Eksklusif – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id Investing in Innovation Thu, 23 Nov 2023 05:07:22 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.2 https://designthinking.id/wp-content/uploads/2023/04/innovesia-logo-150x150.png Eksklusif – Designthinking.id | Innovesia https://designthinking.id 32 32 Open Innovation jadi Kunci Keberhasilan Perusahaan Capai Tujuan Keberlanjutan https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/ https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/#respond Tue, 07 Nov 2023 07:18:46 +0000 https://designthinking.id/?p=2268 Walau inovasi terbuka atau open innovation bukanlah konsep yang baru, pendekatan inovasi satu ini dinilai kian relevan dalam menghadapi lanskap bisnis yang semakin kompleks. Seiring meningkatnya urgensi iklim, open innovation diyakini banyak perusahaan sebagai pendekatan yang tepat dalam menjawab tantangan keberlanjutan atau sustainability yang dicita-citakan banyak perusahaan di dunia.

Dalam survei terhadap 1.000 perusahaan yang dilangsungkan pada Februari hingga Maret 2023, Capgemini Research Institute mencatat, 75% perusahaan memandang open innovation sebagai hal yang krusial untuk mengatasi permasalahan kompleks dalam bisnis mereka.

Open innovation bahkan dinilai jauh lebih penting dari sebelumnya mengingat besarnya tuntutan bagi perusahaan untuk menerapkan model bisnis yang lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Bahkan, 83% perusahaan yang disurvei mengakui open innovation sebagai faktor penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan keberlanjutan.

Seperti namanya, open innovation merupakan upaya mendapatkan pengetahuan atau bahkan solusi atas suatu permasalahan dengan melibatkan pihak internal dan eksternal perusahaan. Open innovation dinilai kian penting untuk mengatasi kesenjangan dan keterbatasan sumber daya internal perusahaan, seraya mempersingkat waktu dalam menjawab tantangan eksternal secepat mungkin.

Dengan begitu perusahaan bisa mendapatkan solusi yang lebih beragam, out-of-the-box, dalam waktu singkat dan tentunya dengan biaya yang lebih sedikit. Tak heran jika 55% perusahaan mengakui bahwa inovasi terbuka mampu meningkatkan percepatan inovasi, sementara 62% perusahaan mengatakan inovasi dapat meningkatkan ketangkasan dan kemampuan beradaptasi karyawan. Lebih dari 60% perusahaan pun telah merealisasikan manfaat finansial seperti peningkatan pendapatan dan efisiensi operasional. 

Dalam konteks keberlanjutan atau sustainability, kebutuhan untuk mempercepat transisi menuju net zero emission mendorong organisasi untuk memanfaatkan sumber inovasi eksternal dan kehadiran open innovation telah membuka jalan bagi perusahaan untuk melakukan kolaborasi. Open innovation memungkinkan setiap perusahaan untuk berkolaborasi dengan pemasok, pelanggan, startup, pemerintah, organisasi nirlaba atau bahkan pesaing untuk menjawab tantangan keberlanjutan yang bersifat sistemik. 

Bahkan, 68% perusahaan mengaku telah berinvestasi pada open innovation sebagai metode untuk menjawab tantangan keberlanjutan. Unilever misalnya, perusahaan FMCG multinasional yang telah melibatkan banyak pihak eksternal dalam open innovation sebagai upaya untuk mewujudkan bisnis berkelanjutan.

Mencapai Tujuan Keberlanjutan Melalui Open Innovation Bersama Startup

Pada tahun 2021, Unilever bekerja sama dengan LanzaTech –startup bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat (AS)– dan India Glycols –produsen bahan kimia yang berbasis di India– berhasil menciptakan cairan pencuci piring pertama di dunia yang terbuat dari emisi karbon industri yang didaur ulang. Tak hanya itu, Unilever juga berpartisipasi dalam proyek Flue2Chem, sebuah inisiatif open innovation yang melibatkan 15 organisasi di Inggris dengan tujuan mengubah gas limbah industri menjadi gas berkelanjutan yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam berbagai produk FMCG.

Pada tahun yang sama, perusahaan utilitas listrik asal Spanyol, Iberdrola, melangsungkan Global Smart Grids Innovation Hub yang melibatkan 91 mitra di sektor teknologi termasuk startup untuk menggandakan jumlah proyek inovasi smart grid di seluruh dunia. Melalui open innovation, Iberdrola mencoba menciptakan solusi digitalisasi jaringan listrik, integrasi energi terbarukan, hingga optimalisasi sistem penyimpanan energi.

Berkat teknologi dan ketangkasan yang dimiliki startup, banyak perusahaan besar melihat startup sebagai mitra paling ideal dalam mencapai upaya keberlanjutan mereka. Bahkan, tujuh dari sepuluh perusahaan yang disurvei Capgemini Research Institute meyakini pentingnya berkolaborasi dengan startup dalam open innovation untuk mengatasi tantangan keberlanjutan. 

Sebanyak 55% perusahaan mengatakan bahwa mereka sudah mulai terlibat dalam open innovation bersama startup teknologi dalam dua tahun terakhir. Mereka meyakini, teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), blockchain, biologi sintetis, dan teknologi kuantum yang dibawa startup merupakan kunci untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan penipisan sumber daya alam.

Senada, Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, menyatakan bahwa startup mampu menghasilkan solusi digital dalam menghadapi tuntutan emisi nol bersih berkat perspektif segar yang mereka bawa, juga sistem kerja yang berbeda dari perusahaan besar pada umumnya.

Startup dan pengusaha membawa pola pikir yang berbeda dan perspektif baru dalam tantangan net-zero emission. Mereka dapat bergerak lebih cepat daripada organisasi besar dan lebih mudah melakukan hal-hal baru. Hal ini membuat mereka sangat cocok untuk perusahaan seperti Shell, yang kurang gesit, tetapi dapat menawarkan dukungan finansial yang kuat, kapasitas teknis yang luas, dan akses mudah ke mitra dan pasar global,” ujar Akilah LeBlanc, General Manager Commercial Innovation Partnerships di Shell, seperti dilansir dari laman resmi Shell.

Kolaborasi lintas industri yang dimungkinkan open innovation inilah yang secara luas diakui mampu membantu perusahaan mencapai tujuan keberlanjutan mereka. Dalam laporan bertajuk The Power of Minds: How Open Innovation Over Benefits for All, mayoritas atau 63% perusahaan yang disurvei mengaku bahwa inisiatif open innovation yang mereka lakukan mampu meningkatkan indikator keberlanjutan lingkungan perusahaan dan 55% melaporkan peningkatan dalam indikator keberlanjutan sosial mereka.

Dengan segenap keuntungan yang ditawarkan, tak heran jika 71% dari 1.000 perusahaan yang disurvei berencana untuk meningkatkan investasi dalam open innovation selama dua tahun ke depan. Tak hanya itu, mereka juga meyakini bahwa 70% inovasi perusahaan di masa depan akan lahir dari kolaborasi, mengingat besarnya tantangan global, termasuk perubahan iklim.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/open-innovation-jadi-kunci-keberhasilan-perusahaan-capai-tujuan-keberlanjutan/feed/ 0
Jawab Tantangan Bonus Demografi, Innovesia Bimbing Mahasiswa Unika Atma Jaya Kembangkan Ide Bisnis https://designthinking.id/edukasi/jawab-tantangan-bonus-demografi-innovesia-bimbing-mahasiswa-unika-atma-jaya-kembangkan-ide-bisnis/ https://designthinking.id/edukasi/jawab-tantangan-bonus-demografi-innovesia-bimbing-mahasiswa-unika-atma-jaya-kembangkan-ide-bisnis/#respond Tue, 24 Oct 2023 08:14:19 +0000 https://designthinking.id/?p=2232 Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi bisnis, kembali dipercaya menanamkan pola pikir design thinking bagi mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Atma Jaya melalui program Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB). Terkenal akan nilai-nilai kewirausahaannya, program AJIB menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide inovasi mereka dari sebuah konsep menjadi rencana bisnis yang matang.

Memiliki mayoritas penduduk yang didominasi usia produktif dengan 69,25% populasi berusia 15 sampai 64 tahun, Indonesia akan memasuki masa puncak bonus demografi yang bisa menjadi anugerah sekaligus tantangan besar. Pasalnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebut pemerintah setidaknya harus menyediakan 3,6 juta lapangan pekerjaan tiap tahunnya.

Atas dasar itulah, menanamkan jiwa pengusaha sedini mungkin menjadi salah satu opsi yang dinilai Menko Effendy mampu membawa Indonesia melewati puncak bonus demografi dengan baik.

“Bonus demografi menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi keuntungan ekonomi karena banyaknya penduduk usia kerja (produktif) yang berkorelasi dengan meningkatnya produktivitas. Namun, untuk menjadikan bonus demografi sebagai keuntungan ada syarat yang harus dipenuhi yakni penduduk usia produktif harus memiliki kompetensi untuk memenangkan persaingan,” ujar Fiter Bagus Cahyono, Direktur, Innovesia.

Menjadikan bonus demografi sebagai anugerah juga merupakan cita-cita Unika Atma Jaya yang senantiasa mendorong mahasiswanya untuk tak sekedar menjadi tenaga kerja tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi bangsa Indonesia.

“Kami melihat kalau semua orang maunya hanya bekerja dan tidak ada yang menciptakan lapangan pekerjaan, lama-lama tingkat persaingannya akan semakin keras, makin sulit dan tidak mungkin perusahaan yang sudah ada itu bisa menampung semua penduduk usia produktif di Indonesia. Jadi mau tidak mau harus ada pengusaha-pengusaha baru yang muncul yang memang bisa mengisi kekosongan di dalam pasar,” ujar Devi Angrahini A. Lembana, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) AJIB.

Mematangkan Ide Bisnis Melalui Design Thinking

Innovesia ajarkan pendekatan Design Thinking dalam Bootcamp Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) (Sumber: Innovesia)

Semangat inilah yang mendorong AJIB menyelenggarakan serangkaian bootcamp untuk membimbing mahasiswa Unika Atma Jaya yang tertarik berwirausaha untuk mematangkan ide bisnis secara intensif. Bootcamp sendiri merupakan bagian dari program inkubasi AJIB yang telah memasuki Angkatan ke-3.

Bootcamp dibuat karena kami melihat bahwa pengembangan ide bisnis itu perlu dilakukan secara intensif. Jadi, dengan bootcamp ini kami mencoba membuat kelas yang mendalam sehingga dalam waktu dua minggu, mahasiswa yang mengikuti program ini dapat fokus mengembangkan ide bisnis sampai bisa menghasilkan satu prototype dan agar mereka siap menceritakan ide bisnis mereka ke orang lain,” jelas Devi.

