Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 04:33:10 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Kerja Sama Open Innovation Lintas Negara untuk Ciptakan Solusi Terdepan bagi Sektor Mobiltas https://designthinking.id/otomotif/kerja-sama-open-innovation-lintas-negara-untuk-ciptakan-solusi-terdepan-bagi-sektor-mobiltas/ https://designthinking.id/otomotif/kerja-sama-open-innovation-lintas-negara-untuk-ciptakan-solusi-terdepan-bagi-sektor-mobiltas/#respond Fri, 17 Nov 2023 09:17:35 +0000 https://designthinking.id/?p=2296 Plastic Omnium, perusahaan multinasional di sektor industri mobilitas, menandatangani perjanjian kemitraan dalam inovasi terbuka atau open innovation dengan dua institusi akademik internasional, Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat (AS) dan National Innovation Center by Excellence (NICE) di Tiongkok.

Dua inisiatif open innovation ini diharapkan mampu memperluas inovasi Plastic Omnium di empat sektor utama yakni penyimpanan dan transformasi energi, material baru dan daur ulang, penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mobilitas otonom, dan perangkat lunak onboard. Bersama kedua institusi akademik terkemuka tersebut, Plastic Omnium bertekad memperluas cakupan penelitian, pelatihan dan kolaborasi guna menjadi yang terdepan dalam menciptakan solusi teknologi terbaru di sektor mobilitas.

Dengan merangkul teknologi dan kolaborasi, inisiatif open innovation diyakini mampu membawa Plastic Omnium mencapai keunggulan kompetitif dan menjadi pemain utama dalam sektor mobilitas. Benefit ini tak lain diperoleh karena open innovation memungkinkan perusahaan asal Prancis itu untuk memanfaatkan ekosistem inovasi yang telah lama dibangun Massachusetts Institute of Technology dan National Innovation Center by Excellence.

Kemitraan dengan Massachusetts Institute of Technology misalnya, telah menawarkan peluang besar bagi Plastic Omnium untuk mengakses 65 laboratorium penelitian milik universitas terkemuka di AS tersebut. Belum lagi jumlah akademisi dan peneliti di Massachusetts Institute of Technology, yang bisa membantu dan mempercepat langkah Plastic Omnium dalam berinovasi. 

Bayangkan saja, melalui kemitraan dalam open innovation ini, Plastic Omnium dapat bekerja sama dengan 3.700 peneliti dan 1.200 perusahaan rintisan atau startup, yang berasal dari jaringan Massachusetts Institute of Technology. Besarnya sumber daya eksternal ini jelas menawarkan potensi yang sangat besar bagi Plastic Omnium untuk memperkuat posisi perusahaan di lanskap industri otomotif khususnya sektor mobilitas yang tengah berkembang pesat berkat kemajuan teknologi.

Sementara itu, kolaborasi Plastic Omnium dengan National Innovation Center by Excellence (NICE), memungkinkan perusahaan asal Prancis itu untuk bekerja sama dengan pusat penelitian dan perusahaan terkemuka di jantung industri Tiongkok. Sebagai konsorsium ilmu pengetahuan terbesar di Tiongkok, NICE sendiri telah mengembangkan keahlian mendalam di bidang material canggih, ilmu energi dan lingkungan, proses manufaktur, dan peralatan.

Kedua kemitraan baru ini menggambarkan bagaimana Plastic Omnium meningkatkan strategi open innovation sekaligus memperdalam hubungannya dengan pusat penelitian global. Pada bulan November 2022 misalnya, Plastic Omnium mengumumkan perjanjian penelitian untuk mengeksplorasi inovasi mobilitas listrik dengan Komisi Energi Alternatif dan Energi Atom Prancis (CEA). Bersama-sama, keduanya akan melakukan penelitian lanjutan guna mewujudkan sektor mobilitas yang lebih aman dan terhubung.

Didorong oleh inovasi sejak awal, Plastic Omnium terus berkomitmen mengembangkan dan memproduksi sistem eksterior cerdas, sistem pencahayaan, penyimpanan energi, dan solusi elektrifikasi untuk setiap sektor mobilitas. Atas dasar itu, open innovation dianggap sebagai langkah yang tepat dalam mewujudkan cita-cita Plastic Omnium sebagai pemimpin dunia yang senantiasa menawarkan pengalaman mobilitas yang unik, lebih aman dan berkelanjutan.

Managing Director Plastic Omnium, Félicie Burelle, menjelaskan kemitraan dengan Massachusetts Institute of Technology dan National Innovation Center by Excellence dalam open innovation merupakan bukti tekad Plastic Omnium untuk terus berinovasi dengan berbagai pelanggannya di beberapa kawasan paling dinamis di dunia. 

“Pada saat mobilitas berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, didorong oleh upaya para pelaku untuk saling mengalahkan dalam hal inovasi dan disrupsi, Plastic Omnium bertekad untuk menjadi yang terdepan dalam hal transformasi. Kemitraan baru dengan lembaga-lembaga terkemuka di dunia ini akan berperan dalam munculnya solusi teknologi baru untuk mobilitas,” jelas Félicie Burelle, seperti dilansir dari laman resmi Plastic Omnium.

Memulai open innovation tersebut, Plastic Omnium dan Massachusetts Institute of Technology akan mengadakan simposium pada tanggal 17 Oktober 2023 di Paris, Prancis, untuk mengkaji dampak kecerdasan buatan terhadap munculnya layanan dan praktik baru di sektor mobilitas. Acara ini akan dihadiri oleh dosen dan profesor dari tiga laboratorium Massachusetts Institute of Technology, serta perwakilan dari startup untuk berdiskusi dan memantik ide inovatif mengenai topik ini.

]]>
https://designthinking.id/otomotif/kerja-sama-open-innovation-lintas-negara-untuk-ciptakan-solusi-terdepan-bagi-sektor-mobiltas/feed/ 0
Open Innovation jadi Kunci Keberhasilan Perusahaan Capai Tujuan Keberlanjutan https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/ https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/#respond Tue, 07 Nov 2023 07:18:46 +0000 https://designthinking.id/?p=2268 Walau inovasi terbuka atau open innovation bukanlah konsep yang baru, pendekatan inovasi satu ini dinilai kian relevan dalam menghadapi lanskap bisnis yang semakin kompleks. Seiring meningkatnya urgensi iklim, open innovation diyakini banyak perusahaan sebagai pendekatan yang tepat dalam menjawab tantangan keberlanjutan atau sustainability yang dicita-citakan banyak perusahaan di dunia.

Dalam survei terhadap 1.000 perusahaan yang dilangsungkan pada Februari hingga Maret 2023, Capgemini Research Institute mencatat, 75% perusahaan memandang open innovation sebagai hal yang krusial untuk mengatasi permasalahan kompleks dalam bisnis mereka.

Open innovation bahkan dinilai jauh lebih penting dari sebelumnya mengingat besarnya tuntutan bagi perusahaan untuk menerapkan model bisnis yang lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Bahkan, 83% perusahaan yang disurvei mengakui open innovation sebagai faktor penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan keberlanjutan.

Seperti namanya, open innovation merupakan upaya mendapatkan pengetahuan atau bahkan solusi atas suatu permasalahan dengan melibatkan pihak internal dan eksternal perusahaan. Open innovation dinilai kian penting untuk mengatasi kesenjangan dan keterbatasan sumber daya internal perusahaan, seraya mempersingkat waktu dalam menjawab tantangan eksternal secepat mungkin.

Dengan begitu perusahaan bisa mendapatkan solusi yang lebih beragam, out-of-the-box, dalam waktu singkat dan tentunya dengan biaya yang lebih sedikit. Tak heran jika 55% perusahaan mengakui bahwa inovasi terbuka mampu meningkatkan percepatan inovasi, sementara 62% perusahaan mengatakan inovasi dapat meningkatkan ketangkasan dan kemampuan beradaptasi karyawan. Lebih dari 60% perusahaan pun telah merealisasikan manfaat finansial seperti peningkatan pendapatan dan efisiensi operasional. 

Dalam konteks keberlanjutan atau sustainability, kebutuhan untuk mempercepat transisi menuju net zero emission mendorong organisasi untuk memanfaatkan sumber inovasi eksternal dan kehadiran open innovation telah membuka jalan bagi perusahaan untuk melakukan kolaborasi. Open innovation memungkinkan setiap perusahaan untuk berkolaborasi dengan pemasok, pelanggan, startup, pemerintah, organisasi nirlaba atau bahkan pesaing untuk menjawab tantangan keberlanjutan yang bersifat sistemik. 

