Gaya Hidup – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 04:52:37 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Gaya Hidup – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 3 Ajang Open Innovation Bantu Pemerintah Hadapi Isu Lingkungan dan Sosial https://designthinking.id/gaya-hidup/3-ajang-open-innovation-bantu-pemerintah-hadapi-isu-lingkungan-dan-sosial/ https://designthinking.id/gaya-hidup/3-ajang-open-innovation-bantu-pemerintah-hadapi-isu-lingkungan-dan-sosial/#respond Wed, 25 Oct 2023 09:55:04 +0000 https://designthinking.id/?p=2248

Open innovation atau inovasi terbuka tak hanya menawarkan cara baru bagi pemerintah dalam mengatasi masalah yang kompleks, tapi juga meningkatkan keterlibatan dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Mulai dari perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, hingga kesenjangan sosial, pemerintah dituntut masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan yang kian mendesak. Sayangnya, solusi yang diperlukan jarang sekali hadir dari sektor pemerintahan itu sendiri. Dalam menyelesaikan isu sosial dan lingkungan yang semakin menantang, pemerintah dituntut untuk  berkolaborasi dengan berbagai pihak dari berbagai sektor.

Dalam laporan bertajuk The Nine Trends Reshaping Government in 2023, Deloitte menekankan bahwa pencapaian tujuan kebijakan publik semakin bergantung pada upaya terkoordinasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk memanfaatkan pengetahuan bersama dan kekuatan unik dalam rangka mendorong solusi yang inovatif. 

Berkat kerja sama dengan sektor swasta melalui open innovation, pemerintah mempunyai potensi besar untuk menghadirkan solusi inovatif guna menciptakan manfaat sosial dan lingkungan yang nyata bagi seluruh penduduknya. Dalam hal ini, open innovation dinilai sangat berguna untuk menemukan pendekatan dan solusi baru terhadap permasalahan sosial serta lingkungan yang mendesak dan belum terpecahkan.

Open innovation juga mampu menstimulasi pemerintah untuk menemukan cara-cara baru agar dapat bekerja dengan cara yang lebih tangkas dibandingkan kerangka kerja konvensional yang silo. 

Pendekatan open innovation juga membuka jalan untuk membangun sistem pemerintahan yang terbuka dan proses demokrasi berskala besar karena memungkinkan siapapun untuk berpartisipasi menjawab isu-isu kompleks yang dihadapi masyarakat. Pada akhirnya, keterlibatan sektor swasta dan masyarakat dalam open innovation memungkinkan meningkatnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah.

Berikut tiga inisiatif open innovation yang berhasil menghubungkan pemerintah dengan pihak swasta untuk menjawab isu sosial dan lingkungan:

1. The InoveMob Challenge

Ilustrasi kepadatan kota (Sumber: Chris Griffin/Flickr)

Seiring pertumbuhan penduduk, pemerintah bertanggung jawab membentuk inovasi dalam sektor mobilitas untuk meningkatkan keselamatan masyarakat dan mengurangi kemacetan. The InoveMob Challenge yang berlangsung pada 2018 menjadi bukti bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan swasta berhasil menciptakan inovasi mobilitas di perkotaan.

Melalui kolaborasi, National Front of Mayors, sebuah organisasi non-partisan yang terdiri dari walikota di seluruh Brasil, Toyota Mobility Foundation dan World Resources Institute (WRI) Brasil berhasil meluncurkan kompetisi inovasi InoveMob Challenge untuk menghadirkan solusi yang dapat meningkatkan mobilitas di sekitar universitas, sekolah, gedung administrasi, dan kawasan pusat bisnis.

Dari 80 proposal yang diajukan, lima di antaranya terpilih menerima dukungan finansial dan teknis untuk proyek percontohan. Mereka adalah Bikxi, layanan ridesharing yang menggunakan sepeda tandem bertenaga listrik sehingga memberikan kenyamanan dan kecepatan berkendara; Carona dan Pé, sebuah inisiatif yang mendorong anak-anak untuk berjalan kaki ke sekolah dengan membuat rute berjalan kaki dan mendorong mereka untuk pergi dalam kelompok yang dipandu; Nina, platform yang memungkinkan pengguna angkutan umum melaporkan pelecehan yang mereka derita atau saksikan; OnBoard Mobility yang menawarkan solusi tiket elektronik untuk angkutan umum untuk menghindari antrean umum di terminal; terakhir Bynd, menawarkan layanan berbagi tumpangan bagi karyawan.

2. Helsinki Energy Challenge

Kick off Helshinky Energy Challenge (Sumber: HEC)

Meski emisi karbon yang dihasilkan kota Helsinki dilaporkan 28% lebih kecil dibandingkan tahun 1990-an, bahan bakar fosil masih menjadi masalah utama di ibukota Finlandia tersebut. Kota berpenduduk 632 ribu jiwa itu masih mengandalkan sistem pemanas yang bersumber dari bahan bakar fosil, yang menyumbang lebih dari separuh total emisi karbon Helsinki.

Fenomena inilah yang mendorong Jan Vapaavuori, yang pernah menjabat sebagai Walikota Helsinki periode 2017-2021, untuk menggelar open innovation. Bertajuk Helsinki Energy Challenge, Jan Vapaavuori menawarkan hadiah €1.000.000 bagi para inovator yang mampu merancang ide inovasi guna mempercepat dekarbonisasi sistem pemanasan kota Helsinki.

Dimulai pada 27 Februari 2020, Helsinki Energy Challenge berlangsung selama setahun dan menginspirasi 252 tim dari 35 negara di seluruh dunia untuk berpartisipasi memerangi krisis iklim. Sepuluh tim dengan ide inovasi terbaik kemudian diundang untuk mengikuti fase co-creation.

Melalui Helsinki Energy Challenge, Helsinki menemukan tidak hanya satu tetapi sepuluh alternatif, di mana empat diantaranya dianggap solusi terbaik untuk menghangatkan seisi kota tanpa bahan bakar fosil.

3. Bristol Smart City Challenge

Kota Bristol (Sumber: alamy)

Dengan populasi penduduk yang diproyeksikan meningkat sebesar 15% selama periode 2018-2043 dan mencapai total populasi 532.700 pada tahun 2043, pemerintah Bristol dituntut untuk membangun 24.000 rumah baru dengan harga terjangkau untuk menyelesaikan kesenjangan ekonomi di kota tersebut. Namun, rencana pembangunan puluhan ribu rumah baru ini membuka risiko terhadap krisis iklim.

Pasalnya, perumahan dilaporkan menyumbang sekitar 40% dari total jejak karbon atau carbon footprint di Inggris, di mana separuh dari jumlah tersebut berasal dari energi yang digunakan dalam bangunan dan infrastruktur, dan 28% berasal dari bahan yang digunakan dalam konstruksi bangunan. Atas dasar itu, pemerintah Bristol harus mampu menghadirkan hunian berkelanjutan tentunya dengan harga terjangkau yang dinilai kian mustahil.

Tantangan ini mendorong pemerintah Bristol untuk menghadirkan solusi yang merangkul kompleksitas dari hubungan tersebut melalui kompetisi inovasi, Bristol Smart City Challenge. Melalui open innovation, pemerintah Bristol menantang pengembang, investor di sektor ESG, ahli teknologi hunian ramah lingkungan serta pakar keuangan real estat untuk menghadirkan model pembiayaan dalam pembangunan kawasan hunian baru di lahan Brownfield di Bristol yang selama ini dianggap tidak layak, namun dinilai sebagai kunci untuk membuka ratusan rumah yang hemat energi, netral karbon, dan terjangkau.

Pemenang kompetisi, tim Thriving Places terpilih untuk mengembangkan ide mereka lebih lanjut dan mendemonstrasikan solusi mereka di Bristol pada tahun 2023. Solusi dari Thriving Places akan fokus pada penguatan Bristol sebagai kota yang sehat secara holistik. Prioritas mereka mencakup optimalisasi potensi setiap lahan yang kurang dimanfaatkan dan mendefinisikan ulang nilai pembangunan untuk definisi kelayakan yang baru.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/3-ajang-open-innovation-bantu-pemerintah-hadapi-isu-lingkungan-dan-sosial/feed/ 0
Asian Games Hangzhou Rendah Karbon dengan Platform Kecerdasan Buatan https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-rendah-karbon-dengan-platform-kecerdasan-buatan/ https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-rendah-karbon-dengan-platform-kecerdasan-buatan/#respond Mon, 16 Oct 2023 06:46:39 +0000 https://designthinking.id/?p=1637 Maskot memang menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan satu acara dan acara lainnya. Dalam konteks Asian Games, setiap maskot memiliki keunikan karena menggambarkan budaya dan nilai-nilai dari negara tuan rumah, begitu juga dengan Asian Games di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.

Sekilas, tak ada yang berbeda dengan Congcong, Lianlian, dan Chenchen, tiga boneka robot berjuluk ”The Smart Triplets” atau ”Si Kembar Tiga yang Cerdas” dipilih sebagai maskot Asian Games Hangzhou. Ketiganya dipilih sebagai lambang transformasi peradaban baik di Hangzhou maupun Tiongkok yang mengombinasikan warisan budaya dengan keunggulan ragam inovasi teknologi.