Sebanyak 27 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Fakultas Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi (FIABIKOM), secara aktif terlibat dalam Bootcamp Design Thinking yang dibawakan Innovesia. 

Bertempat di Gedung K2 Unika Atma Jaya, Innovesia mengajak seluruh peserta menggunakan design thinking, sebuah pola pikir yang berpusat pada pengguna, untuk mengembangkan ide bisnis mereka dengan memusatkan calon pelanggan pada setiap langkah perumusan rencana bisnis mereka.

Selama empat hari, Innovesia secara intensif mengajarkan design thinking agar peserta mendapatkan first-hand-experience tentang bagaimana menemukan bisnis yang cocok dengan minat mereka selagi menjawab kebutuhan pasar. Dengan begitu, ide bisnis yang mereka kembangkan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang belum terjawab atau bahkan terabaikan.

“Innovesia mengajak seluruh peserta untuk bisa menelusuri kembali ide awal mereka, agar ide bisnis yang mereka bangun didasarkan pada fakta dan data yang kuat akan esensi keberadaannya bagi target pelanggan,” ujar Fiter Bagus.

Pola pikir design thinking sendiri dipilih Unika Atma Jaya karena dinilai menjadi metode yang paling tepat untuk membuka pikiran mahasiswa agar dapat mengesampingkan asumsi dan perasaan mereka ketika merancang sebuah ide bisnis.

Innovesia menanamkan pendekatan Design Thinking pada Bootcamp Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) (Dok. Innovesia)

“Kami sudah beberapa kali bekerja bersama Innovesia dan kami lihat memang metode design thinking ini paling bisa diterapkan untuk mengajarkan mahasiswa. Hal terpenting adalah, kalau membuat atau mendirikan bisnis itu tidak bisa berdasarkan pikiran atau perasaan kita, atau hanya dengan menganalisa pesaing. Akan tetapi, harus benar-benar mendalami apa yang sebenarnya dibutuhkan konsumen. Inilah manfaat terbesar design thinking,” jelas Devi.

Selain dapat membimbing mahasiswa untuk merancang ide atau rencana bisnis yang sesuai kebutuhan pasar. Pola pikir design thinking juga dinilai Unika Atma Jaya relevan dengan nilai-nilai kewirausahaan yang diajarkan universitas serta praktik nyata di lapangan.

“Pendekatan design thinking dari Innovesia kita lihat itu memang berkesinambungan dengan teori yang kami ajarkan di kelas juga dengan apa yang diterapkan di lapangan. Metode ini yang kami rasa merupakan pilihan terbaik untuk saat ini,” lanjut Devi.

Selama empat hari, Innovesia mengajarkan metode design thinking secara intensif. Mulai dari membimbing setiap peserta yang mengikuti program AJIB untuk menemukan ide bisnis yang sesuai kaidah design thinking, mengidentifikasi masalah untuk mencari peluang, memahami permasalahan tersebut dari sudut pandang calon pelanggan, sampai pada pencarian ide untuk memberikan solusi bagi pelanggan dalam bentuk prototype sederhana.

Tak hanya membimbing peserta mematangkan ide bisnis mereka melalui pendekatan design thinking, Innovesia turut memastikan bahwa setiap peserta mampu mengemas dan mengomunikasikan inovasi mereka secara menarik. Melalui kelas Proposal Writing yang digelar secara daring pada 4 September, Innovesia memastikan setiap peserta Bootcamp AJIB mampu membangun pitch deck yang efektif dan menguasai teknik dasar storytelling guna menunjukkan keunggulan inovasinya dengan baik.

Innovesia mengisi kelas Proposal Writing dalam Bootcam Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) (Sumber: Innovesia)

“Inovasi yang baik belum tentu punya dampak yang baik, dari segi revenue maupun sosial jika tidak bisa dikomunikasikan dengan baik. Kami berharap mahasiswa Unika Atma Jaya bisa mengomunikasikan ide inovasinya dengan sempurna, baik secara verbal maupun non verbal agar setiap goals atau tujuan dari ide tersebut bisa dikomunikasikan dengan jelas,” ujar Fiter Bagus.

Innovesia Mendorong Lahirnya Wirausaha Muda di Indonesia

Seperti Unika Atma Jaya, Innovesia berharap kedepannya akan semakin banyak universitas yang melihat pengembangan kewirausahaan sebagai hal yang krusial untuk dijadikan materi pengajaran dalam kurikulum perkuliahan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menyambut masa puncak bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada 2030.

Menciptakan lebih banyak wirausaha juga sejalan dengan mandat Kementerian Koperasi dan UKM yang menargetkan Indonesia berada di peringkat ke-60 pada Global Entrepreneurship Index (GEI) dari saat ini di posisi ke-75 dari 132 negara. Target tersebut merupakan bagian dari upaya Indonesia menjadi negara maju.

“Peringkat ini jelas menunjukkan bahwa peluang dunia kewirausahaan di Indonesia masih terbuka luas. Hal inilah yang membuat Innovesia optimis bahwa kehadiran program AJIB menjadi salah satu solusi dalam mencetak potensi wirausaha muda bagi Indonesia. Kami berharap akan semakin banyak perguruan tinggi yang melihat potensi serupa,” ujar Fiter Bagus.

]]>
https://designthinking.id/edukasi/jawab-tantangan-bonus-demografi-innovesia-bimbing-mahasiswa-unika-atma-jaya-kembangkan-ide-bisnis/feed/ 0
Implementasi Crowdsourcing yang Tepat untuk Memajukan Bisnis https://designthinking.id/eksklusif/implementasi-crowdsourcing-yang-tepat-untuk-memajukan-bisnis/ https://designthinking.id/eksklusif/implementasi-crowdsourcing-yang-tepat-untuk-memajukan-bisnis/#respond Tue, 12 Sep 2023 06:32:36 +0000 https://designthinking.id/?p=1555 Perkembangan teknologi tak hanya menuntut perusahaan untuk terus berinovasi, tapi juga mengubah cara mereka dalam berinovasi. Jika dahulu inovasi dilakukan melalui penelitian internal perusahaan oleh departemen litbang, internet telah membuka peluang bagi perusahaan memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan ratusan bahkan ribuan pakar lintas ilmu disiplin. Semua itu dimungkinkan melalui crowdsourcing.

Fiter Bagus Cahyono, Direktur, Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi bisnis, mengartikan crowdsourcing sebagai pendekatan yang memungkinkan perusahaan atau organisasi lainnya untuk memperoleh ide atau konten yang dibutuhkan dengan meminta kontribusi dari sekelompok besar orang.

“Melalui crowdsourcing, perusahaan atau bisnis dapat memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan banyak orang untuk membantu mereka mencapai sejumlah keuntungan. Dan dengan internet, orang-orang ini tidak hanya terbatas pada suatu demografi saja, tapi di seluruh dunia,” jelas Fiter Bagus.

Luasnya ruang lingkup ini dinilai Fiter Bagus membuat banyak perusahaan mulai mengadopsi crowdsourcing untuk tetap relevan di industri dan mencapai keunggulan kompetitif.

“Dalam hal ini, crowdsourcing dinilai jauh lebih efektif daripada pendekatan inovasi terbuka lainnya, seperti program startup inkubator, model klien ventura atau venture client model, dan jauh lebih unggul dari membangun pusat atau laboratorium inovasi,” ujar Fiter Bagus.

Senada, Digital Transformation Expert, Daniel Oscar Baskoro, metode crowdsourcing membuka kesempatan bagi perusahaan untuk bekerja sama dengan publik guna mencapai ragam tujuan yang luas. Dengan crowdsourcing, Oscar menyebut, perusahaan mampu memanfaatkan ‘crowd’ atau keramaian untuk menghimpun ide dalam jumlah yang masif, mengembangkan produk, bahkan sampai membantu melakukan monitoring dan evaluasi.

“Crowdsourcing ini bisa digunakan untuk tujuan yang luas, misalnya untuk mengembangkan sebuah produk, untuk menghimpun ide dari masyarakat, itu pernah saya lakukan. Kemudian untuk monitoring dan evaluasi, banyak sekali,” ujar Oscar yang telah berpengalaman membantu perusahaan dan pemerintah melakukan crowdsourcing.

Menghimpun Ide atau Gagasan Inovasi Secara Masif

Ilustrasi ideation (Dok. Innovesia)

Mengingat tujuannya untuk menghimpun beragam ide atau solusi, manfaat paling signifikan dari crowdsourcing adalah kemampuannya untuk menemukan solusi yang tidak terduga atau out-of-the-box.

Sumber daya manusia menjadi hambatan terbesar bagi banyak perusahaan untuk berinovasi. Riset bertajuk Gartner CMO Brand Strategy and Innovation Survey mencatat sebanyak 41% perusahaan kesulitan berinovasi karena kurangnya sumber daya manusia dengan keterampilan yang dibutuhkan.

Menurut Oscar, crowdsourcing telah memungkinkan apa yang tidak bisa dilakukan tim riset internal perusahaan. Pasalnya, crowdsourcing mampu mengatasi masalah keterbatasan sumber daya manusia dengan mengundang kelompok pemikir atau inovator dari berbagai disiplin ilmu untuk menyumbangkan pengetahuan mereka dan membantu perusahaan berinovasi. Khususnya bagi bisnis dengan basis pengguna atau user yang melimpah.

“Ketika mereka memiliki user yang besar, akan sulit bagi perusahaan untuk menangkap permasalahan terhadap produknya atau juga masukan terhadap produknya, dan dengan crowdsourcing perusahaan bisa menghimpun data yang lebih luas, lebih besar, lebih banyak, jadi mereka akan mendapatkan point of view yang lebih luas,” jelas sosok dibalik berbagai inovasi teknologi kemanusiaan di Indonesia.

Memanfaatkan keterampilan dan pengetahuan banyak orang dari luar perusahaan, disebut sosok yang berpengalaman memimpin pengelolaan inisiatif digital pemerintah itu, juga mampu membantu perusahaan keluar dari cara-cara lama mereka memecahkan masalah dan keluar dari stagnasi.

Crowdsourcing bisa jadi jalan keluar ketika perusahaan sudah kehabisan ide atau stuck dan membutuhkan ide baru, atau ketika produk mereka sudah dikembangkan secara maksimal tapi tidak punya gagasan untuk menciptakan produk baru. Saat itu lah crowdsourcing menjadi semacam jalan keluar bagi perusahaan untuk menjaring ide-ide, gagasan dan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya,” ujar Oscar.