Bahkan, 68% perusahaan mengaku telah berinvestasi pada open innovation sebagai metode untuk menjawab tantangan keberlanjutan. Unilever misalnya, perusahaan FMCG multinasional yang telah melibatkan banyak pihak eksternal dalam open innovation sebagai upaya untuk mewujudkan bisnis berkelanjutan.

Mencapai Tujuan Keberlanjutan Melalui Open Innovation Bersama Startup

Pada tahun 2021, Unilever bekerja sama dengan LanzaTech –startup bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat (AS)– dan India Glycols –produsen bahan kimia yang berbasis di India– berhasil menciptakan cairan pencuci piring pertama di dunia yang terbuat dari emisi karbon industri yang didaur ulang. Tak hanya itu, Unilever juga berpartisipasi dalam proyek Flue2Chem, sebuah inisiatif open innovation yang melibatkan 15 organisasi di Inggris dengan tujuan mengubah gas limbah industri menjadi gas berkelanjutan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam berbagai produk FMCG.

Pada tahun yang sama, perusahaan utilitas listrik asal Spanyol, Iberdrola, melangsungkan Global Smart Grids Innovation Hub yang melibatkan 91 mitra di sektor teknologi termasuk startup untuk menggandakan jumlah proyek inovasi smart grid di seluruh dunia. Melalui open innovation, Iberdrola mencoba menciptakan solusi digitalisasi jaringan listrik, integrasi energi terbarukan, hingga optimalisasi sistem penyimpanan energi.

Berkat teknologi dan ketangkasan yang dimiliki startup, banyak perusahaan besar melihat startup sebagai mitra paling ideal dalam mencapai upaya keberlanjutan mereka. Bahkan, tujuh dari sepuluh perusahaan yang disurvei Capgemini Research Institute meyakini pentingnya berkolaborasi dengan startup dalam open innovation untuk mengatasi tantangan keberlanjutan. 

Sebanyak 55% perusahaan mengatakan bahwa mereka sudah mulai terlibat dalam open innovation bersama startup teknologi dalam dua tahun terakhir. Mereka meyakini, teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), blockchain, biologi sintetis, dan teknologi kuantum yang dibawa startup merupakan kunci untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan penipisan sumber daya alam.

Senada, Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, menyatakan bahwa startup mampu menghasilkan solusi digital dalam menghadapi tuntutan emisi nol bersih berkat perspektif segar yang mereka bawa, juga sistem kerja yang berbeda dari perusahaan besar pada umumnya.

Startup dan pengusaha membawa pola pikir yang berbeda dan perspektif baru dalam tantangan net-zero emission. Mereka dapat bergerak lebih cepat daripada organisasi besar dan lebih mudah melakukan hal-hal baru. Hal ini membuat mereka sangat cocok untuk perusahaan seperti Shell, yang kurang gesit, tetapi dapat menawarkan dukungan finansial yang kuat, kapasitas teknis yang luas, dan akses mudah ke mitra dan pasar global,” ujar Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, seperti dilansir dari laman resmi Shell.

Kolaborasi lintas industri yang dimungkinkan open innovation inilah yang secara luas diakui mampu membantu perusahaan mencapai tujuan keberlanjutan mereka. Dalam laporan bertajuk The Power of Minds: How Open Innovation Over Benefits for All, mayoritas atau 63% perusahaan yang disurvei mengaku bahwa inisiatif open innovation yang mereka lakukan mampu meningkatkan indikator keberlanjutan lingkungan perusahaan dan 55% melaporkan peningkatan dalam indikator keberlanjutan sosial mereka.

Dengan segenap keuntungan yang ditawarkan, tak heran jika 71% dari 1.000 perusahaan yang disurvei berencana untuk meningkatkan investasi dalam open innovation selama dua tahun ke depan. Tak hanya itu, mereka juga meyakini bahwa 70% inovasi perusahaan di masa depan akan lahir dari kolaborasi, mengingat besarnya tantangan global, termasuk perubahan iklim.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/feed/ 0
3 Ajang Open Innovation Bantu Pemerintah Hadapi Isu Lingkungan dan Sosial https://designthinking.id/gaya-hidup/3-ajang-open-innovation-bantu-pemerintah-hadapi-isu-lingkungan-dan-sosial/ https://designthinking.id/gaya-hidup/3-ajang-open-innovation-bantu-pemerintah-hadapi-isu-lingkungan-dan-sosial/#respond Wed, 25 Oct 2023 09:55:04 +0000 https://designthinking.id/?p=2248

Open innovation atau inovasi terbuka tak hanya menawarkan cara baru bagi pemerintah dalam mengatasi masalah yang kompleks, tapi juga meningkatkan keterlibatan dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Mulai dari perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, hingga kesenjangan sosial, pemerintah dituntut masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan yang kian mendesak. Sayangnya, solusi yang diperlukan jarang sekali hadir dari sektor pemerintahan itu sendiri. Dalam menyelesaikan isu sosial dan lingkungan yang semakin menantang, pemerintah dituntut untuk  berkolaborasi dengan berbagai pihak dari berbagai sektor.

Dalam laporan bertajuk The Nine Trends Reshaping Government in 2023, Deloitte menekankan bahwa pencapaian tujuan kebijakan publik semakin bergantung pada upaya terkoordinasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk memanfaatkan pengetahuan bersama dan kekuatan unik dalam rangka mendorong solusi yang inovatif. 

Berkat kerja sama dengan sektor swasta melalui open innovation, pemerintah mempunyai potensi besar untuk menghadirkan solusi inovatif guna menciptakan manfaat sosial dan lingkungan yang nyata bagi seluruh penduduknya. Dalam hal ini, open innovation dinilai sangat berguna untuk menemukan pendekatan dan solusi baru terhadap permasalahan sosial serta lingkungan yang mendesak dan belum terpecahkan.

Open innovation juga mampu menstimulasi pemerintah untuk menemukan cara-cara baru agar dapat bekerja dengan cara yang lebih tangkas dibandingkan kerangka kerja konvensional yang silo. 

Pendekatan open innovation juga membuka jalan untuk membangun sistem pemerintahan yang terbuka dan proses demokrasi berskala besar karena memungkinkan siapapun untuk berpartisipasi menjawab isu-isu kompleks yang dihadapi masyarakat. Pada akhirnya, keterlibatan sektor swasta dan masyarakat dalam open innovation memungkinkan meningkatnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah.

Berikut tiga inisiatif open innovation yang berhasil menghubungkan pemerintah dengan pihak swasta untuk menjawab isu sosial dan lingkungan:

1. The InoveMob Challenge

Ilustrasi kepadatan kota (Sumber: Chris Griffin/Flickr)

Seiring pertumbuhan penduduk, pemerintah bertanggung jawab membentuk inovasi dalam sektor mobilitas untuk meningkatkan keselamatan masyarakat dan mengurangi kemacetan. The InoveMob Challenge yang berlangsung pada 2018 menjadi bukti bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan swasta berhasil menciptakan inovasi mobilitas di perkotaan.

Melalui kolaborasi, National Front of Mayors, sebuah organisasi non-partisan yang terdiri dari walikota di seluruh Brasil, Toyota Mobility Foundation dan World Resources Institute (WRI) Brasil berhasil meluncurkan kompetisi inovasi InoveMob Challenge untuk menghadirkan solusi yang dapat meningkatkan mobilitas di sekitar universitas, sekolah, gedung administrasi, dan kawasan pusat bisnis.

Dari 80 proposal yang diajukan, lima di antaranya terpilih menerima dukungan finansial dan teknis untuk proyek percontohan. Mereka adalah Bikxi, layanan ridesharing yang menggunakan sepeda tandem bertenaga listrik sehingga memberikan kenyamanan dan kecepatan berkendara; Carona dan Pé, sebuah inisiatif yang mendorong anak-anak untuk berjalan kaki ke sekolah dengan membuat rute berjalan kaki dan mendorong mereka untuk pergi dalam kelompok yang dipandu; Nina, platform yang memungkinkan pengguna angkutan umum melaporkan pelecehan yang mereka derita atau saksikan; OnBoard Mobility yang menawarkan solusi tiket elektronik untuk angkutan umum untuk menghindari antrean umum di terminal; terakhir Bynd, menawarkan layanan berbagi tumpangan bagi karyawan.