Uniknya, ketiga boneka itu dilengkapi dengan QR code atau kode batang yang bisa dipindai. Namun, bukan deskripsi atau arti dari masing-masing maskot yang muncul melainkan sumber produksi hingga jejak karbon atau carbon footprint yang dihasilkan dari proses produksinya.

Ketika di klik, tautan menunjukkan bahwa Chenchen, Congcong, dan Lianlian—memiliki jejak karbon masing-masing sebesar 1,59 kilogram setara karbon dioksida (kg CO2e) per produk. Besaran emisi itu dilaporkan berasal dari penggunaan listrik, bahan baku, dan pengemasan.

Boneka maskot Asian Games ke-19 (Sumber: hangzhou22.cn)

Namun, berkat komitmen produsen dan pemerintah Tiongkok dalam penggunaan energi bersih, jejak karbon setiap boneka dari salah satu maskot itu berhasil dikurangi hingga 0,15 kg CO2e per item, serta mereduksi emisi 1,59 kg CO2e setiap produk dengan skema kredit karbon. Artinya, 1,59 kg CO2e emisi yang sebelumnya dihasilkan dari produksi boneka itu telah berhasil dihilangkan.

Melalui platform ini, para atlet, relawan, kru dan seluruh tamu undangan yang tinggal di Asian Games Villages mengetahui besaran emisi dari setiap aktivitas atau produk yang mereka temui di kawasan tersebut. Harapannya, partisipan dapat terdorong untuk mengadopsi aktivitas atau gaya hidup rendah karbon selama menikmati Asian Games Hangzhou.

Langkah ini diambil Alibaba Cloud untuk mendorong gaya hidup ramah lingkungan mengingat emisi berbasis konsumsi dari produksi barang dan jasa serta aktivitas rumah tangga menyumbang sekitar 53% dari total emisi karbon dioksida di Tiongkok pada tahun 2019, menurut  penelitian Chinese Academy of Sciences yang diterbitkan pada tahun 2021.

Untuk lebih memotivasi peserta Asian Games Hangzhou, Alibaba Cloud juga menyiapkan rewards bagi peserta. Di mana baik atlet, kru, relawan dan tamu undangan yang tinggal di kawasan Asian Games Villages dapat memindai kode batang untuk mencatat aktivitas rendah karbon mereka di aplikasi web. Mulai dari tidak menggunakan kantong plastik ketika berbelanja di supermarket, menggunakan kendaraan umum bertenaga listrik, hingga mengambil foto piring bersih usai makan untuk mengurangi limbah makanan.

Semakin banyak aktivitas rendah karbon yang mereka lakukan, partisipan dapat mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan pin bertema Asian Games edisi terbatas dan produk yang bersertifikat rendah karbon, seperti tas, pakaian, dan boneka di Low Carbon Store yang berdiri di Asian Games Villages.

Membantu Perusahaan Mengurangi Emisi

Platform Energy Expert dalam gelaran Asian Games ke-19 (Sumber: alizila)

Alibaba Cloud juga menerapkan platform keberlanjutan Energy Expert untuk membantu mengurangi emisi dalam produksi produk berlisensi Asian Games dan operasional harian toko-toko di Asian Games Villages, seperti dalam produksi boneka maskot Asian Games Hangzhou. Melalui platform Energy Expert, pabrik Hangzhou Kayford Branding Co., Ltd yang memproduksi boneka Lianlian telah sukarela mengurangi emisi karbon.

Menariknya, perusahaan seperti Hangzhou Kayford Branding Co., Ltd tidak lagi perlu membangun ruang server sendiri mengingat platform Energy Expert berbasis teknologi cloud computing atau komputasi awan.

Cloud memanfaatkan internet sebagai pusat pengolahan dan manajemen data, serta pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang memudahkan kerja manusia. Inilah yang terjadi pada Energy Expert, dengan memungkinkan setiap perusahaan dari berbagai industri menghitung besaran jejak karbon dari operasional serta keseluruhan value chain mereka.

“Dengan teknologi (Energy Expert), industri mengetahui jejak karbonnya dan berupaya membatasinya,” kata William Xiong, Wakil Presiden, Alibaba Cloud Intelligence dan General Manager Enterprise Service Cloud.

Selama gelaran Asian Games Hangzhou, platform berbasis Energy Expert yang disediakan Alibaba Cloud telah menarik lebih dari 310.000 kunjungan untuk berpartisipasi dalam kegiatan rendah karbon di seluruh kawasan Asian Games Villages. Lebih dari 7 ton karbon juga berhasil dikurangi sejak pembukaan desa Asian Games Hangzhou pada tanggal 16 September. Sementara di luar ajang Asian Games, Energy Expert telah melayani sekitar 2.900 perusahaan.

“Alibaba Cloud telah terbukti keahliannya dalam mendukung inisiatif keberlanjutan organisasi dan acara olahraga dengan teknologi digital,” kata William Xiong, Wakil Presiden, Alibaba Cloud Intelligence dan General Manager Enterprise Service Cloud.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-rendah-karbon-dengan-platform-kecerdasan-buatan/feed/ 0
Asian Games Hangzhou Buktikan Komitmen Tiongkok Menuju Sustainability https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-buktikan-komitmen-tiongkok-menuju-sustainability/ https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-buktikan-komitmen-tiongkok-menuju-sustainability/#respond Fri, 13 Oct 2023 08:05:13 +0000 https://designthinking.id/?p=1639

Gelaran Asian Games Hangzhou tidak hanya menjadi panggung bagi para atlet bertalenta, tetapi juga ajang unjuk gigi pemerintah Tiongkok dalam memerangi perubahan iklim.

Setelah melewati 15 hari kompetisi olahraga yang sengit, Asian Games ke-19 resmi berakhir dengan upacara penutupan yang berlangsung di Stadion Pusat Olahraga Olimpiade Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok. Lebih dari 12.000 atlet dari seluruh Asia merayakan pencapaian dan kerja keras mereka selama berkompetisi di 480 cabang olahraga.

Uniknya, meski tanpa atraksi kembang api yang identik dengan perayaan, upacara penutupan Asian Games Hangzhou tetap berlangsung meriah berkat pertunjukkan pesta audiovisual yang didukung oleh teknologi mutakhir. Berkat teknologi kontrol numerik komputer atau computer numerical control (CNC), lapangan stadion diubah menjadi layar dengan 40.000 titik cahaya. Teknologi ini berhasil mengubah rumput lapangan sepak bola menjadi palet warna raksasa yang menyambut para atlet dengan warna dan gambar penuh kilau yang senantiasa berubah-ubah.

Selama 85 menit, ribuan atlet dan tamu undangan yang datang disuguhkan dengan layar proyeksi visual yang memperlihatkan simbol-simbol dari setiap cabang olahraga, proyeksi seribu teratai dan bunga osmanthus raksasa yang merupakan ciri khas Hangzhou. Tak luput pembawa obor digital yang diberi nama “Pioneer” yang melambangkan jutaan orang dalam estafet obor digital.

Upacara penutupan Asia Games ke-19 di Hangzhou, Tiongkok (Sumber: CMG)

Menggabungkan virtual reality (VR) dan augmented reality (AR), Asian Games Hangzhou telah mengurangi emisi jejak karbon melalui penggantian pesta kembang api yang berpolusi dengan kemeriahan audiovisual yang terkesan nyata nan memukau.

“Melalui bunga virtual, Anda dapat merasakan kekuatan alam, kemanusiaan, dan teknologi,” ujar Cui Wei, Wakil Direktur Upacara Penutupan Asian Games ke-19.

Digelar di tengah tantangan keberlanjutan yang semakin digaungkan, pemerintah Tiongkok telah mengambil sikap tegas dalam komitmennya menyelenggarakan Asian Games ke-19 secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, termasuk dalam hal pembangunan venue, pasokan energi, dan operasional acara.

Venue Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Stadion Pusat Olahraga Olimpiade Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok (Sumber: Xinhua)

Di antara 56 venue yang digunakan dalam gelaran Asian Games ke-19 di Hangzhou, hanya 12 venue di antaranya yang baru dibangun sementara puluhan sisanya sekedar direvitalisasi atau dibangun sementara untuk gelaran tersebut. Pembangunan venue-pun dilakukan dengan menganut prinsip ramah lingkungan, cerdas dan hemat sepenuhnya.

Qiu Peihuang, Direktur Departemen Venue, Komite Penyelenggara Asian Games Hangzhou, menjelaskan pembangunan venue dilakukan dengan melibatkan teknologi building information modeling (BIM) yang mampu mensimulasikan seluruh informasi terkait proyek pembangunan ke dalam model tiga dimensi.

