-eksplorasi-mineral-berbasis-data-lewat-crowdsourcing/#respond Mon, 21 Aug 2023 07:29:06 +0000 https://designthinking.id/?p=1486  

 

Melalui Crowdsourcing, OZ Minerals dengan berani mempublikasi dua terabyte data eksplorasi perusahaan dan menantang ilmuwan dari seluruh dunia menciptakan pendekatan eksplorasi mineral berbasis data

Melalui Crowdsourcing, OZ Minerals dengan berani mempublikasi dua terabyte data eksplorasi perusahaan dan menantang ilmuwan dari seluruh dunia menciptakan pendekatan eksplorasi mineral berbasis data

Melalui Crowdsourcing, OZ Minerals dengan berani mempublikasi dua terabyte data eksplorasi perusahaan dan menantang ilmuwan dari seluruh dunia menciptakan pendekatan eksplorasi mineral berbasis data

Melalui Crowdsourcing, OZ Minerals dengan berani mempublikasi dua terabyte data eksplorasi perusahaan dan menantang ilmuwan dari seluruh dunia menciptakan pendekatan eksplorasi mineral berbasis data

Meneruskan kesuksesan Goldcorp menemukan deposit emas bernilai triliunan rupiah melalui crowdsourcing, giliran perusahaan pertambangan asal Australia, OZ Minerals, mencoba peruntungan yang sama. Pada 2019, di era ketika simpanan mineral ekonomis kian sulit ditemukan, OZ Minerals bermitra dengan platform inovasi–Unearthed–untuk menantang ahli geologi dan ilmuwan data dari seluruh dunia untuk berlomba menemukan mineral di Mount Woods dekat tambang Prominent Hill di Australia Selatan.

crowdsourcing,

Bertajuk “Explorer Challenge”, OZ Minerals dengan berani merilis lebih dari dua terabyte data eksplorasi pribadi perusahaan dan menawarkan hadiah sebesar AUD 1 juta kepada para ahli dan ilmuwan dari seluruh dunia, yang mampu menciptakan terobosan baru dalam eksplorasi terobosan yang dapat mengidentifikasi target mineral dengan prospektivitas tinggi di wilayah tersebut.

more helpful hints

Mempublikasi data tambang perusahaan sebenarnya adalah langkah yang sangat bertentangan dengan tradisi industri perusahaan pertambangan yang umumnya merahasiakan data mereka dan memilih untuk tidak membagikan informasi hak milik. Meski begitu, CEO OZ Minerals Andrew Cole yakin crowdsourcing mampu membantu perusahaan mendapatkan wawasan baru dan menemukan pendekatan baru untuk mendorong batas pemahaman geologis mereka di area Mount Woods.

crowdsourcing

“Kami perlu menemukan wawasan baru dan cara bekerja lebih cerdas dengan data kami. Para inovator yang berpartisipasi dalam Explorer Challenge telah memberikan pendekatan untuk eksplorasi mineral yang tidak pernah kami bayangkan secara internal, termasuk cara menggabungkan kumpulan data bersama, menggabungkan beberapa lapisan informasi, dan membuat prediksi berdasarkan kumpulan data yang luas,” ujar Andrew Cole.

Benar saja, crowdsourcing yang dibuka selama tiga bulan itu berhasil menarik lebih dari seribu peserta global dari 62 negara. Dari ribuan peserta, dipilih delapan pemenang dengan pemenang utama jatuh kepada ‘Team Guru’, yang terdiri dari tiga orang ilmuwan di bidang ilmu data, ilmu lingkungan, dan rekayasa proses. Bersama-sama ketiganya berhasil membangun model pembelajaran mesin atau machine learning yang dapat ditafsirkan untuk eksplorasi mineral menggunakan geokimia, geofisika, dan geologi permukaan.

crowdsourcing
machine learning

“Tim pemenang benar-benar meluangkan waktu untuk memahami masalah secara mendalam dan bagaimana kami saat ini mengeksplorasi. Ini memungkinkan mereka untuk menerapkan pendekatan berbasis data, tetapi yang benar-benar relevan dengan masalah yang dihadapi,” ujar Holly Bridgwater, Exploration Geologist and Principal Industry Engagement Expertdi Unearthed.