2. Helsinki Energy Challenge

Kick off Helshinky Energy Challenge (Sumber: HEC)

Meski emisi karbon yang dihasilkan kota Helsinki dilaporkan 28% lebih kecil dibandingkan tahun 1990-an, bahan bakar fosil masih menjadi masalah utama di ibukota Finlandia tersebut. Kota berpenduduk 632 ribu jiwa itu masih mengandalkan sistem pemanas yang bersumber dari bahan bakar fosil, yang menyumbang lebih dari separuh total emisi karbon Helsinki.

Fenomena inilah yang mendorong Jan Vapaavuori, yang pernah menjabat sebagai Walikota Helsinki periode 2017-2021, untuk menggelar open innovation. Bertajuk Helsinki Energy Challenge, Jan Vapaavuori menawarkan hadiah €1.000.000 bagi para inovator yang mampu merancang ide inovasi guna mempercepat dekarbonisasi sistem pemanasan kota Helsinki.

Dimulai pada 27 Februari 2020, Helsinki Energy Challenge berlangsung selama setahun dan menginspirasi 252 tim dari 35 negara di seluruh dunia untuk berpartisipasi memerangi krisis iklim. Sepuluh tim dengan ide inovasi terbaik kemudian diundang untuk mengikuti fase co-creation.

Melalui Helsinki Energy Challenge, Helsinki menemukan tidak hanya satu tetapi sepuluh alternatif, di mana empat diantaranya dianggap solusi terbaik untuk menghangatkan seisi kota tanpa bahan bakar fosil.

3. Bristol Smart City Challenge

Kota Bristol (Sumber: alamy)

Dengan populasi penduduk yang diproyeksikan meningkat sebesar 15% selama periode 2018-2043 dan mencapai total populasi 532.700 pada tahun 2043, pemerintah Bristol dituntut untuk membangun 24.000 rumah baru dengan harga terjangkau untuk menyelesaikan kesenjangan ekonomi di kota tersebut. Namun, rencana pembangunan puluhan ribu rumah baru ini membuka risiko terhadap krisis iklim.

Pasalnya, perumahan dilaporkan menyumbang sekitar 40% dari total jejak karbon atau carbon footprint di Inggris, di mana separuh dari jumlah tersebut berasal dari energi yang digunakan dalam bangunan dan infrastruktur, dan 28% berasal dari bahan yang digunakan dalam konstruksi bangunan. Atas dasar itu, pemerintah Bristol harus mampu menghadirkan hunian berkelanjutan tentunya dengan harga terjangkau yang dinilai kian mustahil.

Tantangan ini mendorong pemerintah Bristol untuk menghadirkan solusi yang merangkul kompleksitas dari hubungan tersebut melalui kompetisi inovasi, Bristol Smart City Challenge. Melalui open innovation, pemerintah Bristol menantang pengembang, investor di sektor ESG, ahli teknologi hunian ramah lingkungan serta pakar keuangan real estat untuk menghadirkan model pembiayaan dalam pembangunan kawasan hunian baru di lahan Brownfield di Bristol yang selama ini dianggap tidak layak, namun dinilai sebagai kunci untuk membuka ratusan rumah yang hemat energi, netral karbon, dan terjangkau.

Pemenang kompetisi, tim Thriving Places terpilih untuk mengembangkan ide mereka lebih lanjut dan mendemonstrasikan solusi mereka di Bristol pada tahun 2023. Solusi dari Thriving Places akan fokus pada penguatan Bristol sebagai kota yang sehat secara holistik. Prioritas mereka mencakup optimalisasi potensi setiap lahan yang kurang dimanfaatkan dan mendefinisikan ulang nilai pembangunan untuk definisi kelayakan yang baru.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/3-ajang-open-innovation-bantu-pemerintah-hadapi-isu-lingkungan-dan-sosial/feed/ 0
Jawab Tantangan Bonus Demografi, Innovesia Bimbing Mahasiswa Unika Atma Jaya Kembangkan Ide Bisnis https://designthinking.id/edukasi/jawab-tantangan-bonus-demografi-innovesia-bimbing-mahasiswa-unika-atma-jaya-kembangkan-ide-bisnis/ https://designthinking.id/edukasi/jawab-tantangan-bonus-demografi-innovesia-bimbing-mahasiswa-unika-atma-jaya-kembangkan-ide-bisnis/#respond Tue, 24 Oct 2023 08:14:19 +0000 https://designthinking.id/?p=2232 Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi bisnis, kembali dipercaya menanamkan pola pikir design thinking bagi mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Atma Jaya melalui program Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB). Terkenal akan nilai-nilai kewirausahaannya, program AJIB menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide inovasi mereka dari sebuah konsep menjadi rencana bisnis yang matang.

Memiliki mayoritas penduduk yang didominasi usia produktif dengan 69,25% populasi berusia 15 sampai 64 tahun, Indonesia akan memasuki masa puncak bonus demografi yang bisa menjadi anugerah sekaligus tantangan besar. Pasalnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebut pemerintah setidaknya harus menyediakan 3,6 juta lapangan pekerjaan tiap tahunnya.

Atas dasar itulah, menanamkan jiwa pengusaha sedini mungkin menjadi salah satu opsi yang dinilai Menko Effendy mampu membawa Indonesia melewati puncak bonus demografi dengan baik.

“Bonus demografi menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi keuntungan ekonomi karena banyaknya penduduk usia kerja (produktif) yang berkorelasi dengan meningkatnya produktivitas. Namun, untuk menjadikan bonus demografi sebagai keuntungan ada syarat yang harus dipenuhi yakni penduduk usia produktif harus memiliki kompetensi untuk memenangkan persaingan,” ujar Fiter Bagus Cahyono, Direktur, Innovesia.

Menjadikan bonus demografi sebagai anugerah juga merupakan cita-cita Unika Atma Jaya yang senantiasa mendorong mahasiswanya untuk tak sekedar menjadi tenaga kerja tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi bangsa Indonesia.

“Kami melihat kalau semua orang maunya hanya bekerja dan tidak ada yang menciptakan lapangan pekerjaan, lama-lama tingkat persaingannya akan semakin keras, makin sulit dan tidak mungkin perusahaan yang sudah ada itu bisa menampung semua penduduk usia produktif di Indonesia. Jadi mau tidak mau harus ada pengusaha-pengusaha baru yang muncul yang memang bisa mengisi kekosongan di dalam pasar,” ujar Devi Angrahini A. Lembana, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) AJIB.

Mematangkan Ide Bisnis Melalui Design Thinking

Innovesia ajarkan pendekatan Design Thinking dalam Bootcamp Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) (Sumber: Innovesia)

Semangat inilah yang mendorong AJIB menyelenggarakan serangkaian bootcamp untuk membimbing mahasiswa Unika Atma Jaya yang tertarik berwirausaha untuk mematangkan ide bisnis secara intensif. Bootcamp sendiri merupakan bagian dari program inkubasi AJIB yang telah memasuki Angkatan ke-3.

Bootcamp dibuat karena kami melihat bahwa pengembangan ide bisnis itu perlu dilakukan secara intensif. Jadi, dengan bootcamp ini kami mencoba membuat kelas yang mendalam sehingga dalam waktu dua minggu, mahasiswa yang mengikuti program ini dapat fokus mengembangkan ide bisnis sampai bisa menghasilkan satu prototype dan agar mereka siap menceritakan ide bisnis mereka ke orang lain,” jelas Devi.

Sebanyak 27 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Fakultas Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi (FIABIKOM), secara aktif terlibat dalam Bootcamp Design Thinking yang dibawakan Innovesia. 

Bertempat di Gedung K2 Unika Atma Jaya, Innovesia mengajak seluruh peserta menggunakan design thinking, sebuah pola pikir yang berpusat pada pengguna, untuk mengembangkan ide bisnis mereka dengan memusatkan calon pelanggan pada setiap langkah perumusan rencana bisnis mereka.

Selama empat hari, Innovesia secara intensif mengajarkan design thinking agar peserta mendapatkan first-hand-experience tentang bagaimana menemukan bisnis yang cocok dengan minat mereka selagi menjawab kebutuhan pasar. Dengan begitu, ide bisnis yang mereka kembangkan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang belum terjawab atau bahkan terabaikan.

“Innovesia mengajak seluruh peserta untuk bisa menelusuri kembali ide awal mereka, agar ide bisnis yang mereka bangun didasarkan pada fakta dan data yang kuat akan esensi keberadaannya bagi target pelanggan,” ujar Fiter Bagus.

Pola pikir design thinking sendiri dipilih Unika Atma Jaya karena dinilai menjadi metode yang paling tepat untuk membuka pikiran mahasiswa agar dapat mengesampingkan asumsi dan perasaan mereka ketika merancang sebuah ide bisnis.