Venue Asian Games ke-19 di Hangzhou, Tiongkok (Sumber: Hangzhou2022.cn)

Selain dari proses konstruksi, seluruh venue Asian Games ke-19 di Hangzhou dipastikan menggunakan listrik ramah lingkungan. Bersumber dari tenaga fotovoltaik di Cekungan Qaidam, Kota Jiayuguan, dan Dataran Tinggi Loess di barat laut Tiongkok, serta energi angin dari Hami, Daerah Otonomi Uygur Xinjiang, gelaran Asian Games ke-19 diyakini telah  memangkas penggunaan 76.000 ton batubara dan mengurangi emisi karbon dioksida hingga 15.200 metrik ton.

“Semua listrik kami adalah listrik ramah lingkungan. Semua venue harus menggunakan listrik ramah lingkungan selama kompetisi,” ujar Qiu Peihuang.

Walaupun ajang Asian Games ke-19 di Hangzhou telah berakhir, gedung-gedung olahraga yang baru dibangun khusus untuk ajang olahraga se-Asia itu akan dialih fungsikan menjadi pusat kebugaran bagi warga setempat.

Qiu Peihuang menekankan, pihaknya juga telah bekerja sama dengan banyak perusahaan untuk mengalih fungsikan venue Asian Games menjadi lokasi komersial seperti konser musik, pesta, atau bahkan kompetisi olahraga tingkat lokal dan nasional. Semuanya telah dipikirkan dengan matang bahkan sebelum proses konstruksi dilakukan.

“Kami telah sepenuhnya mempertimbangkan penggunaan kembali tempat dalam periode perencanaan dan konstruksi. Di satu sisi banyak venue yang akan menjadi pusat kebugaran warga di beberapa daerah, dan di sisi lain banyak venue yang akan bekerjasama dengan perusahaan komersial. Sebenarnya, selama setahun terakhir operasi uji coba, banyak venue telah mengadakan konser, pesta, kegiatan olahraga,” tutur Qiu Peihuang.

]]>
https://designthinking.id/teknologi/asian-games-hangzhou-buktikan-komitmen-tiongkok-menuju-sustainability/feed/ 0
EIGER Innoventure Ajak Inovator Indonesia Rancang Produk Hingga Strategi Pemasaran Baru https://designthinking.id/gaya-hidup/eiger-innoventure-ajak-inovator-indonesia-rancang-produk-hingga-strategi-pemasaran-baru/ https://designthinking.id/gaya-hidup/eiger-innoventure-ajak-inovator-indonesia-rancang-produk-hingga-strategi-pemasaran-baru/#respond Fri, 22 Sep 2023 06:44:29 +0000 https://designthinking.id/?p=1586 Sebagai merek asli Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1989 silam, EIGER tumbuh berkat kreativitas ribuan anak bangsa. Karena itulah EIGER Innoventure mengajak siapapun untuk menciptakan inovasi yang menggemparkan, bahkan mengubah cara kita memaknai, menikmati dan menjelajahi petualangan di alam bebas.

Terbuka untuk umum sejak Agustus 2023, EIGER Innoventure diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang bukan hanya membuat bisnis semakin kompetitif di pasar industri, tapi juga menghasilkan kebaruan dan memecahkan masalah bagi setiap segmen pasar secara efektif.

Marketing General Manager EIGER, Jason Wuysang menjelaskan Eiger Innoventure berfokus memenuhi kebutuhan segmen aspirasional, yakni mereka yang aktif secara sosial dan gemar berpetualang selagi tetap peduli terhadap penampilan dan gaya mereka, serta mengutamakan  kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.

“Innoventure terbuka untuk kalian yang memiliki solusi inovatif bagi para petualang di segmen aspirasional. Apakah kamu seorang wirausaha pemula, inovator, atau hanya seseorang dengan ide brilian, kami mendorong kamu untuk berpartisipasi dan wujudkan visi kamu bersama EIGER,” ujar Jason.

Adapun para peserta EIGER Innoventure dapat mengirimkan ide inovasi dalam tiga kategori, yakni kategori Pakaian dan Peralatan Luar Ruang, Inovasi Produk Digital, dan terakhir Inovasi Strategi Marketing.

Pada kategori Pakaian dan Peralatan Luar Ruang, EIGER mengajak para peserta yang menyukai eksplorasi kegiatan luar ruangan dan memiliki kemampuan desain untuk mengembangkan ide-ide brilian dalam mendesain pakaian dan peralatan aktivitas luar ruang yang berkualitas dengan estetika sebagai prioritas utama.

Sementara untuk peserta yang ahli dalam bidang teknologi, kategori Inovasi Produk Digital membuka kesempatan bagi peserta untuk mengembangkan aplikasi, platform atau produk digital lainnya yang mampu memperkaya pengalaman dunia luar ruang. Misalnya, aplikasi yang mampu memudahkan para pendaki untuk mencari rute pendakian terbaik atau sebatas platform berbagi yang mampu menjadi tempat para pendaki bertukar pengalaman.

Terakhir, kategori Inovasi Strategi Marketing dikhususkan bagi peserta yang memiliki jiwa bisnis dan akrab dengan dunia pemasaran atau marketing. Pada kategori ini, peserta dapat mengirimkan ide atau strategi pemasaran yang out of the box untuk mempromosikan projek EIGER Green, lini pakaian dan peralatan luar ruang EIGER yang mengutamakan kelestarian lingkungan.

“Selama ide itu sejalan dengan tujuan utama INNOVENTURE, yakni menyediakan kesempatan kegiatan luar ruang bagi segmen aspirational yang terkadang terbatas oleh waktu, pengetahuan, dan akses. Kami mengundang ide-ide inovasi terbaik kamu untuk mengubah pengalaman kegiatan outdoor,” kata Jason.

Tak hanya sebatas mengirimkan ide inovasi, para peserta dengan ide inovasi yang paling menarik dan mampu diaplikasikan akan dibekali dengan mentoring bersama sejumlah ahli dari berbagai industri. Dengan begitu ide inovasi setiap finalis akan ditajamkan dan dimatangkan guna diimplementasikan EIGER selaku penyelenggara Inovasi.

Mengenali Manfaat Crowdsourcing

Seperti yang dilakukan EIGER, crowdsourcing yang merupakan salah satu bentuk open innovation memang telah diimplementasikan banyak bisnis. Dengan memanfaatkan keramaian atau crowd, perusahaan atau entitas organisasi lain mampu menghimpun ide inovasi secara masif dalam waktu yang singkat.

EIGER dalam hal ini menggunakan open innovation sebagai sarana untuk menghimpun ide inovasi dalam tiga aspek, yakni pengembangan produk, layanan, hingga strategi pemasaran.

Dengan mengundang kelompok pemikir atau inovator, crowdsourcing juga memungkinkan EIGER untuk berinovasi secara cepat. Perusahaan tidak perlu mempekerjakan para ahli, insinyur, atau membangun laboratorium inovasi dan menghabiskan banyak waktu untuk merancang produk dan layanan baru. Mereka hanya perlu meluncurkan tantangan atau pertanyaan, menyusun tujuan atau goals, menyusun metodologi crowdsourcing secara komprehensif dan memberikan insentif bagi pihak yang mengurunkan dayanya.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/eiger-innoventure-ajak-inovator-indonesia-rancang-produk-hingga-strategi-pemasaran-baru/feed/ 0
Kompetisi Inovasi Dorong Pemerintah Bristol Bangun Hunian Ramah Lingkungan yang Terjangkau https://designthinking.id/gaya-hidup/kompetisi-inovasi-dorong-pemerintah-bristol-bangun-hunian-ramah-lingkungan-yang-terjangkau/ https://designthinking.id/gaya-hidup/kompetisi-inovasi-dorong-pemerintah-bristol-bangun-hunian-ramah-lingkungan-yang-terjangkau/#respond Tue, 19 Sep 2023 08:15:06 +0000 https://designthinking.id/?p=1577 Salah satu kota terpadat di Inggris, Bristol, tengah dihadapkan dengan krisis perumahan sekaligus krisis iklim secara bersamaan. Sebagai kota dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, masih banyak penduduk Bristol yang belum memiliki hunian tetap. Tercatat, lebih dari 15.000 individu dan keluarga di Bristol berada dalam daftar tunggu perumahan dan lebih dari 800 rumah tangga berada di akomodasi sementara.

Dengan populasi penduduk yang diproyeksikan meningkat sebesar 15% selama periode 2018-2043 dan mencapai total populasi 532.700 pada tahun 2043, Pemerintah Bristol menargetkan membangun 24.000 rumah baru yang terjangkau pada 2050. Namun, rencana pembangunan puluhan ribu rumah baru ini bukan tanpa risiko.

Pasalnya, perumahan dilaporkan menyumbang sekitar 40% dari total jejak karbon atau carbon footprint di Inggris, di mana separuh dari jumlah tersebut berasal dari energi yang digunakan dalam bangunan dan infrastruktur, dan 28% berasal dari bahan yang digunakan dalam konstruksi bangunan.

Angka-angka ini jelas menjadi tantangan tersendiri bagi Bristol yang telah mendeklarasikan darurat iklim pada tahun 2018 dan berkomitmen untuk mencapai net zero emission serta netralitas karbon pada tahun 2030. Mencapai emisi nol bersih jelas sangat penting bagi Bristol mengingat dalam skenario emisi tinggi, pada tahun 2080, Bristol diperkirakan akan mengalami kenaikan permukaan air laut hingga 72 cm di garis pantai Bristol.

