Kesehatan – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 05:02:34 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Kesehatan – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Menciptakan Solusi Atas Kasus Kematian Bayi Melalui Design Thinking https://designthinking.id/kesehatan/menciptakan-solusi-atas-kasus-kematian-bayi-melalui-design-thinking/ https://designthinking.id/kesehatan/menciptakan-solusi-atas-kasus-kematian-bayi-melalui-design-thinking/#respond Tue, 10 Oct 2023 07:39:19 +0000 https://designthinking.id/?p=1619 Ironinya, banyak kematian ini dapat dicegah. Menurut WHO, 75% kematian dan penyakit akibat kelahiran prematur dapat dicegah dengan menjaga bayi tetap hangat. Sayangnya, tak semua ibu memiliki kesempatan yang sama besar untuk menghangatkan bayi mereka. Pasalnya, tak semua rumah sakit di negara miskin memiliki inkubator yang umum digunakan untuk menghangatkan bayi pasca lahir.

Itulah mengapa kasus kematian bayi baru lahir lebih banyak terjadi di negara-negara miskin seperti Afrika Sub-Sahara, Asia Tengah dan Asia Selatan. Bahkan, para bayi yang terlahir di wilayah Afrika Sub-Sahara memiliki kemungkinan 10 kali lebih besar untuk meninggal pada bulan pertama dibandingkan anak yang lahir di negara berpenghasilan tinggi. Pada sisi lain, penggunaan teknologi yang kurang optimal di negara berpendapatan menengah menyebabkan meningkatnya beban kecacatan di kalangan bayi prematur yang bertahan hidup pada periode neonatal.

Kesenjangan inilah yang mendorong Jane Chen, Linus Liang, Naganand Murty, dan Rahul Panicker untuk menciptakan penghangat bayi dengan harga terjangkau bagi para ibu di negara-negara berkembang. 

design thinking
,
prototype

1. Inspiration

1. Inspiration

Ilustrasi (Sumber: UNICEF)

Ilustrasi (Sumber: UNICEF)

Ketiganya lantas langsung memutuskan untuk terbang langsung ke Kathmandu, Nepal, demi memahami kebutuhan pengguna. Di sana, ketiganya menghabiskan beberapa hari mengamati unit neonatal di rumah sakit. Namun, betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa 80% bayi yang meninggal di negara berkembang seperti Nepal justru dilahirkan di rumah di desa-desa, jauh dari rumah sakit yang lengkap. 

Selain itu yang cukup menyedihkan lagi, tim juga menyadari bahwa bayi-bayi prematur tersebut tidak pernah dibawa ke rumah sakit. Wawasan tersebut membuat mereka memikirkan kembali secara mendasar siapa sebenarnya penggunanya.

Untuk lebih memahami alasan dibalik fenomena ini, tim lantas mewawancarai orang tua di wilayah tersebut. Dari aktivitas inilah mereka mengetahui bahwa para orang tua cenderung mempercayai obat-obatan untuk menjaga kesehatan bayi mereka. Sayangnya, obat-obatan tak mampu mengatasi hipotermia yang diderita bayi prematur. 

Pada sisi lain, tak sedikit bayi yang meninggal di jalan ketika hendak dibawa ke rumah sakit karena jarak tempuh yang jauh Selain itu, tidak adanya akses terhadap listrik reguler juga membuat inkubator umum menjadi sia-sia. Semua masalah ini kemudian tim rangkum untuk membuat solusi terbaik.

2. Ideation

2. Ideation

Embrace, inkubator portable untuk bayi (Sumber: Embrace)

Embrace, inkubator portable untuk bayi (Sumber: Embrace)

Berdasarkan pengamatan yang mengkhawatirkan, tim menyadari perlunya mengembangkan inkubator yang sesuai dengan kebutuhan lokal yang ada. Pertama, inkubator harus mampu bekerja dengan optimal tanpa tenaga listrik sepanjang saat. Kedua, inkubator harus bisa diperoleh dengan harga terjangkau mengingat kondisi ekonomi masyarakat di sana. 

Pengamatan ini lantas mengarahkan mereka merancang penghangat bayi portabel yang terlihat seperti kantong tidur kecil, yang dapat dengan mudah disterilkan. Ide ini terinspirasi kantong yang dimiliki kanguru betina guna menghangatkan dan melindungi bayi mereka.

3. Implementation

3. Implementation

Inkubator portabel untuk bayi (Sumber: Embrace)

Inkubator portabel untuk bayi (Sumber: Embrace)
rapid prototyping

Embrace juga bereksperimen dengan model penetapan harga yang berbeda, seperti opsi sewa untuk menjadikan produknya sangat terjangkau di negara-negara seperti India, di mana ratusan juta penduduk desa hidup dengan pendapatan kurang dari USD 2 per harinya.

”Pengusaha sering kali jatuh cinta dengan ide produk atau model bisnis asli mereka dan gagal mendengarkan kebutuhan pelanggan. Kami, di sisi lain, tidak ragu untuk mengubah fitur produk dan harga kami berulang kali hingga kami menemukan solusi yang memberikan nilai tertinggi kepada pelanggan kami dengan biaya terendah bagi mereka. Bagi kami, inovasi adalah proses dinamis yang tidak pernah berakhir,” jelas Chen.

Embrace, Memberi Kehangatan untuk Bayi dan Orang Tua

web link
Embrace, Memberi Kehangatan untuk Bayi dan Orang Tua

Seorang ibu tengah menghangatkan bayi menggunakan Embrace (Sumber: Como Foundation)

Seorang ibu tengah menghangatkan bayi menggunakan Embrace (Sumber: Como Foundation)

Embrace adalah contoh nyata bagaimana berempati terhadap kebutuhan pengguna ketika berinovasi dapat menyelesaikan masalah bahkan terkait kesenjangan sekalipun. Pada tahun 2011, Embrace melakukan uji coba produk ini di India, dimana 1,2 juta bayi prematur meninggal setiap tahunnya. Hasil awal sangat menggembirakan. Di sana, Embrace melakukan studi klinis yang lebih ekstensif terhadap 160 bayi prematur. Hasilnya memuaskan.

Dalam salah satu contoh, Embrace menyelamatkan bayi seberat dua pon yang lahir dari di sebuah desa dekat Bangalore, di India Selatan. Berkat inovasi yang dibawa Embrace, berat badan sang bayi mulai bertambah dan membawa kebahagiaan bagi orang tuanya, yang pernah kehilangan dua bayi sebelumnya.

Embrace juga telah menegosiasikan kemitraan dengan perusahaan farmasi dan peralatan medis multinasional seperti GE Healthcare. Bersama-sama keduanya memperluas jaringan distribusi Embrace untuk dapat diakses oleh sebanyak mungkin rumah sakit dan klinik di negara-negara seperti Nepal dan India. 

Terbaru, Embrace membantu para ibu dan rumah sakit di Ukraina untuk memberikan kehangatan pada bayi baru lahir di tengah invasi Rusia yang menyebabkan runtuhnya rumah sakit di negara itu. Embrace menjadi pilihan para ibu untuk menjaga bayi mereka tetap hangat selagi harus mengamankan diri di tempat-tempat perlindungan.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/menciptakan-solusi-atas-kasus-kematian-bayi-melalui-design-thinking/feed/ 0
Open Innovation Mungkinkan FibriCheck Penuhi Kebutuhan Pasien Fibrilasi Atrium https://designthinking.id/kesehatan/open-innovation-mungkinkan-fibricheck-penuhi-kebutuhan-pasien-fibrilasi-atrium/ https://designthinking.id/kesehatan/open-innovation-mungkinkan-fibricheck-penuhi-kebutuhan-pasien-fibrilasi-atrium/#respond Mon, 25 Sep 2023 06:23:42 +0000 https://designthinking.id/?p=1594 Jantung merupakan salah satu organ vital dalam tubuh manusia. Dalam keadaan normal, jantung berdetak dengan irama beraturan agar dapat mengalirkan darah dari serambi ke bilik jantung, untuk selanjutnya dialirkan ke seluruh jaringan tubuh manusia. Namun, pada fibrilasi atrium atau atrial fibrilasi (AF), irama jantung cenderung tidak teratur, yang dalam keadaan parah dapat menyebabkan pembekuan darah di jantung.

Mengingat kondisi ini utamanya disebabkan karena usia, penyakit jantung bawaan dan pola hidup tidak sehat, CDC memperkirakan, 12,1 juta orang di Amerika Serikat akan menderita fibrilasi atrium pada tahun 2030. Sementara di Eropa, diperkirakan 14 hingga 17 juta penduduk benua biru akan menderita fibrilasi atrium pada tahun 2030, dengan 120.000 hingga 215.000 kasus baru setiap tahunnya.

Walaupun kondisi ini umumnya tidak mengancam jiwa, fibrilasi atrium yang tidak diobati dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit serius tertentu, seperti gagal jantung, diabetes, demensia, hipertensi, bahkan stroke. Sayangnya bagi banyak orang, fibrilasi atrium tidak menunjukkan gejala. Sekitar 40% pasien fibrilasi atrium tidak pernah merasakan gejala apapun sehingga sering kali tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut.

Menciptakan Solusi Medis Melalui Kolaborasi

Pasalnya walaupun tanpa gejala, fibrilasi atrium sebenarnya bisa dicegah dengan diagnosa dini melalui perangkat digital berbasis teknologi elektrokardiogram (EKG) untuk mengukur ritme jantung dan photoplethysmograph (PPG), yang dapat mendeteksi perubahan volume darah menggunakan sensor optik.

Pengetahuan inilah yang membuat Jochen Hurlebaus, Head of Digital Health Innovation di Roche Diagnostic memperkenalkan FibriCheck, yang menyediakan aplikasi ponsel cerdas bersertifikat medis yang dapat digunakan untuk mendeteksi atau memantau irama jantung tidak teratur, seperti fibrilasi atrium.