Innovesia menanamkan pendekatan Design Thinking pada Bootcamp Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) (Dok. Innovesia)

“Kami sudah beberapa kali bekerja bersama Innovesia dan kami lihat memang metode design thinking ini paling bisa diterapkan untuk mengajarkan mahasiswa. Hal terpenting adalah, kalau membuat atau mendirikan bisnis itu tidak bisa berdasarkan pikiran atau perasaan kita, atau hanya dengan menganalisa pesaing. Akan tetapi, harus benar-benar mendalami apa yang sebenarnya dibutuhkan konsumen. Inilah manfaat terbesar design thinking,” jelas Devi.

Selain dapat membimbing mahasiswa untuk merancang ide atau rencana bisnis yang sesuai kebutuhan pasar. Pola pikir design thinking juga dinilai Unika Atma Jaya relevan dengan nilai-nilai kewirausahaan yang diajarkan universitas serta praktik nyata di lapangan.

“Pendekatan design thinking dari Innovesia kita lihat itu memang berkesinambungan dengan teori yang kami ajarkan di kelas juga dengan apa yang diterapkan di lapangan. Metode ini yang kami rasa merupakan pilihan terbaik untuk saat ini,” lanjut Devi.

Selama empat hari, Innovesia mengajarkan metode design thinking secara intensif. Mulai dari membimbing setiap peserta yang mengikuti program AJIB untuk menemukan ide bisnis yang sesuai kaidah design thinking, mengidentifikasi masalah untuk mencari peluang, memahami permasalahan tersebut dari sudut pandang calon pelanggan, sampai pada pencarian ide untuk memberikan solusi bagi pelanggan dalam bentuk prototype sederhana.

Tak hanya membimbing peserta mematangkan ide bisnis mereka melalui pendekatan design thinking, Innovesia turut memastikan bahwa setiap peserta mampu mengemas dan mengomunikasikan inovasi mereka secara menarik. Melalui kelas Proposal Writing yang digelar secara daring pada 4 September, Innovesia memastikan setiap peserta Bootcamp AJIB mampu membangun pitch deck yang efektif dan menguasai teknik dasar storytelling guna menunjukkan keunggulan inovasinya dengan baik.

Innovesia mengisi kelas Proposal Writing dalam Bootcam Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) (Sumber: Innovesia)

“Inovasi yang baik belum tentu punya dampak yang baik, dari segi revenue maupun sosial jika tidak bisa dikomunikasikan dengan baik. Kami berharap mahasiswa Unika Atma Jaya bisa mengomunikasikan ide inovasinya dengan sempurna, baik secara verbal maupun non verbal agar setiap goals atau tujuan dari ide tersebut bisa dikomunikasikan dengan jelas,” ujar Fiter Bagus.

Innovesia Mendorong Lahirnya Wirausaha Muda di Indonesia

Seperti Unika Atma Jaya, Innovesia berharap kedepannya akan semakin banyak universitas yang melihat pengembangan kewirausahaan sebagai hal yang krusial untuk dijadikan materi pengajaran dalam kurikulum perkuliahan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menyambut masa puncak bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada 2030.

Menciptakan lebih banyak wirausaha juga sejalan dengan mandat Kementerian Koperasi dan UKM yang menargetkan Indonesia berada di peringkat ke-60 pada Global Entrepreneurship Index (GEI) dari saat ini di posisi ke-75 dari 132 negara. Target tersebut merupakan bagian dari upaya Indonesia menjadi negara maju.

“Peringkat ini jelas menunjukkan bahwa peluang dunia kewirausahaan di Indonesia masih terbuka luas. Hal inilah yang membuat Innovesia optimis bahwa kehadiran program AJIB menjadi salah satu solusi dalam mencetak potensi wirausaha muda bagi Indonesia. Kami berharap akan semakin banyak perguruan tinggi yang melihat potensi serupa,” ujar Fiter Bagus.

]]>
https://designthinking.id/edukasi/jawab-tantangan-bonus-demografi-innovesia-bimbing-mahasiswa-unika-atma-jaya-kembangkan-ide-bisnis/feed/ 0
Asian Games Hangzhou Rendah Karbon dengan Platform Kecerdasan Buatan https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-rendah-karbon-dengan-platform-kecerdasan-buatan/ https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-rendah-karbon-dengan-platform-kecerdasan-buatan/#respond Mon, 16 Oct 2023 06:46:39 +0000 https://designthinking.id/?p=1637 Maskot memang menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan satu acara dan acara lainnya. Dalam konteks Asian Games, setiap maskot memiliki keunikan karena menggambarkan budaya dan nilai-nilai dari negara tuan rumah, begitu juga dengan Asian Games di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.

Sekilas, tak ada yang berbeda dengan Congcong, Lianlian, dan Chenchen, tiga boneka robot berjuluk ”The Smart Triplets” atau ”Si Kembar Tiga yang Cerdas” dipilih sebagai maskot Asian Games Hangzhou. Ketiganya dipilih sebagai lambang transformasi peradaban baik di Hangzhou maupun Tiongkok yang mengombinasikan warisan budaya dengan keunggulan ragam inovasi teknologi.

Uniknya, ketiga boneka itu dilengkapi dengan QR code atau kode batang yang bisa dipindai. Namun, bukan deskripsi atau arti dari masing-masing maskot yang muncul melainkan sumber produksi hingga jejak karbon atau carbon footprint yang dihasilkan dari proses produksinya.

Ketika di klik, tautan menunjukkan bahwa Chenchen, Congcong, dan Lianlian—memiliki jejak karbon masing-masing sebesar 1,59 kilogram setara karbon dioksida (kg CO2e) per produk. Besaran emisi itu dilaporkan berasal dari penggunaan listrik, bahan baku, dan pengemasan.

Boneka maskot Asian Games ke-19 (Sumber: hangzhou22.cn)

Namun, berkat komitmen produsen dan pemerintah Tiongkok dalam penggunaan energi bersih, jejak karbon setiap boneka dari salah satu maskot itu berhasil dikurangi hingga 0,15 kg CO2e per item, serta mereduksi emisi 1,59 kg CO2e setiap produk dengan skema kredit karbon. Artinya, 1,59 kg CO2e emisi yang sebelumnya dihasilkan dari produksi boneka itu telah berhasil dihilangkan.

Melalui platform ini, para atlet, relawan, kru dan seluruh tamu undangan yang tinggal di Asian Games Villages mengetahui besaran emisi dari setiap aktivitas atau produk yang mereka temui di kawasan tersebut. Harapannya, partisipan dapat terdorong untuk mengadopsi aktivitas atau gaya hidup rendah karbon selama menikmati Asian Games Hangzhou.

Langkah ini diambil Alibaba Cloud untuk mendorong gaya hidup ramah lingkungan mengingat emisi berbasis konsumsi dari produksi barang dan jasa serta aktivitas rumah tangga menyumbang sekitar 53% dari total emisi karbon dioksida di Tiongkok pada tahun 2019, menurut  penelitian Chinese Academy of Sciences yang diterbitkan pada tahun 2021.

Untuk lebih memotivasi peserta Asian Games Hangzhou, Alibaba Cloud juga menyiapkan rewards bagi peserta. Di mana baik atlet, kru, relawan dan tamu undangan yang tinggal di kawasan Asian Games Villages dapat memindai kode batang untuk mencatat aktivitas rendah karbon mereka di aplikasi web. Mulai dari tidak menggunakan kantong plastik ketika berbelanja di supermarket, menggunakan kendaraan umum bertenaga listrik, hingga mengambil foto piring bersih usai makan untuk mengurangi limbah makanan.

Semakin banyak aktivitas rendah karbon yang mereka lakukan, partisipan dapat mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan pin bertema Asian Games edisi terbatas dan produk yang bersertifikat rendah karbon, seperti tas, pakaian, dan boneka di Low Carbon Store yang berdiri di Asian Games Villages.

Membantu Perusahaan Mengurangi Emisi

Platform Energy Expert dalam gelaran Asian Games ke-19 (Sumber: alizila)

Alibaba Cloud juga menerapkan platform keberlanjutan Energy Expert untuk membantu mengurangi emisi dalam produksi produk berlisensi Asian Games dan operasional harian toko-toko di Asian Games Villages, seperti dalam produksi boneka maskot Asian Games Hangzhou. Melalui platform Energy Expert, pabrik Hangzhou Kayford Branding Co., Ltd yang memproduksi boneka Lianlian telah sukarela mengurangi emisi karbon.