Mengesampingkan Asumsi Perusahaan

Tak cuma menghimpun ide secara masif, crowdsourcing disebut Oscar mendorong perusahaan mengumpulkan data dan informasi berdasarkan pengalaman nyata dan fakta yang diperoleh langsung dari masyarakat atau pengguna. Dengan begitu, perusahaan dapat mengesampingkan segala asumsi mereka, baik ketika menghimpun masalah utama yang sebenarnya dihadapi perusahaan atau ketika mencari solusi atas permasalahan berikut. Alhasil, solusi yang dihasilkan sudah pasti tepat sasaran.

“Satu hal mendasar dalam crowdsourcing adalah menghilangkan asumsi. Karena ketika kita menghimpun masalah melalui crowdsourcing, we got all the problem from the real user. Sebaliknya, ketika masalahnya ditentukan berdasarkan asumsi, solusi yang dibuat sudah pasti tidak sesuai karena cara mereka mendapatkan masalahnya saja berdasarkan asumsi,” jelas Oscar yang sempat menghabiskan waktunya bekerja untuk  Lembaga Internasional di bidang teknologi untuk kemanusiaan.

Crowdsourcing juga bisa digunakan untuk menguji asumsi yang telah ada. Dengan mengajukan pertanyaan kepada masyarakat, perusahaan dapat melihat apakah asumsi mereka diterima atau dipertanyakan oleh mayoritas orang. Hal ini juga disebut Oscar sebagai salah satu keuntungan crowdsourcing dalam hal menilai kedalaman suatu masalah.

“Yang paling penting juga dari crowdsourcing kita bisa melihat kedalaman masalahnya. Misalnya ketika ada ratusan orang menyebutkan masalah yang sama, maka masalah itu kemungkinan menjadi masalah utama yang benar-benar dihadapi masyarakat,” tutur Oscar menjelaskan.

Berinovasi Lebih Cepat dan Hemat Biaya

Ilustrasi (Sumber: Freepik)

Saat memecahkan masalah secara internal, perusahaan dibatasi dengan seberapa cepat departemen litbang atau karyawan mereka dapat bekerja. Crowdsourcing juga memungkinkan perusahaan mengeluarkan lebih sedikit biaya.

Menurut Oscar, melalui crowdsourcing, perusahaan tidak perlu mempekerjakan para ahli, insinyur, atau membangun laboratorium inovasi. Mereka hanya perlu meluncurkan tantangan atau pertanyaan, menyusun tujuan atau goals, menyusun metodologi crowdsourcing secara end-to-end dan memberikan insentif bagi pihak yang mengurunkan dayanya. Oscar menekankan, insentif yang diberikan tak melulu berbentuk materi, bisa berupa sertifikat, penghargaan, dan lain sebagainya.

“Sebenarnya perusahaan bisa mempekerjakan researcher atau peneliti ya, tapi tentu membutuhkan biayanya besar sekali. Dengan crowdsourcing, biayanya lebih rendah dan perusahaan bisa menghimpun ide dengan lebih maksimal,” kata Oscar.

Salah satu bukti nyata kesuksesan crowdsourcing terlihat dari kompetisi The Goldcorp Challenge pada tahun 2000. Dengan mempublikasikan 400 megabyte data geologis hasil riset perusahaan dan menawarkan CAD 575.000 (Rp3,6 miliar), Goldcorp dikirimi 1.000 ide inovasi yang salah satunya memungkinkan perusahaan mengidentifikasi 110 lokasi deposit emas dan menemukan emas senilai CAD 6 miliar (Rp38 triliun).

Sarana Pemasaran Terbaik dalam Meningkatkan Brand Awareness

Ilustrasi (Sumber: Investopedia)

Memiliki aspek komunal serta kompetitif, membuat crowdsourcing tidak hanya menawarkan kesempatan untuk mengembangkan solusi atau ide inovasi, tapi juga meningkatkan awareness atau kesadaran di masyarakat.

Crowdsourcing pastinya mampu meningkatkan awareness perusahaan karena masyarakat sangat dilibatkan disitu,” jelas Oscar.

Lays misalnya, produsen makanan ringan asal Amerika itu beralih ke crowdsourcing untuk meminta penggemar keripik kentang menyumbangkan ide terbaik untuk rasa keripik kentang baru mereka. Melalui crowdsourcing bertajuk ‘Do Us Flavor’, Lays menerima 14,4 juta ide rasa baru sekaligus meningkatkan citra positif merek tersebut.

Dari kasus Lays tercermin bagaimana crowdsourcing menawarkan sarana pemasaran yang cerdas karena dapat menjadi sarana memasarkan nama perusahaan mereka ke khalayak luas dan melibatkan mereka dengan cara yang menyenangkan. Tentu hal ini akan membantu membangun jaringan penggemar yang lebih besar.

Memastikan Keberhasilan Crowdsourcing 

Terlepas dari segudang manfaat yang diberikan, melaksanakan crowdsourcing tidak bisa dianggap sepele. Oscar menegaskan, banyak perusahaan terjebak dan menganggap metode satu ini sebagai ajang kompetisi inovasi. Meski melibatkan tantangan yang perlu diselesaikan, crowdsourcing lebih dari sekedar menghimpun ide inovasi.

“Ada miskonsepsi di mana perusahaan melihat crowdsourcing hanya sebagai kompetisi menghimpun ide. Dapat proposal, penjurian, menentukan juara sudah selesai. Kadang-kadang semua berhenti di competition, ga diteruskan dan itu bukan crowdsourcing. Karena crowdsourcing itu harus sampai pada implementasi dari ide atau solusi tersebut,” ujar Oscar menekankan.

Sosok Daniel Oscar Baskoro (Dok. Istimewa)

Atas dasar itu Oscar menekankan dibutuhkan strategi atau metodologi secara end-to-end mulai dari mengkurasi masalah yang dihadapi perusahaan dan menentukan masalah utama yang hendak diselesaikan, lalu menghimpun solusi hingga memastikan solusi tersebut bisa diimplementasikan di dalam perusahaan.

End-to-end ini yang terkadang suka lepas di perusahaan-perusahaan, jadi saya kira perlu memang ada satu framework untuk memastikan crowdsourcing ini ga cuma collecting the information, collecting the idea, tapi juga memikirkan langkah selanjutnya setelah mendapatkan solusi tadi,” lanjut Oscar.

Mengingat besarnya keuntungan yang didapat perusahaan melalui crowdsourcing, Oscar berharap akan lebih banyak bisnis mengadopsi metode satu ini dalam memecahkan masalah dan membantu perusahaan untuk tetap relevan di lanskap bisnis yang kian kompetitif.

“Saya kira crowdsourcing menjadi metode yang harusnya sudah mulai dilakukan banyak perusahaan ya. Apalagi kita berpindah pada sebuah era kompetisi yang sangat ketat dan juga situasi yang tidak pasti. Dengan crowdsourcing perusahaan akan terbantu untuk memahami apa yang betul-betul dibutuhkan masyarakat terkait produk atau layanan perusahaan. Dengan begitu bisnis mereka bisa terus berkembang,” tutup Oscar.

Paham betul krusialnya strategi end-to-end dalam praktik crowdsourcing, Innovesia, perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, telah berpengalaman menuntun perusahaan atau organisasi lainnya untuk mengembangkan strategi dan eksekusi crowdsourcing demi mengembangkan model bisnis melalui layanan konsultasi end-to-end yang strategis.

Berdiri sejak 2015, Innovesia tak hanya dipercaya atas kemampuannya menjelajahi potensi inovasi dari luar perusahaan. Tapi juga membantu perusahaan mengidentifikasi dan mendalami masalah utama mereka dalam bisnis. Lebih dari itu, melalui program inkubasi yang ditawarkan, Innovesia turut memastikan solusi yang dihimpun selama proses crowdsourcing dapat dimatangkan dari sekedar konsep untuk kemudian diimplementasikan dengan baik oleh perusahaan.

“Dengan visi membantu pengembangan inovasi yang fokus pada target pengguna, Innovesia membuka peluang bagi setiap perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui crowdsourcing. Dengan jaringan expert dari berbagai disiplin ilmu berbeda, Innovesia memastikan crowdsourcing dilakukan secara strategis, mulai dari memperdalam masalah yang dihadapi perusahaan hingga memastikan setiap ide inovasi yang dihimpun benar-benar mampu menyelesaikan masalah tersebut secara menyeluruh,” ujar Fiter Bagus Cahyono, Direktur, Innovesia.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/implementasi-crowdsourcing-yang-tepat-untuk-memajukan-bisnis/feed/ 0
New Venture School, Cara Pertamina Implementasikan ESG Lewat Program Inovasi https://designthinking.id/eksklusif/new-venture-school-cara-pertamina-implementasikan-esg-lewat-program-inovasi/ https://designthinking.id/eksklusif/new-venture-school-cara-pertamina-implementasikan-esg-lewat-program-inovasi/#respond Fri, 08 Sep 2023 06:28:28 +0000 https://designthinking.id/?p=1551 Sebagai perusahaan terdepan dalam transisi energi yang berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 Indonesia, PT Pertamina (Persero) meluncurkan New Venture School, sebuah platform kurikulum pendidikan inovasi bisnis bagi pegawai Pertamina.  Sejalan dengan penerapan Environmental, Social and Governance (ESG), New Venture School menjadi platform bagi Pertamina untuk senantiasa meningkatkan keterampilan karyawaannya dan mendorong inovasi di sektor transisi energi.

Menurut Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Bisnis Pertamina, Salyadi Saputra, New Venture School merupakan bentuk komitmen Pertamina yang selalu berusaha memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh pegawainya untuk meningkatkan keterampilan. Sesuai dengan visi Pertamina sebagai perusahaan berkelanjutan, peningkatan kompetensi memang menjadi salah satu perhatian perusahaan terhadap tenaga kerjanya.

Lebih lanjut Salyadi menekankan program New Venture School akan mendorong pegawai untuk menciptakan berbagai penelitian dan inovasi sebagai langkah mengembangkan ketajaman bisnis untuk menghadapi tantangan transisi energi di masa depan.