Tingkat curah hujan musim dingin bisa meningkat hingga 48% sementara suhu maksimum ketika musim panas diperkirakan meningkat lebih dari 9 derajat Celcius. Lebih parahnya, tingkat curah hujan selama musim panas di Bristol juga diproyeksi menurun hingga 68% pada tahun 2080.

Menghadirkan hunian yang berkelanjutan jelas menjadi prioritas Bristol. Pemerintah harus mampu menghadirkan puluhan ribu hunian tanpa menambah jejak karbon dan menjauhkan Bristol dari bahaya krisis iklim yang mengintainya di masa depan. Pada sisi lain, biaya yang dibutuhkan untuk membangun hunian sejenis ini tentulah tidak murah sehingga hampir mustahil untuk membuatnya tersedia dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Atas dasar itu diperlukan model keuangan baru untuk mencapai prioritas netralitas karbon dan perumahan yang terjangkau.

Kepadatan Kota Bristol, Inggris. (Sumber: raconteur.net)

Tantangan ini mendorong pemerintah Bristol untuk menghadirkan solusi yang merangkul kompleksitas dari hubungan tersebut melalui kompetisi inovasi, Bristol Smart City Challenge. Berkolaborasi dengan Nesta Challenge dan UN-Habitat, Bristol Smart City Challenge mencerminkan komitmen pemerintah Bristol dalam mendorong inovasi dan pemahaman akan bagaimana menyeimbangkan kebutuhan dekarbonisasi dengan kebutuhan untuk menciptakan rumah yang benar-benar terjangkau agar dapat memerangi kesenjangan sosial.

“Atas tujuan ini, saya bersemangat untuk bekerja sama dengan Nesta Challenge, dan UN-Habitat dalam menghadirkan tantangan yang tidak mengabaikan kompleksitas masalah ini dan menyambut baik perbincangan tentang solusi bagi keseluruhan masalah,” ujar Marvin Rees, Walikota Bristol.

Melalui Bristol Smart City Challenge, pemerintah Bristol menantang pengembang, investor di sektor ESG, ahli teknologi hunian ramah lingkungan serta pakar keuangan real estat dari seluruh dunia untuk menghadirkan model pembiayaan dalam pembangunan kawasan hunian baru di lahan Brownfield di Bristol yang selama ini dianggap tidak layak, namun dinilai sebagai kunci untuk membuka ratusan rumah yang hemat energi, netral karbon, dan terjangkau.

“Kompetisi ini juga mencerminkan penerapan pendekatan Satu Kota, dimana para pemangku kepentingan di seluruh kota berkolaborasi untuk mengartikulasikan tantangan yang dihadapi Bristol dan solusi yang dibutuhkan dari para inovator global. Saya berharap, melalui kemitraan dengan organisasi-organisasi internasional ini, kita akan mendorong perubahan perilaku dalam cara kita mengembangkan dan membangun rumah serta mengatasi permasalahan kompleks ini bersama-sama sebagai sebuah kota,” tutur Marvin Rees.

Diselenggarakan sejak 2021, tim Thriving Places terpilih untuk mengembangkan ide mereka lebih lanjut dan mendemonstrasikan solusi mereka di Bristol pada tahun 2023. Solusi dari Thriving Places akan fokus pada penguatan Bristol sebagai kota yang sehat secara holistik. Prioritas mereka mencakup optimalisasi potensi setiap lahan yang kurang dimanfaatkan dan mendefinisikan ulang nilai pembangunan untuk definisi kelayakan yang baru. Tujuan utamanya adalah menyediakan perumahan layak bagi semua orang dengan menggunakan solusi cerdas iklim yang netral karbon.

Tim Thriving Places juga akan bekerja sama dengan pemerintah kota, investor, dan mitra lainnya untuk menunjukkan jalur dan kemampuan baru dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, sekaligus berkontribusi terhadap restorasi alam, keadilan sosial, kesehatan, keamanan, lapangan kerja, dan manfaat sosial lainnya.

“Tim Thriving Places merasakan pengalaman bergabung di Bristol Smart City Challenge sebagai pengalaman yang sangat positif. Kompetisi ini menjadi tempat di mana hubungan baru dibentuk dengan banyak finalis berbeda di fase pertama kompetisi, untuk menetaskan ide-ide baru, memprovokasi satu sama lain, dan menantang satu sama lain untuk berpikir berbeda. Hal ini memungkinkan kami untuk membentuk hubungan baru yang belum pernah ada sebelumnya dan benar-benar mempertimbangkan bagaimana kami dapat menjadi berani melalui kekuatan kolektif kami untuk mengatasi tantangan kota Bristol,” ujar Zoe Metcalfe, Client Director di Atkins Global, yang bergabung dalam Thriving Places.

Kedepannya, Marvin Rees berharap Bristol Smart City Challenge dapat memotivasi kota-kota lain di Inggris dan di seluruh dunia untuk menghadapi krisis iklim dengan cara yang baru dan lebih melibatkan masyarakat.

“Bristol adalah salah satu dari 10 kota inti di Inggris yang menyumbang lebih dari seperempat perekonomian negara. Sebagai kota inti, Bristol berada pada posisi yang tepat untuk mempengaruhi perubahan dalam cara masyarakat berinteraksi dengan keadaan darurat iklim, dan untuk mengkatalisis tindakan secara regional, nasional dan internasional,” ujar Marvin Rees.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/kompetisi-inovasi-dorong-pemerintah-bristol-bangun-hunian-ramah-lingkungan-yang-terjangkau/feed/ 0
3 Langkah Mencapai Tujuan ESG dengan Program Inovasi https://designthinking.id/gaya-hidup/3-langkah-mencapai-tujuan-esg-dengan-program-inovasi/ https://designthinking.id/gaya-hidup/3-langkah-mencapai-tujuan-esg-dengan-program-inovasi/#respond Thu, 14 Sep 2023 07:26:20 +0000 https://designthinking.id/?p=1573 Dewasa ini, keberlanjutan perusahaan atau corporate sustainability telah menjadi poin krusial yang harus dicapai perusahaan dengan menerapkan kerangka environmental, social dan governance (ESG). Kebutuhan untuk berpikir dan bertindak sesuai kerangka ESG menjadi semakin mendesak akhir-akhir ini berkat beragam regulasi yang mengatur dan memantau kontribusi riil perusahaan dalam implementasi ESG.

Di tengah desakan untuk menciptakan keberlanjutan perusahaan, banyak perusahaan yang memperluas upaya inovasi untuk mengidentifikasi peluang baru di tiga aspek ESG, juga untuk mengoptimalkan proses yang ada, dan mengatasi permasalahan mendesak dalam implementasi ESG. Tak heran, nilai investasi yang berorientasi pada ESG dilaporkan McKinsey & Company mencapai USD 30 triliun pada 2019, melesat hingga 68% lebih tinggi sejak tahun 2014.

Secara umum, tantangan keberlanjutan jelas memerlukan solusi inovatif. Untuk membangun perusahaan yang bertahan lama, perusahaan diharuskan melakukan perbaikan dan inovasi-inovasi yang sejalan dengan kebutuhan bisnis yang cepat berubah. Perusahaan tak lagi hanya berfokus memikirkan bagaimana bisnis mereka tetap dapat menghasilkan keuntungan dalam waktu yang lama, tapi juga memastikan operasional mereka mampu berdampak positif bagi masyarakat dan stakeholder, juga lingkungan sekitar.

Upaya inovasi dalam hal ini mampu membantu perusahaan mengidentifikasi, menilai dan mengembangkan solusi yang memenuhi kebutuhan ESG. Penting untuk diingat bahwa implementasi ESG bukan hanya tentang mematuhi regulasi atau menjalankan praktik bisnis berkelanjutan, tapi juga tentang menciptakan nilai jangka panjang untuk perusahaan dan masyarakat.

Tak heran jika program inovasi yang terintegrasi dengan prinsip-prinsip ESG dapat membantu perusahaan mencapai tujuan ini dan membangun reputasi berkelanjutan di pasar. Berikut tiga jenis program inovasi yang mampu mempercepat perusahaan mencapai tujuan ESG.

1. Inkubator Startup

Secara definisi, inkubator adalah sebuah program yang ditujukan untuk membantu perkembangan perusahaan rintisan atau startup. Di tengah desakan untuk menerapkan tata kelola dan model bisnis yang berkelanjutan, perusahaan memerlukan kecanggihan teknologi untuk mencapainya dan startup jelas memiliki jawaban atas masalah ini. Dengan kemampuannya untuk mengembangkan teknologi secara cepat, startup dapat membantu perusahaan mengidentifikasi sekaligus menerapkan solusi baru yang mampu memberikan nilai berkelanjutan bagi perusahaan.