Menariknya, perusahaan seperti Hangzhou Kayford Branding Co., Ltd tidak lagi perlu membangun ruang server sendiri mengingat platform Energy Expert berbasis teknologi cloud computing atau komputasi awan.

Cloud memanfaatkan internet sebagai pusat pengolahan dan manajemen data, serta pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang memudahkan kerja manusia. Inilah yang terjadi pada Energy Expert, dengan memungkinkan setiap perusahaan dari berbagai industri menghitung besaran jejak karbon dari operasional serta keseluruhan value chain mereka.

“Dengan teknologi (Energy Expert), industri mengetahui jejak karbonnya dan berupaya membatasinya,” kata William Xiong, Wakil Presiden, Alibaba Cloud Intelligence dan General Manager Enterprise Service Cloud.

Selama gelaran Asian Games Hangzhou, platform berbasis Energy Expert yang disediakan Alibaba Cloud telah menarik lebih dari 310.000 kunjungan untuk berpartisipasi dalam kegiatan rendah karbon di seluruh kawasan Asian Games Villages. Lebih dari 7 ton karbon juga berhasil dikurangi sejak pembukaan desa Asian Games Hangzhou pada tanggal 16 September. Sementara di luar ajang Asian Games, Energy Expert telah melayani sekitar 2.900 perusahaan.

“Alibaba Cloud telah terbukti keahliannya dalam mendukung inisiatif keberlanjutan organisasi dan acara olahraga dengan teknologi digital,” kata William Xiong, Wakil Presiden, Alibaba Cloud Intelligence dan General Manager Enterprise Service Cloud.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-rendah-karbon-dengan-platform-kecerdasan-buatan/feed/ 0
Asian Games Hangzhou Buktikan Komitmen Tiongkok Menuju Sustainability https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-buktikan-komitmen-tiongkok-menuju-sustainability/ https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-buktikan-komitmen-tiongkok-menuju-sustainability/#respond Fri, 13 Oct 2023 08:05:13 +0000 https://designthinking.id/?p=1639

Gelaran Asian Games Hangzhou tidak hanya menjadi panggung bagi para atlet bertalenta, tetapi juga ajang unjuk gigi pemerintah Tiongkok dalam memerangi perubahan iklim.

Setelah melewati 15 hari kompetisi olahraga yang sengit, Asian Games ke-19 resmi berakhir dengan upacara penutupan yang berlangsung di Stadion Pusat Olahraga Olimpiade Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok. Lebih dari 12.000 atlet dari seluruh Asia merayakan pencapaian dan kerja keras mereka selama berkompetisi di 480 cabang olahraga.

Uniknya, meski tanpa atraksi kembang api yang identik dengan perayaan, upacara penutupan Asian Games Hangzhou tetap berlangsung meriah berkat pertunjukkan pesta audiovisual yang didukung oleh teknologi mutakhir. Berkat teknologi kontrol numerik komputer atau computer numerical control (CNC), lapangan stadion diubah menjadi layar dengan 40.000 titik cahaya. Teknologi ini berhasil mengubah rumput lapangan sepak bola menjadi palet warna raksasa yang menyambut para atlet dengan warna dan gambar penuh kilau yang senantiasa berubah-ubah.

Selama 85 menit, ribuan atlet dan tamu undangan yang datang disuguhkan dengan layar proyeksi visual yang memperlihatkan simbol-simbol dari setiap cabang olahraga, proyeksi seribu teratai dan bunga osmanthus raksasa yang merupakan ciri khas Hangzhou. Tak luput pembawa obor digital yang diberi nama “Pioneer” yang melambangkan jutaan orang dalam estafet obor digital.

Upacara penutupan Asia Games ke-19 di Hangzhou, Tiongkok (Sumber: CMG)

Menggabungkan virtual reality (VR) dan augmented reality (AR), Asian Games Hangzhou telah mengurangi emisi jejak karbon melalui penggantian pesta kembang api yang berpolusi dengan kemeriahan audiovisual yang terkesan nyata nan memukau.

“Melalui bunga virtual, Anda dapat merasakan kekuatan alam, kemanusiaan, dan teknologi,” ujar Cui Wei, Wakil Direktur Upacara Penutupan Asian Games ke-19.

Digelar di tengah tantangan keberlanjutan yang semakin digaungkan, pemerintah Tiongkok telah mengambil sikap tegas dalam komitmennya menyelenggarakan Asian Games ke-19 secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, termasuk dalam hal pembangunan venue, pasokan energi, dan operasional acara.

Venue Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Stadion Pusat Olahraga Olimpiade Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok (Sumber: Xinhua)

Di antara 56 venue yang digunakan dalam gelaran Asian Games ke-19 di Hangzhou, hanya 12 venue di antaranya yang baru dibangun sementara puluhan sisanya sekedar direvitalisasi atau dibangun sementara untuk gelaran tersebut. Pembangunan venue-pun dilakukan dengan menganut prinsip ramah lingkungan, cerdas dan hemat sepenuhnya.

Qiu Peihuang, Direktur Departemen Venue, Komite Penyelenggara Asian Games Hangzhou, menjelaskan pembangunan venue dilakukan dengan melibatkan teknologi building information modeling (BIM) yang mampu mensimulasikan seluruh informasi terkait proyek pembangunan ke dalam model tiga dimensi.

Venue Asian Games ke-19 di Hangzhou, Tiongkok (Sumber: Hangzhou2022.cn)

Selain dari proses konstruksi, seluruh venue Asian Games ke-19 di Hangzhou dipastikan menggunakan listrik ramah lingkungan. Bersumber dari tenaga fotovoltaik di Cekungan Qaidam, Kota Jiayuguan, dan Dataran Tinggi Loess di barat laut Tiongkok, serta energi angin dari Hami, Daerah Otonomi Uygur Xinjiang, gelaran Asian Games ke-19 diyakini telah  memangkas penggunaan 76.000 ton batubara dan mengurangi emisi karbon dioksida hingga 15.200 metrik ton.

“Semua listrik kami adalah listrik ramah lingkungan. Semua venue harus menggunakan listrik ramah lingkungan selama kompetisi,” ujar Qiu Peihuang.

Walaupun ajang Asian Games ke-19 di Hangzhou telah berakhir, gedung-gedung olahraga yang baru dibangun khusus untuk ajang olahraga se-Asia itu akan dialih fungsikan menjadi pusat kebugaran bagi warga setempat.

Qiu Peihuang menekankan, pihaknya juga telah bekerja sama dengan banyak perusahaan untuk mengalih fungsikan venue Asian Games menjadi lokasi komersial seperti konser musik, pesta, atau bahkan kompetisi olahraga tingkat lokal dan nasional. Semuanya telah dipikirkan dengan matang bahkan sebelum proses konstruksi dilakukan.

“Kami telah sepenuhnya mempertimbangkan penggunaan kembali tempat dalam periode perencanaan dan konstruksi. Di satu sisi banyak venue yang akan menjadi pusat kebugaran warga di beberapa daerah, dan di sisi lain banyak venue yang akan bekerjasama dengan perusahaan komersial. Sebenarnya, selama setahun terakhir operasi uji coba, banyak venue telah mengadakan konser, pesta, kegiatan olahraga,” tutur Qiu Peihuang.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-buktikan-komitmen-tiongkok-menuju-sustainability/feed/ 0
Hadirkan Solusi Inovatif, 5 Startup Ubah Tantangan Berkelanjutan jadi Peluang Bisnis https://designthinking.id/teknologi/hadirkan-solusi-inovatif-5-startup-ubah-tantangan-berkelanjutan-jadi-peluang-bisnis/ https://designthinking.id/teknologi/hadirkan-solusi-inovatif-5-startup-ubah-tantangan-berkelanjutan-jadi-peluang-bisnis/#respond Wed, 11 Oct 2023 09:27:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1627 Dimeriahkan oleh lebih dari 2,100 perusahaan, Indonesia Energy & Engineering 2023 Series sukses memperkenalkan ragam inovasi teknologi baru di sektor industri energi dan konstruksi yang menerapkan prinsip sustainability. Diselenggarakan selama empat hari pada 13–16 September lalu, Indonesia Energy & Engineering 2023 turut menghadirkan ragam panel diskusi yang membahas target-target pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yang terkait dengan sektor industri energi dan konstruksi.