“Banyak perwira muda Pertamina yang ingin mentransformasikan ide-idenya menjadi produk atau layanan yang bermanfaat bagi Pertamina dan Indonesia. Ke depannya, transisi energi yang dapat menghasilkan ide dan riset sangat penting dalam meningkatkan kinerja Pertamina sebagai perusahaan migas, khususnya di sektor energi terbarukan. Inovasi-inovasi ini juga diharapkan dapat meluas ke industri lain,” jelas Salyadi saat acara peluncuran New Venture School pada Juni lalu.

Dioperasikan oleh New Venture Team yang merupakan tim inkubator khusus Pertamina, New Venture School diharapkan mampu mengembangkan soft skill dan hard skill seluruh pegawai Pertamina untuk memahami dasar-dasar pengembangan inovasi bisnis.

“Melalui Pertamina New Venture School, Pertamina mendorong tumbuhnya inovator dan ekosistemnya di lingkungan tenaga kerja Pertamina,” kata Salyadi.

New Venture School sebagai Implementasi ESG Pertamina

Fadjar Djoko Santoso, VP Corporate Communication Pertamina, mengungkapkan peluncuran program New Venture School merupakan salah satu implementasi Pertamina dalam bidang ESG, khususnya dalam aspek sosial dan lingkungan hidup.

Dalam aspek sosial, Fadjar Djoko Santoso menjelaskan, New Venture School menjadi bentuk kepedulian perusahaan terhadap pengembangan kompetensi pekerja dan pemerataan kesempatan belajar. New Venture School juga diharapkan memperkuat keterlibatan pegawai terhadap masyarakat melalui tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility.

Aspek sosial dalam ESG sendiri berbicara mengenai bagaimana hubungan sebuah perusahaan dengan pegawai, pemasok, pelanggan, dan komunitas tempat perusahaan beroperasi. Untuk memenuhi aspek sosial dalam ESG, perusahaan harus bergerak aktif untuk mendalami masalah sosial berkisar dari hak asasi manusia dan kesehatan dan keselamatan pekerja.

Sementara implementasi pada aspek lingkungan, terlihat dari bagaimana New Venture School ditujukan untuk pengembangan pegawai untuk berinovasi dan menciptakan produk yang mendorong transisi energi sekaligus mengurangi emisi karbon. Hal ini mencakup pengembangan sumber energi baru terbarukan seperti solar EV, hidrogen, energi panas bumi, dan lainnya untuk mendukung program emisi nol bersih atau net zero emission (NZE).

“New Venture School merupakan salah satu program komprehensif yang bertujuan untuk menghasilkan tidak hanya pegawai yang terampil, kompeten, dan berdaya, tetapi juga individu yang menjunjung tinggi tata kelola dan mewujudkan nilai-nilai perusahaan,” tambah Fadjar.

Dengan mendorong inovasi dalam transisi energi, Pertamina telah mempertimbangkan bagaimana operasional perusahaan mampu memberikan dampak positif untuk perusahaan itu sendiri dan untuk lingkungan. Program inovasi seperti New Venture School akan membantu Pertamina mengidentifikasi, menilai dan mengembangkan solusi yang memenuhi kebutuhan ESG.

Dengan melibatkan ratusan bahkan ribuan pegawai, program inovasi memungkinkan perusahaan membangun dasar pernyataan masalah yang jelas. Selanjutnya, program inovasi akan membantu perusahaan mengembangkan ide-ide inovasi menjadi solusi yang dapat diimplementasikan dan jika dilakukan dengan benar, hasilnya akan menjadi aset nyata bagi kinerja ESG perusahaan.

Ketika program inovasi menjadi upaya berkelanjutan, perusahaan tengah membangun basis data berharga yang berisi talenta, ide, dan solusi yang terus memberikan nilai dan memenuhi tujuan ESG.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/new-venture-school-cara-pertamina-implementasikan-esg-lewat-program-inovasi/feed/ 0
4 Kunci Keberhasilan dalam Crowdsourcing https://designthinking.id/eksklusif/4-kunci-keberhasilan-dalam-crowdsourcing/ https://designthinking.id/eksklusif/4-kunci-keberhasilan-dalam-crowdsourcing/#respond Wed, 06 Sep 2023 06:16:49 +0000 https://designthinking.id/?p=1543 Crowdsourcing memang memungkinkan perusahaan atau organisasi lainnya untuk menghimpun ide atau sumber daya lainnya secara masif dari banyak orang dengan berbagai latar belakang. Namun, crowdsourcing tak hanya soal menghimpun ide dengan lebih cepat dan biaya yang lebih murah, tapi memastikan bahwa ide yang dihimpun mampu menjawab permasalahan dan kebutuhan perusahaan.

Digital Transformation Expert, Daniel Oscar Baskoro, menerangkan banyak perusahaan terjebak pada tahap kompetisi dalam praktik crowdsourcing, tanpa melanjutkan menuju tahap implementasi yang seharusnya.

“Dewasa ini crowdsourcing banyak digunakan perusahaan-perusahaan untuk menghimpun ide, gagasan atau masalah, tapi yang paling krusial ada miskonsepsi di sini, di mana perusahaan sering kali menyamakan crowdsourcing dengan kompetisi,” ujar pria lulusan Columbia University tersebut kerap luput dalam pelaksanaan crowdsourcing.

Pria yang telah membantu banyak perusahaan dan pemerintah mencapai tujuan organisasi melalui crowdsourcing selama lebih dari tujuh tahun itu menekankan bahwa esensi sejati dari crowdsourcing justru terletak pada bagaimana perusahaan memastikan dapat menghimpun ide-ide yang mampu diimplementasikan guna menjawab tantangan yang dihadapi perusahaan dan bukan hanya sekadar pada tahap persaingan semata.

“Tak sedikit perusahaan yang melakukan crowdsourcing justru semua berhenti di competition dan itu bukan crowdsourcing. Karena crowdsourcing itu harus sampai pada implementasi dari ide atau solusi tersebut,” jelas Oscar menekankan.

Langkah lanjutan inilah yang dinilai Oscar kerap luput dalam pelaksanaan crowdsourcing. Padahal tanpa langkah-langkah konkret untuk mengimplementasikan solusi, potensi inovasi dari crowdsourcing tidak akan sepenuhnya dimanfaatkan.

Berikut empat langkah krusial untuk memastikan crowdsourcing lebih dari sekedar pengumpulan ide-ide, tetapi juga menjadi alat yang kuat untuk menghasilkan solusi nyata dan mendukung perkembangan perusahaan yang berkelanjutan.

1. Menetapkan Strategi dan Tujuan Crowdsourcing

Oscar menekankan dibutuhkan strategi atau metodologi secara end-to-end sebagai guide atau pedoman yang menuntun perusahaan mulai dari mengidentifikasi masalah utama mereka, menentukan target, menghimpun dan menyeleksi solusi, hingga membawa ide tersebut sebagai solusi untuk menyelesaikan tantangan atau masalah perusahaan.

“Kalau crowdsourcing mikirnya harus secara end-to-end, apa yang hendak kita solve, siapa target yang akan dihimpun masalahnya, bagaimana kita bisa mengkurasi masalah, kemudian tahapan crowdsourcing ide atau solusi, setelah itu pastikan solusi tadi bisa di-deliver menjadi sebuah program,” jelas Oscar.

Pola pikir inilah yang menurut Oscar kerap luput dilakukan oleh banyak perusahaan ketika berhadapan dengan crowdsourcing. Menurutnya, banyak langkah lain yang sudah harus ditetapkan sejak awal merencanakan crowdsourcing sehingga prosesnya tak berhenti usai mengumpulkan ide.

End-to-end ini yang terkadang suka lepas di perusahaan-perusahaan, jadi saya kira perlu memang ada satu framework untuk memastikan crowdsourcing ini ga cuma collecting the information, collecting the idea, tapi juga memikirkan langkah lanjutan setelah mendapatkan solusi tadi,” ujar sosok dibalik berbagai inovasi teknologi digital kemanusiaan.

2. Mengidentifikasi Masalah Secara Cermat

Mengidentifikasi masalah juga kerap disepelekan perusahaan ketika hendak melakukan crowdsourcing. Padahal, menentukan masalah yang tepat merupakan inti dari crowdsourcing. Menurut Oscar, tak sedikit perusahaan yang menentukan masalah berdasarkan asumsi yang belum tentu benar.

“Kadang-kadang orang melakukan crowdsourcing itu mikirin ngumpulin ide-ide saja, padahal yang tak kalah penting adalah mengumpulkan masalah, yang seharusnya juga dilakukan melalui crowdsourcing. Crowdsourcing masalahnya dulu baru solusinya,” tutur Oscar.

Dengan crowdsourcing, perusahaan akan mendapatkan wawasan tentang masalah nyata yang sebenarnya mereka hadapi karena masalah itu disampaikan langsung oleh banyak pengguna atau user mereka yang menjadi target crowdsourcing.

“Satu hal mendasar dalam crowdsourcing adalah menghilangkan asumsi. Karena ketika kita menghimpun masalah melalui crowdsourcing, we got all the problem from the real user. Sebaliknya, ketika masalahnya ditentukan berdasarkan asumsi, solusi yang dibuat sudah pasti tidak sesuai karena cara mereka mendapatkan masalahnya saja berdasarkan asumsi,” jelas Oscar.

Sosok Daniel Oscar Baskoro (Dok. Istimewa)

Selain itu, menghimpun masalah langsung dari user melalui crowdsourcing juga memungkinkan perusahaan menilai kedalaman masalah mereka berdasarkan fakta yang ada di lapangan.

“Yang paling penting juga dari crowdsourcing kita bisa melihat kedalaman masalah yang dihadapi. Misalnya ketika ada ratusan orang menyebutkan masalah yang sama, maka masalah itu kemungkinan menjadi masalah utama yang benar-benar dihadapi masyarakat,” tutur Oscar menjelaskan.

3. Mempersiapkan Insentif Bagi Peserta

Mengingat inti dari crowdsourcing adalah ‘crowd’ atau keramaian, keberhasilan proyek crowdsourcing sangat bergantung pada memotivasi orang banyak untuk berkontribusi.

“Inti dari crowdsourcing adalah crowd-nya, bukan sekedar sourcing kalau tidak ada crowd maka bagaimana sourcing bisa dilakukan. Ketika berbicara terkait crowdsourcing kita harus memposisikan diri sebagai peserta dan berpikir apa yang membuat mereka mau turut berkontribusi atau urun daya,” ujar Oscar.

Menurut Oscar, perusahaan harus mampu mendorong publik atau target mereka untuk menyumbangkan pengetahuan atau keterampilannya. Dan salah satu metode yang sangat efektif untuk memberi insentif kepada target peserta adalah dengan mengadakan kompetisi di mana mereka bersaing satu sama lain untuk mendapatkan hadiah.