Roche Diagnostics meyakini bahwa untuk melahirkan inovasi-inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, dibutuhkan kolaborasi antar lembaga dan tak ada satu entitas pun yang mampu memulai transformasi perangkat atau layanan medis tanpa berkolaborasi.

Melalui program inovasi terbuka atau open innovation bertajuk Startup Creasphere, tim gabungan Roche Diagnostics dan FibriCheck mengeksplorasi bagaimana solusi digital yang dimiliki aplikasi FibriCheck dapat diperkuat untuk skrining pasien fibrilasi atrium yang tidak terdiagnosis.

Dua skenario kolaborasi yang berbeda pun muncul. Pada proyek pertama, tim gabungan kedua perusahaan melakukan pengujian dengan menawarkan aplikasi FibriCheck secara gratis selama minggu untuk memastikan bagaimana pengguna berinteraksi terhadap aplikasi tersebut.

Sementara itu, proyek kedua mengeksplorasi prototype yang dapat melengkapi proses skrining dan diagnosis fibrilasi atrium dengan stratifikasi risiko dan panduan terapi potensial untuk para pasien. Salah satu instrumen terbaru yang tersedia adalah skor ABC yang menggunakan usia, data biomarker, serta riwayat klinis untuk menilai kondisi terkini pasien  fibrilasi atrium yang didiagnosis.

Kolaborasi Roche Diagnostics dan FibriCheck berhasil menawarkan akses langsung ke hasil pengukuran yang membantu pasien fibrilasi atrium memantau ritme jantung mereka kapan saja dan di mana saja. Memanfaatkan kemampuan digital platform Extra Horizon, sebuah platform backend-as-a-service khusus medis, aplikasi FibriCheck mampu menawarkan layanan terintegrasi solusi yang memberi pasien opsi untuk mendapatkan peninjauan hasil diagnosa oleh tim medis langsung.

Dengan merangkul perkembangan teknologi dan kolaborasi, startup seperti FibriCheck mampu terus beradaptasi untuk menyempurnakan bisnis mereka guna mendapatkan dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Melalui kolaborasi bersama Roche Diagnostics, FibriCheck mampu memenuhi kebutuhan pasien yang belum terpenuhi dan memberikan rasa aman pada setiap pasien fibrilasi atrium.

“Merupakan kenyataan bahwa perusahaan layanan kesehatan digital seperti FibriCheck mengubah cara pasien dikelola secara klinis. Semakin dini kita menghadapi kenyataan ini dan menjajaki sinergi tanpa bias, semakin baik kesiapan kita untuk mendorong transformasi digital. Saya senang Startup Creasphere menyediakan kerangka pragmatis untuk mengevaluasi potensi solusi digital,” ujar Bjoern Schwanhaeusser, yang kini menjabat Global Project Leader Critical Care & Women`s Health di Roche Diagnostics.

Yakin bahwa selalu ada peluang untuk inovasi, FibriCheck berkomitmen untuk terus melangkah maju dan menghadirkan solusi-solusi baru yang tidak terbatas. Termasuk berkolaborasi untuk menjangkau sebanyak mungkin pasien dan memberdayakan masyarakat untuk mengelola kesehatan mereka dengan lebih baik. Bersama Roche Diagnostics, FibriCheck akan terus mengidentifikasi peluang inovasi untuk meningkatkan layanan medis terkait penyakit gagal jantung, yang merupakan fokus Roche Diagnostics.

“Kami mendapat banyak manfaat dari kerja sama dengan Roche dan jaringannya, serta mampu membuka area bisnis baru dan tumbuh secara internasional,” ujar Bieke Van Gorp, Co-founder di FibriCheck.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/open-innovation-mungkinkan-fibricheck-penuhi-kebutuhan-pasien-fibrilasi-atrium/feed/ 0
Roche Diagnostics Ungkap Transformasi Industri Perangkat Medis Dimulai dari Kolaborasi https://designthinking.id/kesehatan/roche-diagnostics-ungkap-transformasi-industri-perangkat-medis-dimulai-dari-kolaborasi/ https://designthinking.id/kesehatan/roche-diagnostics-ungkap-transformasi-industri-perangkat-medis-dimulai-dari-kolaborasi/#respond Thu, 21 Sep 2023 06:14:09 +0000 https://designthinking.id/?p=1582 Secara definisi, open innovation atau inovasi terbuka merupakan upaya mendapatkan pengetahuan atau bahkan solusi atas suatu permasalahan dari pihak internal dan eksternal perusahaan. Jika sebelumnya perusahaan berpegang pada gagasan bahwa inovasi yang efisien adalah tentang kontrol tertentu atas proses inovasi, transformasi teknologi kini memaksa pelaku bisnis untuk meninggalkan gagasan itu dan mengadopsi inovasi berbasis kolaborasi tak terkecuali dengan pihak eksternal perusahaan.

Open innovation yang memanfaatkan kebijaksanaan dan keahlian kolektif dari dalam dan luar perusahaan, secara luas diyakini mampu mempercepat pengembangan teknologi medis yang inovatif.

Platform inovasi yang menghubungkan dan mendorong kolaborasi berbagai pelaku industri itu didirikan Roche Diagnostics untuk meningkatkan kemampuan analisis data dan praktik klinis guna meningkatkan pengalaman pasien di seluruh rangkaian perawatan.

Menurutnya, tidak ada satu entitas pun yang dapat menghadapi transformasi teknologi perangkat medis sendirian. Kolaborasi di seluruh industri layanan kesehatan lah yang dinilai Bao mampu mendorong Roche Diagnostics menghadirkan inovasi-inovasi yang tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, tapi juga memberdayakan masyarakat untuk mengelola kesehatan mereka dengan lebih baik.

Itulah sebabnya kolaborasi di seluruh industri layanan kesehatan dinilai Roche Diagnostics sangatlah penting. Pemahaman inilah yang mendorong Roche Diagnostics untuk merangkul pendekatan open innovation, sebuah langkah yang Bao anggap penting guna memastikan keberlangsungan dan kesuksesan perusahaan di masa depan.

Memperluas Peluang Inovasi melalui Startup Creasphere

Sosok Wendy Bao dalam wawancara bersama Korea Biomedical Review (Sumber: Koreabiomed.com)

Startup Creasphere telah menjadi inisiatif yang paling menonjol dalam perjalanan inovasi Roche Diagnostics. Melalui Startup Creasphere, Roche Diagnostics terus memperluas upaya kerja sama dengan para inovator untuk memberikan para profesional di laboratorium, dokter, peneliti, dan pasien ke akses layanan kesehatan dan perangkat medis yang cerdas.

Platform inovasi kesehatan digital global itu telah berhasil menghubungkan startup dengan mitra perusahaan terkemuka untuk mendorong transformasi industri layanan kesehatan melalui kolaborasi.

Menurut Bao, Startup Creasphere telah mampu menghadirkan solusi dan inovasi yang mendorong Roche Diagnostics memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan dan pasien dalam rangka meningkatkan keseluruhan penawaran perusahaan.

“Startup Creasphere memberikan peluang unik bagi startup untuk berkolaborasi dengan Roche Diagnostics,” kata Bao.

Beberapa inovasi paling terkenal yang telah dihasilkan dari inisiatif Startup Creasphere adalah kolaborasi dengan Cobas Pulse dalam menciptakan cobas® pulse system, perangkat manajemen glukosa darah profesional pertama yang dilengkapi dengan solusi digital yang terintegrasi sehingga mampu membantu meningkatkan perawatan pasien.

Juga kolaborasi bersama startup FibriCheck dalam mengeksplorasi bagaimana solusi digital seperti aplikasi FibriCheck dapat menambah nilai bagi perawatan pasien fibrilasi atrium, misalnya skrining untuk pasien yang tidak terdiagnosis.

Kesuksesan inilah yang mendorong Roche Diagnostics memperluas jangkauan Startup Creasphere ke kawasan Asia Pasifik guna menjaring lebih banyak startup dengan solusi digital yang mampu meningkatkan perawatan pasien.

“Kemitraan yang sukses ini menunjukkan potensi program ini dalam menumbuhkan inovasi dan menghasilkan solusi yang berdampak bagi industri layanan kesehatan, itulah sebabnya kami membawa program ini ke APAC,” katanya.

Di Asia Pasifik, Wendy Bao menjelaskan Startup Creasphere ditujukan untuk menciptakan solusi digital yang mampu meningkatkan pemantauan pasien jarak jauh dan pengalaman pasien secara keseluruhan.

“Perawatan terdesentralisasi merupakan solusi yang belum tentu menjadi alat diagnostik namun dapat memungkinkan pemantauan pasien jarak jauh dan meningkatkan perjalanan pasien secara keseluruhan. Kami sedang mencari cara untuk menghadirkan solusi perawatan terdesentralisasi ke dalam platform perusahaan untuk memberikan solusi yang lebih komprehensif,” ujar Wendy Bao.

Ke depannya, Wendy Bao percaya bahwa open innovation akan memperbesar kontribusi Roche Diagnostics terhadap transformasi layanan kesehatan.

“Kompleksitas dan kecepatan transformasi layanan kesehatan memerlukan pendekatan kolaboratif, dan saya melihat Roche Diagnostics sebagai pemain kunci dalam perjalanan ini,” kata Wendy Bao.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/roche-diagnostics-ungkap-transformasi-industri-perangkat-medis-dimulai-dari-kolaborasi/feed/ 0
5 Inovasi Medis Hasil Metode yang Berfokus pada Pengguna Hapus Hambatan di Bidang Kesehatan https://designthinking.id/kesehatan/5-inovasi-medis-hasil-metode-yang-berfokus-pada-pengguna-hapus-hambatan-di-bidang-kesehatan/ https://designthinking.id/kesehatan/5-inovasi-medis-hasil-metode-yang-berfokus-pada-pengguna-hapus-hambatan-di-bidang-kesehatan/#respond Thu, 07 Sep 2023 09:54:09 +0000 https://designthinking.id/?p=1546

Bidang kesehatan terus mengalami transformasi yang mengagumkan berkat serangkaian inovasi. Mulai dari yang mengubah cara kita mendiagnosis, mengobati dan hingga bagaimana pelayanan kesehatan diberikan.