Mengenali manfaat ini, L’Oréal meluncurkan program inovasi “Northeast Asia Big Bang Beauty Tech & Innovation Challenge” di Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan. Berkolaborasi dengan startup, L’Oréal mencoba mengembangkan produk kecantikan dan melahirkan beauty experience baru, salah satunya dengan menciptakan alternatif produk kecantikan yang berkelanjutan dan memanfaatkan bioteknologi.

Di Tiongkok sendiri di mana program Big Bang telah lebih dulu diluncurkan, L’Oréal telah menarik lebih dari 1.500 startup dan menginkubasi lebih dari 50 proyek dalam tiga tahun terakhir.

2. Crowdsourcing

Dengan meminta kontribusi dari sekelompok besar orang, crowdsourcing dikenal luas sebagai sarana bagi perusahaan atau organisasi lainnya untuk memperoleh ide inovasi secara masif, tak terkecuali pada setiap kategori ESG. Keuntungan lainnya, crowdsourcing juga memungkinkan perusahaan menunjukkan kepada publik betapa seriusnya langkah yang mereka ambil untuk menerapkan praktik keberlanjutan.

Mengenali manfaat ini, Schneider Electric, perusahaan otomasi digital dan manajemen energi asal Prancis, meluncurkan program Schneider Go Green untuk pelajar di seluruh dunia. Diinisiasi sejak 2010, Schneider Go Green menjadi ajang kompetisi global untuk memfasilitasi generasi muda mencari solusi dalam pengelolaan energi dan automasi industri yang berdampak positif terhadap lingkungan.

3. Membangun Budaya Inovasi Internal

Meski memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan internal dapat mempercepat proses inovasi perusahaan, jangan lupakan kehebatan karyawan. Pasalnya, karyawan yang peka terhadap perubahan dalam lingkungan bisnis dan kebutuhan pelanggan dapat membantu perusahaan dalam mengadaptasi dan merespons perubahan ini dengan inovasi yang sesuai.

PT Pertamina (Persero) misalnya. Meluncurkan New Venture School, perusahaan migas itu berusaha memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh pegawainya untuk meningkatkan keterampilan dan mendorong inovasi dalam ranah transisi energi. Sesuai dengan visi Pertamina sebagai perusahaan berkelanjutan, peningkatan kompetensi memang menjadi salah satu perhatian perusahaan terhadap tenaga kerjanya.

New Venture School menunjukkan komitmen Pertamina dalam implementasi dua aspek ESG yakni, pelestarian lingkungan dan tanggung jawab sosial.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/3-langkah-mencapai-tujuan-esg-dengan-program-inovasi/feed/ 0
Helsinki Energy Challenge, Solusi Inovatif Pemerintah Menuju Kota Netral Karbon https://designthinking.id/gaya-hidup/helsinki-energy-challenge-solusi-inovatif-pemerintah-menuju-kota-netral-karbon/ https://designthinking.id/gaya-hidup/helsinki-energy-challenge-solusi-inovatif-pemerintah-menuju-kota-netral-karbon/#respond Tue, 05 Sep 2023 07:25:08 +0000 https://designthinking.id/?p=1539 Seperti banyak kota lainnya, krisis iklim juga menjadi tantangan paling krusial yang dihadapi kota Helsinki. Meski emisi karbon yang dihasilkan ibukota Finlandia itu tercatat 28% lebih kecil dibandingkan tahun 1990-an, bahan bakar fosil masih menjadi masalah utama di Helsinki.

Kota berpenduduk 632 ribu jiwa itu masih mengandalkan sistem pemanas yang bersumber dari bahan bakar fosil, yang menyumbang lebih dari separuh total emisi karbon Helsinki. Karena iklim dingin, kebutuhan panas di Helsinki memang cukup besar. Pada 2019 tercatat, produksi pemanasan distrik tahunan di Helsinki adalah sekitar 7 Terra Watt hour (TWh) dan lebih dari setengahnya dihasilkan dengan menggunakan batu bara.

Fenomena inilah yang mendasari Jan Vapaavuori, yang pernah menjabat sebagai Walikota Helsinki periode 2017-2021, untuk mengambil pendekatan yang lebih ambisius terhadap kebijakan iklim. Jika tadinya Helsinki ditargetkan untuk menjadi netral karbon (net-zero emission) pada 2050, Vapaavuori mempercepatnya. Ia berambisi membawa Helsinki netral karbon pada 2035, 15 tahun lebih cepat dari target awal.

Visi besar Vapaavuori inilah yang melahirkan kompetisi inovasi Helsinki Energy Challenge. Dengan hadiah €1.000.000, Vapaavuori mengundang para inovator dari seluruh dunia untuk merancang ide inovasi guna mempercepat dekarbonisasi sistem pemanasan kota Helsinki.

“Perubahan iklim adalah krisis global yang tidak dapat diselesaikan melalui perbaikan yang cepat. Melalui Helsinki Energy Challenge, kami mencari solusi inovatif baru, meskipun hal tersebut berarti perubahan signifikan terhadap sistem yang ada saat ini. Kami mengundang inovator dari seluruh dunia untuk memanfaatkan Helsinki sebagai tempat uji coba solusi yang benar-benar berkelanjutan untuk pemanasan perkotaan,” ujar Vapaavuori.

Jan Vapaavuori (Sumber: Markku Ulander / Lehtikuva)

Jan Vapaavuori (Sumber: Markku Ulander / Lehtikuva)

Dimulai pada 27 Februari 2020, Helsinki Energy Challenge berlangsung selama setahun dan menginspirasi 252 tim dari 35 negara di seluruh dunia untuk berpartisipasi memerangi krisis iklim. Sepuluh tim dengan ide inovasi terbaik kemudian diundang untuk mengikuti fase co-creation.

co-creation.

Selama tiga hari, sepuluh tim mengikuti pelatihan virtual untuk mengembangkan dan menyempurnakan ide inovasi mereka sebelum akhirnya mempresentasikan proposal akhir yang dievaluasi langsung oleh sejumlah juri internasional.

check these guys out

Melalui Helsinki Energy Challenge, Helsinki menemukan tidak hanya satu tapi sepuluh alternatif, di mana empat diantaranya dianggap solusi terbaik untuk menghangatkan seisi kota tanpa bahan bakar fosil. Berikut keempat solusi peraih penghargaan di Helsinki Energy Challenge:

1. HIVE (Helsinki Innovative & Versatile Energies )

1. HIVE (Helsinki Innovative & Versatile Energies )

Solusi pertama berasal dari kolaborasi lima negara yang tak hanya memberhentikan penggunaan batu bara sebagai sumber energi pemanas, tetapi juga memastikan kualitas udara yang lebih baik bagi penduduk Helsinki. Diberi nama HIVE, solusi ini memanfaatkan laut Baltik sebagai sumber energi bersih pengganti bahan bakar fosil.

Dengan pompa panas atau heat pumps, HIVE akan mampu mentransfer energi panas memanfaatkan sumber energi bersih dari laut Baltik yang akan mampu memenuhi hingga 50% kebutuhan pemanas Helsinki. Fitur solusi HIVE juga mengarah pada pengoperasian jaringan pemanas pada tingkat suhu yang lebih rendah, yang akan membuat sistem lebih optimal untuk pompa panas.

heat pumps,

2. Hot Heart Helsinki

2. Hot Heart Helsinki

Masih dengan heat pumps, Hot Heart Helsinki berhasil menciptakan sistem yang menggunakan pompa panas air laut untuk mengubah energi listrik bebas karbon menjadi panas.

heat pumps,

Menawarkan sistem fleksibel yang terbuat dari 10 reservoir silinder berdiameter 225 meter yang diisi dengan air laut panas, Hot Heart Helsinki dapat menerima sumber energi berbeda. Dari sana, energi listrik yang diterima akan diubah menjadi energi panas menggunakan heat pumps tersebut. Dengan begitu, sumber panas langsung terhubung ke sistem pemanas kota. Voilà, panas dapat didistribusikan langsung ke seluruh sistem pemanas yang ada di kota tersebut.

reservoir
heat pumps

3. Smart Salt City

3. Smart Salt City

Memadukan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi penyimpanan energi termokimia baru (EnerStore), Smart Salt City menawarkan sistem energi baru yang optimal dengan fitur pengendalian permintaan. EnerStore sebagai media penyimpanan energi akan diisi oleh kelebihan listrik terbarukan yang nantinya akan disalurkan saat dibutuhkan. 

Solusi yang diusulkan juga mencakup varian EnerStore yang memungkinkan energi dipindahkan secara geografis, dan digunakan sebagai bahan bakar yang dapat diisi ulang dan bersifat sirkular.

4. BEYOND fossil

4. BEYOND fossil

Selain melahirkan sumber energi alternatif baru dan sistem pengelolaan energi, solusi Helsinki Energy Challenge juga datang dari pendekatan lain. Diberi nama BEYOND fossil, ide inovasi itu menawarkan model manajemen transisi energi yang didasarkan pada pendekatan lelang.