“Misalnya dulu ketika saya diminta mengumpulkan data-data pedagang kaki lima di suatu provinsi, saya berikan insentif berupa voucher pulsa kepada lima peserta yang memberikan data terbanyak. Jadi insentif itu penting untuk disiapkan di setiap proyek crowdsourcing,” jelasnya.

Meski, dorongan berupa insentif kian penting, Oscar menekankan insentif tak harus melulu berupa materi tapi juga bisa dalam bentuk penghargaan lain yang mampu mendorong partisipasi banyak orang.

“Insentif tidak melulu soal materi ya, jadi jangan sampai salah pemahaman. Insentif itu bisa berupa sertifikat, atau sistem penghargaan lain, misalnya penghargaan yang menyatakan bahwa yang mengirimkan ide berkontribusi terhadap Indonesia. Hal seperti itu bisa menjadi insentif juga,” tutur Oscar.

4. Melindungi Informasi Rahasia Perusahaan dan HaKI

Meski crowdsourcing memberikan akses terhadap ide-ide dari publik, sifat keterbukaan ini juga bisa menjadi masalah tersendiri khususnya terkait hal-hal yang mungkin menguntungkan kompetitor. Ketika suatu perusahaan memutuskan menggelar crowdsourcing, mereka turut mengumumkan masalah yang dimiliki perusahaan. Ada juga potensi risiko terhadap reputasi perusahaan, di mana bisnis mereka misalnya dianggap kehabisan ide.

Menghadapi masalah ini, Oscar menegaskan perusahaan diharuskan untuk membingkai masalah mereka khususnya jika menyentuh hal yang kian sensitif. Begitu juga dengan solusi yang diterima. Penting untuk memastikan isu sensitif dan solusi yang didapat dari crowdsourcing tetap menjadi kerahasiaan perusahaan.

“Masalah perusahaan mungkin harus kita buka ke publik tapi harus kita framing sebaik mungkin agar tidak ada rahasia yang keluar. Begitu juga dengan solusi. Perusahaan harus jaga solusi jangan sampai kemana-mana dan masalah perusahaan juga jangan sampai keluar kemana-mana itu harus jadi rahasia perusahaan,” jelas Oscar.

Perusahaan juga harus merumuskan syarat dan ketentuan yang mengatur pelaksanaan proyek crowdsourcing dapat membantu mendefinisikan hubungan antara peserta serta hak dan kewajiban mereka terkait dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual atas informasi atau ide apapun yang peserta berikan ke perusahaan melalui crowdsourcing.

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/4-kunci-keberhasilan-dalam-crowdsourcing/feed/ 0
Meningkatkan Efektivitas Crowdsourcing dengan Strategi End-to-End https://designthinking.id/eksklusif/meningkatkan-efektivitas-crowdsourcing-dengan-strategi-end-to-end/ https://designthinking.id/eksklusif/meningkatkan-efektivitas-crowdsourcing-dengan-strategi-end-to-end/#respond Mon, 04 Sep 2023 06:30:21 +0000 https://designthinking.id/?p=1534 Crowdsourcing memang menawarkan kemudahan untuk menghimpun ide atau gagasan baru yang segar. Melalui crowdsourcing, perusahaan atau organisasi lainnya bisa memperoleh ide atau konten yang dibutuhkan dengan meminta kontribusi dari sekelompok besar orang. Dengan meluncurkan suatu tantangan ke publik, perusahaan bisa menjaring ide atau solusi secara masif. Namun dalam praktiknya, crowdsourcing sering kali tidak berjalan sesuai harapan karena penanganan yang kurang tepat.

Crowdsourcing
crowdsourcing,
crowdsourcing

Menurut Digital Transformation Expert, Daniel Oscar Baskoro, banyak perusahaan yang hingga kini masih terjebak dan menganggap crowdsourcing hanya sebatas kompetisi untuk mengumpulkan ide dari luar perusahaan.

crowdsourcing

“Ada miskonsepsi di mana perusahaan melihat crowdsourcing hanya sebagai kompetisi menghimpun ide. Dapat proposal, penjurian, menentukan juara sudah selesai. Kadang-kadang semua berhenti di competition, ga diteruskan dan itu bukan crowdsourcing. Karena crowdsourcing itu harus sampai pada implementasi dari ide atau solusi tersebut,” ujar pria yang akrab disapa Oscar itu.


crowdsourcing
competition
crowdsourcing
crowdsourcing
crowdsourcing
Harvard Business Review
,
crowdsourcing,

crowdsourcing

Kegagalan ini bukan datang karena ketidakmampuan crowdsourcing dalam menjaring ide. Pasalnya HBR mencatat inisiatif tersebut menghasilkan lusinan ide inovasi yang layak untuk menyelesaikan setiap tantangan yang diluncurkan VDMA. 

crowdsourcing

Walau banyak ide berhasil dihimpun, tak ada satupun dari solusi itu yang diterapkan oleh anggota asosiasi yang jumlahnya lebih dari 3.200 perusahaan. Alasannya, karena seluruh anggota asosiasi menolak menggunakan ide atau solusi apapun yang tidak ditemukan secara internal.

Nasib yang sama juga menimpa perusahaan rintisan atau startup Quirky. Berdiri pada 2009, Quirky berfokus pada crowdsourcing melalui platform yang memungkinkan para inventor menyampaikan ide inovasi mereka dan mengembangkannya menjadi produk. 

startup
crowdsourcing

Meski sempat mendapatkan pendanaan hingga USD 170 juta, startup bentukan Ben Kaufman itu mengajukan kebangkrutan pada tahun 2015, sebagian karena kegagalan perusahaan dalam mengembangkan sistem untuk meningkatkan penemuannya ke dalam produksi.

startup

Baik, VDMA dan Quirky sama-sama menunjukkan bahwa crowdsourcing bukan hanya sekedar perkara menjaring ide inovasi atau solusi. 

crowdsourcing

Sikap keterbukaan terhadap ide-ide dari luar memang merupakan jiwa dari crowdsourcing. Namun, menurut Oscar, crowdsourcing lebih dari sekedar aktivitas menghimpun ide tapi juga memastikan ide yang dihimpun mampu diubah menjadi solusi atau program yang dapat diadopsi ke perusahaan.

crowdsourcing
crowdsourcing

Langkah lanjutan inilah yang dinilai pria lulusan Columbia University tersebut kerap luput dalam pelaksanaan crowdsourcing. Untuk menghindari apa yang terjadi pada VDMA dan Quirky, perusahaan perlu keluar dari miskonsepsi dan berhenti melihat crowdsourcing sebagai kompetisi. 

crowdsourcing.
crowdsourcing

Oscar menekankan, kompetisi untuk menjaring ide hanyalah langkah permulaan dalam crowdsourcing. Menurut Oscar, setiap entitas baik perusahaan atau organisasi lainnya membutuhkan strategi atau metodologi secara end-to-end ketika hendak menggunakan metode satu ini.

crowdsourcing.
end-to-end

“Kalau crowdsourcing mikirnya harus secara end-to-end, masalahnya apa yang hendak kita selesaikan, siapa target yang akan menghimpun masalahnya, bagaimana kita bisa mengkurasi si masalah, kemudian tahapan kita crowdsourcing idenya bukan hanya masalahnya, solusinya, abis crowdsourcing solusi baru bisa diadopsi menjadi sebuah program,” jelas Oscar.

crowdsourcing
end-to-end
crowdsourcing

Strategi end-to-end inilah yang menurut Oscar kerap dilupakan oleh banyak perusahaan ketika hendak memanfaatkan pengetahuan atau keterampilan masyarakat melalui crowdsourcing. Dalam pandangannya, Oscar menilai keberhasilan crowdsourcing tidak hanya terletak pada proses pengumpulan informasi dan gagasan semata, melainkan juga pada langkah-langkah yang diambil setelah solusi-solusi berharga berhasil ditemukan.

end-to-end
crowdsourcing.
crowdsourcing

“Pastikan tujuannya itu apa dan jelas, dan pastikan metodologi yang digunakan itu secara end-to-end dan tak hanya sekedar mengumpulkan ide tapi memastikan betul setelah ide terkumpul apa yang selanjutnya dilakukan,” tutur Oscar.

end-to-end

Sosok Daniel Oscar Baskoro (Sumber: Istimewa)

safe

Sosok Daniel Oscar Baskoro (Sumber: Istimewa)

Pemikiran ini menyoroti pentingnya merancang pendekatan yang komprehensif, yang melibatkan aspek penerapan, pengembangan, dan adaptasi dari ide-ide yang berasal dari crowdsourcing

crowdsourcing

End-to-end ini yang terkadang suka lepas di perusahaan-perusahaan, jadi saya kira perlu memang ada satu framework untuk memastikan crowdsourcing ini ga cuma collecting the information, collecting the idea, tapi juga memikirkan langkah selanjutnya setelah mendapatkan solusi tadi,” lanjutnya.

End-to-end
framework
crowdsourcing
collecting the information, collecting the idea

Mengingat besarnya keuntungan yang didapat perusahaan melalui crowdsourcing, Oscar berharap akan lebih banyak bisnis mengadopsi metode satu ini dalam memecahkan masalah dan membantu perusahaan untuk tetap relevan di lanskap bisnis yang kian kompetitif.

crowdsourcing,

“Saya kira crowdsourcing menjadi metode yang harusnya sudah mulai dilakukan banyak perusahaan ya. Apalagi kita berpindah pada sebuah era kompetisi yang sangat ketat dan juga situasi yang tidak pasti. Dengan crowdsourcing perusahaan akan terbantu untuk memahami apa yang betul-betul dibutuhkan masyarakat terkait produk atau layanan perusahaan. Dengan begitu bisnis mereka bisa terus berkembang,” tutup Oscar.

crowdsourcing
crowdsourcing

]]>
https://designthinking.id/eksklusif/meningkatkan-efektivitas-crowdsourcing-dengan-strategi-end-to-end/feed/ 0
Mampu Tingkatkan Pendapatan, Banyak Perusahaan Berencana Adopsi Open Innovation https://designthinking.id/teknologi/mampu-tingkatkan-pendapatan-banyak-perusahaan-berencana-adopsi-open-innovation/ https://designthinking.id/teknologi/mampu-tingkatkan-pendapatan-banyak-perusahaan-berencana-adopsi-open-innovation/#respond Thu, 24 Aug 2023 06:24:45 +0000 https://designthinking.id/?p=1507

Sebanyak 71% dari 1.000 perusahaan berencana meningkatkan investasi dalam open innovation setidaknya hingga dua tahun ke depan.