Dari pengembangan teknologi medis mutakhir hingga pendekatan pengobatan yang lebih personal, inovasi di bidang kesehatan telah mengubah kehidupan jutaan orang di seluruh dunia dan dengan design thinking, inovasi yang diciptakan lebih mampu menjawab kebutuhan pasien dan praktisi medis.

Aspek kreativitas, empati, dan analisis yang dihadirkan design thinking telah memungkinkan penyelidikan yang lebih mendalam tentang bagaimana pasien berinteraksi dengan pengobatan mereka. Kemampuan inilah yang mendorong penciptaan inovasi medis agar lebih baik dalam merespon kebutuhan setiap pasien.

Berikut lima inovasi medis luar biasa yang dihasilkan melalui pendekatan design thinking, yang diyakini mampu membuka jendela baru menuju masa depan pelayanan kesehatan yang lebih inovatif.

1. Proses Komunikasi Teratur untuk Pasien, Stanford Hospital

Kelas Design Thinking di Stanford Hospital. (Sumber: Stanford Hospital)

Selama dua hari, 14 manajer di Stanford Hospital, California, Amerika Serikat, meninggalkan pekerjaan harian mereka sebagai ahli medis dan kembali ‘bersekolah’. Bersama-sama mereka mengikuti kursus design thinking yang disediakan d.school.

Dalam pelatihan ini, setiap peserta bermain peran sebagai keluarga pasien dan ahli medis untuk merasakan langsung bagaimana rasanya berada dalam kekacauan UGD. Tujuannya adalah untuk mencari cara dalam meningkatkan pengalaman pasien dan keluarga mereka selama berada di UGD.

Para ahli medis yang terlibat dalam kelas design thinking juga diharuskan mewawancarai pasien dan keluarganya tentang pengalaman mereka terhadap perawatan medis yang mereka dapatkan selama berada di UGD.

Hasilnya luar biasa, wawancara dan bermain peran telah mendorong mereka untuk berempati terhadap kesulitan yang dihadapi pasien dan keluarganya. Dari kursus itu, mereka mengetahui bahwa pasien menginginkan aliran informasi yang lebih teratur untuk membantu mereka meredakan kecemasan dan ketakutan mereka selama berada di UGD.

2. MRI Ramah Anak, GE Healthcare

Mesin MRI ramah anak dari GE Healthcare (Sumber: GE Healthcare)

Besarnya mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI), acapkali membuat anak-anak yang harus melewati pemeriksaan medis ketakutan. Fenomena inilah yang mendorong Doug Dietz, seorang arsitek yang telah lama bekerja di GE HealthCare, mengembangkan desain MRI yang ramah anak.

Alih-alih merancang mesin baru, Doug Dietz meluncurkan serangkaian MRI bertema petualangan yang dinamakan “The Adventure Series”. Berkat riset pengguna yang ekstensif dan uji coba rumah sakit, Doug Dietz mengubah mesin MRI dari yang menyeramkan menjadi bernuansa kapal bajak laut dengan pemandangan pantai, istana pasir, dan lautan.

Berkat solusi kreatifnya, skor kepuasan pasien naik 90%. Anak-anak tidak lagi menderita kecemasan ketika berhadapan dengan mesin pencitraan satu ini. Mesin MRI ramah anak itu juga memudahkan anak-anak untuk tetap diam selama prosedur, yang pada gilirannya mencegah dokter untuk mengulangi pemindaian. Artinya, lebih banyak pasien yang dapat dipindai setiap harinya.

3. Sarana Edukasi dan Komunikasi Menstruasi, UNICEF dan Innovesia

Ilustrasi Menstruasi (Sumber: Freepik)

Kurangnya edukasi dan maraknya stigma negatif terkait menstruasi menjadi tantangan tersendiri bagi implementasi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di tanah air. Di berbagai daerah, menstruasi kerap menimbulkan rasa tidak nyaman yang dialami siswa perempuan. Ditambah dengan perundungan dari siswa lain, membuat menstruasi kerap menjadi momok menakutkan bagi siswa perempuan di Indonesia.

Situasi inilah yang melatari kerja sama UNICEF dan Innovesia untuk memahami permasalahan nyata yang dialami siswa terkait menstruasi di lima kota besar di Indonesia yakni, Surabaya, Banda Aceh, Kupang, Makassar dan Jayapura.

Bersama-sama, UNICEF dan Innovesia, mendalami bagaimana para siswa baik perempuan dan laki-laki memahami siklus menstruasi guna membangun kesadaran dan mengedukasi para murid terkait menstruasi, khususnya MKM itu sendiri.

Dengan bimbingan dari jaringan expert Innovesia, para siswa dibimbing membuat sejumlah prototype sarana edukasi MKM, seperti pembuatan mading kelas atau sekolah, website, buku cerita hingga aplikasi mobile, yang tidak hanya mampu memberikan edukasi tapi juga menghubungkan para murid dengan para pakar untuk bisa berkonsultasi lebih lanjut mengenai MKM.

4. Kemasan Obat Tersortir, PillPack

PillPack (Sumber: PillPack)

Berkomitmen memudahkan pasien untuk meminum obat yang tepat pada waktu yang tepat, TJ Parker dan Elliot Cohen membuat PillPack, startup di bidang farmasi yang memiliki misi untuk mempermudah akses pasien terhadap obat-obatan.

Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia seperti design thinking, Parker dan Cohen mendesain seperangkat layanan yang mencerminkan pemahaman yang benar tentang para pasien. Selama proses pengujian prototype, keduanya juga memastikan bahwa setiap interaksi pelanggan dengan PillPack, mulai dari mendaftar ke layanan secara online hingga menggunakan produknya setiap hari, dapat dilakukan secara langsung dan meyakinkan.

Hal inilah yang membuat PillPack menemukan model bisnis yang tepat. Begini cara kerjanya, pasien dapat mengirimkan resep obat-obatan secara langsung ke apoteker di PillPack secara daring atau online. Setelahnya, tim apoteker di PillPack akan mengatur obat-obatan pasien ke dalam paket atau kemasan kecil yang telah disortir dan dipersonalisasi.

Dengan model layanan ini, PillPack tak hanya mempermudah pasien mendapatkan obat-obatan tapi juga mempermudah mereka mengonsumsi obat-obatan.

5. Pengukur Gula Darah Otomatis, CONTOUR USB

CONTOUR USB dari Ascensia Diabetes Care (Sumber: Ascensia)

Fenomena inilah yang mendorong Ascensia Diabetes Care bermitra dengan IDEO, untuk mendalami apa yang sebenarnya membuat banyak pasien diabetes kesulitan mendapatkan perawatan kesehatan yang mumpuni. Dari sana, Ascensia sadar bahwa banyak penderita diabetes yang merasakan stigma negatif, khususnya ketika harus melakukan pemeriksaan kadar gula darah di depan umum.

Mengetahui masalah ini, Ascensia dan IDEO lantas merancang alat pengukur gula darah yang didesain layaknya perangkat teknologi canggih. Keduanya mengembangkan “CONTOUR USB”,  alat pengukur gula darah pertama yang mampu dihubungkan langsung ke komputer. Seperti namanya, CONTOUR USB memungkinkan pasien untuk mengunggah data kadar gula darah mereka secara otomatis ke aplikasi sehingga pasien tidak perlu lagi mencatatkannya secara manual.

Inovasi ini juga dilengkapi dengan fitur smartLIGHT berwarna merah, hijau, atau kuning untuk memberikan umpan balik instan tentang apakah kadar gula darah berada di bawah atau di atas kisaran target. Dengan begitu, CONTOUR USB dapat membantu memandu pasien untuk mengambil keputusan secara real-time terkait kondisi kesehatannya.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/5-inovasi-medis-hasil-metode-yang-berfokus-pada-pengguna-hapus-hambatan-di-bidang-kesehatan/feed/ 0
Mudahkan Konsumsi Obat bagi Pasien, PillPack Merevolusi Industri Kesehatan melalui Design Thinking https://designthinking.id/kesehatan/mudahkan-konsumsi-obat-bagi-pasien-pillpack-merevolusi-industri-kesehatan-melalui-design-thinking/ https://designthinking.id/kesehatan/mudahkan-konsumsi-obat-bagi-pasien-pillpack-merevolusi-industri-kesehatan-melalui-design-thinking/#respond Fri, 18 Aug 2023 08:49:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1480 Berkomitmen mempermudah operasional apotek, PillPack menggunakan design thinking untuk mempermudah akses pasien ke obat-obatan. Sebuah solusi yang kemudian merevolusi industri farmasi.

Berkomitmen mempermudah operasional apotek, PillPack menggunakan design thinking untuk mempermudah akses pasien ke obat-obatan. Sebuah solusi yang kemudian merevolusi industri farmasi.