Sementara Andrew Cole mengatakan, pemenang dipilih berdasarkan kemampuan mereka untuk menciptakan solusi selagi mempertimbangkan alur kerja ahli geologi sehingga pendekatan yang mereka bangun dapat digunakan oleh ahli geologi perusahaan.

“Cara ilmu data dan pembelajaran mesin memberikan validasi serta umpan balik pada prediksi dan model sangat berbeda dengan cara kita berpikir secara tradisional dalam istilah geologis. Kami tahu kami dapat belajar banyak dengan menerapkan pemikiran ini ke dalam pendekatan kami,” jelas Cole.

Hanya dalam waktu sekitar tiga bulan, Explorer Challenge mampu mendapatkan tak hanya satu tapi 8 pendekatan baru dalam eksplorasi mineral yang menakjubkan. Mulai dari pembelajaran mesin mutakhir hingga pemodelan fisik tingkat lanjut, Explorer Challenge berhasil menyatukan ilmuwan data dan ahli geologi di seluruh dunia untuk menghasilkan cara baru dalam menerapkan teknik ilmu data modern, seperti pembelajaran mesin, ke masalah geologis dengan cara yang tak terpikirkan sebelumnya.

“Explorer Challenge telah memungkinkan kami untuk mendorong melampaui batas dari apa yang normal dalam pertambangan, yaitu bagaimana kami berpikir lebih luas tentang inovasi, dan bagaimana kami dapat menerapkan pemikiran yang berbeda untuk masalah yang kompleks,” jelas Cole.

Menimbang Manfaat Crowdsourcing bagi Pertambangan

Menimbang Manfaat Crowdsourcing bagi Pertambangan

Secara definisi, crowdsourcing merupakan salah satu pendekatan inovasi yang dilakukan dengan menghimpun banyak orang untuk menyelesaikan suatu masalah. Dalam lingkup Explorer Challenge, crowdsourcing menawarkan pendekatan inovasi terdistribusi dan partisipatif yang mengundang para inovator untuk menciptakan semacam solusi yang dibutuhkan OZ Minerals selaku penyelenggara.

crowdsourcing
, crowdsourcing

Crowdsourcing dalam kasus Explorer Challenge, telah membantu OZ Minerals yang kesulitan mengidentifikasi lokasi mineral baru. Inisiatif ini mampu menghimpun beragam ide atau solusi dari seluruh ilmuwan di dunia. Dengan latar belakang yang berbeda inilah para ilmuwan mampu bekerja sama menyatukan keahlian dan pengetahuan mereka untuk menciptakan solusi yang tak terduga.

Crowdsourcing

Kabar baiknya, crowdsourcing dapat mengatasi masalah keterbatasan sumber daya manusia dengan mengundang kelompok pemikir atau inovator dari berbagai disiplin ilmu untuk menyumbangkan pengetahuan mereka dan membantu perusahaan berinovasi. 

crowdsourcing

“Perbedaan latar belakang, mulai dari keahlian, pendidikan hingga kondisi demografi para peserta juga melahirkan ragam perspektif tentang masalah yang dihadapi perusahaan. Dengan begitu, crowdsourcing memungkinkan perusahaan memperoleh akses ke ratusan atau bahkan ribuan pendekatan yang berbeda untuk pemecahan masalah seperti yang tercermin dari Explorer Challenge,” ujar Fiter Bagus, Direktur Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi.

crowdsourcing

]]>
https://designthinking.id/pertambangan/oz-minerals-ciptakan-terobosan-eksplorasi-mineral-berbasis-data-lewat-crowdsourcing/feed/ 0
Riset Ungkap Crowdsourcing Jadi Model Open Innovation Paling Efektif Bagi Bisnis https://designthinking.id/edukasi/riset-ungkap-crowdsourcing-jadi-model-open-innovation-paling-efektif-bagi-bisnis/ https://designthinking.id/edukasi/riset-ungkap-crowdsourcing-jadi-model-open-innovation-paling-efektif-bagi-bisnis/#respond Wed, 05 Jul 2023 06:52:20 +0000 https://designthinking.id/?p=1257 Open innovation telah terbukti membantu perusahaan menghadapi kompleksitas lingkungan bisnis yang menuntut mereka berinovasi secara kolaboratif di berbagai bidang. Dari berbagai model open innovation, crowdsourcing dinilai perusahaan sebagai cara berinovasi paling efektif dalam menjawab tantangan bisnis saat ini.

