Artificial Intelligence – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Wed, 18 Oct 2023 01:58:00 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Artificial Intelligence – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/teknologi/percepat-pengembangan-ai-raksasa-teknologi-meta-luncurkan-program-open-innovation/ https://designthinking.id/teknologi/percepat-pengembangan-ai-raksasa-teknologi-meta-luncurkan-program-open-innovation/#respond Tue, 01 Aug 2023 09:00:00 +0000 https://designthinking.id/?p=1397 Untuk tetap kompetitif di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang berkembang pesat, raksasa teknologi Meta meluncurkan program Open Innovation AI Research Community. Mengusung pendekatan inovasi terbuka atau open innovation, program ini dirancang Meta untuk mendorong transparansi, inovasi, dan kolaborasi di bidang AI.

Diluncurkan pada pertengahan Juli 2023, Open Innovation AI Research Community akan membuka kesempatan bagi para profesor di universitas terakreditasi di manapun di dunia, untuk berkontribusi dalam agenda penelitian terkait tantangan paling mendesak seputar perkembangan AI di lapangan.

Bersama-sama mereka akan mengeksplorasi topik yang berkaitan dengan privasi, keselamatan, dan keamanan model bahasa besar atau large language models (LLM). Mereka juga akan diminta untuk memberikan masukan mengenai penyempurnaan model dasar, dan menetapkan agenda bagi penelitian kolaboratif di masa mendatang.

Melalui komunitas Open Innovation AI Research Community, para peserta juga akan bekerja sama mengembangkan solusi paling inovatif terkait permasalahan yang mereka temui dan mempromosikan praktik AI yang bertanggung jawab dan aman. Meta percaya, kolaborasi melalui open innovation menjadi langkah tepat bagi perusahaan untuk mempercepat penelitian mereka terkait AI.

“Kami percaya bahwa dengan menyatukan beragam perspektif dan keahlian, kami dapat mempercepat langkah dan kemajuan dalam penelitian AI,” tulis Meta dalam .

Komunitas ini juga akan memperjuangkan model sumber terbuka atau open source, yang memungkinkan para mitra berkolaborasi dan terlibat satu sama lain, berbagi pembelajaran, dan mengajukan pertanyaan tentang cara membangun model AI yang bertanggung jawab dan aman. 

Selain itu, raksasa teknologi yang menaungi Facebook, Instagram dan Whatsapp itu mengatakan bahwa komunitas tersebut juga akan mempercepat pelatihan peneliti generasi berikutnya dan mengantisipasi bahwa komunitas akan membangun kondisi yang memungkinkan untuk mengembangkan model AI yang lebih berkualitas.

“Kami mengantisipasi komunitas akan membentuk kondisi untuk membangun model AI masa depan yang lebih berkualitas dengan menumbuhkan dan mendiversifikasi komunitas praktisi. Kami percaya komunitas [Open Innovation AI Research Community] bersama mitra dari berbagai geografi dan institusi akan menciptakan serangkaian dinamika positif untuk mengembangkan model yang lebih kuat dan representatif,” jelas Meta.

Sebagai bagian dari kegiatan ini, Meta juga berencana untuk menyelenggarakan serangkaian lokakarya di mana para peserta akan berkumpul untuk menyelaraskan pertanyaan penelitian yang paling kritis dan mengembangkan panduan untuk pengembangan model open source yang bertanggung jawab.

Sebagai komunitas, Open Innovation AI Research Community pada akhirnya mungkin memiliki situs web independen, saluran jejaring sosial untuk berkolaborasi, dan pengiriman penelitian ke konferensi akademik.

Sebagai informasi Open Innovation AI Research Community terbuka bagi para akademisi dari universitas terakreditasi yang memiliki pengalaman terkait dengan Al, serta latar belakang dalam berbagai disiplin ilmu penelitian. Para peserta juga diharuskan memiliki kemampuan teknis untuk melanjutkan penelitian, dan kemampuan untuk berkontribusi dalam forum virtual dan lokakarya tatap muka. 

Pendaftaran untuk Open Innovation AI Research Community telah dibuka Meta sejak 18 Juli 2023 hingga 10 September 2023. Meta mendorong pelamar dari berbagai disiplin penelitian seraya menyatakan bahwa beberapa peserta dari universitas yang sama dapat mendaftar.