Berurusan dengan pengobatan memang seringkali lebih menyakitkan daripada rasa sakit dari penyakit itu sendiri. Bagaimana tidak, pasien acap kali harus menyisihkan waktu mereka untuk berdiri dalam antrean panjang di apotek, rutin memeriksa tanggal kadaluarsa obat-obatan, memastikan membawa segala jenis obat setiap mereka hendak bepergian. Hingga memastikan minum obat tepat waktu. Jelas itu semua bisa membuat pasien kewalahan.

startup
startup

Ide untuk mendirikan PillPack sebenarnya sudah lama dimiliki Parker, seorang apoteker yang telah menyaksikan perjuangan banyak orang untuk meminum obat sesuai resep. Sementara Cohen, pendiri lain PillPack yang juga seorang pengusaha dan insinyur teknologi kesehatan atau healthtech, juga familiar dengan kekhawatiran serupa mengingat sang ayah harus berjuang melawan kanker. Kondisi sang ayah inilah yang terus membuat Cohen kian putus asa atas rumit dan lambatnya model operasional farmasi tradisional.

healthtech,

Menggabungkan Industri Farmasi dan Design Thinking

Menggabungkan Industri Farmasi dan Design Thinking

PillPack (Sumber: PillPack)

PillPack (Sumber: PillPack)

Berkomitmen memudahkan pasien untuk meminum obat yang tepat pada waktu yang tepat, Parker dan Cohen melakukan lompatan kewirausahaan. Pada 2013, mereka kemudian meminta layanan kreatif dari firma desain yang berpusat pada manusia atau human-centered design IDEO yang berbasis di California, AS, untuk mendefinisikan kembali bagaimana konsumen terlibat berinteraksi dengan PillPack selama proses pengujian prototype.

safe
human-centered design
prototype

Selama residensi yang berlangsung tiga bulan, Parker dan Cohen beserta tim dari IDEO berfokus untuk memastikan bahwa setiap interaksi pelanggan dengan PillPack, mulai dari mendaftar ke layanan secara online hingga menggunakan produknya setiap hari, dapat dilakukan secara langsung dan meyakinkan.

Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia seperti design thinking, Parker dan Cohen mendesain seperangkat layanan yang mencerminkan pemahaman yang benar tentang para pasien. Begini cara kerjanya. Pertama, dokter atau pasien dapat mengirimkan resep obat-obatan secara langsung ke apoteker di PillPack secara daring atau online. Setelahnya, tim apoteker di PillPack akan mengatur obat-obatan pasien ke dalam paket atau kemasan kecil yang telah disortir dan dipersonalisasi. 

design thinking
online.

Paket atau kemasan kecil tersebut lantas diberi label berdasarkan tanggal dan waktu konsumsi obat. Setiap kemasan obat ini dimaksudkan untuk sekali konsumsi. Dengan begitu pasien tak perlu lagi menyortir obat-obatan mereka setiap kali hendak mengonsumsinya. Terakhir, paket obat untuk persediaan selama 14 hari akan dikirim ke pintu rumah pasien. IDEO juga mendesain kantong perjalanan yang membuat aktivitas minum obat saat bepergian menjadi sederhana dan tidak menyulitkan.

Merevolusi Industri Farmasi

Merevolusi Industri Farmasi

Kemasan PillPack (Sumber: Gregory Reid)

Kemasan PillPack (Sumber: Gregory Reid)

PillPack telah menggunakan design thinking untuk merevolusi cara kerja industri farmasi dan pasar obat-obatan. Inovasi sederhana PillPack telah membuat hidup para pasien lebih mudah. Mereka tak lagi perlu menghabiskan waktu untuk mengantri di apotek, menyortir ragam obat-obatan mereka setiap harinya. Dengan design thinking, PillPack telah mengatasi tak hanya satu tapi semua kesulitan pasien dalam mengonsumsi obat-obatan sesuai resep mereka.

design thinking
design thinking,

Design thinking sendiri merupakan pendekatan yang fokus pada pemahaman mendalam terhadap pengguna guna menciptakan solusi inovatif melalui iterasi berulang dalam proses pengembangan produk atau layanan. Dalam kasus PillPack, design thinking berhasil mendorong perusahaan untuk lebih mendalami kebutuhan, preferensi dan tantangan pasien dalam mengonsumsi obat.

design thinking

Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, mengutarakan bahwa design thinking telah membantu PillPack memahami betapa rumitnya pengelolaan obat bagi pasien yang mengonsumsi banyak jenis obat sekaligus.

design thinking

“PillPack menggunakan pendekatan design thinking untuk menciptakan kemasan obat yang disesuaikan dengan jadwal dan kebutuhan setiap pasien. Inovasi ini jelas mengarah pada pengalaman yang lebih mudah, lebih teratur, dan lebih sedikit stres bagi pasien,” ujar Fiter Bagus.

design thinking

Secara menyeluruh, Fiter Bagus menilai apa yang dilakukan PillPack telah menunjukkan bahwa penerapan design thinking dalam industri farmasi dapat menghasilkan inovasi yang signifikan dalam produk dan layanan yang diberikan untuk pasien. Pasalnya, design thinking membantu perusahaan untuk lebih baik memahami dan memenuhi kebutuhan pasien serta mengatasi tantangan kompleks dalam penyediaan obat yang aman dan efektif.

design thinking
design thinking

Berkaca pada kesuksesan PillPack menggunakan design thinking untuk menyelesaikan masalah pasien terkait konsumsi obat, Innovesia sebagai salah satu pengadopsi awal metode design thinking di Indonesia membuka kesempatan bagi lebih banyak perusahaan farmasi untuk merangkul pendekatan satu ini untuk memecahkan masalah kesehatan dan tentunya meningkatkan kemudahan bagi pasien.

design thinking
design thinking

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/mudahkan-konsumsi-obat-bagi-pasien-pillpack-merevolusi-industri-kesehatan-melalui-design-thinking/feed/ 0
Design Thinking jadi Cara Stanford Hospital Rampingkan Alur Komunikasi Antara Pasien dan Tenaga Medis https://designthinking.id/kesehatan/design-thinking-jadi-cara-stanford-hospital-rampingkan-alur-komunikasi-antara-pasien-dan-tenaga-medis/ https://designthinking.id/kesehatan/design-thinking-jadi-cara-stanford-hospital-rampingkan-alur-komunikasi-antara-pasien-dan-tenaga-medis/#respond Tue, 15 Aug 2023 07:48:57 +0000 https://designthinking.id/?p=1465 Selama dua hari, 14 manajer di Stanford Hospital, California, Amerika Serikat, meninggalkan pekerjaan harian mereka sebagai ahli medis dan kembali ‘bersekolah’. Bersama Hasso Plattner Institute of Design atau d.school, belasan ahli medis tersebut berupaya meningkatkan pengalaman pasien unit gawat darurat (UGD) melalui design thinking.

Selama dua hari, 14 manajer di Stanford Hospital, California, Amerika Serikat, meninggalkan pekerjaan harian mereka sebagai ahli medis dan kembali ‘bersekolah’. Bersama Hasso Plattner Institute of Design atau d.school, belasan ahli medis tersebut berupaya meningkatkan pengalaman pasien unit gawat darurat (UGD) melalui design thinking.

Pada suatu hari, Stan Nowak, PhD, fisikawan di SLAC National Accelerator Laboratory, yang biasa menghabiskan hari-harinya menggunakan spektroskopi sinar-X untuk memahami sifat kimia dan elektronik suatu materi, diharuskan berperan sebagai ayah dari seorang pasien wanita fiksi yang dibawa ke UGD Stanford Hospital usai mengalami kecelakaan mobil.

Ya, wanita muda yang dibawa Stan Nowak ke UGD adalah karakter fiksi karena merupakan sebuah manekin berteknologi tinggi yang berperan sebagai wanita muda dengan kondisi seperti mengalami kecelakaan mobil.

Tak hanya Stan, sebanyak sepuluh dokter, perawat, dan teknisi medis lainnya di Stanford Hospital juga diharuskan memainkan peran mereka masing-masing untuk seakan-akan menyediakan simulasi perawatan bagi pasien fiksi tersebut.

Simulasi perawatan medis yang dijalani 14 ahli medis Stanford Hospital itu merupakan bagian dari kursus dua hari mengenai design thinking yang disediakan d.school untuk Stanford Hospital. Dalam pelatihan ini, mereka memainkan peran sebagai keluarga pasien dan ahli medis untuk merasakan langsung bagaimana rasanya berada dalam kekacauan UGD. Tujuannya adalah untuk mencari cara dalam meningkatkan pengalaman pasien dan keluarga mereka selama berada di UGD.

design thinking

Tak hanya bermain peran, para ahli medis yang terlibat dalam kelas design thinking itu juga mewawancarai pasien dan keluarganya tentang pengalaman mereka terhadap perawatan medis yang mereka dapatkan selama berada di UGD. Hasilnya luar biasa, wawancara dan bermain peran telah mendorong mereka untuk berempati terhadap kesulitan yang dihadapi pasien dan keluarganya.

design thinking

Kelas design thinking di Stanford Hospital. (Sumber: Stanford Hospital)

Kelas design thinking di Stanford Hospital. (Sumber: Stanford Hospital)
design thinking

Pasien menginginkan aliran informasi yang lebih teratur untuk membantu mereka lebih memahami apa yang terjadi. Tak hanya itu, pasien dan keluarganya juga ingin tahu apakah ahli medis baik dokter, perawat dan lainnya saling berkomunikasi untuk memberikan perawatan yang maksimal. Di akhir kelas diketahui, para pasien menginginkan komunikasi yang terkoordinasi dan jelas untuk membantu meredakan kecemasan dan ketakutan mereka yang meningkat.

“Kami ingin tahu kebutuhan mereka yang belum terpenuhi. Pasien kami telah memberi tahu kami bahwa mereka ingin kami mengenal mereka dan memahami mereka. Menerapkan pemikiran desain untuk perawatan kesehatan adalah cara yang sangat berharga bagi kami untuk melakukan itu,” kata Alpa Vyas, wakil presiden Stanford Health Care untuk pengalaman pasien.