Open innovation
open innovation, crowdsourcing
crowdsourcing

Crowdsourcing
hackathon
crowdsourcing,
open innovation
crowdsourcing
crowdsourcing
open innovation

Selain crowdsourcing, 34% perusahaan yang disurvei juga melaporkan efektivitas program akselerator dan inkubator sebagai sarana berinovasi. Namun, jumlahnya jelas terpaut jauh dengan banyaknya perusahaan yang mengakui efektivitas crowdsourcing. 

crowdsourcing,
crowdsourcing. 

Berbeda dengan crowdsourcing, akselerator dan inkubator sendiri merupakan sarana berinovasi di mana perusahaan mendukung startup dengan penawaran yang layak atau memfasilitasi mereka untuk dapat berkembang secara pesat. Sebagai timbal balik, perusahaan yang membuat program dapat menerapkan atau mengadopsi teknologi yang dimiliki startup untuk perkembangan bisnisnya.

crowdsourcing,

startup
startup

Perbedaan yang signifikan dalam tingkat efektivitas ini sekaligus menunjukkan bahwa selain crowdsourcing, sebagian besar model open innovation belum terbukti efektif secara konsisten untuk sebagian besar organisasi. Begitu juga dengan model klien ventura atau venture client model yang hanya dinilai efektif oleh 32% perusahaan.

crowdsourcing,
open innovation
venture client model

Di antara model open innovation, open innovation lab dinilai paling tidak efektif di mana hanya 24% perusahaan yang melaporkan efektivitas model ini. Secara definisi, open innovation lab merupakan semacam pusat inovasi atau ruang kreasi bersama yang disiapkan oleh perusahaan untuk mendorong inovasi dengan melibatkan entitas eksternal seperti startup, pelanggan, dan lain sebagainya.

open innovation, open innovation lab
open innovation lab

startup
The Power of Open Minds: How Open Innovation Offers Benefits For All
open innovation lab
open innovation lab

Walau memiliki nilai efektivitas yang berbeda-beda, model open innovation yang diadopsi perusahaan umumnya bervariasi sesuai dengan filosofi inovasi masing-masing perusahaan. Misalnya, sebuah perusahaan mungkin lebih memilih venture client model, di mana perusahaan dapat bermitra dengan startup sebagai klien pertama mereka, untuk mengakses produk startup dan mengintegrasikannya dengan bisnis perusahaan. 

open innovation
venture client model,
startup
startup

Sedangkan, perusahaan lain mungkin lebih suka bekerja sama dengan pihak-pihak eksternal melalui open innovation lab yang memungkinkan mereka menawarkan sumber daya perusahaan dengan imbalan kontrol yang lebih besar atas hasil dan kekayaan intelektual yang diciptakan bersama di laboratorium tersebut.

open innovation lab

Selain itu, umumnya open innovation yang dijalankan perusahaan tidak terbatas pada satu jenis model saja. Capgemini Research Institute mencatat, hampir semua dari 1.000 perusahaan yang disurvei telah menerapkan lebih dari satu model open innovation. 

open innovation
my review here
open innovation. 

Telefónica, misalnya. Perusahaan telekomunikasi multinasional asal Spanyol yang merupakan salah satu operator telepon dan penyedia jaringan seluler terbesar di dunia itu memiliki banyak kendaraan untuk menjalankan open innovation. Beberapa di antaranya, yakni Telefónica Ventures yang berinvestasi di sejumlah startup; program akselerator startup bernama Wayra; Wayra Builder; dan Open Future yang merupakan program kolaborasi startup melalui berbagai inisiatif, termasuk jaringan ruang kolaborasi fisik.

open innovation
startup
startup
startup

Mengapa Crowdsourcing Begitu Efektif?

Mengapa
Crowdsourcing
Crowdsourcing
Begitu Efektif?