Dengan memanfaatkan teknologi digital, kelima startup ini dipilih berkat ide inovasi bisnis mereka dalam energi terbarukan yang diyakini mampu mempercepat transisi energi bersih di Indonesia. Berikut lima startup yang mampu menghadirkan solusi inovatif dengan penerapan prinsip sustainability:

1. Biojel

Biojel Presentasikan inovasi hijau terbarukan ubah limbah biomassa jadi biogas (Sumber: Tangkapan Layar)

Startup yang bergerak di sektor energi terbarukan itu menghadirkan inovasi teknologi yang menguntungkan dengan mengubah limbah biomassa menjadi biogas, yang dapat digunakan untuk keperluan memasak bagi rumah tangga di Indonesia. Dengan teknologi biodigester portabel yang lebih mudah dalam proses pemeliharaan, Biojel meyakini inovasi yang mereka hadirkan lebih murah dari penggunaan LPG.

Selain mengurangi emisi karbon hingga 6.204,424 ton CO2/bulan dari penggunaan LPG, inovasi oleh Biojel ini juga diyakini mampu mengurangi besaran subsidi LPG yang dikeluarkan pemerintah yang pada 2023 mencapai Rp117,85 triliun.

2. Econella

Econella Presentasikan inovasi hijau terbarukan ubah limbah biomassa jadi biogas (Sumber: Tangkapan Layar)

Faktor inilah yang mendorong Econella menghadirkan alternatif efisiensi energi untuk membantu mengatasi krisis BBM di Indonesia yang memiliki dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hanya dengan menambahkan tiga tetes pada satu liter BBM, petani mampu menghemat penggunaan BBM mereka hingga 25%. Dengan efisiensi BBM, tentu Econella mampu mengurangi emisi karbon di sektor pertanian.

Minyak atsiri sendiri dipilih Econella karena sifatnya yang mudah menguap, memiliki bobot jenis dan viskositas rendah, tersusun dari senyawa hidrokarbon dan oksigen, juga karena mampu larut sempurna di dalam bahan bakar, tidak mengandung logam berat dan terakhir dapat diperbarui. Produk inovasi di ranah bioenergi ini turut memberikan nilai tambah dengan memanfaatkan bahan hasil pertanian yang reject dan limbah pertanian sebagai bahan bakunya.

3. Auto Digda

Auto Digda pamerkan inovasi dalam otomatisasi pergudangan (Sumber: Tangkapan Layar).

Membawa inovasi automatic guided vehicle (AGV), startup yang anggotanya terdiri dari mahasiswa Politeknik Astra itu berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas perpindahan barang di gudang atau warehouse sekaligus mengurangi tingginya biaya rantai pasokan atau supply chain cost.

Berkaca pada kasus Amazon di mana penerapan otomatisasi di warehouse mereka mampu menghemat biaya operasi pergudangan hingga 20% atau sekitar USD 22 juta per gudang per tahun, Auto Digda menghadirkan teknologi robot AGV yang mampu meningkatkan efisiensi sistem manajemen gudang hingga tiga kali lipat. Kelebihan ini dimungkinkan berkat perangkat lunak atau software yang memungkinkan kontrol, monitoring dan tracking atas setiap robot yang mereka miliki.

Uniknya lagi, inovasi robot AGV dari Auto Digda dilengkapi dengan teknologi Auto Digda Combine di mana ‘main AGV’ bisa bertransformasi menjadi empat jenis mesin sekaligus, mulai dari unit loads, arm robot, towing, and forklift. Tak heran jika Auto Digda mampu memenangkan sejumlah kompetisi startup seperti PJCI’s Innovation for Energy, Genbi Startup Competition, juga Astronauts.

Tak hanya meningkatkan efisiensi dalam hal operasional dan biaya, inovasi Auto Digda juga diharapkan mampu mengurangi risiko kecelakaan kerja yang kerap menimpa karyawan di pergudangan.

4. Water Coin

Presentasi Water Coin dalam IEE Series 2023 (Sumber: Tangkapan Layar)

Ketersediaan air bersih khususnya berupa air minum memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Namun, tak semua wilayah di Indonesia memiliki akses yang luas akan air bersih. Pada 2021 misalnya, Badan Pusat Statistik mencatat ada 47.915 dari 83.843 desa/kelurahan di Indonesia yang belum memiliki akses air minum bersih.

5. Matador Lectro

Inovasi baterai dari Matador Lectro (Sumber: Matador Lectro)

Tak seperti baterai lithium pada umumnya, inovasi baterai lithium Matador Lectro terbukti lebih kuat dan lebih tahan lama dengan keandalan dan kapasitas penyimpanan yang tinggi. Selain itu, baterai lithium yang diciptakan juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan setiap konsumen yang berbeda-beda.

Yakin bahwa masa depan energi harus didukung oleh sumber daya yang terbarukan dan berkelanjutan, Matador Lectro menyediakan sistem manajemen baterai cerdas yang mampu mengoptimalkan penggunaan energi setiap konsumen. Pasalnya, inovasi sistem manajemen daya tersebut mampu mengatur dan mengoptimalkan aliran energi dari panel surya ke baterai dan ke beban listrik, memastikan penggunaan energi yang efisien dan hemat biaya.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/hadirkan-solusi-inovatif-5-startup-ubah-tantangan-berkelanjutan-jadi-peluang-bisnis/feed/ 0
Menciptakan Solusi Atas Kasus Kematian Bayi Melalui Design Thinking https://designthinking.id/kesehatan/menciptakan-solusi-atas-kasus-kematian-bayi-melalui-design-thinking/ https://designthinking.id/kesehatan/menciptakan-solusi-atas-kasus-kematian-bayi-melalui-design-thinking/#respond Tue, 10 Oct 2023 07:39:19 +0000 https://designthinking.id/?p=1619 Ironinya, banyak kematian ini dapat dicegah. Menurut WHO, 75% kematian dan penyakit akibat kelahiran prematur dapat dicegah dengan menjaga bayi tetap hangat. Sayangnya, tak semua ibu memiliki kesempatan yang sama besar untuk menghangatkan bayi mereka. Pasalnya, tak semua rumah sakit di negara miskin memiliki inkubator yang umum digunakan untuk menghangatkan bayi pasca lahir.

Itulah mengapa kasus kematian bayi baru lahir lebih banyak terjadi di negara-negara miskin seperti Afrika Sub-Sahara, Asia Tengah dan Asia Selatan. Bahkan, para bayi yang terlahir di wilayah Afrika Sub-Sahara memiliki kemungkinan 10 kali lebih besar untuk meninggal pada bulan pertama dibandingkan anak yang lahir di negara berpenghasilan tinggi. Pada sisi lain, penggunaan teknologi yang kurang optimal di negara berpendapatan menengah menyebabkan meningkatnya beban kecacatan di kalangan bayi prematur yang bertahan hidup pada periode neonatal.

Kesenjangan inilah yang mendorong Jane Chen, Linus Liang, Naganand Murty, dan Rahul Panicker untuk menciptakan penghangat bayi dengan harga terjangkau bagi para ibu di negara-negara berkembang. 

design thinking
,
prototype

1. Inspiration

1. Inspiration

Ilustrasi (Sumber: UNICEF)

Ilustrasi (Sumber: UNICEF)

Ketiganya lantas langsung memutuskan untuk terbang langsung ke Kathmandu, Nepal, demi memahami kebutuhan pengguna. Di sana, ketiganya menghabiskan beberapa hari mengamati unit neonatal di rumah sakit. Namun, betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa 80% bayi yang meninggal di negara berkembang seperti Nepal justru dilahirkan di rumah di desa-desa, jauh dari rumah sakit yang lengkap. 

Selain itu yang cukup menyedihkan lagi, tim juga menyadari bahwa bayi-bayi prematur tersebut tidak pernah dibawa ke rumah sakit. Wawasan tersebut membuat mereka memikirkan kembali secara mendasar siapa sebenarnya penggunanya.

Untuk lebih memahami alasan dibalik fenomena ini, tim lantas mewawancarai orang tua di wilayah tersebut. Dari aktivitas inilah mereka mengetahui bahwa para orang tua cenderung mempercayai obat-obatan untuk menjaga kesehatan bayi mereka. Sayangnya, obat-obatan tak mampu mengatasi hipotermia yang diderita bayi prematur. 

Pada sisi lain, tak sedikit bayi yang meninggal di jalan ketika hendak dibawa ke rumah sakit karena jarak tempuh yang jauh Selain itu, tidak adanya akses terhadap listrik reguler juga membuat inkubator umum menjadi sia-sia. Semua masalah ini kemudian tim rangkum untuk membuat solusi terbaik.