Sebanyak 71% dari 1.000 perusahaan berencana meningkatkan investasi dalam open innovation setidaknya hingga dua tahun ke depan.

Sebanyak 71% dari 1.000 perusahaan berencana meningkatkan investasi dalam open innovation setidaknya hingga dua tahun ke depan.

Sebanyak 71% dari 1.000 perusahaan berencana meningkatkan investasi dalam open innovation setidaknya hingga dua tahun ke depan.

open innovation

Sejak pertama kali diperkenalkan pada 2003 oleh Henry Chesbrough melalui bukunya  Open Innovation: The New Imperative for Creating and Profiting from Technology, inovasi terbuka atau open innovation menjadi semakin penting dalam pengembangan bisnis. Di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompleks, yang didorong oleh cepatnya laju perkembangan teknologi, open innovation menjadi semakin relevan bagi setiap bisnis.

Open Innovation: The New Imperative for Creating and Profiting from Technology,
open innovation
open innovation
open innovation
pen innovation
value
open innovation
startup,

Menurut Fiter Bagus Cahyono, Direktur, Innovesia sebuah perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, open innovation memberi perusahaan akses ke pengetahuan, keahlian dan sumber daya vital lainnya yang jauh lebih luas dan beragam jika dibandingkan dengan apa yang dimiliki departemen R&D internal perusahaan. 

open innovation

Dengan begitu, Fiter Bagus menilai open innovation mampu menyelesaikan keterbatasan sumber daya manusia dan membantu perusahaan untuk memecahkan tantangan bisnis.

open innovation

Open innovation merupakan pendekatan inovasi yang lebih terdistribusi, partisipatif, dan terdesentralisasi yang menciptakan lebih banyak manfaat bagi bisnis. Pendekatan ini bagus untuk mengakses pengetahuan eksternal dan mengadopsinya ke dalam kepentingan dan kemajuan perusahaan,” ujar Fiter Bagus.

Open innovation
try this website

Sederet Benefit Open Innovation Bagi Operasional dan Keuangan Perusahaan

Sederet Benefit Open Innovation Bagi Operasional dan Keuangan Perusahaan

Closed Innovation dan Open Innovation. (Sumber: Istimewa)

Closed Innovation dan Open Innovation. (Sumber: Istimewa)
The Power of Minds: How Open Innovation Offers Benefits For All
,
open innovation
open innovation

Dalam jangka panjang, open innovation turut membawa keuntungan finansial bagi bisnis. Sebanyak 62% perusahaan melaporkan peningkatan pendapatan berkat open innovation. Tak hanya itu, 40% perusahaan juga melaporkan open innovation yang mereka lakukan mampu meningkatkan jumlah peluncuran produk atau layanan yang sukses secara komersial. Sementara 30% perusahaan mengaku open innovation memudahkan mereka untuk mendapatkan akses ke pendanaan publik untuk projek inovasi mereka.

open innovation
open innovation
open innovation
open innovation

Survei yang dilakukan pada Februari hingga Maret 2023 itu juga menunjukkan kemampuan open innovation bagi perusahaan untuk mengadopsi teknologi baru. Dalam hal ini, open innovation telah membantu 58% perusahaan untuk mengatasi tantangan teknis yang mereka hadapi dalam menskalakan teknologi baru. Sementara, 51% perusahaan terbantu dalam mengadopsi penggunaan atau penerapan teknologi baru dalam bisnis mereka.

open innovation
open innovation

Mercedes-Benz misalnya bermitra dengan Nokia Bell Labs dan Bosch untuk menguji penggunaan 5G guna memajukan pengembangan pabrik otomotif yang cerdas. Kolaborasi ketiga perusahaan inidilakukan melalui ARENA2036, sebuah program penelitian kolaboratif di Universitas Stuttgart di Jerman, yang didedikasikan untuk mengembangkan mobilitas dan produksi otomotif generasi berikutnya.

Adapun dalam kolaborasi bersama Nokia dan Bosch, penggunaan 5G untuk mengoperasikan kendaraan terpandu otomatis atau automated guided vehicle (AGV) dengan lebih efisien dan aman di lantai pabrik. Selain itu, open innovation juga memungkinkan keduanya mempelajari kegunaan teknologi 5G untuk untuk mengunduh dan menginstal perangkat lunak kendaraan yang disesuaikan secara otomatis pada saat yang tepat selama perakitan kendaraan.

automated guided vehicle
open innovation

Dengan menyatukan ekosistem mitra dari komunitas ilmiah dan sektor industri, ARENA2036 membantu industri otomotif secara kolektif mengatasi tantangan di berbagai bidang seperti keberlanjutan, konektivitas, dan rantai pasokan.

Open innovation dalam hal ini telah membantu Mercedes-Benz untuk mengembangkan teknologi inovatif untuk kinerja robot produksi mereka di masa depan. Temuan ini kian krusial mengingat industri otomotif menggunakan lebih banyak robot daripada sektor lainnya. 

Open innovation

“Open innovation memang terbukti telah memberikan berbagai manfaat bagi banyak perusahaan tak terkecuali bagi industri otomotif. Pasalnya, industri otomotif menempati posisi kedua sebagai industri yang paling merasakan manfaat open innovation menurut survei Capgemini Research Institute,” jelas Bagus. 

“Open innovation
open innovation

Membantu Perusahaan Mencapai Target Sustainability

Membantu Perusahaan Mencapai Target Sustainability
Sustainability

Ilustrasi prinsip keberlanjutan (Sumber: Shutterstock)

Ilustrasi prinsip keberlanjutan (Sumber: Shutterstock)
open innovation
sustainability
The Power of Minds: How Open Innovation Offers Benefits For All
open innovation
open innovation
open innovation

“Melalui open innovation, perusahaan mampu bekerja sama dengan pihak manapun untuk menemukan solusi terhadap masalah terkait. Perusahaan misalnya bisa bekerja dengan sejumlah startup dan memanfaatkan teknologi mereka seperti artificial intelligence, blockchain, dan sebagainya untuk mencapai tujuan keberlanjutan perusahaan,” kata Bagus.

open innovation,
startup
artificial intelligence, blockchain

Enel misalnya, produsen dan distributor listrik dan gas multinasional asal Italia, yang menjadi satu dari sekian perusahaan energi yang berkolaborasi dalam open innovation untuk mencapai target sustainability. Kemitraan Enel dengan startup Wegaw untuk meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga air milik Enel.

open innovation
sustainability.
startup

Wegaw menawarkan teknologi geospasial yang kompleks membantu perusahaan di seluruh dunia untuk mengoptimalkan aset dengan pemantauan dan perkiraan sumber daya air. Teknologi yang dimiliki Wegaw dalam hal ini membantu Enel mengurangi biaya proyek energi bersih dengan memasukkan data ke dalam model energi yang ada. Dengan begitu, Enel mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang variabel lingkungan yang memungkinkan mereka menyesuaikan harga perdagangan yang lebih tepat. Alhasil, pilot project mereka di Spanyol dan Swiss berhasil melaporkan peningkatan produksi hingga 10% dalam pembangkit energi tenaga air dan peningkatan 5% dalam perdagangan energi dan optimalisasi biaya.

pilot project

Open Innovation Bersama Innovesia

Open Innovation Bersama Innovesia
Open Innovation

Kegiatan Youth4Health oleh UNICEF bersama Innovesia (sumber: Dok.Innovesia)

Kegiatan Youth4Health oleh UNICEF bersama Innovesia (sumber: Dok.Innovesia)

Mengingat besarnya keuntungan yang diperoleh, tak mengherankan jika semakin banyak perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan investasi mereka pada projek open innovation dalam dua tahun kedepan. Meski begitu, survei Capgemini Research Institute mencatat masih banyak perusahaan yang belum mampu memanfaatkan potensi open innovation secara menyeluruh.

open innovation
open innovation

Atas dasar itu, sebagai perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, Innovesia membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja untuk berinovasi secara kolaboratif melalui open innovation. Sejak berdiri pada 2015, Innovesia telah dipercaya lebih dari 100 perusahaan, pemerintah, perusahaan dan institusi pendidikan secara lokal dan global untuk menjelajahi potensi inovasi dari luar perusahaan melalui open innovation untuk mengembangkan kemitraan strategis dan kolaborasi untuk ide-ide inovatif. 

open innovation.
open innovation

Sebagai pengadopsi awal metode design thinking di Indonesia, Innovesia tak hanya membantu perusahaan mempertajam ide inovasi tapi juga memastikan ide inovasi yang dimiliki mampu menjawab kebutuhan pengguna atau pasar. 

design thinking

“Design thinking mengedepankan pola pikir untuk berempati dengan masalah yang berfokus pada manusia, untuk kemudian menemukan pendekatan dan ide-ide inovatif melalui visualisasi dan prototype. Dengan begitu, apa yang dihasilkan oleh design thinking baik produk maupun layanan sudah pasti memenuhi kebutuhan pengguna,” jelas Bagus.

“Design thinking
prototype
design thinking

]]>
https://designthinking.id/teknologi/mampu-tingkatkan-pendapatan-banyak-perusahaan-berencana-adopsi-open-innovation/feed/ 0
Membedah Inovasi Bank of America Melalui Pendekatan Design Thinking https://designthinking.id/keuangan/membedah-inovasi-bank-of-america-melalui-pendekatan-design-thinking/ https://designthinking.id/keuangan/membedah-inovasi-bank-of-america-melalui-pendekatan-design-thinking/#respond Mon, 14 Aug 2023 06:06:30 +0000 https://designthinking.id/?p=1457 Melalui design thinking, Bank of America berhasil menggaet kelompok nasabah baru usai menciptakan produk layanan baru yang mampu membantu sosok ibu tunggal untuk menabung.

Melalui design thinking, Bank of America berhasil menggaet kelompok nasabah baru
usai menciptakan produk layanan baru yang mampu membantu sosok ibu tunggal untuk menabung.