Dalam konteks inovasi, crowdsourcing kian populer dalam beberapa tahun terakhir karena memungkinkan perusahaan menggunakan sumber daya dari luar untuk memunculkan ide-ide baru selagi menghemat waktu dan biaya. Crowdsourcing jelas lebih hemat biaya daripada mempekerjakan tim ahli baru untuk proyek baru. Dengan crowdsourcing, perusahaan cukup menawarkan sejumlah hadiah untuk memotivasi pihak eksternal dalam menciptakan solusi untuk perusahaan.

crowdsourcing
Crowdsourcing
crowdsourcing,
crowdsourcing
crowdsourcing

“Salah satu manfaat utama crowdsourcing adalah latar belakang peserta yang beragam. Mereka bisa berasal dari status sosial ekonomi yang berbeda, pengalaman yang berbeda, dan bahkan lintas negara. Saat perusahaan menggelar crowdsourcing, mereka juga mengundang kelompok peserta yang sangat beragam dan memberikan berbagai perspektif tentang masalah yang dihadapi perusahaan. Alhasil, bisnis memperoleh ide atau solusi dari berbagai latar belakang budaya dan sosial ekonomi,” jelas Fiter Bagus.

crowdsourcing
crowdsourcing

Sebagai sosok berpengalaman dalam open innovation, Fiter Bagus menilai crowdsourcing tidak hanya membantu bisnis dalam mendapatkan solusi atas permasalahan yang dihadapi, tapi juga membantu bisnis memperkuat hubungan antara perusahaan dan konsumen.

open innovation,
crowdsourcing

Crowdsourcing merupakan alat pemasaran paling cerdas karena dapat menjadi sarana memasarkan nama perusahaan mereka ke khalayak luas dan melibatkan mereka dengan cara yang menyenangkan. Bahkan, crowdsourcing yang berorientasi pada konsumen juga mampu menciptakan lebih banyak keterlibatan atau loyalitas konsumen,” lanjut Fiter Bagus.

Crowdsourcing
crowdsourcing
crowdsourcing,
crowdsourcing

Sebagai pionir ekosistem open innovation di Indonesia, Innovesia telah dipercaya berbagai perusahaan dari industri yang berbeda-beda, untuk membantu mereka memanfaatkan sumber daya eksternal dalam berinovasi tak terkecuali melalui crowdsourcing. Melalui open innovation, Innovesia dipercaya menjelajahi potensi inovasi dari luar perusahaan untuk mengembangkan kemitraan strategis dan kolaborasi untuk ide-ide inovatif.

open innovation
crowdsourcing.
open innovation,
Narrowband Internet of Things
Boosting Innovator and Greenovator in the Mining Industry

Sejak berdiri pada 2015 sampai saat ini, Innovesia selalu terbuka bagi siapa saja yang bersemangat memanfaatkan segala sumber daya dalam berinovasi.

]]>
https://designthinking.id/edukasi/riset-ungkap-crowdsourcing-jadi-model-open-innovation-paling-efektif-bagi-bisnis/feed/ 0
Pecahkan Diagnosa Penyakit Langka, CrowdMed Gunakan Metode Crowdsourcing https://designthinking.id/kesehatan/pecahkan-diagnosa-penyakit-langka-crowdmed-gunakan-metode-crowdsourcing/ https://designthinking.id/kesehatan/pecahkan-diagnosa-penyakit-langka-crowdmed-gunakan-metode-crowdsourcing/#respond Wed, 28 Jun 2023 05:51:34 +0000 https://designthinking.id/?p=1242 Semua bermula ketika Sarah menyelesaikan perjalanan backpacking di Upper Peninsula, sebuah kawasan hutan di Michigan pada 2009 silam. Selepas aktivitas beratnya itu, perempuan yang memiliki nama lengkap Sarah Sheridan itu mulai merasa terkena flu. Namun, kesehatannya terus menurun hingga membuatnya kehilangan banyak berat badan hingga 13 kilogram.

backpacking

Sarah juga selalu merasakan kelelahan dan rasa sakit yang luar biasa di persendiannya. Semakin lama, Sarah merasa sulit berkonsentrasi atau berpikir jernih. Saat itu, ia menyadari bahwa tubuhnya tidak baik-baik saja dan jelas ada sesuatu yang tengah terjadi.