2. Ideation

2. Ideation

Embrace, inkubator portable untuk bayi (Sumber: Embrace)

Embrace, inkubator portable untuk bayi (Sumber: Embrace)

Berdasarkan pengamatan yang mengkhawatirkan, tim menyadari perlunya mengembangkan inkubator yang sesuai dengan kebutuhan lokal yang ada. Pertama, inkubator harus mampu bekerja dengan optimal tanpa tenaga listrik sepanjang saat. Kedua, inkubator harus bisa diperoleh dengan harga terjangkau mengingat kondisi ekonomi masyarakat di sana. 

Pengamatan ini lantas mengarahkan mereka merancang penghangat bayi portabel yang terlihat seperti kantong tidur kecil, yang dapat dengan mudah disterilkan. Ide ini terinspirasi kantong yang dimiliki kanguru betina guna menghangatkan dan melindungi bayi mereka.

3. Implementation

3. Implementation

Inkubator portabel untuk bayi (Sumber: Embrace)

Inkubator portabel untuk bayi (Sumber: Embrace)
rapid prototyping

Embrace juga bereksperimen dengan model penetapan harga yang berbeda, seperti opsi sewa untuk menjadikan produknya sangat terjangkau di negara-negara seperti India, di mana ratusan juta penduduk desa hidup dengan pendapatan kurang dari USD 2 per harinya.

”Pengusaha sering kali jatuh cinta dengan ide produk atau model bisnis asli mereka dan gagal mendengarkan kebutuhan pelanggan. Kami, di sisi lain, tidak ragu untuk mengubah fitur produk dan harga kami berulang kali hingga kami menemukan solusi yang memberikan nilai tertinggi kepada pelanggan kami dengan biaya terendah bagi mereka. Bagi kami, inovasi adalah proses dinamis yang tidak pernah berakhir,” jelas Chen.

Embrace, Memberi Kehangatan untuk Bayi dan Orang Tua

web link
Embrace, Memberi Kehangatan untuk Bayi dan Orang Tua

Seorang ibu tengah menghangatkan bayi menggunakan Embrace (Sumber: Como Foundation)

Seorang ibu tengah menghangatkan bayi menggunakan Embrace (Sumber: Como Foundation)

Embrace adalah contoh nyata bagaimana berempati terhadap kebutuhan pengguna ketika berinovasi dapat menyelesaikan masalah bahkan terkait kesenjangan sekalipun. Pada tahun 2011, Embrace melakukan uji coba produk ini di India, dimana 1,2 juta bayi prematur meninggal setiap tahunnya. Hasil awal sangat menggembirakan. Di sana, Embrace melakukan studi klinis yang lebih ekstensif terhadap 160 bayi prematur. Hasilnya memuaskan.

Dalam salah satu contoh, Embrace menyelamatkan bayi seberat dua pon yang lahir dari di sebuah desa dekat Bangalore, di India Selatan. Berkat inovasi yang dibawa Embrace, berat badan sang bayi mulai bertambah dan membawa kebahagiaan bagi orang tuanya, yang pernah kehilangan dua bayi sebelumnya.

Embrace juga telah menegosiasikan kemitraan dengan perusahaan farmasi dan peralatan medis multinasional seperti GE Healthcare. Bersama-sama keduanya memperluas jaringan distribusi Embrace untuk dapat diakses oleh sebanyak mungkin rumah sakit dan klinik di negara-negara seperti Nepal dan India. 

Terbaru, Embrace membantu para ibu dan rumah sakit di Ukraina untuk memberikan kehangatan pada bayi baru lahir di tengah invasi Rusia yang menyebabkan runtuhnya rumah sakit di negara itu. Embrace menjadi pilihan para ibu untuk menjaga bayi mereka tetap hangat selagi harus mengamankan diri di tempat-tempat perlindungan.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/menciptakan-solusi-atas-kasus-kematian-bayi-melalui-design-thinking/feed/ 0
Buktikan Komitmen Berkelanjutan Perusahaan, United Tractors Raih Sertifikat Greenship Net Zero Healthy Building https://designthinking.id/teknologi/buktikan-komitmen-berkelanjutan-perusahaan-united-tractors-raih-sertifikat-greenship-net-zero-healthy-building/ https://designthinking.id/teknologi/buktikan-komitmen-berkelanjutan-perusahaan-united-tractors-raih-sertifikat-greenship-net-zero-healthy-building/#respond Mon, 09 Oct 2023 07:42:15 +0000 https://designthinking.id/?p=1613 Krisis iklim dan seiring cita-cita Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060, mengurangi emisi gas rumah kaca kian menjadi langkah krusial yang harus ditempuh. Tak terkecuali dalam mendesain bangunan yang ramah lingkungan. Pasalnya, bangunan bertanggung jawab atas 39% emisi karbon global dan menjadikannya sebagai sektor penyumbang terbesar terhadap perubahan iklim.

Atas dasar itu untuk mencapai emisi nol bersih guna mempertahankan suhu di bawah batas 1,5 derajat Celcius, emisi global dari bangunan harus dikurangi sebesar 90% dari tingkat emisi tahun 2015. Tujuan ini tentunya hanya bisa ditempuh melalui peningkatan efisiensi, pengurangan permintaan energi dan elektrifikasi, sekaligus dekarbonisasi secara menyeluruh di sektor kelistrikan dan langkah inilah yang berusaha dicapai oleh United Tractors.

Sebagai penyandang sertifikat Greenship Net Zero Healthy Building, United Tractors sekali lagi telah membuktikan komitmennya terhadap infrastruktur berkelanjutan dengan membangun gedung-gedung ramah lingkungan yang mengedepankan kesehatan dan kebersihan ekosistem.

Menciptakan Gedung Kantor yang Berkelanjutan dengan Merangkul Energi Terbarukan

United Tractors raih Rekor Muri (Sumber: UT)

Gedung kantor pusat United Tractors yang berlokasi di Cakung, Jakarta Timur dibangun dengan kombinasi desain arsitektur tropis dengan bangunan komersial industri modern, di mana eksterior maupun interior gedung telah menerapkan konsep ramah lingkungan yang berkesinambungan. Mengusung konsep net zero carbon, gedung ini memanfaatkan sumber daya terbarukan, panel surya, untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi operasional gedung.

Selain bergantung pada sumber energi terbarukan yang merupakan salah satu penilaian sertifikasi Greenship Net Zero Healthy Building, gedung United Tractors juga telah memenuhi tiga kriteria lainnya, yakni penggunaan ventilasi dan pencahayaan alami; optimalisasi kinerja sistem pendingin udara, penerangan dan peralatan lainnya; juga menciptakan kualitas udara yang sehat dan nyaman dalam gedung.

Bagaimana tidak, gedung United Tractors memiliki area dengan luas keseluruhan 10.591 meter persegi, di mana 45% luas area terdiri dari lahan hijau, vertical garden, dan roof garden. Tak hanya itu, 69.83% luas area gedung juga menggunakan cahaya alami sebagai sumber pencahayaan utama. Sementara sisanya didesain menggunakan kaca yang dilaminasi sehingga bisa menambah jumlah cahaya matahari yang masuk.

Meski bergantung pada tenaga surya untuk pencahayaan, suasana di dalam gedung United Tractors tidak lantas menjadi lebih panas. Hal ini menjadi mungkin karena gedung United Tractors didesain sedemikian rupa sehingga memiliki nilai overall thermal transfer value (OTTV) atau konservasi energi pada bangunan yang mengatur nilai perpindahan panas pada fasad dinding bangunan, yang rendah. Alhasil, radiasi matahari tidak langsung masuk ke dalam gedung yang membuat udara di dalam bangunan tetap sejuk.

Gedung kantor United Tractors juga didesain hemat air, di mana penggunaan air tercatat 44.14% lebih rendah dari baseline, dengan penggunaan fitur air yang sesuai dengan kapasitas buangan di bawah standar maksimum kemampuan alat keluaran air. Kebutuhan untuk flushing dan gardening juga telah difasilitasi dari air daur ulang grey water.

United Tractors gunakan panel surya sebagai sumber energi operasional gedung kantor (Sumber: UT)

Mengingat operasional bisnis tak lepas dari sampah, gedung United Tractors dilengkapi dengan fasilitas pemilahan sampah terpadu serta bekerja sama dengan pihak ketiga untuk pengelolaan dan pemanfaatan daur ulang sampah. Anak perusahaan PT Astra International Tbk itu juga mengusung konsep zero run off, untuk mengurangi volume limpasan air hujan hingga 230%. Dengan begitu, limpasan air hujan tidak akan membebani volume drainase kota.