Selama bertahun-tahun, banyak bisnis telah memberi perhatian pada pemecahan masalah dengan cara yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pengguna. Tak heran, jika semakin banyak bisnis beralih menggunakan pendekatan design thinking, sebuah metode berpikir yang menempatkan pengguna sebagai pusat di setiap aspek pengambilan keputusan.

design thinking,

Menurut perusahaan konsultasi yang berfokus pada inovasi, Innovesia, design thinking merupakan proses dan pola pikir untuk berempati dengan masalah yang berfokus pada manusia, agar kemudian dapat menemukan pendekatan dan ide-ide inovatif melalui visualisasi dan purwarupa. 

design thinking

Design thinking mencakup tiga langkah besar yakni inspiration yang mencakup proses mendefinisikan masalah dengan berempati kepada pengguna, ideation yang meliputi proses membangun banyak ide dan solusi, dan implementation yang mencakup pembuatan prototype dan pengujian. Fokus utama design thinking adalah untuk menggali apa yang sebenarnya dirasakan dan dibutuhkan pengguna dan bukan apa yang menurut perusahaan baik untuk pengguna.

Design thinking
inspiration
ideation
implementation
prototype
design thinking
design thinking
design thinking

Sebenarnya, pertanyaan seperti ini amat lazim diajukan oleh layanan perbankan. Tetapi, yang membedakan Bank of America dengan banyak bank lain adalah mereka menyadari kurangnya perspektif pengguna. Untuk mendapatkan lebih banyak wawasan terkait penggunanya, Bank of America kemudian memilih bermitra dengan IDEO, sebuah lembaga konsultasi global di bidang desain dan inovasi yang terkenal karena pendekatan berbasis manusia atau human-centered design.

human-centered design.

Inspiration

Inspiration
this
Inspiration

Alih-alih memulai proyek dengan taktik marketing, Bank of America bersama IDEO memilih terjun langsung ke lapangan untuk mengadakan sesi wawancara dan observasi terhadap calon pengguna mereka. Bersama-sama, tim gabungan yang terdiri dari 5 pegawai Bank of America dan 4 karyawan IDEO melakukan wawancara dan mengamati aktivitas keluarga di Atlanta, Baltimore, dan San Francisco, Amerika Serikat. Wawancara pun dilakukan dengan beragam jenis keluarga, baik yang pandai menabung maupun sebaliknya.

marketing

Tim peneliti bahkan mengikuti lusinan ibu sepanjang ia pergi berbelanja dan makan di restoran. Tak lama kemudian, mereka menyadari sebuah pola yang menarik: Di banyak keluarga, para ibu lah yang bertugas mengatur keuangan.

Mereka lantas memutuskan untuk melihat lebih dekat kepada kelompok ekstrim, yakni sosok ibu tunggal yang seringkali memiliki anggaran yang ketat dan harus mencatat pengeluaran mereka dengan cermat. Para ibu tunggal ini juga sering mengalami kesulitan menabung karena bermacam kondisi seperti tidak memiliki uang untuk disimpan, tidak dapat mengontrol pembelian impulsif, juga karena mereka tidak memiliki waktu untuk menyusun rencana tabungan. 

Ilustrasi menabung (Sumber: The Rent)

Ilustrasi menabung (Sumber: The Rent)

Tim peneliti pun berhasil mengidentifikasi pola menarik dari observasi terhadap pengguna ekstrim ini. Kala itu saat aplikasi perbankan seperti mobile banking belum tersebar luas, banyak ibu tunggal sering membuat catatan bukti transaksi yang berisi daftar tagihan, pengeluaran, dan penarikan ATM. Semua ini dilakukan untuk melacak anggaran keluarga.

mobile banking

Uniknya, para ibu kerap kali mencatatkan segala transaksi dengan angka yang dibulatkan. Misalnya, daripada menulis USD 31,35 mereka akan membulatkannya menjadi USD 32. Ketika tim melakukan wawancara dengan seorang wanita, mereka menemukan bahwa kebiasaan ini bukan semata dilakukan para ibu untuk menyederhanakan perhitungan mereka, tapi juga untuk menambahkan sedikit kelonggaran anggaran untuk setiap bulannya.

Para peneliti kemudian menyadari bahwa perilaku kelompok nasabah ekstrim yang mereka observasi telah mengungkapkan satu kebutuhan perbankan yang belum tertangani, dan menawarkan kesempatan untuk menciptakan nilai bagi pelanggan dan bank.

Ideation

Ideation
Ideation

Setelah menyelesaikan wawancara dan observasi, Faith Tucker dan Ray Chinn, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Bank of America, mengumpulkan sebuah tim yang terdiri dari manajer proyek, ahli keuangan, perancang perangkat lunak, dan ahli operasional untuk brainstorming. 

brainstorming. 

Untuk mencari solusi terkait permasalahan yang dihadapi kelompok ibu tunggal tadi, tim mengadakan 20 sesi brainstorming dan menghasilkan 80 konsep produk. Dari puluhan ide yang terkumpul, ada satu gagasan ide yang paling banyak disukai, yakni program “Keep The Change” atau yang dalam bahasa Indonesia berarti “Simpan Kembaliannya”.

brainstorming

Program ini adalah sebuah layanan yang dapat secara otomatis mengumpulkan semua pembulatan dari pembelian yang dibuat dengan kartu debit masing-masing nasabah. Melalui layanan ini, setiap sen yang dibulatkan akan ditransfer ke dalam rekening nasabah.

Implementation

Implementation
Implementation

Bank of America memutuskan untuk membuat prototype atas solusi tersebut dan mengujinya ke target nasabah mereka, yakni ibu tunggal. Untuk menguji ide ini, tim membuat sebuah video animasi yang menampilkan layanan pembulatan terhadap setiap pembelian nasabah. 

prototype

Video ini lantas dipresentasikan kepada 1.600 orang dan mengadakan survei daring. Responnya pun sangat positif. Tim tak hanya mendapatkan reaksi positif, tapi juga mencatatkan sejumlah ide untuk memperkaya fungsi layanan tersebut, yakni: Rangkuman dari transaksi yang dibulatkan ke dalam rekening, fitur yang mencegah transfer pembulatan yang melebihi dana yang tersedia di rekening nasabah, dan insentif tambahan karena menggunakan pelayanan di mana Bank of America akan melakukan penggandaan jumlah tabungan hingga jumlah tertentu dalam periode 3 bulan pertama.

Setelah mendapat tanggapan yang sangat positif, program “Keep the Change” diajukan ke divisi konsumen dan disetujui.

Sukses

Sukses

Bank of America (Sumber: Sergio Flores/Bloomberg News)

Bank of America (Sumber: Sergio Flores/Bloomberg News)

Layanan “Keep the Change” ternyata sukses besar bagi Bank of America. Sejak diluncurkan pada September 2005, program ini berhasil menarik 2 juta nasabah hanya dalam kurun waktu kurang dari setahun. Pada 2019, tercatat lebih dari 12 juta pelanggan telah mendaftar untuk program ini dan menghemat total lebih dari USD 2 miliar (Rp31 triliun). 

Program ini sangat populer, tidak hanya untuk orang yang mempunyai kesulitan menabung, tetapi dengan semua jenis kalangan nasabah. Di mana, 3 dari 5 pelanggan baru Bank of America memilih untuk mendaftar dalam program ini dan 99% dari mereka yang mendaftar tetap mengikuti program tersebut.

Selain itu, program ini memiliki efek emosional pada nasabah sehingga tidak lagi memiliki rasa malu yang datang bersamaan dengan ketidakmampuan dalam menabung dan digantikan dengan rasa bangga memiliki lebih banyak kontrol terhadap keuangan mereka. 

Pentingnya Berempati melalui Design Thinking

Pentingnya Berempati melalui Design Thinking

Bank of America mengajarkan kita bagaimana empati terhadap pengguna adalah langkah penting yang mengarah ke hasil yang sukses melalui program “Keep The Change”. Tanpa berempati, mustahil Bank of America mampu mengetahui kesulitan nasabah dalam menabung khususnya bagi kelompok ibu tunggal. Tanpa empati, mustahil bagi Bank of America untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan dan dibutuhkan nasabah mereka. 

Berpendapat sama, Saat Prihartono, selaku Country Director di perusahaan fintech Trusting Social dan telah berpengalaman selama lima tahun di lembaga keuangan, menilai pemahaman akan kebutuhan pengguna sangat esensial bagi setiap lembaga keuangan. Pasalnya, melalui pemahaman itulah sebuah lembaga keuangan dapat menciptakan inovasi produk atau layanan yang benar-benar dibutuhkan nasabah mereka.

“Saya pikir sangat esensial ya, bukan hanya penting tapi esensial karena setiap inovasi yang didasarkan pada pemahaman atas kebutuhan pengguna itu akan memberikan impact dan nilai tambah baik kepada pelanggan maupun kepada lembaga keuangan yang melakukan inovasi tersebut,” ujar Saat dalam wawancara eksklusif bersama Innovesia.

impact

Bahkan menurut Saat, tanpa pemahaman yang baik akan kebutuhan pengguna atau nasabah, inovasi yang diciptakan suatu lembaga keuangan akan sulit diterima oleh pasar. Hal ini disebabkan karena nasabah enggan menggunakan suatu layanan atau produk baru jika itu tidak dapat menyelesaikan permasalahan mereka. 

Dengan kata lain, menciptakan inovasi produk atau layanan yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna juga akan mendorong para nasabah untuk mengadopsi inovasi baru oleh layanan keuangan itu sendiri.

“Tanpa solusi yang mampu menjawab kebutuhan pelanggan. Solusi itu tidak akan diterima oleh pelanggan karena buat mereka itu belum mampu menyelesaikan problem mereka secara utuh,” jelasnya.

Mengingat pentingnya memahami kebutuhan pengguna, sudah seharusnya lembaga keuangan baik bank tradisional maupun fintech untuk memulai proses inovasi mereka dengan lebih dulu memahami kebutuhan dan masalah yang dihadapi nasabah mereka.

Dalam hal ini, Saat menekankan pentingnya lembaga keuangan untuk berinteraksi dengan para nasabah dan mencari tahu apa yang mereka suka dan tidak suka, serta apa yang mereka rasakan tak terkecuali keinginan terdalam mereka.