Empati yang merupakan bagian tak terpisahkan dari design thinking dalam kasus ini telah memungkinkan Stanford Hospital untuk mengidentifikasi kebutuhan utama pasien mereka yang mustahil diketahui tanpa berempati. Design thinking memungkinkan ahli medis di Stanford Hospital untuk memecahkan masalah pasien dengan melibatkan pengamatan dan wawancara, dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk membuat prototype dan menguji cara mereka meningkatkan layanan perawatan pasien di UGD.

design thinking
Design thinking
prototype

Pendekatan Design Thinking dalam Dunia Medis

Pendekatan
Design Thinking
Design Thinking
dalam Dunia Medis

Design thinking memang telah dipercaya luas sebagai pendekatan yang memungkinkan banyak industri yang sangat kompetitif, tak terkecuali di industri kesehatan sekalipun. 

Design thinking

Manfaat ini menurut Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia, sebuah perusahaan konsultasi yang berfokus pada kesehatan, tak terlepas dari kemampuan design thinking untuk memenuhi harapan pelanggan atau dalam hal ini pasien dan meningkatkan pengalaman mereka selama menjalani perawatan medis.

design thinking

Menurut Fiter Bagus, design thinking telah mendapatkan pengakuan sebagai sebuah pendekatan yang mampu meningkatkan pemberian layanan kesehatan melalui integrasi solusi yang lebih kreatif, interdisipliner, dan berpusat pada pasien.

design thinking

“Semakin banyak perhatian telah ditempatkan untuk memahami, dan meningkatkan pengalaman pasien dalam sistem perawatan kesehatan yang mereka akses dan design thinking telah menunjukkan keunggulannya untuk memecahkan masalah ini, seperti yang tercermin dalam kasus Stanford Hospital,” ujar Fiter Bagus.

design thinking
Using design-thinking to investigate and improve patient experience

here

Untuk alasan inilah, design thinking kini dianggap sebagai elemen integral untuk meningkatkan pengalaman pasien yang merupakan ukuran penting dari kualitas perawatan kesehatan.

design thinking

“Pengalaman pasien merupakan indikator kualitas layanan kesehatan yang penting, dan tim layanan kesehatan harus memprioritaskan pemahaman dan meningkatkannya. Dalam hal ini, pendekatan design thinking terbukti menjadi salah satu cara terbaik untuk menerjemahkan informasi tentang pengalaman pasien menjadi solusi yang dapat ditindaklanjuti untuk memperbaikinya,” ujar Fiter Bagus.

design thinking

Atas dasar itu, Innovesia sebagai salah satu pengadopsi awal metode design thinking di Indonesia membuka kesempatan bagi lebih banyak lembaga medis untuk merangkul pendekatan satu ini agar mampu memanfaatkan pemahaman yang lebih dalam tentang pasien untuk memecahkan masalah kesehatan dan tentunya meningkatkan pengalaman pasien selama berobat.

design thinking

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/design-thinking-jadi-cara-stanford-hospital-rampingkan-alur-komunikasi-antara-pasien-dan-tenaga-medis/feed/ 0
Inspirasi Juli: 5 Perusahaan Melangkah Lebih Cepat dengan Open Innovation https://designthinking.id/teknologi/inspirasi-juli-5-perusahaan-melangkah-lebih-cepat-dengan-open-innovation/ https://designthinking.id/teknologi/inspirasi-juli-5-perusahaan-melangkah-lebih-cepat-dengan-open-innovation/#respond Fri, 11 Aug 2023 06:04:43 +0000 https://designthinking.id/?p=1451 Bulan Juli 2023 menjadi saksi tingginya semangat inovasi bagi bisnis, di mana berbagai perusahaan visioner telah merangkul semangat kolaborasi dalam berinovasi melalui open innovation.

Tak lagi sekedar mengandalkan pengetahuan internal, sejumlah perusahaan ternama mulai memahami pentingnya mengakomodasi ide-ide segar dan kreatif dari pihak eksternal perusahaan melalui open innovation. Mulai dari industri kesehatan, kedirgantaraan, kelistrikan, hingga perusahaan teknologi terkemuka dunia, Meta, turut serta menyelenggarakan open innovation untuk memaksimalkan dan mempercepat inovasi mereka.

Tak hanya perusahaan, efektivitas open innovation juga mulai diakui oleh para pemerintah sejumlah negara dalam memajukan taraf hidup hingga memperkuat ekosistem kewirausahaan suatu wilayah pemerintahan.

for sale

Menurut Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia –perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi bisnis– open innovation memungkinkan perusahaan untuk lebih cepat beradaptasi dengan perubahan pasar dan teknologi. Kolaborasi bersama sejumlah pihak dengan latar belakang berbeda yang dimungkinkan open innovation juga mampu menghasilkan ide-ide yang revolusioner.

“Dengan memanfaatkan ide-ide eksternal melalui open innovation, perusahaan dapat mengidentifikasi tren baru lebih awal dan mengubah strategi mereka sesuai kebutuhan. Open innovation juga membuka pintu bagi masukan dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu. Hal ini tentu akan menghasilkan diversifikasi ide dan solusi, yang bisa memicu terciptanya konsep atau solusi baru yang revolusioner,”

Mengingat pentingnya kemampuan open innovation untuk menciptakan keunggulan kompetitif, tak heran jika banyak perusahaan dan pemerintah yang berkomitmen mengoptimalkan inovasi mereka melalui open innovation. Berikut lima ajang open innovation yang diusung perusahaan dan pemerintah ternama di dunia:

1.  Open Innovation AI Research Community

META (Sumber: REUTERS/Dado Ruvic)

Untuk tetap kompetitif di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang berkembang pesat, raksasa teknologi, Meta, meluncurkan program Open Innovation AI Research Community. Mengusung pendekatan inovasi terbuka atau open innovation, program ini dirancang Meta untuk mendorong transparansi, inovasi, dan kolaborasi di bidang AI.

Diluncurkan pada pertengahan Juli 2023, Open Innovation AI Research Community akan membuka kesempatan bagi para profesor di universitas terakreditasi di manapun di dunia, untuk berkontribusi dalam agenda penelitian terkait tantangan paling mendesak seputar perkembangan AI di lapangan.

Bersama-sama mereka akan mengeksplorasi topik yang berkaitan dengan privasi, keselamatan, dan keamanan model bahasa besar atau large language models (LLM). Mereka juga akan diminta untuk memberikan masukan mengenai penyempurnaan model dasar, dan menetapkan agenda bagi penelitian kolaboratif di masa mendatang. Meta percaya, kolaborasi melalui open innovation menjadi langkah tepat bagi perusahaan untuk mempercepat penelitian mereka terkait AI.

2. Imagineering by Daher

Daher (Sumber: Daher).

Daher, produsen pesawat terbang dan pemasok peralatan industri terkemuka asal Prancis, mengumumkan peluncuran program inovasi terbuka atau open innovation pada Juni 2023. Bertajuk “Imagineering by Daher”, program open innovation ini bertujuan memanfaatkan kecerdasan kolektif untuk merangsang transformasi dan dekarbonisasi di sektor aeronautika.

Imagineering by Daher disusun berdasarkan lima pedoman utama, yakni #explore yang mencakup pemantauan tren baru di industri kedirgantaraan, #connect untuk menciptakan lebih banyak sinergi antar pelaku industri, #test yang ditujukan untuk mematangkan solusi agar tidak hanya berhenti sebagai konsep, #scale yang berfokus pada kolaborasi untuk percepatan peluncuran solusi melalui aliansi strategis dan yang terakhir #communicate untuk menawarkan peluang karir yang besar di industri kedirgantaraan.

3. The BIND 4.0 Open Innovation Platform

BIND 4.0 Open Innovation (Sumber: SPRI Group)

Program inovasi terbuka BIND 4.0 Open Innovation kembali menawarkan kesempatan bagi para startup untuk terhubung dengan 70 perusahaan terkemuka dalam program Accelerator. Dibuka untuk yang ke-8 kalinya, BIND 4.0 Open Innovation menawarkan kesempatan bagi startup yang masih dalam tahap pengembangan awal sekalipun untuk berkolaborasi bersama perusahaan besar demi mengambangkan solusi yang mampu menjawab kebutuhan industri di masa depan.

BIND 4.0 adalah inisiatif publik-swasta yang didanai oleh pemerintah Basque di Spanyol dan Society for the Promotion of Industrial Innovation (SPRI Group). Inisiatif ini menawarkan perusahaan terkemuka di Basque Country kesempatan memanfaatkan keahlian dan ketangkasan startup. Sementara bagi startup, BIND 4.0 menawarkan akses ke pendanaan, pendampingan dan konsultasi bisnis yang amat berharga.

4. Aspire Academy

Tampak luar venue olahraga Aspire Academy (Sumber: Aspire Academy)

Berusaha menjadi institusi olahraga terkemuka, Aspire Academy meluncurkan tiga kompetisi inovasi melalui platform inovasi Qatar Open Innovation (QOI). Akademi olahraga yang berpusat di Doha, Qatar, itu mengundang startup dan perusahaan teknologi untuk menciptakan semacam sistem atau teknologi yang mampu memantau dan meningkatkan kesehatan para atlet.

Adapun ketiga kompetisi inovasi itu mencakup pengembangan perangkat teknologi yang mampu memantau status emosional para atlet, menciptakan teknologi cerdas yang dapat mengukur dan menilai makronutrien dan profil energi dari makanan yang dikonsumsi oleh para atlet di prasmanan milik Aspire Academy, terakhir mengembangkan perangkat yang dapat memantau serta memberikan perincian struktural dari kebiasaan tidur dan pola istirahat para atlet, termasuk durasi tidur total, kualitas, tahapan, dan ritme sirkadian. 

5. Gerresheimer

Tampak luar kantor utama Gerresheimer (Sumber: Gerresheimer)

Perusahaan terkemuka di industri farmasi dan kesehatan, Gerresheimer mengajak para startup, perusahaan, mahasiswa, dan peneliti untuk mengembangkan solusi terapi baru di seluruh rantai nilai perawatan kesehatan yang memenuhi kebutuhan banyak kelompok pasien. Dibuka hingga 27 Agustus 2023, solusi terbaik nantinya akan menerima hadiah uang 4.000 Euro (Rp66 juta) dan kesempatan bekerja sama dengan Gerresheimer untuk pengembangan lebih lanjut.