Tak heran jika ketika baru selesai dibangun saja, United Tractors langsung meraih sertifikat Platinum atas bangunan baru dengan pencapaian Platinum dan sedang dalam proses sertifikasi existing building di tahun 2022. Kala itu, gedung United Tractors tercatat menggunakan energi 38% lebih rendah dari baseline gedung baru, dengan total konversi penghematan energi sebesar 1.641.027 kg CO2/tahun.

Kedua sertifikasi dari Green Building Council Indonesia jelas memperlihatkan betapa serius komitmen United Tractors untuk menjadi perusahaan yang sustainable serta dapat terus memberikan dampak positif terhadap kebersihan ekosistem dan lingkungan.

Memastikan Kesehatan Karyawan dan Masyarakat

Diakui sebagai salah satu perusahaan terbaik untuk bekerja di Asia, langkah United Tractors membangun gedung kantor yang ramah lingkungan juga tak terlepas dari upaya perusahaan dalam menciptakan suasana yang positif bagi para pekerjanya. Tentunya dengan memprioritaskan kesejahteraan dan kenyamanan mereka.

Dengan luasnya lahan hijau di area perkantoran, United Tractors mendorong karyawannya untuk menerapkan hidup sehat. Penerapan pola hidup sehat ini juga dilakukan perusahaan dengan menyediakan 100 slot parkir khusus sepeda. Tak hanya itu, perusahaan juga aktif mengatur jumlah konsentrasi karbon dioksida di dalam ruangan agar tidak lebih dari 1.000 ppm, menggunakan sensor karbon dioksida di area dengan tingkat kepadatan tinggi dan memiliki mekanisme untuk mengatur jumlah ventilasi udara luar.

Tak hanya mengutamakan kenyamanan bagi internal perusahaan, United Tractors  juga berkomitmen menciptakan lingkungan positif serta berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Bagi United Tractors, keberlanjutan berarti kehadiran perusahaan yang tidak hanya sekedar menyediakan produk dan layanan berkualitas, melainkan memberi nilai lebih bagi para pemangku kepentingan yang selaras dengan value chain, kelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/buktikan-komitmen-berkelanjutan-perusahaan-united-tractors-raih-sertifikat-greenship-net-zero-healthy-building/feed/ 0
Lewat Crowdsourcing, Luis von Ahn Ubah reCAPTCHA jadi Alat Digitalisasi Dokumen https://designthinking.id/teknologi/lewat-crowdsourcing-luis-von-ahn-ubah-recaptcha-jadi-alat-digitalisasi-dokumen/ https://designthinking.id/teknologi/lewat-crowdsourcing-luis-von-ahn-ubah-recaptcha-jadi-alat-digitalisasi-dokumen/#respond Fri, 29 Sep 2023 06:51:32 +0000 https://designthinking.id/?p=1608 Dalam dunia yang semakin terhubung secara online, sistem keamanan seperti CAPTCHA telah menjadi elemen penting dalam melindungi situs dan aplikasi dari serangan bot dan spam. Namun, apa yang membuat CAPTCHA semakin menarik adalah bagaimana ia memanfaatkan kekuatan kolektif jutaan pengguna internet untuk membantu mengatasi masalah digital yang kompleks.

Awalnya, CAPTCHA memang ditujukan von Ahn untuk sekedar mengamankan situs atau aplikasi dari bot dan spam. Namun, von Ahn melihat potensi dari sistem yang diciptakannya untuk memecahkan masalah berskala besar dengan membangun sistem yang menggabungkan manusia dan internet melalui reCAPTCHA.

Sejatinya reCAPTCHA tak jauh berbeda dengan CAPTCHA, hanya saja dengan reCAPTCHA pengguna internet tidak sekedar mengetik teks terdistrorsi untuk membedakan dirinya dengan robot, tapi membantu digitalisasi ratusan buku dan arsip lama. Kejeniusan di balik model bisnis reCAPTCHA yang dikembangkan von Ahn adalah setiap kali pengguna memverifikasi dirinya, mereka sebenarnya tengah membuat teks digital yang dapat diindeks dari buku, majalah, jurnal, dan surat kabar berusia ratusan tahun.

Siapa sangka, setiap kali mengisi reCAPTCHA dengan kombinasi huruf dan angka yang aneh, kita secara tidak sadar telah mendigitalkan ribuan teks dan buku secara online. Semua ini menjadi mungkin berkat kegilaan von Ahn pada crowdsourcing atau apa yang ia pribadi sebut sebagai human computation. Dengan memanfaatkan pertumbuhan populasi yang terhubung ke internet, von Ahn berhasil membangun kolaborasi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bagaimana reCAPTCHA Bekerja?

Tak jauh berbeda dengan CAPTCHA generasi pertama, reCAPTCHA bekerja dengan menampilkan dua kata acak pengguna. Hanya saya, kata-kata yang ditampilkan pada reCAPTCHA merupakan kata-kata nyata yang diperoleh dari teks yang diarsipkan yang tidak dapat diidentifikasi oleh perangkat lunak optical character recognition (OCR).

Sebagai informasi, OCR memungkinkan kita untuk mengkonversikan gambar atau teks menjadi format teks yang dapat dibaca oleh mesin sehingga dapat didigitalkan dan diindeks. OCR menjadi kian krusial karena sebagian besar alur kerja bisnis melibatkan penerimaan informasi dari media cetak.

Meskipun manajemen dokumen tanpa kertas adalah jalan keluarnya, pemindaian dokumen melalui OCR bukan tanpa kekurangan. Pasalnya, banyak teks yang sulit dibaca khususnya dokumen yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.

Pada kasus inilah reCAPTCHA menggantikan tugas OCR. Dengan memanfaatkan jumlah pengguna internet yang tak terhitung, reCAPTCHA memanfaatkan mereka untuk menginput dua kata, di mana satu kata merupakan kata yang tidak dapat diinterpretasikan oleh OCR dan satu kata kontrol.

Untuk memperhitungkan kesalahan manusia atau human error dalam proses digitalisasi, reCAPTCHA mengirimkan setiap kata yang tidak dikenal OCR ke banyak pengguna dengan distorsi acak yang berbeda. Jika pengguna memasukkan jawaban yang benar pada kata kontrol terkait, maka jawaban pengguna atas kata yang tidak dikenal itu akan dicatat sebagai tebakan yang masuk akal.

Namun, jika tebakan tiga orang pertama cocok satu sama lain, maka kata tersebut dianggap benar dan akan menjadi kata kontrol dalam tantangan reCAPTCHA lainnya. Dengan algoritma ini, reCAPTCHA mampu mencapai akurasi hingga 99,1%. Jauh lebih akurat dari tingkat akurasi OCR standar dengan 83,5%.

Memanfaatkan Massa untuk Melestarikan Sejarah

Sosok Luis von Ahn (Sumber: GeekWire/Taylor Soper)

Kejeniusan Von Ahn telah membantu media pemberitaan ternama di Amerika Serikat (AS), New York Times untuk mendigitalkan semua koran yang diterbitkan New York Times selama 20 tahun. Hebatnya, dengan crowdsourcing dibalik kerja reCAPTCHA, proses digitalisasi itu hanya memakan waktu beberapa bulan.

Pada tahun 2009, reCAPTCHA dibeli oleh Google yang kemudian digunakan raksasa teknologi itu untuk membangun perpustakaan Google Books, yang kini menjadi salah satu perpustakaan digital terbesar di dunia. Memperluas fungsi reCAPTCHA, Google menggunakan perangkat lunak buatan Von Ahn untuk meminta pengguna mengidentifikasi nama jalan dan alamat dari Google Maps Street View.

Crowdsourcing seperti yang dilakukan von Ahn dalam reCAPTCHA adalah salah satu inovasi yang telah mengubah cara kita melihat interaksi manusia dengan teknologi digital. Dengan memanfaatkan upaya kolektif ratusan juta orang untuk melakukan tugas yang sangat penting yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi otomatis pada saat itu.

Bayangkan saja, setahun setelah berdiri, reCAPTCHA telah digunakan oleh lebih dari 40.000 situs dengan lebih dari 1,2 miliar CAPTCHA terpecahkan. Dengan kata lain, lebih dari 440 juta kata tak dikenal berhasil dicatatkan dan lebih dari 17.600 buku mampu ditranskripsi secara manual.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/lewat-crowdsourcing-luis-von-ahn-ubah-recaptcha-jadi-alat-digitalisasi-dokumen/feed/ 0