Selama lebih dari tiga tahun, Sarah bolak-balik rawat inap di rumah sakit. Ia juga melakukan banyak tes kesehatan yang tak terhitung jumlahnya. Entah berapa ratusan ribu dollar AS telah ia dan keluarga keluarkan untuk membayar tagihan medis yang membengkak. Meski begitu, Sarah dan keluarga tak kunjung mendapatkan jawaban pasti atas penyakit apa yang sebenarnya ia derita.

Setelah banyaknya tes kesehatan yang ia lakukan, dokter memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan tes kesehatan lebih lanjut hingga Sarah menjalani evaluasi psikiatri. Artinya, dokter mengira Sarah hanya membual atau membayangkan semua gejala yang ia alami selama ini. Dengan kondisi yang memburuk, Sarah merasa semakin putus asa.

Pertemuan yang Mengarah ke Diagnosis yang Mengejutkan

Pertemuan yang Mengarah ke Diagnosis yang Mengejutkan

Sarah sebenarnya sudah pernah menjalani tes darah awal untuk penyakit Lyme dan hasilnya negatif. Terlebih, Sarah juga tidak menunjukkan ruam pada kulit yang merupakan gejala utama penyakit ini. Meski begitu, wanita yang ia temui tetap merekomendasikannya ke laboratorium penelitian yang berspesialisasi dalam penyakit Lyme.

Pada sisi lain, ayah sarah yang kala itu tengah mengajar kewirausahaan di University of Michigan, bertemu dengan seorang investor yang merekomendasikan ayah Sarah untuk menyerahkan kasus anaknya yang sulit guna memvalidasi atau menguji sistem awal CrowdMed, yang masih dalam tahap pengembangan. 

Sekitar 100 tenaga kesehatan berpartisipasi dalam kasus Sarah. Mereka bekerja dari informasi medis yang sama persis seperti yang Sarah bagikan kepada dokternya di rumah sakit.

Hebatnya, metode crowdsourcing yang digunakan CrowdMed mencapai kesimpulan diagnostik hanya dalam beberapa hari, yakni Sarah menderita penyakit Lyme. Temuan ini persis dengan hasil tes komprehensif yang Sarah jalankan di laboratorium yang berspesialis di penyakit Lyme.

crowdsourcing

Cara Kerja CrowdMed yang Inovatif

Cara Kerja CrowdMed yang Inovatif

CrowdMed dalam hal ini mampu menyelesaikan masalah terbesar pada sistem perawatan kesehatan saat ini, yaitu silo-nya keahlian medis. Keahlian medis yang silo ini adalah keengganan untuk berbagi informasi dengan tenaga kesehatan dari divisi yang berbeda. Padahal, dengan lebih dari 13.000 penyakit dan gangguan yang diketahui, sangat tidak mungkin seorang dokter mengetahui setiap kemungkinan kondisi yang terkait dengan setiap rangkaian gejala pasien.

silo
silo

CrowdMed berupaya menyelesaikan masalah ini dengan memanfaatkan crowdsourcing tenaga kesehatan untuk membantu menyelesaikan kasus medis yang sulit dengan cepat dan akurat secara daring. CrowdMed memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman lebih dari 20.000 dokter, perawat, ilmuwan, ahli naturopati, dan ahli kesehatan lainnya untuk berkonsultasi dan memberi nasihat tentang suatu kasus medis.

go to website
crowdsourcing

Pasien dengan misteri medis yang belum terpecahkan dapat mengunggah gejala mereka ke CrowdMed. Pasien kemudian akan diminta menjawab serangkaian pertanyaan medis yang komprehensif, mengunggah hasil tes diagnostik dan pencitraan yang relevan. Kemudian komunitas CrowdMed yang terdiri dari ribuan tenaga medis yang berkolaborasi akan memecahkan kasus kesehatan melalui berbagai fitur di CrowdMed. Berdasarkan jawaban para ahli, algoritma CrowdMed nantinya akan menetapkan probabilitas untuk setiap diagnosis dan solusi.