Komitmen Meta pada Open Source

Tak bisa dipungkiri, terobosan terbaru dalam bidang AI khususnya AI generatif telah  membantu manusia untuk melakukan hal-hal luar biasa. Meta percaya, AI generatif telah menciptakan peluang ekonomi dan sosial baru dengan memberi cara baru bagi individu, kreator dan bisnis untuk mengekspresikan diri mereka.

Berkaca dari kondisi ini, Meta percaya model terbuka atau open source adalah pendekatan yang tepat untuk pengembangan model AI saat ini. Meta menilai, membuat model AI tersedia bagi siapa saja dapat memberi bisnis, pengusaha, dan peneliti akses ke alat yang mendorong mereka untuk bereksperimen, berinovasi dengan cara yang menarik, dan pada akhirnya mendapat manfaat secara ekonomi dan sosial dari adanya AI.

“Membuka akses ke model AI saat ini berarti generasi pengembang dan peneliti dapat mengujinya, mengidentifikasi dan memecahkan masalah dengan cepat, sebagai sebuah komunitas. Dengan melihat bagaimana AI digunakan oleh orang lain, tim kami sendiri dapat belajar darinya, menyempurnakan alat tersebut, dan memperbaiki kerentanan,” bunyi pernyataan resmi Meta.

Meta telah menempatkan penelitian eksplorasi, sumber terbuka, dan kolaborasi dengan mitra akademik dan industri sebagai inti dari upaya membangun model AI selama lebih dari satu dekade. Terbaru, Meta kini tengah bersiap membuka akses Llama 2 dan membuatnya tersedia gratis untuk penelitian dan penggunaan komersial. 

Bermitra bersama Microsoft, Meta akan membuat model bahasa besar miliknya itu untuk berjalan secara lokal pada sistem operasi Windows demi memberikan pengalaman AI yang generatif kepada pelanggan di berbagai platform.

Bagaimana Open Innovation Mempercepat Pengembangan Model AI

try this site

AI telah mengubah kehidupan orang serta bisnis dan akan terus melakukannya dengan cara yang tak ada habisnya. Dengan perkembangannya yang pesat, semakin banyak perusahaan teknologi seperti Meta dan Microsoft mulai merangkul open innovation untuk mempercepat langkah mereka membangun model AI-nya masing-masing. 

Meski terkenal dengan kemampuan R&D yang luar biasa, Meta misalnya memilih membangun komunitas penelitian AI yang memungkinkan para peneliti dari berbagai universitas berbagi pengetahuan yang memungkinkan Meta memiliki akses ke berbagai perspektif dan memanfaatkannya untuk membangun solusi inovatif: Model AI yang bertanggung jawab.

Menurut Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia sebuah perusahaan konsultasi yang mengkhususkan diri pada inovasi, open Innovation mengatasi kesenjangan keterampilan yang berkembang di antara para insinyur perangkat lunak dan memungkinkan mereka berbagi pengetahuan. 

Dalam kasus Meta, berbagi pengetahuan dengan akademisi lintas bidang keilmuan memungkinkan pengembang memiliki akses ke beragam pengetahuan yang diperlukan dalam pengembangan model AI.

“Open Innovation sepenuhnya mendemokratisasi proses R&D, yang memungkinkan pengembang untuk membangun model AI dengan lebih cepat, lebih fleksibel dan aman berkat bantuan dan dukungan dari sejumlah besar kontributor,” ujar Fiter Bagus.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/percepat-pengembangan-ai-raksasa-teknologi-meta-luncurkan-program-open-innovation/feed/ 0
Startup Humane Pamerkan Perangkat AI Secanggih Smartphone Tanpa Layar https://designthinking.id/teknologi/startup-humane-pamerkan-perangkat-ai-secanggih-smartphone-tanpa-layar/ https://designthinking.id/teknologi/startup-humane-pamerkan-perangkat-ai-secanggih-smartphone-tanpa-layar/#respond Mon, 29 May 2023 07:12:43 +0000 https://designthinking.id/?p=571 Startup
gadget
artificial intelligence

Pada satu titik selama demonstrasinya, Chaudhri menunjukkan kemampuan perangkat AI yang dibangunnya untuk menerima panggilan telepon dari Bethany Bongiorno yang merupakan co-founder sekaligus CEO Humane. 