Dengan pendekatan lelang, diharapkan pemerintah Helsinki mampu menemukan sumber panas dari energi bersih termurah dan terbaik setiap tahunnya. BEYOND fossil, didasarkan pemikiran bahwa inovasi sistem pemanas yang dianggap terbaik saat ini mungkin tidak akan sama dengan di tahun 2029. Terlebih, banyak perusahaan energi dan teknologi yang bersaing menciptakan sumber energi bersih yang murah.

Atas dasar itu, lelang dianggap sebagai pendekatan terbaik dan fleksibel bagi pemerintah Helsinki untuk selalu menemukan solusi pemanas berkelanjutan yang terbaik setiap tahunnya.

Dengan menetapkan persyaratan, pemerintah Helsinki akan mampu memastikan investasi hemat biaya dalam solusi sistem pemanas kota yang berkelanjutan di pasar energi rendah karbon yang berkembang pesat. Sekaligus membuka jalan menuju Helsinki yang netral karbon dengan cara yang fleksibel.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/helsinki-energy-challenge-solusi-inovatif-pemerintah-menuju-kota-netral-karbon/feed/ 0
Konsumen Menginginkan Produk Ramah Lingkungan, Bagaimana Cara Bisnis F&B Bertahan? https://designthinking.id/gaya-hidup/konsumen-menginginkan-produk-ramah-lingkungan-bagaimana-cara-bisnis-fb-bertahan/ https://designthinking.id/gaya-hidup/konsumen-menginginkan-produk-ramah-lingkungan-bagaimana-cara-bisnis-fb-bertahan/#respond Wed, 09 Aug 2023 05:50:54 +0000 https://designthinking.id/?p=1444 Dihadapkan pada tantangan keberlanjutan dan pergeseran pola konsumsi masyarakat, industri makanan dan minuman atau food and beverages (F&B) dituntut terus berinovasi. Tantangan yang saling berkaitan ini telah membuat para pemain di industri berkomitmen memperluas peluang inovasi mereka dengan berkolaborasi melalui open innovation.

Tak bisa disangkal, perubahan iklim telah mendorong masyarakat untuk lebih bijak. Konsumen kini lebih kritis dalam membuat keputusan pembelian. Mereka kini lebih memilih membeli makanan dan minuman yang lebih sehat, yang dibuat dengan bahan dan melalui proses yang ramah lingkungan atau berkelanjutan. Karenanya, implementasi bisnis berkelanjutan menjadi kian penting bagi industri F&B.

Survei Katadata Consumer Survey on Sustainability oleh Katadata Insight Center menunjukkan, 60,5% dari 3.631 konsumen mengaku ingin membeli produk ramah lingkungan mulai dari bahan baku, produksi, sampai kemasan. Pada survei yang sama,produk makanan menempati posisi teratas sebagai produk ramah lingkungan yang ingin dibeli dengan 56% suara.

Survei dilakukan secara online pada responden berusia berusia 17-60 tahun menunjukkan banyak konsumen beralih ke produk ramah lingkungan karena manfaatnya bagi lingkungan. Sebanyak 60,5% konsumen mengaku membeli produk ramah lingkungan karena hendak melestarikan bumi.

Senada, studi bertajuk The Truths, Myths and Nuances Behind Purpose, mencatat sekitar 76% Gen Z yang disurvei mengaku memprioritaskan keputusan pembelian mereka pada nilai yang dibawa perusahaan bagi masyarakat dan lingkungan. Bahkan, 94% Gen Z yang disurvei dalam riset Cone Gen Z CSR Study, mengaku perusahaan harus terlibat dalam mengatasi masalah sosial dan lingkungan yang mendesak.

high quality

Atas dasar inilah perusahaan atau produsen makanan dan minuman atau F&B, didesak untuk berinovasi dalam seluruh rantai nilai atau value chain bisnis mereka mulai dari hulu ke hilir. Sistem pertanian kini dituntut mengadopsi teknologi canggih yang memungkinkan proses produksi bahan baku dilakukan sesuai prinsip-prinsip berkelanjutan. Begitu pula dengan tahap distribusi yang diharapkan mampu menghasilkan lebih sedikit jejak karbon atau carbon footprint. Penyimpanan yang lebih efektif, dan lain sebagainya.

Tak heran jika inovasi di sektor agrikultur semakin dilirik. Hal ini ditunjukan dengan perkembangan teknologi agrikultur atau agrifood-tech dalam semua kategori. Studi bertajuk The State Of Open Innovation In The Agri-Food Sector 2022, mencatat seluruh perusahaan di sektor agribisnis yang disurvei mengaku telah berinvestasi dalam inovasi selama dua tahun terakhir. 

Baik perusahaan kecil maupun besar, semuanya telah melihat pentingnya inovasi dalam sektor F&B. Faktanya, tahun 2021 merupakan titik balik dalam hal investasi dalam proyek teknologi pangan dengan pertumbuhan 85% dibandingkan tahun 2020. Dengan lebih dari 75% perusahaan berkomitmen mencari inovasi yang mendorong penerapan prinsip keberlanjutan dan mempromosikan kesehatan manusia dan lingkungan.

Uniknya, meskipun ada banyak cara untuk berinovasi, inovasi terbuka atau open innovation menjadi cara paling diminati perusahaan di sektor ini untuk berinovasi. Survei yang sama mencatat, sebanyak 70% inovasi berasal dari open innovation.

Besarnya Peluang Inovasi Melalui Open Innovation

Dalam hal ini, open innovation menawarkan kesempatan bagi perusahaan untuk berkolaborasi dengan pihak eksternal demi melahirkan peluang inovasi dan mempercepat proses inovasi tersebut. Survei terhadap 43 perwakilan industri F&B khususnya perusahaan di sektor agribisnis itu, open innovation dipercaya secara luas untuk mendorong pertumbuhan bisnis, kepuasan pelanggan, dan mendukung keberlanjutan industri.

Senada, Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia –sebuah perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi– menilai, open innovation bukan soal mengganti sumber daya inovasi internal perusahaan dengan pengetahuan eksternal, tetapi menggabungkannya. Kombinasi inilah yang mampu menciptakan peluang baru dalam menciptakan produk atau model bisnis yang lebih berkelanjutan.

“Pertumbuhan basis konsumen yang lebih kritis jelas menumbuhkan kebutuhan bagi perusahaan di industri ini untuk berkolaborasi dan laporan tersebut dengan kuat menunjukkan kesediaan perusahaan makanan untuk meningkatkan investasi mereka dalam open innovation,” ujar Fiter Bagus.

Tak heran jika laporan dari Eatable Adventures itu mencatat hampir semua perusahaan yang disurvei menyatakan keinginannya untuk berkolaborasi dengan pihak eksternal. Di mana 86% di antaranya berkomitmen untuk meningkatkan investasi mereka dalam open innovation pada 2023, dan sekitar 93% perusahaan berencana untuk melangsungkan open innovation dalam tiga tahun ke depan.

Ilustrasi seorang wanita tengah belanja buah dan sayur. (Sumber: Freepik/pvproductions)

Menurut Fiter Bagus, minat yang besar dalam open innovation di sektor agrikultur dan agribisnis sendiri tak terlepas dalam kemampuannya mempercepat pengadopsian teknologi yang membantu perusahaan menerapkan model bisnis yang ramah lingkungan. 

“Pasalnya, open innovation membuka kesempatan bagi perusahaan besar untuk membentuk aliansi bersama perusahaan rintisan atau startup yang menawarkan teknologi dan ide-ide inovatif yang mampu merevolusi industri makanan secara global,” jelas Fiter Bagus.

Tak hanya dengan startup, banyak perusahaan yang juga melihat peluang inovasi bersama universitas. Sebanyak 93% perusahaan yang disurvei mempercayakan inovasi mereka melalui kolaborasi bersama universitas. Hal ini tak terlepas dari kemampuan universitas dalam melakukan penelitian untuk menskalakan solusi atau teknologi yang diperlukan perusahaan.

Layaknya Eatable Adventures, Innovesia telah melihat bagaimana open innovation menjadi investasi yang jelas bagi perusahaan untuk meningkatkan posisi kompetitif perusahaan. Selain itu, industri yang makin meyakini manfaat open innovation, memacu Innovesia membuka kesempatan bagi pelaku bisnis untuk menemukan mitra inovasi yang tepat, dan berkolaborasi dalam mempercepat proses memperoleh ide, menciptakan teknologi dan produk baru, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan dan daya saing perusahaan.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/konsumen-menginginkan-produk-ramah-lingkungan-bagaimana-cara-bisnis-fb-bertahan/feed/ 0
Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/otomotif/5-perusahaan-ciptakan-masa-depan-berkelanjutan-melalui-open-innovation/ https://designthinking.id/otomotif/5-perusahaan-ciptakan-masa-depan-berkelanjutan-melalui-open-innovation/#respond Mon, 31 Jul 2023 06:13:26 +0000 https://designthinking.id/?p=1375 Pemanasan global dan krisis iklim telah menjadi tantangan serius yang dihadapi dunia saat ini. Kekeringan, gelombang panas, dan banjir telah lebih sering terjadi dengan intensitas yang semakin parah dari sebelumnya. Di hadapan perubahan iklim, dekarbonisasi menjadi salah satu prioritas utama untuk mencapai masa depan yang berkelanjutan.