“Yang paling penting yang saya tekankan di sini, adalah bagaimana berinteraksi secara langsung dengan customer, menggali feedback, menanyakan secara langsung dan menggali apa yang tidak terlihat, tidak tersampaikan, namun sangat dibutuhkan oleh pelanggan tersebut,” ujar Saat.

customer,
feedback

]]>
https://designthinking.id/keuangan/membedah-inovasi-bank-of-america-melalui-pendekatan-design-thinking/feed/ 0
Bersama Innovesia, Shell Mobility Ciptakan Peluang Bisnis Baru Melalui Inovasi https://designthinking.id/otomotif/bersama-innovesia-shell-mobility-ciptakan-peluang-bisnis-baru-melalui-inovasi/ https://designthinking.id/otomotif/bersama-innovesia-shell-mobility-ciptakan-peluang-bisnis-baru-melalui-inovasi/#respond Tue, 08 Aug 2023 09:20:14 +0000 https://designthinking.id/?p=1439 Menjadi peritel di sektor mobilitas terbesar di dunia tak lantas membuat Shell Mobility berpuas diri. Tersebar di lebih dari 46.000 lokasi dengan 32 juta pelanggan secara global, Shell Mobility terus berupaya menjadi pemain utama di sektor mobilitas yang tak hanya menawarkan pembelian bahan bakar minyak (BBM), tapi juga penggantian pelumas dan pencucian mobil. Bahkan kebutuhan yang dibutuhkan oleh para pengendara seperti makanan dan minuman.

Dengan semangat itulah, Shell Mobility memutuskan perlunya berinovasi untuk tetap relevan di lanskap bisnis yang terus berubah. Namun, perjalanan inovasi Shell Mobility tidaklah mulus. Dihadapkan pada banyak ide inovasi justru membuat Michael Tumengkol yang sempat menduduki posisi Head of Organizational Development and Learning di Shell Mobility Indonesia mengalami kesulitan.

you can try this out

“Sebelum berinovasi kita berdiskusi bersama banyak pihak di Shell Mobility. Tapi kesimpulannya sederhana, bahwa kita perlu berinovasi mengenai bagaimana kita mengkonstruksi ide, karena idenya banyak tapi cenderung serabutan. Kita kesulitan menerjemahkan ide jadi action,” ujar Michael Tumengkol, yang kini menjabat sebagai Global Learning and Development Advisor di Shell.

Kesulitan menerjemahkan banyaknya ide inovasi yang terkumpul, lantas membuat Michael berpikir perlunya mempelajari pendekatan atau pola pikir yang akan membantu Shell Mobility berinovasi secara terstruktur. Saat itulah Michael memutuskan untuk bekerja sama dengan Innovesia dalam tujuan menanamkan pendekatan inovasi yang tepat.

“Jadi pertimbangan awal kita untuk berinovasi maksudnya adalah membuat pendekatan yang terstruktur dalam menerjemahkan berbagai ide baru menjadi rencana dan action,” lanjut Michael.

Innovesia dipercaya Shell menanamkan pola pikir design thinking kepada pegawai Shell Mobility melalui lokakarya “Innovation by Design for Shell Mobility Indonesia”. Diselenggarakan secara daring serta luring untuk observasi dan wawancara pada Februari 2021, workshop design thinking ditujukan melatih manajerial Shell Mobility dan retailer agar mampu menghasilkan solusi inovatif untuk mempertahankan dan meningkatkan profitabilitas. 

Lebih dari 30 peserta yang terdiri dari sejumlah departemen di Shell Mobility ikut serta mempelajari pendekatan design thinking dari Innovesia yang mencakup tiga tahapan besar, yakni inspiration yang menuntut mereka memahami masalah dengan mempelajari kebutuhan pelanggan melalui imersi, ideation yang membantu Shell Mobility membingkai wawasan dari masalah yang ditemui dan menghasilkan ragam solusi inovatif, juga implementation di mana para peserta lokakarya harus mewujudkan solusi mereka dalam bentuk prototype.

Dari banyaknya pendekatan pemecahan masalah, design thinking dipilih Michael karena pendekatan satu ini mudah dipelajari dan bisa menuntun Shell Mobility memahami masalah utama yang mereka hadapi, menentukan ide inovasi mana yang paling dibutuhkan dan mewujudkan ide itu dari sekedar konsep menjadi solusi nyata.

“Kalau design thinking karena itu adalah hal sederhana untuk menerjemahkan ide jadi rencana, kita bisa melihat bahwa design thinking adalah sesuatu yang bisa dipelajari secara cepat dan orang bisa menangkap konsepnya dengan mudah serta menerjemahkan idenya menjadi action,” jelas Michael.

Dengan bimbingan dari sejumlah fasilitator Innovesia, para peserta yang dibagi ke dalam enam kelompok tak hanya dibimbing untuk memahami akar masalah dari sudut pandang konsumen, tapi juga menghadirkan solusi dan bagaimana mengeksekusi ide tersebut ke dalam situasi bisnis sebenarnya melalui business model canvas.

Pada tahap inilah para peserta dari Shell Mobility diajarkan memetakan solusi pada sejumlah faktor eksternal, seperti seberapa besar ide inovasi itu diinginkan atau mampu menciptakan nilai bagi pelanggan. Para peserta juga dituntut untuk mengkritisi kelayakan ide inovasi serta memetakan konsekuensi implementasi ide inovasi tersebut terhadap keuangan perusahaan. Dengan begitu, ide inovasi yang nantinya diimplementasikan sudah pasti tepat sasaran.

Terlebih, metode design thinking mewajibkan prototype untuk diujikan kepada para calon pelanggan sehingga Shell Mobility sebagai inovator mampu melihat apakah ide inovasi atau solusi yang mereka kembangkan diterima baik atau tidak. Umpan balik dari pelanggan inilah yang digunakan untuk meningkatkan atau memperbaiki ide inovasi tersebut.

Terciptanya Dua Peluang Bisnis Baru

Adapun selama dua bulan menjalankan lokakarya Innovation by Design for Shell Mobility Indonesia bersama Innovesia, para peserta tak hanya berhasil mengembangkan satu tapi enam buah ide inovasi yang kemudian diwujudkan dalam bentuk prototype. Dua diantaranya bahkan diimplementasikan sebagai bentuk layanan baru di Shell Mobility.

Kedua inovasi itu adalah pojok kuliner dan Shell Smart Club Apps atau yang kini dikenal sebagai Shell Go+. Pojok kuliner sendiri merupakan penambahan komoditas makanan lokal khususnya produk usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) di Shell Select. Dengan pojok kuliner, diharapkan akan mampu meningkatkan kunjungan pengendara roda dua ke SPBU Shell.

Pojok kuliner di Shell Select.

Berkat pendekatan design thinking yang ditanamkan Innovesia melalui lokakarya, Shell Mobility paham betul pentingnya mengidentifikasi kebutuhan target pelanggan setiap lokasi SPBU Shell, yang tentunya berbeda-beda. Wawasan inilah yang menuntun Shell Mobility untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai target pelanggan mereka dan kebutuhannya guna menyediakan produk yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

“Yang pertama, dikembangkan adalah yang pojok kuliner di Shell Indonesia. Jadi memang sedikit dikembangkan karena kita mengidentifikasi lebih jelas setiap toko [Shell Select] itu bisa punya pojok kuliner yang berbeda-beda dan itukan tergantung siapa supplier-nya siapa konsumen yang biasa kesitu dan apa yang mereka mau. Nah itu yang kita terapkan terus mulai dari produk apa yang harus ditaruh di mana, dan berapa banyak,” jelas Michael.

Sementara itu, Shell SmartClub hadir dalam bentuk aplikasi di ponsel yang lebih mudah dan praktis, yang menawarkan kemudahan bagi konsumen Shell untuk menemukan lokasi SPBU Shell terdekat, bertransaksi secara digital hingga mendapatkan berbagai keuntungan lainnya di Shell.

Tampilan aplikasi Shell Go+ (Sumber: Shell Indonesia)

Menurut Michael, ide membuat aplikasi sudah lama terpikirkan oleh Shell Mobility. Namun, lagi-lagi kesulitan mewujudkan ide menjadi produk nyata membuat Shell Mobility belum bisa mengeksekusi ide itu hingga mengikuti lokakarya design thinking bersama Innovesia.

“Shell Smart Club Apps ini yang kita kembangkan menjadi aplikasi mobile Shell untuk memudahkan transaksi di SPBU Shell. Itu dari workshop bersama Innovesia. Memang idenya sudah ada dari sebelum workshop ya, tapi ketika mengikuti workshop ini diakselerasi menggunakan design thinking itu tadi,” ujar Michael.

Menanamkan Pola Pikir yang Berharga

Meski lokakarya design thinking bersama Innovesia mendorong Shell Mobility menciptakan peluang bisnis baru, Michael menekankan bahwa keuntungan utama lokakarya tersebut adalah perubahan pola pikir pegawai Shell Mobility.

Menurut Michael, mengenal design thinking memungkinkan pegawai untuk meninggalkan ketakutan yang dulu mereka rasakan ketika berinovasi. Rasa takut ini juga yang telah menghambat upaya Shell Mobility untuk mewujudkan ide inovasi mereka. Poin inilah yang masih melekat di Shell, meski lokakarya telah berakhir pada 2020 silam.

“Setelah workshop, saya lihat ya cara orang menerjemahkan ide jadi action itu memang bergeser [menjadi lebih baik]. Ada beberapa hal yang mereka implementasikan. Mereka jadi lebih berani. Misalnya, kita coba saja terlebih dahulu, ide tidak harus perfect, minimal MVP [minimum viable product],” tutur Michael.

Bahkan Michael menuturkan bahwa pola pikir seperti ini tak hanya tertanam pada mereka yang mengikuti lokakarya design thinking bersama Innovesia, tapi juga ditularkan kepada mereka yang tidak mengikuti lokakarya tersebut. Kini, pendekatan design thinking menjadi salah satu cara berpikir yang masih digunakan Shell Mobility dalam pekerjaan sehari-hari.

“Cara berpikir seperti itu digunakan terlepas ini sudah di luar workshop. Bahkan di level lain, pembicaraan seperti itu masih berlangsung. TIdak perlu perfect, minimum MVP kita coba saja, kita trial nanti kita evaluasi lagi itu jadi pendekatan yang sering kita lakukan,” lanjut Michael.

Ketika ditanya mengenai pengalamannya berinovasi bersama Innovesia, Michael mengaku lokakarya yang diselenggarakan pada 2020 lalu menjadi pengalaman yang berharga bagi Shell Mobility.

“Berharga, maksudnya memang pengalaman belajarnya singkat tapi yang berharga itu kita belajar mengenai cara berpikirnya, framework-nya, langkah-langkahnya dan dari waktu belajar yang singkat, cara berpikir itu tetap bisa dipakai sampai kapanpun,” tutup Michael.

]]>
https://designthinking.id/otomotif/bersama-innovesia-shell-mobility-ciptakan-peluang-bisnis-baru-melalui-inovasi/feed/ 0