“Gagasan untuk mengizinkan pasien melanjutkan perawatan di rumah kapanpun sangat berharga. Kami sangat percaya bahwa akses ke layanan kesehatan harus senyaman dan semudah mungkin, terutama bagi pasien yang berada dalam situasi yang menantang, misalnya selama atau setelah terapi kanker,” kata Maike Wolf, Kepala Inovasi di Gerresheimer.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/inspirasi-juli-5-perusahaan-melangkah-lebih-cepat-dengan-open-innovation/feed/ 0
Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/ https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/#respond Tue, 25 Jul 2023 07:05:25 +0000 https://designthinking.id/?p=1366 Organisasi Kesehatan Dunia () mencatat sekitar 422 juta orang di seluruh dunia menderita diabetes. Namun sayang, banyak penderita diabetes masih kesulitan mendapat akses ke pengobatan yang komprehensif.

Diabetes sendiri merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah. Penyakit satu ini tentu tidak bisa dianggap enteng karena dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. 

Pada 2019 saja misalnya, diabetes menjadi penyebab langsung 1,5 juta kematian. Di mana 48% dari seluruh kematian akibat diabetes menimpa mereka yang berusia di bawah 70 tahun. Pada tahun yang sama, 460.000 kematian akibat penyakit ginjal juga disebabkan oleh diabetes.

Perawatan kesehatan bagi mereka yang menderita diabetes tidaklah mudah. Pasalnya mereka harus menjaga kadar gula darah terkendali dengan menjaga gaya hidup yang sehat. Penderita diabetes umumnya diharuskan mengkonsumsi obat-obatan untuk menurunkan gula darah bahkan mendapatkan suntikan insulin untuk bertahan hidup. Mereka juga diwajibkan memeriksa gula darah beberapa kali sehari, menyimpan catatan aktivitas yang mendetail, hingga mencatat asupan makanan sehari-hari.

Melihat bahwa banyak penderita diabetes kesulitan melaksanakan perawatan mandiri yang dibutuhkan, , menyadari perlunya menciptakan semacam alat pengukur kadar gula dalam darah yang mampu memberi pasien informasi dan kontrol kesehatan yang lebih baik.

Perusahaan perawatan kesehatan global yang telah memimpin dalam pengobatan diabetes selama lebih dari 80 tahun itu, lantas memilih pendekatan lain dengan memahami apa yang sebenarnya mempersulit penderita diabetes untuk rutin mengecek kadar gula darah dan menciptakan solusi yang komprehensif.

CONTOUR USB, Pengukur Gula Darah Digital Pertama di Dunia

CONTOUR USB, alat pengecek gula darah dari Asensia Diabetes Care (Sumber: Ascensia)

Bermitra dengan IDEO, Ascensia sadar bahwa banyak penderita diabetes yang merasakan stigma negatif. Hal yang sama juga mereka rasakan ketika harus melakukan pemeriksaan kadar gula darah di depan umum. Mengetahui masalah ini, Ascensia dan IDEO lantas memfokuskan pengembangan solusi mereka untuk membantu mengurangi stigma negatif tersebut.

Bersama-sama, keduanya memutuskan untuk merancang alat pengukur gula darah yang didesain layaknya perangkat teknologi canggih. Ascensia memang sudah terkenal sebagai produsen alat pengukur gula darah bernama CONTOUR NEXT ONE. Namun, pendekatan human-centered design yang digunakannya kali ini tidak hanya mampu mengukur kadar gula darah, tapi mengentaskan stigma negatif sekaligus memberikan solusi kesehatan yang lebih komprehensif.

Layaknya perangkat teknologi canggih, Ascensia dan IDEO mengembangkan “CONTOUR USB”,  alat pengukur gula darah pertama yang mampu dihubungkan langsung ke komputer. Seperti namanya, CONTOUR USB memungkinkan pasien untuk mengunggah data kadar gula darah mereka secara otomatis ke aplikasi sehingga pasien tidak perlu lagi mencatatkannya secara manual. 

Inovasi ini juga dilengkapi dengan fitur smartLIGHT berwarna merah, hijau, atau kuning untuk memberikan umpan balik instan tentang apakah kadar gula darah berada di bawah atau di atas kisaran target. Dengan begitu, CONTOUR USB dapat membantu memandu pasien untuk mengambil keputusan secara real-time terkait kondisi kesehatannya.

CONTOUR Diabetes App, Bantu Penderita Diabetes Rencanakan Pola Hidup Sehat

CONTOUR USB dan Aplikasi Diabetes dari Ascensia Diabetes Care (Sumber: IDEO)

Tak berhenti hanya dengan CONTOUR USB, Ascensia melihat peluang inovasi lain dengan mengembangkan layanan kesehatan digital dalam bentuk aplikasi yang tidak hanya mampu mendokumentasikan riwayat kadar gula darah pasien, tapi juga mendokumentasikan asupan makanan dan semua faktor yang memengaruhi kesehatan seseorang.

Diberi nama CONTOUR Diabetes App, aplikasi satu ini tak hanya mampu mendokumentasikan riwayat gaya hidup pasien, tapi juga memberikan pasien kontrol yang lebih besar untuk merencanakan pola hidup sehat yang dipersonalisasi, seperti rencana olahraga dan asupan nutrisi. 

Tentunya semua ini dilakukan dengan bimbingan dari tenaga tenaga medis diabetes bersertifikat, yang akan membuat program khusus berdasarkan kebutuhan masing-masing pasien. Para pasien juga akan menerima rekomendasi artikel kesehatan yang relevan dengan kondisi aktual mereka. 

Layanan kesehatan berbasis aplikasi ini memberi penderita diabetes akses ke informasi yang tepat pada waktu yang tepat dan dapat menjawab pertanyaan mereka kapan saja melalui obrolan dengan para pakar diabetes. Tujuannya adalah untuk mendorong pasien ke arah gaya hidup yang lebih sehat dan kontrol yang lebih baik terhadap kondisi mereka.

Hasilnya luar biasa, dari hasil pengujian terhadap 60 orang, hanya dua peserta yang gagal menyelesaikan penelitian. Angka ini menunjukan tingkat keberhasilan yang tinggi mengingat tingkat kepatuhan pasien terhadap terapi penyakit kronis seperti diabetes di negara maju rata-rata hanya sekitar 50%. 

Artinya, sangat sulit bagi pasien penderita penyakit kronis untuk melakukan perawatan atau terapi rutin untuk menjaga kesehatan mereka, tapi perangkat kesehatan Ascensia baik CONTOUR USB dan CONTOUR Diabetes App, telah membantu pasien untuk melakukan perawatan kesehatan secara rutin. Selain itu, para peserta juga melaporkan peningkatan drastis dalam kesehatan fisik dan mental.

Kedua inovasi di atas telah mengubah cara berinovasi Ascensia. Dengan merangkul human-centered design, Ascensia mampu melihat atau mengadopsi pandangan yang lebih luas tentang penawaran mereka, dan pada akhirnya memperluas cara mereka melayani penderita diabetes.

“Menempatkan pasien sebagai pusat dari semua yang kami ciptakan adalah inti dari Ascensia Diabetes Care. Berkolaborasi dengan IDEO selama beberapa tahun terakhir adalah contoh yang sangat baik dalam bekerja sama dengan mitra strategis untuk memenuhi kebutuhan penderita diabetes melalui inovasi,” ujar Jazz Panchoo, Kepala Strategi Global di Ascensia Diabetes Care.

best site

Memahami Kebutuhan Pasien Bersama Innovesia

Memahami kebutuhan pasien kian penting untuk mengatasi hambatan mereka untuk mendapatkan atau melaksanakan perawatan kesehatan dan membantu meningkatkan taraf hidup mereka. Semakin baik kita memahami pasien, maka semakin besar kemungkinan kita dapat merancang produk atau membangun layanan kesehatan yang bekerja dengan baik dan paling dibutuhkan oleh konsumen.

Nilai itulah yang juga diyakini , yang merupakan pelopor ekosistem open innovation di Indonesia. Innovesia percaya, kolaborasi melalui open innovation mampu menawarkan berbagai perspektif yang membantu memecahkan masalah dengan lebih baik, tak terkecuali di bidang kesehatan.

Sebagai perusahaan konsultasi yang paham betul pentingnya memahami kebutuhan pengguna sebagai dasar dalam berinovasi, Innovesia telah dipercaya lebih dari 100 mitra termasuk mereka yang berjuang membangun layanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Indonesia. Innovesia dipercaya UNICEF untuk mempelajari pemahaman siswa sekolah mengenai Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di Indonesia.

Kurangnya edukasi dan maraknya stigma negatif terkait menstruasi menjadi tantangan tersendiri bagi implementasi MKM di tanah air.  Hal itu tidak lain terjadi karena rasa tidak nyaman yang dialami murid perempuan. Masalah lain juga timbul dari perundungan yang mereka terima, terlebih jika tampak noda menstruasi pada rok murid perempuan.

Situasi inilah yang melatari kerja sama UNICEF dan Innovesia untuk memahami permasalahan nyata yang dialami murid terkait menstruasi di lima kota besar di indonesia yakni, Surabaya, Banda Aceh, Kupang, Makassar dan Jayapura. Pemahaman ini dibutuhkan untuk selanjutnya membangun kesadaran murid dan sekolah tentang pentingnya MKM.

Dari tahap berempati inilah kemudian dihasilkan sejumlah prototype untuk mengedukasi para murid terkait menstruasi, khususnya MKM itu sendiri. Beberapa prototype di antaranya, pembuatan sarana informasi dan edukasi seperti mading kelas atau sekolah, website, buku cerita hingga aplikasi mobile yang tidak hanya mampu memberikan edukasi tapi juga menghubungkan para murid dengan para pakar untuk bisa berkonsultasi lebih lanjut mengenai MKM.