Melalui Paris Agreement 2015, pemerintah lintas negara bersama-sama berkomitmen membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri. Kesepakatan itu turut mendorong perusahaan dari berbagai industri berlomba menetapkan target dan membuat komitmen untuk mengurangi emisi karbon atau dekarbonisasi.

Secara definisi, dekarbonisasi mengacu pada proses pengurangan emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari aktivitas manusia di atmosfer. Tujuan dekarbonisasi tidak lain adalah menghilangkan emisi karbon dioksida. Adapun untuk mencapai dekarbonisasi, perusahaan dituntut mengadopsi pendekatan inovatif untuk mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan dan sumber energi rendah karbon.

Sadar tak bisa melakukannya seorang diri, banyak perusahaan berkolaborasi melalui open innovation untuk mempercepat langkah mereka mencapai net zero emission atau emisi nol bersih. Melalui open innovation, perusahaan lintas industri sekalipun dapat berbagi pengetahuan untuk mencapai solusi yang lebih baik dan lebih efektif.

Artikel ini akan mengeksplorasi lima perusahaan yang telah melangkah maju, memerangi perubahan iklim melalui pendekatan open innovation. Dengan membuka pintu untuk ide-ide out of the box dari mitra eksternal, kelima perusahaan ini telah memimpin jalan dalam menciptakan solusi dekarbonisasi yang berdampak nyata dan memberikan contoh inspiratif bagi sektor industri lainnya.

Berikut lima perusahaan inovatif yang bertekad mencapai dekarbonisasi melalui open innovation sebagai upaya menyelamatkan bumi dari dampak perubahan iklim yang semakin serius:

1. Shell

Shell (Sumber: Ina Fassbender/Afp/Getty Images)

Sebagai perusahaan energi dan petrokimia terkemuka di dunia, Shell turut andil dalam dekarbonisasi. Perusahaan asal Inggris itu bahkan menargetkan untuk menjadi perusahaan energi dengan emisi nol bersih atau net-zero emission (NZE) pada tahun 2050 mendatang. Untuk mencapai itu semua, Shell bermitra dengan beberapa perusahaan teknologi terkemuka dunia untuk mengembangkan dan menerapkan solusi digital dalam skala besar di seluruh rantai bisnis mereka.

Menurut Shell, dekarbonisasi memerlukan upaya yang signifikan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Karenanya Shell memilih strategi open innovation secara global untuk berkolaborasi dengan mitra bisnis, universitas dan lembaga penelitian, pemasok, dan bahkan konsumen Shell itu sendiri. 

Startup dan pengusaha membawa pola pikir yang berbeda dan perspektif baru dalamke tantangan net-zero emission. Mereka dapat bergerak lebih cepat daripada organisasi besar dan lebih mudah melakukan hal-hal baru. Hal ini membuat mereka sangat cocok untuk perusahaan seperti Shell, yang kurang gesit, tetapi dapat menawarkan dukungan finansial yang kuat, kapasitas teknis yang luas, dan akses mudah ke mitra dan pasar global,” ujar Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, seperti dilansir dari laman resmi Shell.

2. Unilever

Logo Unilever (Sumber: Unilever)

Sebagai perusahaan manufaktur, pemasaran dan distribusi barang konsumsi, Unilever sadar akan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari tingkat konsumsi produk saat ini. Alasan inilah yang mendorong Unilever untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk membantu konsumen mengurangi dampak iklim. Unilever berkomitmen mengganti formula setiap produk pembersih yang berasal dari bahan bakar fosil dengan bahan terbarukan pada 2030. 

Pasalnya, sebagian besar produk detergen yang beredar di pasar saat ini mengandung bahan kimia, yang terbuat dari bahan baku bahan bakar fosil. Bahan kimia inilah yang menjadi penyumbang emisi karbon terbesar dari seluruh siklus hidup produk detergen. Atas dasar itu, Unilever menilai beralih dari bahan kimia yang berasal dari bahan bakar fosil dalam formulasi produk akan menjadi peluang besar untuk mengurangi jejak karbon.

Pada 2021 misalnya, Unilever bersama LanzaTech dan India Glycols  berhasil memproduksi surfaktan dari bahan terbarukan untuk merek detergen OMO. Surfaktan yang umumnya terbuat dari bahan bakar fosil adalah bahan penting untuk menciptakan busa dalam produk detergen, mulai dari sabun cuci piring hingga detergen.

3. L’Oréal

L’Oréal (Sumber: lbeaute.mx)

Pemanasan global dan krisis iklim yang tak terelakan juga membuat jenama kecantikan ternama L’Oréal mempercepat upaya mencapai target keberlanjutan atau sustainability. Melalui program bertajuk “L’Oréal for the Future”, L’Oréal merangkul pendekatan open innovation sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan dalam mewujudkan operasional bisnis yang lebih ramah lingkungan.

boutique

Ada tiga komitmen dalam program L’Oreal for The Future. Pertama, L’Oreal bertransformasi untuk memastikan aktivitas perusahaan menjalankan batasan-batasan lingkungan (planet) dalam upaya pengendalian dampak terhadap iklim, air, keanekaragaman hayati, dan sumber daya alam.

Kedua, L’Oreal berkomitmen memberdayakan pihak-pihak dalam ekosistem bisnis dengan membantu mereka bertransisi ke dunia yang lebih berkelanjutan. Ketiga, membantu mengatasi tantangan dunia, dengan mendukung kebutuhan sosial dan lingkungan yang mendesak. 

“Dengan program L’Oréal for the Future, kami telah menetapkan target keberlanjutan yang ambisius untuk dicapai pada tahun 2030, termasuk bahwa 95% bahannya akan berasal dari sumber hayati, berasal dari mineral yang melimpah atau dari proses sirkuler. Karenanya kita perlu memikirkan kembali cara mencari dan memproduksi bahan-bahan yang diperlukan. Untuk mencapai hal ini, kami berkolaborasi dengan berbagai mitra eksternal, termasuk perusahaan rintisan, demi memperoleh keahlian baru dan mempercepat inovasi. Misalnya, kami mengeksplorasi penggunaan biologi sintetik dan fermentasi,” ujar Laurent Chantalat, manajer senior untuk inovasi terbuka R&I dan kemitraan startup teknologi mendalam di L’Oréal, seperti dilansir dari laporan Capgemini.

4. Daher

Daher dan Ascendance Flight Technologies mengumumkan kolaborasi strategis. (Sumber: Daher)

Daher, perusahaan kedirgantaraan ternama Prancis, juga mengumumkan kolaborasi strategis bersama Ascendance Flight Technologies, perusahaan rintisan Prancis dan perintis di pasar penerbangan rendah karbon. 

Kolaborasi antara Daher dan Ascendance Flight Technologies semakin menggarisbawahi ambisi Daher Group untuk meningkatkan inovasi dan mempercepat dekarbonisasi aktivitas perusahaan, dengan penekanan khusus pada divisi pesawatnya. Keduanya akan meneliti cara-cara baru hibridisasi sistem propulsi pesawat Daher berdasarkan teknologi yang dikembangkan Ascendance Flight Technologies.

“Kami senang bisa bermitra dengan Ascendance Flight Technologies. Sebagai pemain utama dalam penerbangan umum, Daher Group berkomitmen penuh untuk mencapai tujuan dekarbonisasi penerbangan pada tahun 2050, dan mengambil langkah maju yang signifikan menuju tujuan tersebut pada dekade ini,” ujar Didier Kayat, CEO Daher Group, seperti dilansir dari .

5. MIND ID

BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID atau Mining Industry Indonesia, menggelar kompetisi Boosting Innovator and Greenovator in the Mining Industry atau BIGMIND Innovation Award 2022.

Menggandeng Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, MIND ID melalui BIGMIND Innovation Award 2022 berupaya meningkatkan pertumbuhan industri pertambangan yang berkelanjutan dengan mengundang kontribusi riset dan inovasi anak bangsa melalui perkembangan teknologi digital demi memperkuat tata kelola operasional industri. Adapun dekarbonisasi menjadi salah satu dari tujuh topik utama yang dapat dieksplorasi para inovator.

Kompetisi inovasi ini berhasil melahirkan ragam inovasi berkelanjutan, seperti pemanfaatan limbah cangkang kelapa sawit sebagai fuel dan reductant pada proses peleburan timah, inovasi green technology pemanfaatan red mud (produk samping pemurnian alumina) sebagai sumber besi (fe) dengan metode bioflokulasi selektif. Juga pengembangan alat Electrolysis Management System (EMS) multi Anoda-Katoda berbasis Internet of Things sebagai upaya peningkatan unjuk kerja sel electrorefining di industri pemurnian logam.