Meski sudut kamera TED TALK mengaburkan bagaimana Chaudhri mengangkat panggilan, dia menjawab panggilan dan melakukan percakapan singkat selayaknya menggunakan telepon melalui speakerphone. Uniknya, perangkat itu tidak bekerja dengan terhubung ke smartphone layaknya Apple Watch.

speakerphone.
smartphone

“Ini adalah jenis perangkat dan platform baru yang dapat dikenakan yang dibangun sepenuhnya untuk kecerdasan buatan dan sepenuhnya berdiri sendiri. Anda tidak memerlukan smartphone atau perangkat lain untuk memasangkannya. sebagaimana saya menggunakannya sekarang,” ungkap Chaudhri, namun belum jelas bagaimana perangkat buatan Humane itu bekerja.

Berlaku layaknya asisten pribadi, Chaudhri mempraktikan bagaimana perangkatnya mengenali perintah suara seperti yang dilakukan speaker pintar Amazon Echo. 

“Bayangkan ini: Anda telah menghadiri rapat sepanjang hari dan Anda hanya ingin ringkasan tentang apa yang Anda lewatkan,” kata Chaudhri sebelum mengetuk perangkat dan berkata “Catch Up”.

“Catch Up”

Sebagai tanggapan, perangkat menawarkan ringkasan email, jadwal kalender, dan pesan terbaru, yang disebut Chaudhri dapat digunakan sebagai panduan dalam pengambilan keputusan, mengelola beban kerja, hingga membuat respons yang disesuaikan dengan suara Anda.

Meski begitu, belum jelas dari mana perangkat AI yang dikembangkan Humane itu dapat menarik informasi seperti itu mengingat pernyataan Chaudhri yang mengatakan perangkat pintarnya tidak memerlukan smartphone untuk terhubung. Kemungkinan besar, perangkat itu terhubung ke layanan berbasis cloud.

smartphone
cloud.
click to visit

Tak berhenti sampai disitu, Chaudhri menekankan perangkat AI yang dikembangkannya dapat berinteraksi dengan dunia sebagaimana manusia berinteraksi dengan dunianya, seperti mendengar apa yang kita dengar, juga melihat apa yang kita lihat.

Pasalnya perangkat yang disertai kamera itu memiliki fitur objek pengenal. Di atas panggung, Chaudhri menggunakan perangkat tersebut untuk mengidentifikasi sebatang cokelat dan meminta pendapat apakah baik baginya untuk mengonsumsi cokelat itu berdasarkan kebutuhan dietnya.

Tanpa menyebutkan jenis atau merek cokelatnya, Chaudhri hanya bertanya “bisakah saya makan ini” seraya menunjukkan sebatang cokelat pada perangkat. Sebagai tanggapan, perangkat tak hanya mengenali cokelat yang ditujukan kepadanya, tapi juga kandungan di dalamnya.

“Sebatang cokelat susu berisi cocoa butter. Mengingat intoleransi Anda, Anda mungkin ingin menghindarinya,” bunyi perangkat AI tersebut.

cocoa butter

Terakhir, Chaudhri memberikan demonstrasi tambahan di mana ia mengucapkan sebuah kalimat, lalu menunggu perangkat Wearable milik Humane membacakan kalimat yang sama dalam bahasa Prancis. Namun, dalam klip demonstrasi berdurasi 13 menit itu, Chaudhri tidak pernah menginstruksikan perangkat untuk menerjemahkan kata-katanya, jadi tidak jelas bagaimana cara mengaktifkan fungsi ini.

“Kami ingin mengatakan bahwa [perangkat ini] memberikan pengalaman tanpa layar, yang memungkinkan Anda untuk mengakses kekuatan komputasi sambil tetap hadir di sekitar Anda,” kata Chaudhri.

Chaudhri memang berpengalaman mendesain perangkat teknologi. Selama 22 tahun bekerja di raksasa Apple, Chaudhri berkontribusi dalam mendesain perangkat Apple mulai dari MAC, Iphone hingga Apple Watch. Kini menurutnya, masa depan teknologi ada pada AI dan dalam hal ini, perangkat Humane didesain lebih natural tanpa layar yang membuat penggunanya tetap bisa melakukan aktivitas komputasi tanpa merasa terpisah dari dunia nyata.

“Kami senang membuat teknologi yang bisa membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik dan kami percaya AI akan berada di belakang lompatan berikutnya dalam perkembangan perangkat teknologi,” ujar Chaudhri.

Humane: AI yang Baik Harus Berpusat pada Manusia

Humane: AI yang Baik Harus Berpusat pada Manusia

Berdiri pada 2018, Humane merupakan startup yang bergerak pada bidang teknologi, khususnya pengembangan AI. Dalam pertanyaan resmi, Perusahaan percaya bahwa teknologi harus dibuat untuk melayani orang dan bukan sebaliknya.