Pasien kemudian dapat menggunakan hasil analisa CrowdMed dalam konsultasi dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan lainnya untuk akhirnya mendapatkan jawaban atas kondisi mereka dan bagaimana pengobatan dapat dilakukan. CrowdMed jelas bermanfaat bagi orang-orang dengan kasus kesehatan kompleks atau langka melalui pengarahan yang lebih dekat pada diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Bermula dari Kebutuhan Mendesak

Bermula dari Kebutuhan Mendesak

Berdirinya CrowdMed bermula ketika pendirinya, Jared Heyman, dihadapkan pada kenyataan sulit ketika sang adik tak kunjung mendapat jawaban pasti atas penyakit yang ia derita, terlepas dari tiga tahun waktu berjuang yang telah dihabiskan. Sang adik, Carly jelas menderita kondisi medis yang serius. Namun, meski sudah menemui hampir 20 dokter dengan berbagai spesialis dan melakukan tes kesehatan yang tak terhitung jumlahnya, Carly masih tidak memiliki penjelasan untuk gejala yang melemahkan tubuhnya.

Carly pernah menjadi remaja yang bersemangat dan sehat, tetapi saat itu ia hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur hingga membuatnya putus asa. Akhirnya, setelah melalui kesempatan langka untuk berkonsultasi dengan tim pakar medis interdisipliner terkemuka dari Institut Kesehatan Nasional AS, Carly menerima jawaban. Ia didiagnosa menderita Fragile X-associated primary ovarian insufficiency (FXPOI), sebuah mutasi genetik langka dengan rasio satu banding 15.000 orang.

Fragile X-associated primary ovarian insufficiency (FXPOI),

Perjuangan Carly inilah yang mendorong Jared Heyman mengembangkan cara membantu orang lain yang sangat membutuhkan jawaban dan merasa tidak didengarkan oleh sistem perawatan kesehatan tradisional. Kasus medis Carly akhirnya diselesaikan dengan kolaborasi tim ahli medis interdisipliner, karenanya CrowdMed membawa model ini ke tingkat selanjutnya. 

Heyman menggunakan metode crowdsourcing yang dipatenkan dan platform daring yang mengumpulkan kecerdasan kolektif dan memfasilitasi kolaborasi para pakar medis. Dikombinasikan dengan analitik canggih, CrowdMed menghasilkan saran diagnostik dan solusi yang disajikan kepada pasien dalam waktu singkat.

crowdsourcing

Dengan metode crowdsourcing yang inovatif ini, CrowdMed telah menyelesaikan lebih dari 1.000 kasus medis dengan tingkat keberhasilan lebih dari 60%, untuk pasien yang rata-rata telah sakit selama 7 tahun, mengunjungi 8 dokter, dan mengeluarkan biaya pengobatan lebih dari USD 70.000 (Rp1 miliar) sebelum akhirnya berkonsultasi di CrowdMed. Adapun waktu penyelesaian kasus rata-rata adalah 2-3 bulan dan biayanya kurang dari USD 500 (Rp7,7 juta) per kasus.

crowdsourcing

Mengenal Metode Crowdsourcing yang Digunakan CrowdMed

Mengenal Metode Crowdsourcing yang Digunakan CrowdMed

Dalam konteks inovasi, crowdsourcing merupakan jenis open innovation atau inovasi terbuka yang memungkinkan perusahaan menggunakan sumber daya dari luar untuk memunculkan ide-ide inovasi. Lebih jelasnya, crowdsourcing ditujukan untuk menghimpun banyak orang demi mencapai suatu tujuan.

crowdsourcing
open innovation
crowdsourcing

Dalam kasus CrowdMed, mengetahui pentingnya kolaborasi dalam menuntaskan masalah dalam layanan kesehatan tradisional. CrowdMed memanfaatkan pengetahuan ribuan tenaga medis dari berbagai spesialis dan latar belakang untuk berkolaborasi, menuangkan perspektif mereka dalam membantu diagnosa kasus kesehatan dengan lebih akurat.

open innovation
open innovation

Dengan kepercayaan ini, Innovesia telah membantu sejumlah mitra dari berbagai latar belakang, tak terkecuali di sektor pelayanan kesehatan untuk menghasilkan solusi inovatif melalui kolaborasi.

Innovesia juga dipercaya memperkenalkan open innovation dalam Evidence Summit 2017, sebuah program kajian mengenai bagaimana menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia dengan mengumpulkan seluruh bukti permasalahan di setiap daerah. 

open innovation

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/pecahkan-diagnosa-penyakit-langka-crowdmed-gunakan-metode-crowdsourcing/feed/ 0