]]>
https://designthinking.id/otomotif/5-perusahaan-ciptakan-masa-depan-berkelanjutan-melalui-open-innovation/feed/ 0
Patriotamat Locakzp https://designthinking.id/gaya-hidup/melon-watermelon-innovation-day-di-spanyol-soroti-inovasi-pertanian-terbaru/ https://designthinking.id/gaya-hidup/melon-watermelon-innovation-day-di-spanyol-soroti-inovasi-pertanian-terbaru/#respond Thu, 27 Jul 2023 08:01:31 +0000 https://designthinking.id/?p=1372 Bulan Juli ditandai dengan semangat inovasi dalam industri pertanian khususnya sektor buah-buahan, karena ajang “Melon and Watermelon Innovation Day” hadir untuk memamerkan inovasi terbaru dalam varietas melon dan semangka. Diselenggarakan pada 27 Juni hingga 6 Juli 2023, sejumlah perusahaan benih terkemuka turut hadir dan membagikan pengalaman inovasi mereka. 

Pameran inovasi “Melon and Watermelon Innovation Day” menawarkan kesempatan langka bagi para petani dan tenaga profesional lainnya untuk melihat langsung sekaligus mempelajari inovasi terbaru yang dibawa perusahaan-perusahaan besar di industri pertanian. Sebut saja perusahaan benih terkemuka seperti Seminis, Enza Zaden, Nunhems, Rijk Zwaan, Semillas Fitó, Syngenta, dan masih banyak lagi yang turut hadir memamerkan hasil inovasi terbaru mereka di Murcia, Spanyol.

Kota Murcia sendiri dipilih karena popularitasnya sebagai produsen melon dan semangka terbesar di Spanyol. Menurut Proexport, asosiasi produsen dan eksportir buah dan sayuran Murcia, kota itu menyumbang sekitar 50% dari total ekspor buah melon di Spanyol. Pada 2022, Murcia mengekspor 169.019 ton melon senilai 143 juta euro.

Sementara untuk semangka, Murcia menghasilkan 20% dari total ekspor semangka Spanyol. Menjadikannya pengekspor semangka terbesar kedua setelah Andalusia dengan total ekspor mencapai 129.861 ton semangka senilai 82,8 juta euro hanya pada 2022.

Dalam hal produksi, kota yang berada di tenggara Spanyol ini mencurahkan 4.609 hektar lahan pertanian hanya untuk menanam melon atau sekitar 28,4% dari total lahan perkebunan melon di Spanyol. Sedangkan 2.788 hektar lahan lainnya didedikasikan untuk produksi semangka, yang menyumbang 12,9% dari total nasional. Pada 2022, Murcia menghasilkan 181.883 ton semangka dan 171.744 ton melon. Angka ini setara dengan 15,63% dan 32,8% dari total produksi nasional untuk masing-masing komoditi tersebut.

Adapun di Murcia, varietas semangka tanpa biji menjadi jenis semangka yang banyak diproduksi baik untuk ekspor maupun untuk pasar nasional. Diikuti melon Piel de Sapo untuk pasar nasional. 

Menghadapi Tantangan Iklim dengan Open Innovation

Inisiatif “Melon and Watermelon Innovation Day” sekaligus ditujukan untuk memposisikan Kota Murcia sebagai pusat inovasi agronomi dan genetik. Melalui “Melon and Watermelon Innovation Day”, Murcia membuka pintu bagi para peserta untuk menyaksikan varietas melon dan semangka terbaik yang dihasilkan dari upaya penelitian dan pengembangan terdepan dalam industri tersebut.

Pameran inovasi “Melon and Watermelon Innovation Day” juga penting untuk menambah wawasan para petani terkait dampak perubahan iklim bagi produksi mereka. Mengingat produsen melon dan semangka di Spanyol tengah dilanda cuaca buruk yang mengakibatkan gagal produksi dan melonjaknya harga kedua komoditas buah itu di pasaran.

Asosiasi Proexport menjelaskan fenomena hujan es dan hujan lebat yang melanda Murcia telah menghancurkan sebagian lahan pertanian dan menyebabkan peningkatan masalah fitosanitari atau kesehatan tumbuhan, seperti jamur dan Powdery Mildew di wilayah tersebut.

La Unió Llauradora atau serikat pertanian peternakan Spanyol, memperkirakan cuaca buruk akan mengakibatkan produsen melon dan semangka di wilayah Spanyol lainnya, seperti Valencia, diperkirakan menderita kerugian langsung sebesar 44 juta Euro (sekitar Rp736 miliar) pada 2023.

Atas dasar itu, Fernando Gomez, Direktur Umum Proexport, menekankan pentingnya inovasi dalam sektor agrikultur agar tidak hanya untuk menghasilkan produk buah-buahan yang unggul tapi juga memastikan industri pertanian mampu beradaptasi dengan tantangan krisis iklim yang tak terhindarkan.

“Investasi dalam penelitian dan pengembangan sangat penting untuk pertanian. Dalam kasus melon dan semangka, produsen mencari bahan tanaman yang memberikan lebih banyak rasa, warna, aroma dan tekstur yang menarik, ketahanan terhadap hama dan penyakit, optimalisasi pasokan atau adaptasi terhadap perubahan iklim, di antara banyak faktor lainnya,” kata Fernando Gomez, Direktur Umum Proexport.

Ragam Inovasi yang Dipamerkan

Salah satu hasil inovasi yang dipamerkan adalah rangkaian melon Charentais oleh HM.Clause, perusahaan benih terkemuka yang terkenal akan benih melonnya. Inovasi HM.Clause terletak pada benih yang mampu ditanam dalam cuaca dan kondisi tanah yang berbeda. Di mana proses penanaman bisa disesuaikan dengan metode penanaman yang berbeda, yang pada akhirnya memungkinkan pasokan sepanjang tahun. Buah yang dihasilkan juga memiliki umur simpan yang lebih lama tanpa menurunkan kualitas rasa.

Selain HM.Clause, produsen benih terkemuka lainnya, Hazera, turut memperkenalkan rangkaian hasil inovasi mereka salah satunya budidaya semangka yang tahan akan Powdery Mildew atau jamur yang menyerang berbagai tanaman. 

Inovasi ini disebut-sebut merupakan pencapaian inovasi genetik dalam sektor pertanian semangka yang sangat bermanfaat bagi para petani, khususnya petani organik. Pasalnya, Powdery Mildew dapat menginfeksi berbagai macam tanaman dan menurunkan kualitas dan kuantitas bunga dan buah yang dihasilkan.

Selain melihat rangkaian inovasi terbaru, petani lokal yang menghadiri “Melon and Watermelon Innovation Day” juga berkesempatan berinteraksi dengan para ahli dan pakar pertanian, bertukar pengetahuan, dan mengeksplorasi potensi kemajuan dalam budidaya dan teknologi tanaman.

Lebih lanjut, pameran inovasi ini diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi yang akan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi melon dan semangka. Termasuk memberikan dampak positif bagi industri pertanian secara keseluruhan.

Meluasnya Praktik Inovasi di Sektor Pertanian

Dewasa ini, inovasi telah mewarnai seluruh rantai nilai agrikultur mulai dari praktik pertanian, produk hingga layanan pesan antar makanan. Dalam industri pertanian, inovasi yang konstan tak bisa lagi disangkal.

Laporan bertajuk The State of Open Innovation in Agri-food Sector 2022, industri pertanian tengah dihadapkan pada perubahan gaya hidup konsumen yang menuntut produk makanan yang lebih sehat, dan menerapkan prinsip berkelanjutan. Ditambah perubahan iklim yang menantang sektor tersebut.

Dengan tantangan yang kian besar, perusahaan makin sulit untuk bekerja sendiri. Faktanya, lebih dari 90% perusahaan pada sektor pertanian berencana berinvestasi dalam inovasi terbuka atau open innovation dalam 3 tahun mendatang. 

Fiter Bagus Cahyono, Direktur Innovesia, perusahaan konsultasi yang mengkhususkan diri pada inovasi, menerangkan bahwa open innovation semakin dilirik karena mendorong perusahaan yang sudah mapan sekalipun untuk mempercepat  proses inovasi mereka dan sekaligus meningkatkan kreativitas internal, karena inspirasi dan motivasi yang berasal dari proses ini.

get the facts

“Dengan industri yang makin positif dalam menyambut manfaat open innovation, laporan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan inovasi satu ini menjadi seperangkat alat untuk meningkatkan posisi kompetitif perusahaan,” ujar Fiter Bagus.

Menurut Fiter Bagus, kolaborasi melalui open innovation berperan penting dalam mendorong lahirnya inovasi yang berarti dan menciptakan masa depan pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan. 

“Open innovation dapat menarik lebih banyak pendanaan dan dukungan untuk inovasi pertanian dari berbagai sumber, sekaligus membuka jalan bagi proyek inovatif yang berpotensi menghadirkan manfaat besar bagi pertanian dan masyarakat,” jelas Fiter Bagus.

Sebagai pelopor awal ekosistem open innovation di Indonesia, Innovesia membuka kesempatan bagi setiap elemen dalam industri pertanian untuk memanfaatkan berbagai keahlian dan sumber daya eksternal dalam menghadapi tantangan global, seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan keberlanjutan.

]]>
https://designthinking.id/gaya-hidup/melon-watermelon-innovation-day-di-spanyol-soroti-inovasi-pertanian-terbaru/feed/ 0