Humane berfokus membuat teknologi AI yang tidak hanya kuat tetapi juga dirancang dengan cermat dan menyenangkan untuk digunakan. Menurut perusahaan, AI harus berusaha memajukan kehidupan penggunanya yang dirancang dengan niat untuk memecahkan masalah nyata dengan cara yang bermakna. Lebih dari itu, AI harus dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan dan perspektif penggunanya.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Terlepas dari kecanggihan yang ditawarkan, masih banyak pertanyaan yang perlu dituntaskan Humane terkait perangkat AI mereka. Misalnya, bagaimana cara Chaudhri menjawab panggilan telepon, mengapa menggunakan proyektor jika kontrol panggilan dapat ditangani dengan suara, bagaimana perangkat mengetahui bahasa apa yang akan diterjemahkan, juga bagaimana cara perangkat ini mendapatkan informasi digital seperti kontak dan jadwal, dan masih banyak lagi.

Meski begitu, Humane sepertinya mendapat kepercayaan besar dari sejumlah praktisi atau perusahaan yang juga berinvestasi pada AI. Sebut saja Sam Altman yang merupakan pendiri OpenAI, juga Microsoft Corp yang telah membangun infrastruktur komputasi awan besar-besaran khusus untuk AI, keduanya ikut serta dalam putaran pendanaan USD 100 juta atau sekitar Rp1,5 triliun pada Maret lalu. 

Reuters
,

“Di masa depan, teknologi akan bersifat ambien dan kontekstual. Dan itu berarti memanfaatkan AI untuk benar-benar memahami Anda dan lingkungan Anda untuk mencapai hasil terbaik,” ujar Chaudhri.

Mengetahui masih banyak yang perlu dijawab, Chaudhri mengatakan Humane akan memiliki lebih banyak informasi untuk dibagikan dalam beberapa bulan ke depan.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/startup-humane-pamerkan-perangkat-ai-secanggih-smartphone-tanpa-layar/feed/ 0
Mengapa Kecerdasan Buatan Membutuhkan Strategi Bisnis? https://designthinking.id/teknologi/mengapa-kecerdasan-buatan-membutuhkan-strategi-bisnis/ https://designthinking.id/teknologi/mengapa-kecerdasan-buatan-membutuhkan-strategi-bisnis/#respond Fri, 21 Jun 2019 06:39:00 +0000 https://designthinking.id/?p=1120 you can check here

from this source

Mengapa AI Membutuhkan Strategi? Bagaimana Mendesain Strategi AI untuk Bisnis?

Lebih dari 70% kegagalan implementasi Artificial Intelligence (AI) bukan disebabkan oleh teknologinya, tetapi karena strategi yang tidak tepat. Banyak perusahaan, startup, dan organisasi lain yang terburu-buru ingin menerapkan AI dalam sistem organisasi mereka, tetapi tidak mengintegrasikannya dengan strategi bisnis.

Bagaimana Mendesain Strategi AI untuk Bisnis? Lebih dari 70% kegagalan implementasi Artificial Intelligence (AI) bukan disebabkan oleh teknologinya, tetapi karena strategi yang tidak tepat. Banyak perusahaan, startup, dan organisasi lain yang terburu-buru ingin menerapkan AI dalam sistem organisasi mereka, tetapi tidak mengintegrasikannya dengan strategi bisnis.

Akibatnya, AI hanya menjadi pajangan dan jargon yang digunakan dalam organisasi. Titik awal penerapan AI bukanlah teknologi itu sendiri. Tetapi dimulai dengan tujuan, obyektif, dan strategi (Winning Aspiration & Strategy) yang ingin dicapai oleh perusahaan, seperti keunggulan kompetitif, kepuasan pelanggan, dan kepemimpinan pasar. STRATEGI dimulai dari penentuan target pasar di mana perusahaan akan beroperasi (Where To Play) dan menyediakan produknya.

Kemudian, sediakan sumber daya, kapabilitas, dan sistem (Resources, Capability, System) yang diperlukan untuk mengimplementasikan strategi tersebut. Di sinilah Artificial Intelligence digunakan untuk memberdayakan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Jangan terbalik!

]]>
https://designthinking.id/teknologi/mengapa-kecerdasan-buatan-membutuhkan-strategi-bisnis/feed/ 0