Pada kesempatan lain, Innovesia juga dipercaya memperkenalkan open innovation dalam Evidence Summit 2017, sebuah program kajian mengenai bagaimana menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia dengan mengumpulkan seluruh bukti permasalahan di setiap daerah. 

Diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia () dan sebuah lembaga layanan kesehatan internasional yang mengkhususkan diri dalam kesehatan ibu dan bayi baru lahir, Evidence Summit dihadiri para pemangku kepentingan yang berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi, lembaga penelitian, sektor swasta, lembaga donor atau bantuan, dan masih banyak lagi. Tujuan utamanya adalah untuk berbagi dan menyajikan data aktual terkait angka kematian ibu di berbagai daerah di Indonesia.

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/ragam-inovasi-medis-bantu-hapus-hambatan-perawatan-pasien-diabetes/feed/ 0
Pecahkan Diagnosa Penyakit Langka, CrowdMed Gunakan Metode Crowdsourcing https://designthinking.id/kesehatan/pecahkan-diagnosa-penyakit-langka-crowdmed-gunakan-metode-crowdsourcing/ https://designthinking.id/kesehatan/pecahkan-diagnosa-penyakit-langka-crowdmed-gunakan-metode-crowdsourcing/#respond Wed, 28 Jun 2023 05:51:34 +0000 https://designthinking.id/?p=1242 Semua bermula ketika Sarah menyelesaikan perjalanan backpacking di Upper Peninsula, sebuah kawasan hutan di Michigan pada 2009 silam. Selepas aktivitas beratnya itu, perempuan yang memiliki nama lengkap Sarah Sheridan itu mulai merasa terkena flu. Namun, kesehatannya terus menurun hingga membuatnya kehilangan banyak berat badan hingga 13 kilogram.

backpacking

Sarah juga selalu merasakan kelelahan dan rasa sakit yang luar biasa di persendiannya. Semakin lama, Sarah merasa sulit berkonsentrasi atau berpikir jernih. Saat itu, ia menyadari bahwa tubuhnya tidak baik-baik saja dan jelas ada sesuatu yang tengah terjadi.

Selama lebih dari tiga tahun, Sarah bolak-balik rawat inap di rumah sakit. Ia juga melakukan banyak tes kesehatan yang tak terhitung jumlahnya. Entah berapa ratusan ribu dollar AS telah ia dan keluarga keluarkan untuk membayar tagihan medis yang membengkak. Meski begitu, Sarah dan keluarga tak kunjung mendapatkan jawaban pasti atas penyakit apa yang sebenarnya ia derita.

Setelah banyaknya tes kesehatan yang ia lakukan, dokter memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan tes kesehatan lebih lanjut hingga Sarah menjalani evaluasi psikiatri. Artinya, dokter mengira Sarah hanya membual atau membayangkan semua gejala yang ia alami selama ini. Dengan kondisi yang memburuk, Sarah merasa semakin putus asa.

Pertemuan yang Mengarah ke Diagnosis yang Mengejutkan

Pertemuan yang Mengarah ke Diagnosis yang Mengejutkan

Sarah sebenarnya sudah pernah menjalani tes darah awal untuk penyakit Lyme dan hasilnya negatif. Terlebih, Sarah juga tidak menunjukkan ruam pada kulit yang merupakan gejala utama penyakit ini. Meski begitu, wanita yang ia temui tetap merekomendasikannya ke laboratorium penelitian yang berspesialisasi dalam penyakit Lyme.

Pada sisi lain, ayah sarah yang kala itu tengah mengajar kewirausahaan di University of Michigan, bertemu dengan seorang investor yang merekomendasikan ayah Sarah untuk menyerahkan kasus anaknya yang sulit guna memvalidasi atau menguji sistem awal CrowdMed, yang masih dalam tahap pengembangan. 

Sekitar 100 tenaga kesehatan berpartisipasi dalam kasus Sarah. Mereka bekerja dari informasi medis yang sama persis seperti yang Sarah bagikan kepada dokternya di rumah sakit.

Hebatnya, metode crowdsourcing yang digunakan CrowdMed mencapai kesimpulan diagnostik hanya dalam beberapa hari, yakni Sarah menderita penyakit Lyme. Temuan ini persis dengan hasil tes komprehensif yang Sarah jalankan di laboratorium yang berspesialis di penyakit Lyme.

crowdsourcing

Cara Kerja CrowdMed yang Inovatif

Cara Kerja CrowdMed yang Inovatif

CrowdMed dalam hal ini mampu menyelesaikan masalah terbesar pada sistem perawatan kesehatan saat ini, yaitu silo-nya keahlian medis. Keahlian medis yang silo ini adalah keengganan untuk berbagi informasi dengan tenaga kesehatan dari divisi yang berbeda. Padahal, dengan lebih dari 13.000 penyakit dan gangguan yang diketahui, sangat tidak mungkin seorang dokter mengetahui setiap kemungkinan kondisi yang terkait dengan setiap rangkaian gejala pasien.

silo
silo

CrowdMed berupaya menyelesaikan masalah ini dengan memanfaatkan crowdsourcing tenaga kesehatan untuk membantu menyelesaikan kasus medis yang sulit dengan cepat dan akurat secara daring. CrowdMed memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman lebih dari 20.000 dokter, perawat, ilmuwan, ahli naturopati, dan ahli kesehatan lainnya untuk berkonsultasi dan memberi nasihat tentang suatu kasus medis.

go to website
crowdsourcing

Pasien dengan misteri medis yang belum terpecahkan dapat mengunggah gejala mereka ke CrowdMed. Pasien kemudian akan diminta menjawab serangkaian pertanyaan medis yang komprehensif, mengunggah hasil tes diagnostik dan pencitraan yang relevan. Kemudian komunitas CrowdMed yang terdiri dari ribuan tenaga medis yang berkolaborasi akan memecahkan kasus kesehatan melalui berbagai fitur di CrowdMed. Berdasarkan jawaban para ahli, algoritma CrowdMed nantinya akan menetapkan probabilitas untuk setiap diagnosis dan solusi.

Pasien kemudian dapat menggunakan hasil analisa CrowdMed dalam konsultasi dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan lainnya untuk akhirnya mendapatkan jawaban atas kondisi mereka dan bagaimana pengobatan dapat dilakukan. CrowdMed jelas bermanfaat bagi orang-orang dengan kasus kesehatan kompleks atau langka melalui pengarahan yang lebih dekat pada diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Bermula dari Kebutuhan Mendesak

Bermula dari Kebutuhan Mendesak

Berdirinya CrowdMed bermula ketika pendirinya, Jared Heyman, dihadapkan pada kenyataan sulit ketika sang adik tak kunjung mendapat jawaban pasti atas penyakit yang ia derita, terlepas dari tiga tahun waktu berjuang yang telah dihabiskan. Sang adik, Carly jelas menderita kondisi medis yang serius. Namun, meski sudah menemui hampir 20 dokter dengan berbagai spesialis dan melakukan tes kesehatan yang tak terhitung jumlahnya, Carly masih tidak memiliki penjelasan untuk gejala yang melemahkan tubuhnya.

Carly pernah menjadi remaja yang bersemangat dan sehat, tetapi saat itu ia hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur hingga membuatnya putus asa. Akhirnya, setelah melalui kesempatan langka untuk berkonsultasi dengan tim pakar medis interdisipliner terkemuka dari Institut Kesehatan Nasional AS, Carly menerima jawaban. Ia didiagnosa menderita Fragile X-associated primary ovarian insufficiency (FXPOI), sebuah mutasi genetik langka dengan rasio satu banding 15.000 orang.

Fragile X-associated primary ovarian insufficiency (FXPOI),

Perjuangan Carly inilah yang mendorong Jared Heyman mengembangkan cara membantu orang lain yang sangat membutuhkan jawaban dan merasa tidak didengarkan oleh sistem perawatan kesehatan tradisional. Kasus medis Carly akhirnya diselesaikan dengan kolaborasi tim ahli medis interdisipliner, karenanya CrowdMed membawa model ini ke tingkat selanjutnya. 

Heyman menggunakan metode crowdsourcing yang dipatenkan dan platform daring yang mengumpulkan kecerdasan kolektif dan memfasilitasi kolaborasi para pakar medis. Dikombinasikan dengan analitik canggih, CrowdMed menghasilkan saran diagnostik dan solusi yang disajikan kepada pasien dalam waktu singkat.

crowdsourcing

Dengan metode crowdsourcing yang inovatif ini, CrowdMed telah menyelesaikan lebih dari 1.000 kasus medis dengan tingkat keberhasilan lebih dari 60%, untuk pasien yang rata-rata telah sakit selama 7 tahun, mengunjungi 8 dokter, dan mengeluarkan biaya pengobatan lebih dari USD 70.000 (Rp1 miliar) sebelum akhirnya berkonsultasi di CrowdMed. Adapun waktu penyelesaian kasus rata-rata adalah 2-3 bulan dan biayanya kurang dari USD 500 (Rp7,7 juta) per kasus.

crowdsourcing

Mengenal Metode Crowdsourcing yang Digunakan CrowdMed

Mengenal Metode Crowdsourcing yang Digunakan CrowdMed

Dalam konteks inovasi, crowdsourcing merupakan jenis open innovation atau inovasi terbuka yang memungkinkan perusahaan menggunakan sumber daya dari luar untuk memunculkan ide-ide inovasi. Lebih jelasnya, crowdsourcing ditujukan untuk menghimpun banyak orang demi mencapai suatu tujuan.

crowdsourcing
open innovation
crowdsourcing

Dalam kasus CrowdMed, mengetahui pentingnya kolaborasi dalam menuntaskan masalah dalam layanan kesehatan tradisional. CrowdMed memanfaatkan pengetahuan ribuan tenaga medis dari berbagai spesialis dan latar belakang untuk berkolaborasi, menuangkan perspektif mereka dalam membantu diagnosa kasus kesehatan dengan lebih akurat.

open innovation
open innovation

Dengan kepercayaan ini, Innovesia telah membantu sejumlah mitra dari berbagai latar belakang, tak terkecuali di sektor pelayanan kesehatan untuk menghasilkan solusi inovatif melalui kolaborasi.

Innovesia juga dipercaya memperkenalkan open innovation dalam Evidence Summit 2017, sebuah program kajian mengenai bagaimana menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia dengan mengumpulkan seluruh bukti permasalahan di setiap daerah. 

open innovation

]]>
https://designthinking.id/kesehatan/pecahkan-diagnosa-penyakit-langka-crowdmed-gunakan-metode-crowdsourcing/feed/ 0
7 Produk dan Jasa yang Dibuat Melalui Design Thinking, Ada dari Indonesia! https://designthinking.id/teknologi/7-produk-dan-jasa-yang-dibuat-melalui-design-thinking-ada-dari-indonesia/ https://designthinking.id/teknologi/7-produk-dan-jasa-yang-dibuat-melalui-design-thinking-ada-dari-indonesia/#respond Thu, 15 Jun 2023 08:23:22 +0000 https://designthinking.id/?p=1190 design thinking

Bahkan, mulai dari perusahaan rintisan atau startup, organisasi nirlaba, hingga perusahaan besar sekalipun telah mengadopsi pendekatan design thinking yang mengarahkan mereka pada ide-ide inovatif sesuai kebutuhan penggunanya. Sebut saja, perusahaan teknologi medis multinasional Amerika GE HealthCare, raksasa platform streaming dunia Netflix, mesin pencari terbesar Google, dan masih banyak lagi. Mereka terkenal kerap mengadopsi design thinking untuk mengembangkan solusi yang efektif ketika dihadapkan dengan masalah bisnis. 

startup
design thinking
streaming
design thinking

Tapi, apa yang membuat design thinking begitu berguna bagi keberlangsungan bisnis?

design thinking

Tak seperti metode inovasi lainnya, design thinking mengedepankan pola pikir untuk berempati dengan masalah yang berfokus pada manusia, untuk kemudian menemukan pendekatan dan ide-ide inovatif melalui visualisasi dan prototype. Dengan begitu, apa yang dihasilkan oleh design thinking baik produk maupun layanan sudah pasti memenuhi kebutuhan pengguna. 

design thinking
prototype
design thinking
State of the Connected Customer

Selain itu, design thinking menekankan pada siklus berpikir terus-menerus, dengan menyediakan ruang untuk improvisasi secara kontinyu dalam berempati-uji-kegagalan-sukses-empati dan sebagainya. Proses yang berulang inilah yang mampu meningkatkan kemampuan seseorang untuk mempertanyakan masalah, meragukan asumsi dan implikasinya. Atas dasar itu, penerapan design thinking mampu mendorong perusahaan untuk menciptakan solusi yang memenuhi kebutuhan nyata pelanggan mereka.

design thinking
design thinking

Berikut 7 produk dan jasa yang diciptakan menggunakan pendekatan design thinking:

design thinking:

1. Kebun Agrowisata Pulung Kencana

1. Kebun Agrowisata Pulung Kencana

Tidak memiliki sumber daya alam dan destinasi pariwisata yang kompetitif, Bupati Tulang Bawang Barat atau Tubaba periode 2014-2022, Umar Ahmad tergerak meningkatkan kompetensi masyarakat Kabupaten Tubaba melalui lokakarya design thinking bersama Innovesia. Melibatkan 1.000 penduduk Tubaba, Umar menyadari banyak hal yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan kompetensi masyarakat Tubaba, mulai dari kesehatan, pendidikan gratis, pertanian dan masih banyak lagi.

design thinking

Kebun Agrowisata Pulung Kencana (Sumber: tampabatas.com)

Kebun Agrowisata Pulung Kencana (Sumber: tampabatas.com)

Dari 50 ide inovasi yang terkumpul dan dibuat menjadi prototype, Umar mewujudkan salah satunya, yaitu Kebun Agrowisata Pulung Kencana yang edukatif. Di dalam taman agrowisata ini dikembangkan berbagai jenis tanaman buah-buahan unggul. Kebun Agrowisata Pulung Kencana juga menjadi lokasi riset dan praktik pertanian tentang berbagai tanaman, yang pada akhirnya akan dilepaskan ke petani untuk dikembangkan lebih lanjut.

prototype

2. MASKIT

2. MASKIT

Dengan bimbingan Direktorat dan Inovasi Bisnis (DIIB) Universitas Indonesia serta Innovesia, keempat mahasiswa menciptakan terobosan masker dengan filter berteknologi karbon aktif dan nano silver yang dapat diganti dan efektif membunuh bakteri dan polusi lebih dari 90 persen. 

Filter MASKIT (Sumber: Kemenristek)

Filter MASKIT (Sumber: Kemenristek)

3. Uber Eats

3. Uber Eats

Menyadari bahwa layanan yang diciptakannya harus mampu memenuhi kebutuhan pelanggan di setiap kota yang berbeda-beda, desainer Uber Eats secara teratur melakukan perjalanan ke pasar yang berbeda untuk merasakan budaya makanan,  dan mempelajari infrastruktur transportasi dan logistik. Tim desainer juga mewawancarai mitra pengiriman, pekerja restoran, dan konsumen untuk membangun pemahaman menyeluruh tentang berbagai pasar dan pelanggan Uber Eats.

Tak hanya itu, Uber melalui program Fireside chats secara rutin mengundang mitra driver, pekerja restoran, dan konsumen ke kantor mereka untuk mendiskusikan pengalaman mereka dengan Uber Eats. Sesi ini memberikan Uber cara yang mudah untuk berempati dengan pelanggannya.


driver

4. Airbnb

4. Airbnb
host
founder

Ketika Airbnb menyadari bahwa orang-orang skeptis terhadap akomodasi yang tersedia, mereka mengunjungi semua mitra di New York, berbicara dengan tuan rumah dan menyadari bahwa kualitas foto yang buruk memang menjadi masalah bisnis mereka.

Dari sana, Airbnb mengirim tiga orang untuk mengunjungi seluruh daftar properti pelanggan, dan membantu mereka mengambil foto berkualitas tinggi. Hasilnya, pendapatan mingguan Airbnb meningkat menjadi USD 400 per minggu. Angka ini sekaligus menjadi peningkatan keuangan pertama yang dilihat perusahaan dalam lebih dari delapan bulan. Hingga kini, Airbnb terus mendorong karyawannya untuk menguji ide dan memahami orang yang menggunakan platform mereka.

5. GE Healthcare

5. GE Healthcare

Berempati terhadap ketakutan anak-anak akan proses pemeriksaan medis di rumah sakit, khususnya dengan mesin MRI, Doug Dietz seorang arsitek yang telah lama bekerja di GE HealthCare, mengembangkan desain MRI yang ramah anak. 

Mesin MRI ramah anak karya GE HealthCare melalui design thinking. (Sumber: GE HealthCare)

Mesin MRI ramah anak karya GE HealthCare melalui design thinking. (Sumber: GE HealthCare)
design thinking.

Berkat solusi kreatifnya, skor kepuasan pasien naik 90%. Anak-anak tidak menderita kecemasan lagi. Mesin MRI ramah anak itu juga memudahkan anak-anak untuk tetap diam selama prosedur, yang pada gilirannya mencegah dokter untuk mengulangi pemindaian. Artinya, lebih banyak pasien yang dapat dipindai setiap harinya.

6. Voting Solutions for All People (VSAP)

6. Voting Solutions for All People (VSAP)

Sebagai yurisdiksi pemungutan suara terbesar di Amerika Serikat, Los Angeles, menghadapi masalah ketika sistem pemungutan suara yang dirancang pada tahun 1960-an, mulai ketinggalan zaman dan rentan. Pemerintah LA kemudian berkolaborasi dengan Digital Foundry, Cambridge Consultants, dan IDEO, menciptakan perangkat pemungutan suara baru yang intuitif.

Mesin pemungutan suara Voting Solutions for All People (VSAP) yang dibuat melalui pendekatan design thinking. (Sumber: VSAP)

Mesin pemungutan suara Voting Solutions for All People (VSAP) yang dibuat melalui pendekatan design thinking. (Sumber: VSAP)
design thinking.
more hints

Dengan memahami seluruh kebutuhan penduduk dari semua latar belakang, termasuk orang dengan penglihatan rendah atau tuli, menggunakan kursi roda, keterbatasan bahasa dan ketidakmampuan belajar, tim menciptakan mesin pemungutan suara yang dapat disesuaikan untuk pengalaman pengguna yang berbeda.

7. Bedsider

7. Bedsider

Kehamilan yang tidak direncanakan telah menjadi masalah besar di kalangan remaja berusia 18 hingga 29 tahun di Amerika Serikat. Mengatasi masalah ini, National Campaign to Prevent Teen and Unplanned Pregnancy atau yang kini dikenal dengan Power to Decide bersama IDEO berupaya mengidentifikasi kebutuhan akan dukungan kontrasepsi yang komprehensif. 

birth control.
prototype

Hasilnya, Bedsider terbukti mampu mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Di mana dari seluruh wanita berusia 18 hingga 29 tahun yang berpartisipasi dalam uji coba terkontrol acak selama setahun, wanita yang berada di dalam kelompok Bedsider memiliki 2,54 kali lebih kecil kemungkinannya untuk melakukan hubungan seks tanpa pengaman.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/7-produk-dan-jasa-yang-dibuat-melalui-design-thinking-ada-dari-indonesia/feed/ 0